NovelToon NovelToon
Terjerat Hati Adik Ipar

Terjerat Hati Adik Ipar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Selingkuh / Penyesalan Suami
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Senjani jingga

Thanaya Radiva dikira menikah adalah akhir dari kesepiannya. Arkan lelaki yang selalu setia mendengarkan keluh kesahnya setiap malam, selalu membuatnya bahagia.

Tapi setelah menikah, malam pertamanya jadi malam terakhir Arkan menyentuhnya. Akhir dari sikap hangatnya, semuanya telah berubah.

Sampai Naya tau, Mertuanya yang ternyata bermuka dua dan kehadiran Bara, adik Arkan, jadi bumerang dalam rumah tangganya. Bara lelaki dingin berhati hangat, siswa populer di sekolahnya dulu, menyimpan sejuta rahasia yang Naya ingin bongkar. Semakin Naya tahu, semakin ia terjebak dalam hati Bara.

Akankah Naya terus terjerat dalam cinta yang salah dengan adik iparnya? Atau ia akan mengakhiri jeratan itu demi suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 01•Dibalik Senyuman

Thanaya Radiva, sering disapa Naya. Mahasiswa jurusan ekonomi, beasiswa aktif, hidup sebatang kara di kota besar.

Senyumnya selalu merekah setiap berangkat ke kampus, dan dia tidak pernah punya teman. Hidupnya hanya berisi kuliah, kerja dan bertahan hidup.

Pagi sampai sore hari kuliah. Malamnya part time di minimarket dekat kontrakan. Biar bisa makan nasi walaupun tanpa lauk. Biar bisa bayar kontrakan tiap bulan. Biar bisa bertahan hidup di tengah kota besar.

Cita-citanya tidak pernah muluk-muluk. Cukup jadi orang jujur dan punya banyak uang. Naya pendiam kalau tidak diajak mengobrol duluan. Tapi dia sering senyum, walaupun dompetnya kosong.

Malam itu jam 10. Satu jam sebelum toko tutup. Naya sedang menata barang di rak. Dirapihin satu persatu supaya terlihat bagus. Setelah selesai, dia tersenyum lihat hasil kerjanya. Mumpung lagi sepi pelanggan.

Tiba-tiba ada yang mendatangi Naya.

“Mbak, mie cup yang enak mana ya?”

Naya menengok. Cowok tinggi, rambut lepek karena keringat. Kemeja putih kusut, keluar sebelah. Kantung matanya item.

Tapi wajahnya tidak datar. Dia bertanya sambil senyum. Senyumnya lumayan manis.

“Di sebelah sini Mas,” jawab Naya sambil nunjuk.

Cowok itu ambil mie cup dan kopi. Bayar di kasir. Naya ngasih kembaliannya.

Dia senyum lagi. “Makasih ya.”

Baru pertama kali sejak Naya kerja di sini ada cowok seramah itu sama dia.

Cowok itu duduk di pojok minimarket. Makan mie cup yang baru diseduh serta minum kopi. Matanya melihat awan hitam di luar kaca. Entah apa yang ada di pikirannya. Tapi membuat Naya cukup penasaran.

Sejak saat itu, dia datang setiap malam. Jam 9 atau jam 10. Selalu pesan mie cup sama kopi yang sama. Naya udah hafal.

Sampai suatu malam, cowok itu iseng bertanya.

“Mbak shift malam terus ya?”

“Eh, eum iya Mas. Pagi saya kuliah,” jawab Naya ragu. Soalnya dia memang jarang ngobrol ataupun bicara dengan pelanggan.

“Saya Arkan. Boleh tau nama Mbak siapa?”

Deg. Jantung Naya berantakan. Cowok itu memperkenalkan diri tiba-tiba banget.

“Saya Naya.”

Sejak itu, semua berubah.

Naya mulai dekat sama Arkan. Pulang kerja bareng, karena Naya pulang jam 11. Entah kenapa Arkan seperti menunggu Naya pulang. waktu minimarket tutup, Arkan berdiri sambil senyum. “Pulang bareng?”

Naya angguk. Sambil senyum malu.

Pertama kali itu juga, Naya berani cerita soal hidupnya ke Arkan. Beban yang selama ini cuma dia pendem sendirian. Lega. Sekaligus bahagia.

"Aku sendirian Mas disini, kuliah karena dapat beasiswa.." cerita Naya saat sedang jalan pulang bersama Arkan.

