Alex Christopher Nozer, CEO muda sekaligus pemimpin mafia paling ditakuti di London, tak pernah percaya pada cinta. Hidupnya hanya dipenuhi darah, kekuasaan, dan pengkhianatan. Namun segalanya berubah sejak seorang wanita asing berulang kali menolongnya tanpa mengetahui siapa dirinya. Lauren Valencia Varles, gadis sederhana yang berhati lembut, tanpa sadar menjadi satu-satunya cahaya di dunia kelam Alex. Ketika takdir kembali mempertemukan mereka di perusahaan milik Alex, obsesi mulai tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Di balik status tunangan hasil perjodohan dan musuh yang mengincar kekuasaannya, Alex bertekad memiliki Lauren dengan caranya sendiri. Di dunia mafia, cinta bukan tentang kebebasan, melainkan kepemilikan. Mampukah Lauren bertahan di sisi pria yang rela menghancurkan siapa pun demi melindunginya, atau justru ia akan terjebak menjadi Wanita Simpanan Sang Mafia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lidya Ribka pandiangan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1. Hujan yang sama
London selalu punya cara sendiri untuk mengingatkan orang bahwa hidup tidak pernah benar-benar bisa direncanakan.
Hujan turun tanpa aba-aba sore itu, membasahi trotoar Kensington High Street yang biasanya ramai oleh langkah-langkah tergesa para pekerja kantoran yang pulang lebih awal karena awan sudah menghitam sejak siang.
Lauren Valencia Varles berlari kecil di bawah payung lipat yang sudah agak rusak di salah satu jerujinya, membuat air menetes tepat ke bahu kirinya setiap kali angin bertiup.
Ia baru saja keluar dari kursus komputer perkantoran yang ia ikuti sepulang kerja paruh waktu, membawa tas ransel yang terasa lebih berat dari biasanya karena laptop tua yang selalu ia bawa ke mana-mana.
Sudah sebulan ini ia tidak melewati jalan ini. Biasanya ia memilih rute memutar lewat Gloucester Road, tapi hujan deras membuatnya mengambil jalan pintas,jalan yang sama, ternyata, dengan tempat pertama kali ia bertemu pria itu.
Pria itu.
Ia tidak tahu nama lengkapnya. Tidak juga nomor teleponnya, pekerjaannya, atau di mana pria itu tinggal. Yang ia tahu hanya sepasang mata biru yang dingin seperti es di tengah musim dingin, dan cara pria itu selalu muncul di momen-momen yang paling tidak terduga—seolah kota sebesar London ini sengaja mempertemukan mereka berulang kali tanpa alasan yang jelas.
Ia ingat pernah bertemu dengan pria itu berkali-kali, dengan kondisi terluka parah. Dan terakhir Lauren bertemu dengan pria itu saat ia tersungkur di gang sempit dekat Notting Hill, tubuhnya penuh luka, darah mengalir dari sudut bibir dan pelipisnya. Malam itu Lauren yang baru pulang kerja paruh waktu nyaris melangkah melewatinya begitu saja, tapi sesuatu membuatnya berhenti.
Mungkin karena pria itu masih sadar, matanya menatap tajam ke arah Lauren meski tubuhnya nyaris tak bisa bergerak, seolah menantang siapa pun yang berani mendekat.
Lauren, yang tidak tahu apa-apa soal siapa pria itu sebenarnya, hanya melihat seseorang yang terluka parah dan butuh pertolongan.
Ia berlutut, merobek ujung syalnya untuk menekan luka di pelipis pria itu, memapahnya ke apotek terdekat yang masih buka, memaksa apoteker untuk membantu meski pria itu menolak dibawa ke rumah sakit.
"Kenapa kau menolongku?" Itu satu-satunya kalimat yang diucapkan pria itu malam itu, suaranya serak tapi tetap terdengar tajam, seolah pertanyaan itu sendiri adalah sebuah interogasi.
"Karena kau terluka," jawab Lauren waktu itu, sesederhana itu, seolah tidak ada alasan lain yang dibutuhkan.
Pria itu menatapnya lama, seperti sedang mencoba memecahkan sebuah teka-teki yang tidak biasa ia temui. Lalu, tanpa berkata apa-apa lagi, ia pergi menghilang ke dalam gelap begitu lukanya cukup stabil untuk berjalan sendiri.
