Dibesarkan di sebuah rumah bordil, ia tak pernah membayangkan dirinya akan terpilih sebagai Saintess yang ditakdirkan menyelamatkan dunia. Baginya, takdir itu terasa mustahil. Ia lahir sebagai rakyat jelata yang selalu dipandang rendah, tetapi setelah menjadi Saintess, orang-orang mulai memujanya tanpa benar-benar mengenalnya.
Di tengah kehidupan yang penuh pertentangan itu, ia bertemu seorang ksatria yang tidak menghakimi masa lalunya maupun memuja statusnya. Pria itu tidak pernah menjanjikan keselamatan, tetapi selalu berada di sisinya, menghadapi setiap cobaan bersama, bahkan rela mempertaruhkan nyawanya.
Di balik sikapnya yang dingin, tersembunyi ketulusan yang perlahan mengubah hidupnya. Bersama ksatria itu, ia belajar menerima dirinya sendiri dan menemukan harapan di dunia yang selama ini hanya memberinya penghinaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon flowy_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa Sakit
"Ketemu."
Suara itu dipenuhi kebahagiaan yang begitu dalam.
"Akhirnya... aku menemukanmu."
Nada lembutnya bergetar, seolah menahan tangis. Sukacita yang begitu besar bercampur dengan kesedihan yang tak terlukiskan. Violet membeku, tak mampu menggerakkan tubuhnya.
"Kau milikku."
Ia tak mampu melawan suara itu. Tanpa sadar, Violet menoleh ke arah asalnya.
Di tengah kegelapan, sepasang cahaya merah bergoyang pelan.
Dengan suara bisikan, sosok itu kembali berkata, "Kau milikku."
Ada kekuatan aneh dalam suara itu yang memaksanya mengangguk.
Tawa lembut terdengar.
Suara yang indah.
Violet hanya bisa terus mendengarkannya.
Ia tak mampu melepaskan diri.
Di antara warna mimpi yang begitu jelas, laksana langit malam setelah senja memudar, suara lembut itu terus memanggilnya. Namun, di balik kelembutannya, tersimpan kegelapan yang pekat. Suara itu selalu membelenggunya.
Ia mencoba melarikan diri.
Namun, sepasang lengan dingin melingkari lehernya.
Lalu, sebuah bisikan lembut terdengar tepat di belakang telinganya.
"Jangan pernah mencoba meninggalkanku."
......................
Bruk!
Rasa sakit yang menusuk perut membuat tubuhnya meringkuk. Violet berusaha menyadarkan pikirannya dan memahami apa yang terjadi, tetapi rasa sakit itu terlalu hebat.
Dingin lantai kayu perlahan membangunkannya dari tidur.
Di hadapannya berdiri seorang wanita tua dengan mata melotot penuh amarah. Dialah nenek Ruth, orang yang paling ditakuti Violet.
"Hei, kau! Cepat siapkan makanan!"
Violet bangkit dengan tubuh yang masih sempoyongan. Wanita tua itu menatapnya tajam sambil mendecakkan lidah. Melihat sikap itu, Violet segera merapikan tempat tidurnya sambil memperhatikan reaksi wanita tersebut.
"Benar-benar pemalas! Bersyukurlah aku yang membawamu kemari. Kalau tidak, kau pasti sudah dijual sebagai budak dan menghabiskan hidupmu sebagai mainan orang-orang gila. Kau tidak lupa, kan?"
Violet tidak berani mengangkat kepalanya untuk menatap wanita itu. Sebagai jawaban, ia hanya mengangguk pelan.
Air matanya sudah lama mengering. Violet kecil tidak lagi menangis.
Dengan tubuh lemah, ia berdiri dan berjalan menuju dapur.
Akhir-akhir ini, Violet sering dihantui oleh mimpi yang sama. Sebenarnya, mimpi itu sudah mengikutinya sejak kecil.
Di dalam mimpi tersebut, selalu terdengar suara yang memanggil namanya. Suara itu terdengar begitu lembut, seolah mengundangnya untuk mendekat. Namun entah mengapa, setiap kali mendengarnya, rasa takut yang aneh selalu muncul dan membuat Violet memilih melarikan diri.
Tetapi kemarin berbeda.
Pemilik suara itu akhirnya menemukan Violet.
Seperti biasa, ia berusaha melarikan diri. Namun kali ini, sosok itu berhasil menangkapnya dan memeluknya erat dengan kedua lengannya.
