"Wanita yang dulu kau buang seperti sampah, kini menjadi Ratu yang tak sanggup kau beli!"
Demi Fandi, Maya rela melepas statusnya sebagai supermodel ternama dan menjadi ibu rumah tangga biasa. Namun, pengorbanannya dibalas penghinaan. Begitu penampilannya tak lagi segar, Fandi menceraikannya demi wanita lain dan mengusirnya tanpa membawa apa pun.
Fandi mengira hidup Maya sudah hancur. Namun, ia salah besar.
Di balik kehancurannya, Maya bangkit merintis kembali kerajaannya. Ketika Maya berdiri di puncak kejayaan sebagai wanita paling berpengaruh, Fandi merangkak dalam penyesalan yang tak bertepi.
Sayangnya... Ratu yang dulu disia-siakannya kini melayang terlalu tinggi untuk kembali.
bagaimana ceritanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17. DSKKR
Sementara itu, di sudut lain kota, Fandi terbangun di kamar rumah nya yang berantakan. Kepala pria itu terasa pening luar biasa akibat terlalu banyak minum kopi dan kurang tidur.
Ruang tamu begitu hening. Tidak ada lagi suara piring berdenting dari dapur, tidak ada lagi wangi masakan Maya, dan tidak ada lagi suara riuh tiga anak kecil yang menyambutnya setiap pagi.
Fandi berjalan lemas ke dapur, membuka kulkas yang kini hanya berisi beberapa botol air mineral dan makanan instan yang sudah kedaluwarsa.
Ponsel di saku celananya bergetar. Sebuah nama tertera di sana: Ibu
Fandi mengangkatnya malas. "Halo, Bu."
"Fandi! Kamu lagi di mana?!" suara Ibu Ratna melengking panik di ujung telepon. "Ini pemilik rumah kamu nelfon Ibu! Katanya uang sewa bulan ini belum dibayar?! Terus ini tagihan listrik rumah Ibu juga belum kamu transfer!"
Fandi memijat pelipisnya yang berdenyut hebat. "Fandi belum ada uang, Bu. Klien studio pada batalin kontrak. Fandi lagi pusing."
"Kok belum ada uang?!" bentak Ibu Ratna tak mau tahu. "Masa fotografer kaya gak ada uang?! Kamu usahain dong! Dijual barang-barang di studio kamu itu! Ibu gak mau ya malu gara-gara dikejar-kejar orang!"
"Bu!" gertak Fandi, suaranya parau dan emosional. "Bisa gak sih Ibu gak nuntut Fandi terus?! Dulu waktu Fandi masih sama Maya, semua urusan rumah dan uang ditata rapi sama Maya! Sekarang Maya udah gak ada, Fandi lagi hancur, Ibu cuma tahu nuntut!"
"Ooh... jadi kamu sekarang nyalahin Ibu?!" pekik Ibu Ratna makin sengit. "Kamu sendiri yang bego mau aja diceraikan sama wanita dasteran itu! Harusnya kamu tahan dia biar uangnya tetap mengalir ke kamu!"
Tut... tut... tut...
Fandi mematikan sambungan telepon secara sepihak. Dia melempar ponselnya ke sofa, lalu meremas rambutnya sendiri frustrasi.
Sentilan kata-kata ibunya justru menjadi penegas paling menyakitkan: tanpa Maya, bukan cuma rumah tangganya yang runtuh, tapi seluruh pilar kehidupannya ikut hancur berantakan.
"Ya ampun.. pusing sekali.. bagaimana ini, tabungan di rekening ku
Pagi berganti siang di rumah Ibu. Angin semilir menembus kisi-kisi jendela kayu, membawa bau tanah basah usai disiram hujan gerimis. Di meja makan kecil, Maya mengusap sisa krim di sudut bibir Kirana yang sibuk melahap sarapannya.
"Pelan-pelan makan es krimnya, sayang," kata Maya lembut, mencium pipi gembil putri bungsunya.
Arka dan Arki yang duduk berhadapan sibuk berdiskusi tentang susunan mainan bongkar pasang mereka. Suasana rumah yang tenang ini benar-benar menjadi suaka bagi jiwa Maya yang bertahun-tahun terhimpit. Beban emosional dari perlakuan Fandi dan makian mantan ibu mertuanya seolah menguap perlahan, tergantikan oleh kedamaian hangat.
