Louisa Hartono tidak pernah menyangka bahwa malam terburuk dalam hidupnya akan menjadi awal dari segalanya.
Setelah sepuluh tahun mengejar cinta yang tidak pernah berbalas, dia mabuk — dan tanpa sadar melamar seorang pria yang bahkan tidak dia kenal dengan baik.
Nathanael Susanto. CEO muda dari keluarga konglomerat Susanto. Dingin, misterius, dan... langsung bilang "iya."
Mereka menikah dengan perjanjian: satu tahun, tanpa perasaan, bisa cerai kapan saja.
Tapi Nathanael selalu pulang tepat waktu. Selalu menyiapkan bunga di meja kerjanya. Selalu tahu makanan favoritnya tanpa pernah bertanya.
Dan Louisa mulai bertanya-tanya — apakah suami kontraknya ini... sudah mengenalnya jauh lebih lama dari yang dia kira?
Sementara itu, Kevin Tanuwijaya — pria yang Louisa kejar selama sepuluh tahun — akhirnya sadar bahwa dia sudah kehilangan satu-satunya orang yang benar-benar mencintainya.
Tapi sudah terlambat.
Karena Nathanael Susanto sudah menunggu sepuluh tahun untuk momen ini.
Dan dia tidak akan melepaskannya.
🌹 Nikah kontrak. Cinta rahasia sepuluh tahun. Mantan yang menyesal seumur hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1
Bab 001
Malam yang Mengubah Segalanya
Kevin Tanuwijaya tertawa tepat ketika Louisa Hartono berhenti di depan pintu ballroom.
Suara tawa itu tidak keras. Hanya cukup jelas untuk menembus musik jazz, denting gelas kristal, dan percakapan para tamu yang berbalut parfum mahal. Namun bagi Louisa, suara itu seperti ujung sendok yang mengetuk dasar gelas kosong, kecil, dingin, dan membuat dadanya bergetar tanpa suara.
Di bawah cahaya chandelier Hotel Langham Jakarta, Kevin berdiri dengan setelan hitam yang bahunya jatuh sempurna. Di sampingnya, Yvonne Lim mengenakan gaun champagne yang berkilau setiap kali ia bergerak. Rambutnya disanggul rendah, lehernya dihiasi kalung berlian tipis, dan tangan Kevin sedang berada di dekat tengkuknya.
"Biar aku bantu," ucap Kevin.
Yvonne menunduk sedikit. "Kev, nanti orang lihat."
"Biarin. Pengaitnya miring."
Louisa menggenggam clutch kecilnya lebih erat.
Tadi sore, Kevin sendiri yang mengirim pesan kepadanya.
Lulu, tolong cek seating arrangement untuk meja tamu VVIP. Yvonne nggak makan udang. Jangan sampai kitchen salah.
Pesan itu masih ada di layar ponselnya. Ia bahkan membalas dalam waktu kurang dari satu menit, seperti biasa.
Oke, aku urus.
Dan sekarang, perempuan yang ia pastikan tidak akan terkena alergi udang sedang tertawa pelan saat Kevin merapikan kalungnya dengan jari yang begitu hati-hati. Jari yang dulu pernah Louisa tatap diam-diam saat Kevin menandatangani proposal kerja. Jari yang ingin ia genggam, tapi tidak pernah berani.
Sepuluh tahun.
SMA Penabur, ruang seni yang bau cat air, halte Transjakarta saat hujan deras, koridor UI, kantor Tanuwijaya Group dengan lampu yang selalu menyala sampai malam. Sepuluh tahun Louisa menaruh namanya di tempat yang sama, di bagian paling sunyi dari hatinya.
Malam ini, tempat itu retak.
"Lulu?"
Louisa tersentak. Steven Oei muncul dari samping, membawa dua gelas sparkling water. Ia menatap wajah Louisa, lalu mengikuti arah pandangnya. Dalam satu detik, ekspresi Steven berubah.
"Kamu baru datang?" tanyanya pelan.
Louisa mengangguk. Bibirnya bergerak membentuk senyum kecil yang terlalu rapi. "Iya. Macet dari Kelapa Gading."
Steven menyerahkan satu gelas. "Mau duduk dulu?"
"Nggak perlu. Aku harus cek tamu dari Surabaya sudah datang atau belum."
"Lulu."
Panggilan itu membuat langkahnya tertahan.
Steven jarang memakai nada seperti itu. Tidak memaksa, tapi tahu terlalu banyak.
Louisa menatap permukaan minuman di gelasnya. Gelembung kecil naik dan pecah satu per satu, cepat, tidak meninggalkan bekas.