Itu adalah pertama kalinya hal seperti itu terjadi.
"Violet. Sepertinya kau sudah membuat masalah besar sejak pagi."
Seorang wanita muda yang duduk di meja makan menyapanya dengan nada cukup ramah.
"Ini salahku karena bangun terlambat."
Wanita berambut pirang itu tersenyum meski wajahnya terlihat pucat. Ia mengulurkan tangan dan mengusap kepala Violet dengan lembut.
Namun, dari gerakannya, terlihat jelas bahwa wanita itu sedang menahan rasa lelah.
"Lily, apa kau baik-baik saja?"
"Ya, aku tidak apa-apa. Dasar nenek penyihir... bagaimana bisa dia memperlakukan anak kecil seperti ini?"
Wanita itu menghela napas pelan, lalu mengusap lembut pipi Violet yang membengkak.
Saat Violet mengerang lirih menahan sakit, raut wajah wanita itu semakin muram.
Mungkin orang lain mengira anak seusianya hanya memiliki beberapa bekas luka. Namun kenyataannya, hampir seluruh tubuhnya dipenuhi memar.
Semua itu akibat cambukan kejam dari nenek Ruth.
"Hei, Violet! Jangan melamun! Cepat lanjutkan pekerjaanmu!"
Suara tajam itu datang dari seorang wanita berambut merah. Violet segera berlari menghampirinya.
"Maaf, Rose."
"Kau ingin dipukuli nenek tua itu lagi?"
Meski ucapannya terdengar tajam, Violet hanya tersenyum kecil lalu mulai menyiapkan sarapan.
Sebenarnya, menyebutnya sarapan pun terasa berlebihan. Waktu sudah hampir tengah hari.
Di Flower Street, pagi memang selalu datang lebih lambat daripada tempat lain, begitu pula malam yang berakhir jauh lebih larut.
Sambil bersenandung pelan, Lily menikmati secangkir teh hingga akhirnya Rose menegurnya karena bermalas-malasan. Setelah itu, Lily ikut membantu menyiapkan makanan.
Hari pun benar-benar dimulai.
Alasan tempat ini disebut Flower Street bukan karena dipenuhi bunga yang indah.
Nama itu hanyalah kiasan untuk kawasan prostitusi, tempat para wanita muda menjual tubuh mereka.
Sebagian besar wanita di sini memakai nama bunga.
Ada Rose, Freesia, Aster, Lily...
Dan Violet pun salah satunya.
Para wanita yang menyandang nama bunga itu dipetik setiap malam, direnggut, bahkan diinjak-injak tanpa sedikit pun belas kasihan.
Violet juga ditakdirkan menjadi salah satu dari mereka.
Gadis kecil yang dulu pernah memiliki mimpi sederhana telah lama menghilang, digantikan oleh masa depan yang suram.
Setelah makan siang dan menyelesaikan pekerjaan rumah, para wanita akan mulai merias diri. Bedak putih akan menutupi wajah mereka, sementara lipstik merah menghiasi bibir mereka.
Nenek Ruth, pemilik rumah yang dijuluki penyihir itu, juga akan berdandan tebal sebelum mulai menarik para pria yang datang ke tempat ini.
Suatu hari nanti, Violet akan menjadi salah satu dari mereka.
Di dunia ini, jika ada tempat yang mengumpulkan segala sesuatu yang paling suci, maka pasti ada pula tempat yang menampung segala sesuatu yang paling kotor.
Flower Street adalah tempat seperti itu.
Sebuah tempat yang dipenuhi lumpur kehidupan.
Saat malam tiba, deretan lentera berwarna-warni menyala terang menyambut para tamu. Ironisnya, orang-orang yang datang mencari kesenangan di sana tetap memandang rendah para wanita yang bekerja di tempat itu dan mencemooh mereka.
Pekerjaan dapur maupun membersihkan rumah yang dulu terasa asing kini menjadi kebiasaan. Cambukan demi cambukan memaksanya belajar.
Padang rumput tempat ia dulu bebas bermain telah habis dilalap api saat para bandit menyerbu desanya. Kedua orang tuanya pun dibunuh tepat di depan matanya.
Setelah itu, Violet dibawa pergi oleh para bandit.
Pada akhirnya, salah seorang dari mereka yang tak mampu membayar utangnya menjual Violet ke tempat ini sebagai pengganti.
Apa yang pernah dikatakan nenek Ruth bukanlah kebohongan.