Ponsel di atas meja bergetar pendek. Layarnya menyala, menampilkan notifikasi pesan masuk dari nomor tak dikenal.
Maya meraih ponselnya, menggeser layar.
[May, ini Fandi. Tolong angkat telepon ku. Aku cuma mau tanya kabar anak-anak. Aku kangen sama Kirana, Arka, sama Arki. Tolong jangan putus aksesku sama mereka.]
Maya menatap barisan kalimat itu dengan ekspresi datar. Tidak ada letupan amarah, tidak ada lagi histeris seperti dulu. Yang ada hanya kehampaan yang begitu dingin.
Dia ingat betul, waktu mengusir mereka malam-malam dari rumah, Fandi sama sekali tidak peduli anak-anaknya mau tidur di mana. Fandi hanya peduli pada emosinya sendiri dan wajah cemas Siska. Sekarang, begitu rumah tangganya berantakan dan studionya terancam bangkrut, pria itu mendadak ingat perannya sebagai ayah.
Tanpa membalas sepatah kata pun, jemari Maya bergerak cepat di atas layar.
Block & Delete.
Nomor itu lenyap dari daftar kontak. Maya meletakkan ponselnya kembali ke meja dengan gerakan yang sangat tenang, seolah baru saja mengibaskan debu kecil dari pakaiannya.
Ibu yang baru saja masuk dari dapur membawa cangkir teh hangat melirik ke arah Maya. "Siapa, May?"
"Bukan siapa-siapa, Bu. Cuma sampah lewat," jawab Maya santai seraya menyunggingkan senyuman tipis.
Ibu mengangguk paham, menyunggingkan senyum lega. "Bagus kalau gitu. Kamu gak usah gubris lagi hal-hal yang bikin kepala pusing. Fokus saja sama tatanan hidupmu sekarang."
"Iya, Bu. Maya mau pastikan dulu mental anak-anak benar-benar stabil. Arka sama Arki minggu depan sudah bisa masuk ke sekolah barunya di dekat sini," jelas Maya mantap.
Ibu menepuk-nepuk bahu Maya penuh rasa bangga. "Ibu tahu kamu wanita kuat, May. Dulu waktu kamu pasrah diinjak-injak Fandi sama keluarganya, Ibu cuma bisa berdoa biar mata kamu terbuka. Sekarang Ratu Ibu sudah kembali."
Maya terkekeh renyah, menyandarkan kepalanya sejenak di bahu sang ibu. Kehangatan ini yang tidak pernah dia dapatkan selama bertahun-tahun menjadi istri Fandi.
Di tempat lain, di sebuah lorong sempit dekat pasar tradisional, Fandi berjalan terburu-buru dengan pakaian yang agak kusut. Dia baru saja dari Anjungan Tunai Mandiri (ATM) untuk mengambil sisa uang simpanannya demi membayar tunggakan listrik rumah ibunya.
Langkahnya terhenti saat melihat angka di layar mesin ATM tadi: Saldo Anda Tidak Mencukupi.
"Sialan!" umpat Fandi pelan seraya meninju tembok di sampingnya.
Jari-jarinya gemetar mencengkeram kartu ATM. Semua tabungan masa lalunya yang dulu susah payah dikumpulkan bersama Maya sudah ludes terkuras untuk gaya hidup Siska. Beli tas *branded*, makan di restoran mewah, hingga membiayai perawatan Siska yang menuntut fasilitas serba nomor satu.
Fandi mengeluarkan ponselnya, mencoba menelpon Maya sekali lagi. Namun, yang terdengar hanyalah nada sibuk berulang kali.
"Dia beneran blokir nomor ku?..." gumam Fandi panik, menyapu keringat dingin di dahinya.
Rasa penyesalan yang mendalam mulai menyeruak keras, menghantam dadanya tanpa ampun. Dulu, setiap kali Fandi pusing masalah keuangan atau pekerjaan studio, Maya selalu ada di sampingnya. Maya yang mengatur anggaran dapur, Maya yang menahan diri tidak membeli baju baru demi kelangsungan studio, dan Maya yang selalu memberi masukan kreatif hingga karya fotonya dihargai mahal.
"Apaan sih nelpon lagi. beneran engga tau malu sekali sih orang itu." gumam Maya.
Bersambung...