"Aku baik-baik aja, Steve."
"Kamu selalu bilang begitu."
Louisa ingin tertawa, tapi yang keluar hanya embusan napas tipis. "Karena memang harus begitu."
Sebelum Steven sempat menjawab, suara pembawa acara memenuhi ballroom. Gala tahunan Tanuwijaya Group dimulai. Para tamu bertepuk tangan. Kevin naik ke panggung, berdiri di belakang podium dengan tenang, seperti seseorang yang sejak lahir sudah disiapkan untuk dilihat banyak orang.
Louisa berdiri di barisan belakang.
Ia tahu isi pidato Kevin bahkan sebelum pria itu bicara. Ia yang menyiapkan drafnya, memperbaiki kalimat pembuka, memastikan nama sponsor tidak terlewat. Ia hafal jeda yang harus Kevin ambil setelah kalimat tentang tanggung jawab sosial perusahaan. Ia hafal bagian ketika Kevin harus tersenyum ke arah kamera media.
Yang tidak ia hafal adalah cara Kevin menoleh sekilas ke arah Yvonne sebelum mengucapkan, "Terima kasih juga untuk rekan-rekan yang selalu berada di sisi saya."
Yvonne tersenyum dari meja depan.
Tepuk tangan kembali pecah.
Louisa ikut bertepuk tangan. Telapak tangannya bertemu berkali-kali, tapi ia tidak merasakan apa pun selain perih kecil di kulit.
Di ujung ballroom, seorang pria berdiri di dekat pilar marmer.
Louisa tidak langsung mengenalinya. Ia hanya menangkap sosok tinggi dengan setelan gelap, wajah tenang, dan mata hitam yang tidak ikut tersenyum bersama ruangan. Saat pandangan mereka bersinggungan, pria itu tidak segera berpaling.
Nathanael Susanto.
Nama itu muncul di benak Louisa bersama ingatan yang samar. CEO PT Nusatek Mandiri. Salah satu undangan penting malam ini. Konglomerat muda yang jarang muncul di media, tapi setiap kali muncul, kolom bisnis mendadak ramai.
Ia pernah melihatnya beberapa kali di acara industri. Mereka tidak dekat. Paling jauh hanya saling mengangguk, bertukar sapaan singkat, lalu kembali ke dunia masing-masing.
Namun malam ini, tatapan Nathanael terasa seperti seseorang yang melihat ada retakan di cangkir porselen, meski cangkir itu masih diletakkan rapi di atas meja.
Louisa menurunkan pandangan lebih dulu.
Setelah pidato selesai, ia memaksa diri bergerak. Mengecek meja tamu, menyapa sponsor, memanggil staf hotel untuk mengganti wine glass yang salah. Ia melakukan semuanya seperti biasa. Senyum. Angguk. Catatan kecil di ponsel. Permintaan maaf yang sopan.
Sampai Kevin memanggilnya.
"Lulu."
Louisa berhenti di samping meja dessert.
Kevin datang bersama Yvonne. Yvonne membawa piring kecil berisi panna cotta, sementara Kevin memegang ponsel. Wajahnya serius, tapi bukan karena melihat Louisa. Ia sedang membaca sesuatu di layar.
"Kamu sudah kasih tahu kitchen soal Yvonne, kan?" tanya Kevin tanpa basa-basi.
Louisa menatapnya beberapa detik. "Sudah."
"Good. Tadi dia hampir ambil canapé yang ada udangnya."
Yvonne tersenyum manis. "Untung ada kamu, Louisa. Kevin selalu bilang kamu paling bisa diandalkan."
Paling bisa diandalkan.
Bukan paling penting.
Bukan paling ia cari.
Bukan perempuan yang ia lihat ketika ruangan penuh orang.
Hanya bisa diandalkan.
Louisa menelan sesuatu yang terasa tajam di tenggorokannya. "Sama-sama."
Kevin akhirnya mengangkat wajah dari ponsel. "Kamu pucat."
Pertanyaan yang seharusnya sederhana itu hampir membuat Louisa kalah. Hampir saja ia bertanya, kalau aku pucat, kamu baru sadar sekarang?
Tapi ia hanya tersenyum.
"Mungkin kurang makan."
"Ya udah, makan dulu. Jangan sampai pingsan, nanti repot."
Nanti repot.
Louisa mengangguk pelan. "Iya."
Yvonne menyentuh lengan Kevin. "Kev, Om Herman cari kamu."
"Sekarang?"
"Katanya soal tamu dari Singapura."