Seandainya tidak dijual ke rumah bordil, kemungkinan besar ia akan berakhir sebagai budak dan dijadikan mainan para bangsawan. Itulah salah satu nasib pertama yang didengarnya sejak ditangkap para bandit.
Setiap kali membayangkan kemungkinan itu, tubuh Violet selalu gemetar.
Hari-harinya bersama para bandit adalah neraka.
Tempat itu selalu dipenuhi gelak tawa kasar para pria, disertai kekerasan dan penyiksaan yang tak mengenal belas kasihan. Bagi mereka, nyawa manusia tidak lebih berharga dari sebutir kerikil.
Violet pun tak pernah dianggap berbeda.
Karena itulah, setelah dijual ke tempat ini, ia selalu berusaha melakukan yang terbaik.
Ia tak ingin kembali jatuh ke tangan para bandit.
Setidaknya, di tempat ini tidak ada pembantaian yang berlumuran darah.
Nenek Ruth memang menakutkan. Namun Lily selalu memperlakukannya dengan lembut. Rose mungkin tampak galak, tetapi diam-diam selalu memperhatikannya.
Bahkan di tempat yang dianggap paling kotor sekalipun, kehangatan tetap bisa ditemukan.
Dan Violet memilih untuk menerimanya.
-
Setelah malam panjang di Flower Street berakhir, para wanita kembali berkumpul di dapur.
Jika Violet hanya mendapat sedikit camilan, mereka justru diam-diam menenggak minuman keras.
Semua itu dilakukan saat Nenek Ruth sibuk menghitung uang.
Sebenarnya, sekalipun nenek Ruth mengetahuinya, mereka tidak terlalu peduli. Bagaimanapun juga, mereka adalah "barang dagangan". Jika tubuh mereka dipenuhi luka akibat dipukuli, nilainya di mata para pelanggan akan menurun. Nenek Ruth tentu tidak akan merusak dagangannya sendiri.
"Katanya dewa akan menyelamatkan kita... semua itu bohong."
Rose berkata dengan wajah memerah. Matanya mulai sayu, lidahnya pun mulai kelu karena pengaruh alkohol.
"Tamu yang kuterima hari ini seorang pendeta. Benar-benar menjijikkan."
"Memangnya ini pertama kalinya pendeta menginjakkan kaki di sini? Orang-orang suci pun punya nafsu. Ah, coba semua tamu seperti ksatriaku. Hidup pasti jauh lebih menyenangkan."
Freesia menyahut dengan nada bangga.
Belakangan ini, seorang ksatria yang sopan sering menjadi tamunya, dan itu membuatnya selalu tampak bahagia.
Berbeda dengan Freesia, Aster yang duduk di sampingnya justru menangis pelan.
"Dia kenapa?"
"Sepertinya dapat tamu yang kasar."
Violet menoleh ke arah Aster yang terduduk lesu.
Di lengannya tampak bekas cambukan yang mengerikan.
Bekas luka itu sangat mirip dengan yang memenuhi tubuh Violet.
"Pendeta juga."
Lily menggeleng pelan.
"Orang-orang dari kuil justru sering kali lebih parah."
Dengan suara bergetar, Aster berkata, "Aku tidak percaya negeri ini disebut Kerajaan Suci. Kalau memang begitu, kenapa Saintess tidak pernah datang menyelamatkan kita? Lalu apa yang dilakukan Yang Mulia Paus? Kenapa mereka membiarkan pendeta-pendeta seperti itu tetap berkeliaran?"
"Memangnya kau masih percaya hal seperti itu?" Rose tersenyum sinis. "Sudah seratus dua puluh tahun tidak ada Saintess yang muncul. Mungkin semua itu hanya dongeng. Atau mungkin... dewa memang sudah meninggalkan kita. Kalaupun Saintess benar-benar ada, kurasa ia tidak akan peduli pada orang-orang kotor seperti kita."
Ucapan Rose membuat Aster kembali menundukkan kepala.
Tak lama kemudian, pandangannya bertemu dengan mata Violet.
Ekspresinya berubah semakin pilu.
"Bagaimana nanti nasibmu, Violet..."
Seperti biasa, ia memeluk Violet sambil menangis.
Sejujurnya, Violet tidak terlalu menyukai kebiasaan Aster yang satu itu.
"Kenapa harus mengkhawatirkannya? Wajahnya saja sudah secantik itu. Dia pasti bisa bertahan hidup. Lihat saja, pesona Violet ada pada mata ungunya. Cantik, bukan?"
