"Sakit, Mas! Apa yang kamu lakukan ke aku itu sangat menyakiti hatiku! Gimana bisa kamu ngelakuin ini ke aku, dan itu adalah adikku sendiri. Lalu kamu, kenapa kamu tega sama kakak mu ini haah!!"
Suara Swastamita bergetar hebat ketika berkata demikia kepada suaminya, Erdio Rasmaluyo.
Betapa tidak bergetar, rasa sakit di hatinya sangat nyata. Suami yang memintanya untuk melepaskan karinya demi menjadi ibu rumah tangga seutuhnya ternyata malah berselingkuh dengan adik tirinya.
Yang lebih mengejutkan adalah, perselingkuhan yang dilakukan Erdio dan Medini itu diketahui oleh sang ibu.
Sakit hati Swastamita ketika mengetahui bahwa di rumah itu hanya dirinya yang tak tahu apa-apa.
Adik tiri yang sangat ia sayangi melebihi dirinya sendiri tega menjadi duri dalam daging pada rumah tangganya. Dan suami yang ia jadikan imam, malah menorehkan luka yang begitu dalam.
Bagaimana Swastamita menghadapi rasa sakit yang dirasakannya tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suara Aneh Di Kamar Adikku 01
Bismillah, ini karya ku yang lain. Bagi yang tidak suka genre mafia kayak di sebelah, kalian bisa baca ini.
Tapi lagi-lagi, aku minta tolong ke kalian buat baca konsisten ya. Jangan ditabung, jangan dikumpulin banyak dulu baru baca. Kalau nggak bisa konsisten, mending bacanya nanti saja kalau udah tamat atau kalau udah banyak. Okey, makasih ya. Mari saling menabur kebaikan. Selamat membaca.
...****************...
Krieeeet
Krieeeet
Swastamita, atau kerap dipanggil Mita mengerutkan alisnya ketika mendengar suara aneh di kamar adiknya, Medini atau Medi. Mita yang merasa haus di tengah malam pergi untuk mengambil air minum di dapur. Namun langkahnya terhenti ketika melewati kamar sang adik.
Ughhh .... Aaahhhh
"Medi, dia lagi ngapain? Suaranya kok begitu?" gumam Mita. Dia merasa heran dengan suara yang didengarnya itu. Medi masih gadis, kenapa bisa ada suara seperti itu? Suara desahhan yang sangat familiar. Bak sepasang manusia tengah berhubungan intim.
Aaaah
Lagi, suara itu semakin terdengar jelas ketika Mita mendekatkan telinganya di pintu kamar sang adik. Pikiran Mita seketika melalang buana.
Yang ia tahu, Medi adalah gadis pemalu dan juga sangat lugu. Tak pernah sekalipun dia membawa pria untuk datang ke rumah. Jadi menurut Mita, sangat mustahil Medi melakukan hal-hal yang diluar norma seperti dalam pikiran Mita.
Mita menggelengkan kepalanya, dia mengusir pikiran buruknya terhadap sang adik. Ia mencoba untuk tetep berpikir positif.
"Ah sebaiknya aku cepetan kembali ke kamar,"ucap Mita sambil membawa botol air nya.
Fyuuh
Mita lantas menghembuskan nafasnya kasar ketika melihat ke sekeliling kamar. Rasanya sangat sepi. Dia selalu merasa tidak nyaman jika suaminya tengah pergi ke luar kota demi sebuah pekerjaan.
Jika dulu saat masih bekerja, Mita akan sibuk dengan pekerjaannya, sehingga tak terlalu memikirkan Erdio ketika dinas keluar kota, maka sekarang dia benar-benar merasa kesepian. Sudah enam bulan Mita resign dari pekerjaannya karena permintaan Erdio. Dan setiap kali ditinggal oleh suaminya seperti ini, Mita pasti selalu terbangun di tengah malam.
"Mas Er baru pulang besok. Seminggu rasanya lama banget sih ya. Coba kalau aku masih kerja. Pasti nggak bakalan kayak gini rasanya. Hush Mit, nggak boleh ngomong gitu. harus ikhlas, suami mu yang minta. Kalau emang suami lebih suka kamu di rumah ya berarti emang lebih berkah di rumah. Ikhlas yuk ikhlas, siapa tahu dengan ini kita juga lebih cepet punya baby kan?"
Mita mengucapakan kalimat positif untuk mengafirmasi dirinya sendiri terkait apa yang tengah dirasakannya. Dia sama sekali tak memiliki pemikiran buruk tentang suaminya. Hanya sesekali saja dia merasa menyesal karena meninggalkan pekerjaan yang sudah dilakukannya sejak lulus kuliah.
Swastamita menikah dengan Erdio Rasmaluyo ketika karirnya berada di puncak. Menikah diusia 25 tahun, saat dia berada di posisi kepala HRD. Swastamita adalah lulusan S1 Psikologi. Sambil bekerja, Mita melanjutkan S2 pada bidang Magister Manajemen. Mita lulus dengan predikat cumlaude, dan mendapat apresiasi dari perusahan tempatnya bekerja. Tak lama, ia diangkat menjadi kepala HRD. Namun baru setahun menjabat, Mita harus mengundurkan dirinya dari pekerjaan karena suaminya yang menginginkan Mita berada di rumah.
Rasanya sangat sayang sebenarnya, akan tetapi Mita yang ingin fokus mengabdi untuk suaminya, memilih mengikuti keinginan sang suami.
"Aku kan juga sibuk sama kerjaan ku. Kalau kita sama-sama sibuk, kita jadi sulit ketemu kan. Lebih baik kamu resign aja dan ada di rumah." Begitulah ucapan Erdio kepada Mita waktu meminta Mita untuk resign dari pekerjaannya.