Kevin menoleh kepada Louisa. "Kalau ada apa-apa, kabari Ray. Aku ke depan dulu."
Ia pergi begitu saja.
Seperti biasa, Kevin selalu pergi dengan keyakinan bahwa Louisa akan tetap berada di tempat yang sama ketika ia kembali.
Louisa menatap punggungnya sampai hilang di antara tamu.
Lalu ia meletakkan gelas sparkling water yang belum diminum ke meja terdekat.
"Bu, wine putih satu."
Staf bar tersenyum sopan. "Baik, Bu."
Louisa hampir mengoreksi panggilan itu, tapi kemudian membiarkannya. Mungkin malam ini ia memang terlihat seperti seseorang yang lebih tua dari usianya. Seseorang yang sudah terlalu lama menunggu.
Gelas pertama turun dengan rasa asam di lidah.
Gelas kedua membuat ujung jarinya hangat.
Gelas ketiga membuat suara ballroom terdengar jauh, seperti berasal dari balik kaca tebal.
Steven menemukannya di dekat balkon samping, saat ia sedang menatap lampu SCBD yang basah oleh gerimis tipis.
"Lulu, cukup."
Louisa menoleh. "Aku nggak mabuk."
"Orang mabuk selalu bilang begitu."
"Aku cuma capek."
Steven mengambil gelas dari tangannya. "Aku antar pulang."
"Jangan." Louisa cepat menggeleng. Terlalu cepat, sampai lantai terasa bergeser sedikit. Ia menggenggam railing balkon. "Aku bisa sendiri."
"Kamu nggak bisa sendiri malam ini."
Louisa menatap Steven. Mata sahabatnya penuh khawatir. Untuk sesaat, ia hampir ingin menangis di sana. Di depan orang yang tahu ia pernah menunggu Kevin di bawah hujan. Di depan orang yang mungkin sejak lama ingin bilang, cukup, jangan hancurkan dirimu lagi.
Tapi Louisa sudah terlalu terlatih untuk tidak merepotkan siapa pun.
"Steve, tolong. Aku cuma butuh udara."
Steven ragu. "Aku tunggu di dalam. Lima menit."
Louisa mengangguk.
Namun begitu Steven masuk kembali, ia berjalan ke arah pintu keluar.
Langkahnya tidak lurus. Sepatu hak tingginya mengetuk lantai marmer dengan ritme kacau. Ia melewati koridor hotel, melewati cermin besar yang memantulkan wajahnya. Lipstiknya masih rapi. Rambutnya masih rapi. Gaun satin warna mawar pucatnya masih jatuh indah di tubuh.
Hanya matanya yang berantakan.
Di lift, ia menekan tombol lobi. Angka-angka turun perlahan. Tiga puluh dua. Dua puluh sembilan. Dua puluh lima.
Ponselnya bergetar.
Kevin: Kamu lihat Ray?
Louisa menatap pesan itu lama.
Tidak ada pertanyaan kamu di mana.
Tidak ada kamu sudah makan?
Tidak ada kamu pulang dengan siapa?
Hanya Ray.
Pintu lift terbuka.
Louisa keluar ke lobi hotel yang luas. Aroma bunga segar dan kopi dari lounge bercampur dengan udara dingin AC. Di tengah lobi, rangkaian mawar putih melati berdiri tinggi di dalam vas kristal.
Louisa berhenti.
Mawar putih melati.
Pada hari kelulusan SMA, ia pernah membeli bunga seperti itu untuk Kevin. Ia menyimpannya sampai sore, menunggu kesempatan yang tepat. Lalu Kevin pergi lebih dulu karena ada urusan keluarga. Bunga itu akhirnya layu di kamar Louisa, kelopaknya jatuh satu per satu ke meja belajar.
Ia tertawa kecil.
Tawa itu pecah menjadi isak yang segera ia tahan dengan punggung tangan.
"Louisa."
Suara rendah itu datang dari sisi kiri.
Louisa menoleh.
Nathanael Susanto berdiri beberapa langkah darinya. Jasnya sudah terbuka, dasinya sedikit longgar, tapi wajahnya tetap tenang. Tidak ada rasa ingin tahu yang kasar di matanya. Tidak ada kasihan yang membuat orang ingin menghilang.
Hanya perhatian yang terlalu diam.
"Kamu sendirian?" tanyanya.
Louisa mengerjap. "Pak Nathanael."
"Nathanael saja."
"Aku..." Ia mencoba berdiri lebih tegak. "Aku lagi nunggu mobil."
"Kamu sudah pesan?"