Rose berkata sambil tersenyum, lalu Lily langsung mengangguk setuju.
"Benar. Mata Violet memang yang paling indah. Aku sampai iri."
Dalam sekejap, pembicaraan beralih kepada Violet, yang paling muda di antara mereka.
Wajah Violet langsung memerah.
Mereka terus memuji penampilannya, mengatakan bahwa para pria pasti akan menyukainya.
Namun, Violet justru menganggap para kakak di hadapannya jauh lebih cantik.
Mereka bagaikan bunga-bunga yang sedang mekar sempurna.
Meski orang-orang memandang rendah dan menyebut mereka wanita kotor, di mata Violet, merekalah orang-orang tercantik di dunia.
"Kemarilah, Violet."
Rose berjalan menghampirinya dengan langkah sedikit sempoyongan, lalu memeluknya erat.
Meski wajahnya tampak lelah setelah bekerja semalaman, kecantikannya tetap tak memudar.
"Ini juga salah satu cara untuk bertahan hidup. Kau tidak menganggap kami kotor, kan?"
Violet mengangguk pelan.
Melihat itu, Rose tersenyum lebar dan mengecup lembut pipinya.
Violet segera mengerutkan kening sambil mengusap bekas lipstik yang tertinggal di pipinya.
Melihat tingkahnya, Lily tertawa geli.
Sementara itu, isak tangis Aster terdengar semakin keras.
Malam itu, mereka terus meneguk minuman keras hingga larut.
-
Brak!
Pintu mendadak terbuka dengan keras.
"Nenek, tunggu...!!" Teriakan cemas Rose terdengar dari kejauhan saat ia mencoba menghentikan sosok yang baru saja menerobos masuk.
Namun sudah terlambat.
Sebuah tendangan keras menghantam tubuh Violet hingga ia terhempas ke lantai.
Ia mengerang pelan, lalu meringkuk sambil memeluk tubuhnya.
Tongkat di tangan nenek Ruth menghujani tubuhnya tanpa ampun.
Sialnya, hari itu suasana hati nenek Ruth sedang buruk. Biasanya ia memilih menutup mata saat para wanita itu berkumpul diam-diam, tetapi kali ini berbeda.
"Berhenti! Kami yang meminumnya!"
"Benar! Tolong hentikan!"
Lily dan Rose berusaha menahan nenek Ruth, tetapi wanita tua itu justru semakin kalap.
"Berani-beraninya kalian mencuri minuman keras milikku!"
Pukulan telak menghantam ulu hati Violet hingga napasnya tercekat.
Tubuh kecilnya hanya bisa menerima rentetan kekerasan tanpa mampu melawan.
Di sampingnya, isak tangis Aster kembali terdengar.
Freesia mendecakkan lidah dengan kesal.
"Violet! Berapa kali harus kukatakan padamu? Jangan pernah membawakan minuman keras untuk mereka! Kau pikir aku menjalankan tempat ini tanpa modal?!"
Seolah pukulan dan tendangan saja belum cukup, nenek Ruth mencengkeram rambut Violet dan menamparnya dengan keras.
Plak!
Pandangan Violet seketika berputar.
Kepalanya terasa pusing.
Ia merapatkan kedua telapak tangannya dan memohon berulang kali.
"Maaf... Maafkan aku..."
Namun, belas kasihan bukanlah sesuatu yang dimiliki nenek Ruth.
Violet bahkan sudah tak ingat sejak kapan ia mulai dipukuli.
Kini, ia hanya menerima setiap tendangan dan pukulan tanpa perlawanan.
Belakangan ini usaha nenek Ruth sedang sepi. Amarah yang terus dipendam akhirnya dilampiaskan kepada Violet, satu-satunya anak di rumah itu yang belum memiliki nilai sebagai "barang dagangan".
"Sudah cukup! Kalau diteruskan, anak itu bisa mati!"
Lily berlutut sambil memohon.
"Ini salahku. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi!"
Rose pun segera maju.
"Kalau cuma harga minuman, aku yang akan menggantinya!"
Nenek Ruth menatap Rose dengan tajam.
Rose adalah wanita tercantik di rumah bordil itu sekaligus yang paling sering dipilih pelanggan. Karena itu, diam-diam ia juga menerima tip paling banyak.
Tanpa ragu, Rose melepaskan tusuk konde yang menghiasi rambutnya lalu melemparkannya ke hadapan nenek Ruth.