"Bener, jangan disesali. Kalau suami ridho, pasti bakalan jadi pahala juga buat aku kan?" ucap Mita menyemangati dirinya sendiri.
Alhasil setelah berkutat dengan pemikirannya, akhirnya Mita bisa juga memejamkan matanya.
Dalam tidurnya Mita tiba-tiba bermimpi. Dia memimpikan suaminya. Dalam mimpinya itu, Mita tersenyum lebar saat melihat Erdio. Akan tetapi Erdio bejalan menjauh darinya.
"Mas!! Mas Er!!" pekik Mita memanggil Erdio. Namun Erdio tidak menengok barang sebentar pun. Pria itu terus berjalan semakin menjauh dari tempatnya berdiri.
Mita tentu tak tinggal diam, dia berusaha mengejar suaminya. Sambil terus memanggil nama Erido, Mita berlari. Namun semakin dirinya mendekat, Erdio semakin menjauh.
"Mas Er, tunggu aku Mas. Aku Mita, aku istri kamu!! Kenapa kamu nggak mau nunggu aku!!"
Mita terus memanggil nama Erido, nafasnya mulai terengah-engah. Akan tetapi Erdio seakan tuli, dia terus saja melenggang pergi tanpa mengindahkan panggilan Mita.
Langkah Erdio semakin cepat sehingga Mita juga kesulitan unyuk mengejarnya. Berkali-kali ia memanggil suaminya, sama sekali tak ada tanggapan.
Erdio semakin jauh, namun dengan jelas Mita bisa mendengar tawa penuh kebahagiaan dari pria itu.
"Mas!! Mas Erdio!!!" pekik Mita dalam mimpinya.
"Astagfirullah, ya Allah. Apa mimpi ku barusan? Kenapa aku malah mimpi kayak gitu tentang suamiku? Lalu ini apa, kenapa aku menangis?"
Mita terbangun dari tidurnya. Dia lalu mengusap air mata yang terlanjur meleleh di pipi. Sungguh dirinya tak percaya bahwa akan mendapati mimpi yang menurutnya sangat menakutkan itu.
Bagaimana tidak, Mita sudah mengafirmasi dirinya untuk berpikiran positif sebelum tidur. Tapi yang didapatnya malah sebuah mimpi yang begitu buruk. Suaminya berjalan menjauh darinya, dipanggil tidak menyahut, dan malah tertawa bahagia tanpa menoleh barang sedikit pun kepada dirinya.
"Ini hanya bunga tidur dan nggak berarti apa-apa. Ya, aku nggak boleh terlalu mikirin mimpi kayak gitu,"ucap Mita meyakinkan dirinya.
Wanita berusia 26 tahun itu bangkit dari tempat tidurnya, ia bergegas ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu lalu segera menjalankan ibadah sholat subuh. Mita tak ingin terlalu kelewat sholat subuhnya. Terlebih jam sudah menunjukkan pukul 05.00.
Tok tok tok
"Mit, Mita? Kamu udah bangun belum?"
"Ya Bu, udah nih."
Mita segera melipat sajadah dan mukenanya. Ia lalu menuju ke pintu untuk memenuhi panggilan sang ibu.
"Ada apa, Bu?" tanya Mita setelah membuka pintu kamar.
"Ini, kamu ke pasar ya. Katanya Erdio mau pulang. Di rumah nggak ada bahan makanan apapun. Ya kali suami habis pulang dari luar kota kamu nggak masakin apa-apa. Kasihan Erdio, pasti capek dan dia pasti seneng kalau disambut dengan makanan yang lezat-lezat."
"Oh iya ya, ibu bener juga. Mumpung masih pagi juga. Di pasa pagi, pasti bahan makanannya masih seger-seger. Makasih ya Bu, udah ngingetin aku. Aku siap-siap dulu bentar."
Warsiah, wanita berusia 55 tahun itu tersenyum lebar sembari mengangguk. Dia kemudian melenggang pergi meninggalkan kamar Mita. Tujuannya sudah tercapai yakni meminta Mita untuk pergi ke pasar. Dia tidak mungkin pergi sendiri karena dengan dalih usianya yang sudah tua. Dan memang sudah sepantasnya hal tersebut dilakukan oleh Mita.
Hanya butuh waktu sepuluh menit, Mita bersiap. Dia mengenakan jaket dan juga helm. Meski di rumah ada mobil, tapi hanya untuk peri ke pasar, Mita memilih menggunakan motor.
Tak hanya karena itu, mobil honda jazz yang dibelinya ketika bekerja itu sekarang dipakai oleh Medi untuk berangkat kuliah.
Namun sejatinya Mita tak masalah. Jika itu untuk keperluan sang adik, dia tak akan perhitungan. Toh dirinya sekarang juga hanya di rumah saja, tak melakukan mobilitas yang tinggi sehingga menggunakan motor sudah cukup baginya.
"Bu, aku pergi dulu ya. Oh iya dimana Medi, dia mau nitip apa?"
"Oh eh, ehm nggak usah. Medi belum bangun, semalem katanya nglembur ngerjain skripsi. Jadi dia belum bangun. Tadi ibu udah coba ketok-ketok pintu kamarnya, tapi nggak digubris sama tuh anak."
"Oh, oke kalau gitu. Aku pergi dulu ya Bu. Assalamualaikum.
"Waalaikumsalam."
Fyuuuh
Warsiah bernafas lega. Seolah ada sesuatu yang ditutupinya dari Mita. Setelah Mita naik motor dan menjauh dari lingkungan rumah, wanita paruh baya itu langsung berlari menuju ke kamar Medini.
"Cepetan, buruan keluar!! Mita baru aja keluar. Cepet pergi!!"
TBC