Lauren pikir itu akan menjadi pertemuan pertama sekaligus terakhir mereka.
Ia salah.
Setelah malam itu, entah bagaimana, mereka terus bertemu. Di halte bus yang sama, di kedai kopi yang sama, di trotoar yang sama saat rintik-rintik hujan turun.
Tidak pernah direncanakan, tidak pernah disengaja. Setidaknya begitu yang Lauren pikirkan. Ia tidak tahu bahwa di balik setiap "kebetulan" itu, ada mata lain yang mengawasi dari kejauhan, memastikan langkah Lauren selalu berada dalam jangkauan pandang seseorang yang tidak pernah benar-benar percaya pada kata kebetulan.
Dan saat itu sudah sebulan ini pertemuan itu akhirnya berhenti. Dan entah kenapa, Lauren merasa ada yang aneh dengan absennya sosok itu, sesuatu yang tidak seharusnya ia rasakan terhadap orang yang bahkan tidak ia ketahui nama lengkapnya.
Petir menyambar jauh di langit, membuat Lauren mempercepat langkah. Payungnya nyaris terbalik oleh angin kencang saat ia berbelok di persimpangan dekat stasiun tabung.
Dan di sanalah, di bawah kanopi sebuah gedung tinggi berkaca gelap, ia melihatnya lagi.
Pria itu berdiri tegak, mengenakan mantel hitam panjang yang basah di bagian bahu, seolah ia baru saja keluar dari kendaraan dan berjalan beberapa langkah tanpa peduli hujan yang mengguyur.
Rambut cokelatnya sedikit basah, menempel di dahi, namun tidak mengurangi kesan dingin yang selalu terpancar dari wajahnya. Matanya biru, tajam, seperti selalu menilai segala sesuatu di sekitarnya sebelum memutuskan apakah itu layak mendapat perhatian langsung terkunci pada sosok Lauren begitu ia muncul dari balik sudut jalan.
Untuk sepersekian detik, waktu seolah berhenti.
Lauren berhenti melangkah, tidak yakin harus bereaksi bagaimana. Sebulan tanpa pertemuan, dan tiba-tiba pria itu berdiri di sana, seolah tidak pernah pergi sama sekali.
"Kau," gumam Lauren, lebih kepada dirinya sendiri daripada sebagai sapaan.
Ia tidak menjawab. Ia hanya menatap Lauren dari ujung kepala hingga ujung sepatunya yang basah oleh genangan air, seolah sedang memastikan bahwa gadis di hadapannya ini baik-baik saja,bahwa tidak ada yang berubah, tidak ada yang berkurang, tidak ada yang menyentuhnya selama sebulan mereka tidak bertemu.
Ekspresinya tetap datar, tidak menunjukkan emosi apa pun yang bisa dibaca orang lain, tapi ada sesuatu di balik mata birunya yang terlihat lebih intens dari biasanya.
"Kau basah kuyup," kata Alex Christopher Nozer akhirnya, suaranya rendah dan datar, tanpa nada khawatir yang biasa terdengar dari orang lain saat mengucapkan kalimat serupa. Terdengar lebih seperti sebuah pernyataan fakta yang tidak bisa dibantah.
"Hujan turun tiba-tiba," jawab Lauren, mencoba terdengar biasa saja meski jantungnya berdetak lebih cepat dari yang seharusnya. "Sudah lama tidak bertemu."
"Yah, sudah lama sekali kita tidak bertemu." Jawaban itu singkat, tidak memberi ruang untuk pertanyaan lanjutan.
Alex melangkah maju satu langkah, mempersempit jarak di antara mereka hingga Lauren bisa mencium aroma parfum maskulin yang samar bercampur hujan. "Kau sendiri kenapa lewat sini? Biasanya kau lewat Gloucester Road."
Lauren terdiam sejenak. Pertanyaan itu terasa aneh, seolah pria ini tahu persis rute mana yang biasa Lauren lewati, padahal mereka bahkan tidak pernah bertukar informasi sedetail itu.
Tapi ia terlalu lelah dan kedinginan untuk memikirkannya lebih jauh.