Konde itu adalah hadiah dari seorang pelanggan, dihiasi batu safir berwarna biru yang berkilau.
Nenek Ruth memungutnya dan mengamatinya sejenak, lalu berkata dingin, "Violet, malam ini kau tidak dapat makanan."
Setelah mengatakan itu, ia meninggalkan Violet yang tak lagi mampu menjerit karena kesakitan.
Seluruh tubuh Violet terasa terbakar.
Violet mengerang pelan menahan nyeri yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Dari kejauhan terdengar suara Lily yang cemas.
"Cepat ambilkan air!"
Aneh...
Biasanya ia masih sanggup menahan rasa sakit seperti ini.
Lalu kenapa hari ini ia bahkan tidak bisa bangun?
Padahal ia masih harus membantu menyiapkan makan malam.
Violet terbatuk-batuk cukup lama hingga dadanya terasa sesak.
Saat itulah sebuah suara kecil bergema di dalam benaknya.
Manusia-manusia bodoh.
Suara rendah yang dipenuhi amarah.
Suara yang selalu ia dengar di dalam mimpinya.
Selama ini suara itu terus mencarinya.
Dan kini, setelah akhirnya menemukannya, suara itu diam-diam menyaksikan kehidupannya yang begitu menyedihkan.
Waktunya telah tiba.
Nada suaranya perlahan berubah, dipenuhi kerinduan.
Bangunlah... anakku.
Kesedihan yang tersimpan dalam permohonan itu membuat air mata mengalir di pipi Violet.
Cepatlah bangun dan... maafkan aku.
Suara itu terdengar begitu pilu.
Tanpa sadar, jemari Violet bergerak pelan.
Mengapa pemilik suara itu memanggilnya dengan penuh keputusasaan?
Padahal, ia hanyalah seorang gadis kecil yang hina. Apa yang bisa ia lakukan untuknya?
"Bangun! Bangun, Violet!"
Sebuah suara yang dipenuhi tangis membuyarkan lamunannya.
Saat membuka mata, wajah Lily yang penuh kepanikan langsung menyambutnya.
Violet perlahan bangkit. Dadanya berdebar hebat seolah sedang dilanda demam. Kepalanya terasa berat, sementara rasa mual memenuhi tenggorokannya.
Lily menggenggam tangannya erat.
"Lily... ada apa? Bukankah sekarang waktunya bekerja...?"
Brak!
Pintu tiba-tiba terbuka.
Rose berdiri di ambang pintu dengan mantel yang telah dikenakannya.
"Cepat! Kita harus kabur! Bangunkan dia sekarang juga!"
"Ada yang tidak beres. Sepertinya dia sedang sakit... hiks..."
"Sekarang bukan waktunya menangis! Cepat!"
Desakan Rose membuat Violet tanpa sadar menoleh ke arah jendela.
Matanya langsung membulat.
Pemandangan itu...
Sama persis seperti hari ketika desa tempat tinggalnya diserbu para bandit.
Lautan api melahap seluruh Flower Street.
Kesadarannya yang sempat kabur akhirnya kembali, disusul teriakan-teriakan panik yang terdengar dari segala penjuru.
Violet segera memaksa dirinya berdiri.
Tubuhnya gemetar hebat.
"Ayo, kita pergi."
Tanpa banyak bicara, Lily dan Violet mengikuti Rose.
Begitu keluar dari kamar, mereka melihat bagian dalam rumah bordil itu juga telah dilalap api.
Sebuah tiang yang terbakar jatuh tepat di samping Lily hingga membuatnya menjerit.
"Aaaah!"
Ujung gaunnya sempat tersambar api, tetapi Rose dan Violet segera menginjaknya hingga padam.
"Ke sini!"
Dari luar, Aster membuka pintu kecil di bagian belakang sambil berteriak memanggil mereka.
"Dasar bodoh! Harusnya kau kabur dulu, bukan malah kembali!"
Rose memarahinya sambil mengernyit.
Aster hanya tersenyum tipis.
Sikapnya yang lembut itulah yang membuat orang-orang sulit membencinya.
Begitu mereka keluar melalui pintu belakang, Freesia sudah menunggu dengan wajah cemas.
Matanya dipenuhi air mata.
“Ayo, cepat! Dasar bodoh! Untuk apa kau kembali hanya demi menjemput anak itu?”
Mendengar ucapan itu, Rose langsung membalas dengan nada marah.
"Jangan bicara sembarangan! Dia baru berusia sepuluh tahun! Dia adik kita!"