Louisa membuka ponsel. Layar menyala, tapi ia lupa apa yang ingin ia lakukan. Aplikasi Grab ada di halaman kedua. Jarinya berhenti di atas layar tanpa menekan apa pun.
Nathanael tidak mengambil ponselnya. Ia hanya berdiri di sana, memberi jarak yang sopan.
"Aku bisa minta sopirku mengantar kamu pulang," ucapnya.
Louisa menggeleng. "Nggak usah. Aku nggak mau merepotkan."
"Tidak merepotkan."
Cara pria itu mengucapkan kalimat sederhana membuat Louisa menatapnya. Ada sesuatu di sana. Bukan basa-basi ballroom. Bukan keramahan bisnis. Seperti kalimat itu sudah lama disimpan, lalu akhirnya menemukan waktu untuk keluar.
"Kita kenal?" tanya Louisa pelan.
Nathanael terdiam sejenak.
Di belakangnya, pintu otomatis lobi terbuka. Udara malam Jakarta masuk membawa bau aspal basah. Suara klakson dari jalan terdengar jauh.
"Kita pernah satu sekolah," jawab Nathanael.
Louisa mengerutkan kening, mencoba mencari wajah itu di antara ingatan SMA yang penuh Kevin. Koridor, lapangan, kantin, hujan. Tidak ada yang jelas.
"Maaf," bisiknya. "Aku nggak ingat."
Nathanael menunduk sedikit. Senyumnya hampir tidak terlihat. "Tidak apa-apa."
Entah mengapa, jawaban itu membuat dada Louisa lebih sakit daripada jika pria itu tersinggung.
Ia melihat lagi rangkaian mawar putih melati di tengah lobi. Kelopaknya segar, putih, bersih, seolah tidak pernah tahu rasanya menunggu sampai layu.
"Aku bodoh, ya?" gumamnya.
Nathanael menatapnya. "Kenapa bilang begitu?"
"Sepuluh tahun suka sama orang yang bahkan nggak pernah lihat aku." Louisa tertawa pelan, kali ini tanpa tenaga. "Malam ini aku baru sadar. Selama ini aku bukan tokoh utama di ceritanya. Aku cuma orang yang dia hubungi kalau butuh sesuatu."
Nathanael tidak langsung menjawab.
Kesunyian di antara mereka anehnya tidak membuat Louisa malu. Mungkin karena wine sudah membuat kepalanya ringan. Mungkin karena pria di depannya terlalu asing untuk menghakimi, tapi terlalu tenang untuk ditakuti.
"Kalau begitu," ucap Nathanael perlahan, "berhenti berdiri di cerita orang yang tidak memilihmu."
Louisa mengangkat wajah.
Matanya panas. Namun kali ini, air mata tidak jatuh. Ia menatap pria yang nyaris tidak ia ingat, pria yang suaranya tidak memerintah, hanya membuka pintu kecil yang selama ini tidak pernah ia lihat.
"Kalau aku berhenti," bisiknya, "aku harus ke mana?"
Nathanael memandangnya lama.
"Ke tempat yang membuatmu tidak perlu memohon untuk dilihat."
Kalimat itu menghantam bagian paling lelah dalam diri Louisa.
Ia ingin tertawa, ingin menangis, ingin pulang, ingin menghapus sepuluh tahun dari kulitnya. Di luar, hujan mulai turun lebih deras, menepuk kaca lobi dengan suara rapat. Di ponselnya, pesan Kevin masih belum dibalas.
Louisa mematikan layar.
Lalu ia maju setengah langkah ke arah Nathanael.
"Nathanael."
"Ya?"
"Kamu belum menikah, kan?"
Sorot mata Nathanael berubah. Sangat halus, tapi Louisa melihatnya.
"Belum."
"Punya pacar?"
"Tidak."
"Bagus."
Nathanael menahan napas. "Louisa, kamu mabuk."
"Sedikit."
"Aku antar kamu pulang dulu."
Louisa menggeleng lagi. Kali ini lebih pelan. Ia menatap mawar putih melati, lalu menatap pria di hadapannya. Untuk pertama kalinya malam itu, ia tidak ingin kembali ke ballroom. Tidak ingin menunggu Kevin. Tidak ingin menjadi orang yang selalu tersedia.
Ia ingin melakukan satu hal gila.
Satu hal yang bukan untuk Kevin.
Satu hal yang mungkin akan ia sesali besok pagi, tapi malam ini terasa seperti satu-satunya cara untuk keluar dari cerita lama.
Louisa menarik napas. Ujung jarinya masih dingin, tapi suaranya keluar jelas.
"Nikah sama aku, ya?"