"Hujan deras, aku ambil jalan pintas," jawabnya sambil menggigil kecil.
Tanpa berkata apa-apa, Alex melepas mantelnya dan menyampirkannya ke bahu Lauren, gerakannya cepat dan tanpa ragu, seolah sudah menjadi kebiasaan meski ini pertama kalinya ia melakukan hal seperti itu.
Lauren tersentak kaget, mencoba menolak, tapi tatapan Alex membuatnya urung berkata apa-apa.
"Pakai," kata Alex, nadanya tidak bisa dibantah. "Kau bisa sakit."
"Tapi kau juga basah—"
"Aku tidak apa-apa." Potongan kalimat itu tegas, final, seolah menutup segala bentuk perdebatan yang mungkin muncul.
"Tapi aku juga sudah tidak perlu, karena hujannya juga sudah berhenti." ucap lauren menatap langit yang masih sedikit meneteskan air hujan.
"Pakai saja, kau juga terlihat kedinginan sekali. Jadi pakailah." ucap alex dingin
Lauren menatap pria di hadapannya, mencoba membaca sesuatu dari balik wajah dingin itu. Ada yang berbeda kali ini.
Biasanya pertemuan mereka singkat—Alex akan muncul, bicara beberapa kalimat seperlunya, lalu menghilang secepat ia datang.
Tapi kali ini, pria itu tampak tidak buru-buru pergi. Matanya masih menatap Lauren dengan intensitas yang membuat gadis itu merasa seperti sedang diteliti, dipelajari, disimpan dalam ingatan sampai ke detail terkecil.
"Aku harus segera pulang," kata Lauren akhirnya, memecah keheningan yang mulai terasa canggung. "Terima kasih untuk mantelnya. Aku akan kembalikan—"
"Simpan saja." Alex memotong cepat. "Anggap sebagai... penanda."
"Penanda?"
"Yah penanda bahwa kita akan bertemu lagi."
Untuk pertama kalinya sejak mereka mengenal satu sama lain, sudut bibir Alex tertarik sedikit,bukan senyum penuh, hanya lengkungan tipis yang nyaris tak kasat mata, tapi cukup untuk membuat jantung Lauren berdetak semakin kencang tanpa alasan yang bisa ia jelaskan.
Sebelum Lauren sempat menjawab, sebuah mobil hitam berhenti tepat di tepi jalan.
Seorang pria berjas gelap keluar dari kursi pengemudi, membukakan pintu belakang dengan gerakan cepat dan patuh, tanpa berkata apa-apa, hanya menunduk sedikit ke arah Alex.
"Aku harus pergi," kata Alex, kembali ke nada datarnya yang biasa, seolah momen singkat tadi tidak pernah terjadi.
Namun sebelum masuk ke dalam mobil, ia berhenti sejenak, menatap Lauren sekali lagi. "Jaga dirimu baik-baik, Lauren."
Lauren terpaku. "Kau... tahu namaku?"
Tapi Alex sudah berbalik, melangkah masuk ke dalam mobil tanpa menjawab pertanyaan itu.
Pintu tertutup, dan mobil hitam itu melaju menembus hujan, meninggalkan Lauren berdiri sendirian di bawah kanopi, mantel hitam yang masih menyimpan hangat tubuh pemiliknya tersampir di bahunya, dan satu pertanyaan yang terus berputar di kepalanya.
Bagaimana mungkin seorang pria yang bahkan tak pernah ia beri tahu namanya, tahu persis siapa dirinya?
Ia tidak tahu bahwa di dalam mobil yang melaju menjauh itu, Alex sedang menatap layar ponselnya, sebuah folder berlabel nama lengkap Lauren Valencia Varles, lengkap dengan alamat, riwayat pendidikan, riwayat pekerjaan, bahkan rute yang biasa ia lewati setiap hari.
Sudah delapan bulan folder itu ada di ponselnya, diperbarui setiap minggu oleh orang kepercayaannya.
Delapan bulan mengawasi dari jauh. Delapan bulan menahan diri untuk tidak mendekat lebih dari yang seharusnya.
Dan sore itu, untuk pertama kalinya, Alex tahu bahwa menahan diri bukan lagi pilihan yang bisa ia pertahankan.