Rose kemudian meraih bahu Violet.
"Lewat sini. Edgar pernah bilang, kalau kita menyeberangi bukit ini, kita akan sampai di kota yang berada di bawah kekuasaan langsung sang tuan wilayah. Di sana pasti aman."
Freesia menunjuk ke arah pegunungan di belakang mereka.
Mendaki gunung di tengah malam sama saja mempertaruhkan nyawa. Binatang buas bisa muncul kapan saja. Namun, mereka tidak punya pilihan lain.
Begitu memasuki hutan, hawa panas dari kobaran api perlahan menghilang. Aroma pepohonan yang sejuk memenuhi udara, sedikit demi sedikit menenangkan hati mereka yang dipenuhi kecemasan.
"Bagaimana dengan nenek Ruth?"
"Siapa peduli? Lebih baik dia mati saja." Freesia mendengus kesal.
Meski wajah Aster masih dipenuhi ketakutan saat berlari, senyumnya tak kunjung hilang.
"Jadi... kita benar-benar bisa meninggalkan tempat itu?"
"Bisa."
Lily menjawab sambil tersenyum.
Mereka tetap dihantui rasa takut. Takut ada yang mengejar, takut bertemu binatang buas. Namun, jika berhasil melewati malam ini, mereka akan memperoleh sesuatu yang selama ini hanya bisa mereka impikan.
Kebebasan.
Untungnya, rumah bordil tempat mereka bekerja berada di sudut Jalan Bunga. Api memang sempat menjalar ke sana, tetapi tidak ada seorang pun yang mengejar mereka.
Menurut cerita yang pernah didengar Freesia dari seorang ksatria, di balik pegunungan ini terdapat kota yang berada di bawah pemerintahan langsung seorang marquis. Mereka bahkan hafal bahwa sang marquis terkenal sebagai "Pedang Kerajaan" dan merupakan salah satu bangsawan paling disegani.
Karena kota itu dikelola langsung olehnya, tempat itu dikenal aman dan tertata.
Untuk pertama kalinya, mereka mulai membayangkan kehidupan baru.
Mungkin... dewa belum benar-benar meninggalkan mereka.
Malam yang selama ini membelenggu hidup mereka kini justru melindungi setiap langkah mereka.
Rose berkata ia akhirnya bisa terbebas dari utang.
Lily berencana mencari pekerjaan lain.
Freesia ingin menemui ksatria yang selama ini menjadi pelanggannya.
Sementara Aster hanya tersenyum.
"Aku akan memikirkan apa yang ingin kulakukan setelah sampai di sana."
Violet merasakan genggaman tangan Rose yang semakin erat.
Lalu ia tersenyum lebar.
Mulai sekarang... tak akan ada lagi cambukan yang menunggunya.
Meski kepalanya masih terasa berat, hatinya dipenuhi harapan.
Namun, tepat saat itulah mereka berhenti.
Di luar hutan, puluhan cahaya obor memenuhi kegelapan malam.
Api-obor itu membentuk barisan panjang, memancarkan sinar merah yang terasa mengancam.
Sekitar dua puluh pria berdiri menghadang jalan mereka.
Masing-masing membawa pedang di pinggang.
Sesaat, mereka terdiam. Lalu rasa lega mulai muncul.
Mereka bukan bandit.
Pria-pria itu mengenakan zirah resmi pasukan kerajaan.
Violet pernah mendengar bahwa hanya para prajurit yang bertugas di istana yang mengenakan baju zirah seperti itu. Beberapa wajah bahkan terasa familier—mereka pernah datang ke Flower Street sebagai pelanggan.
Tanpa sadar, para wanita itu mengembuskan napas lega.
Syukurlah...
Mereka pasti datang untuk membasmi para bandit.
Saat itu, Freesia tersenyum cerah dan berlari menghampiri seorang ksatria berambut pirang yang menunggang kuda putih.
Violet mengenalnya.
Dialah ksatria yang sering mengunjungi Freesia.
"Edgar! Syukurlah, kau di sini! Aku bahkan berniat mencarimu!"
Namun, ksatria itu hanya menatap Freesia dengan wajah datar.
Entah mengapa, Violet merasa gelisah.
Berbeda dengan senyum bahagia Freesia, pria yang selama ini menjadi pelanggannya itu menunjukkan ekspresi yang belum pernah Violet lihat sebelumnya.
Tak ada sedikit pun kehangatan di matanya.
Yang ada hanyalah... penghinaan.