Arkan berhenti, dia menatap Naya dalam banget, sampai Naya berpaling karena gugup. "Orang tua kamu kemana, kok tega sih biarin anak gadis sendirian di kota besar gini?" ujar Arkan, dia terlihat khawatir untuk pertama kalinya kepada Naya.

Naya kembali menatap Arkan, dia melihat sesuatu dimata Arkan yang tampak jernih, walaupun malam itu gelap dan hanya di kelilingi lampu jalan yang cukup redup, namun Naya mampu melihat mata Arkan yang nampak teduh.

"Orang tuaku sudah nggak ada Mas.." Jawab Naya, dia sudah terbiasa menangisi orang tuanya yang lebih dulu pergi meninggalkannya sendirian, bahkan ia tak bisa lagi menangis saat cerita kepada orang lain tentang orang tuanya.

Arkan berpaling, ia membuang pandangan. Matanya menuju ke arah kakinya, langkahnya mulai melambat. "Nay, kamu kuat banget. Aku temenin kamu pulang kerja tiap malam biar kamu gak ngerasa sendirian lagi" ujar Arkan, kembali tersenyum kepada Naya, dan melihat mata Arkan sedikit berkaca saat menatapnya.

Naya merasa nyaman bersama Arkan. Cara dia menanggapi ceritanya membuat Naya seperti dipeluk sambil dipuk-puk. Nyaman banget.

Satu bulan berlalu. Mereka pulang kerja bareng lagi. Arkan mengajak Naya duduk di taman. “Sebentar aja.” ujar Arkan setelah membantunya menutup rolling dor.

Dia memberi Naya cincin. Naya tidak tau itu perak atau stainless. Tapi dia bahagia.

“Nay, sama aku yuk. Biar kamu gak sendirian lagi,” kata Arkan. Dia genggam tangan Naya erat sekali. Seperti bangga akan punya Naya.

Saat itu Naya tidak sadar. Atau udah gila karena saking sukanya sama Arkan. Dia tidak bisa membedakan mana cinta, mana kasihan.

“Iya, aku mau Mas.”

Mereka resmi pacaran. Singkat, padat. Arkan menjadikan Naya pacar saat sudah nyaman ngobrol tiap malam. Ngobrol singkat isinya keluhan hidup Naya.

Entah Arkan kasihan atau sudah suka. Yang pasti, Naya sudah lebih dulu suka sejak pertama melihat Arkan senyum sama dia. Jantungnya seperti mau pindah tempat.

......................

Satu tahun... Dua tahun... Lima tahun.. Mereka pacaran selama itu, dan Arkan selalu datang tiap malam nemuin Naya di minimarket ataupun kontrakannya.

Setelah lulus kuliah, Naya mencoba melamar di perusahaan besar, beruntungnya dia diterima. Tahun ketiga pacaran, Naya sibuk bekerja. Dan mereka semakin jarang bertemu. Tahun keempat, pekerjaan Naya sedikit longgar bisa pulang malam dan mereka bertemu di malam hari.

Tahun kelima, Naya masih semangat banget. Padahal bisa banget dihitung pakai jari berapa kali dalam setahun Arkan janjian bertemu dengan Naya waktu masih ada matahari, katanya dia sibuk, super sibuk. Kerjaannya di kantor sebagai pegawai sipil membuatnya tidak bisa bebas.

Libur seminggu sekalinya cuma untuk mengerjakan pekerjaan yang belum selesai di hari yang lalu, di kontrakan Naya cuma menumpang menyelesaikan pekerjaan. Tapi hal begitu membuat Naya cukup bahagia, quality time katanya.

"Nay maaf ya aku bawa kerjaan ke kontrakan kamu lagi, gak papa kan sayang..?" kata Arkan saat itu, barang bawaannya satu tas penuh, laptop dan banyak berkas-berkas.

Naya senyum nyambut Arkan yang datang, dia membelikan cemilan, memasak makan siang, membuat es teh, mengelap keringat Arkan.

"Makasih ya sayang, kamu baik banget gak nuntut aku apapun" ujar Arkan setelah Naya mengelap keringatnya.

"Iya Mas, kamu disini aja aku udah bahagia kok" kata Naya sambil senyum, walaupun hampir satu jam Naya merasa pegal karena duduk terus menemani Arkan.

Drtttt.... Ponsel Arkan berbunyi, dia mengangkat teleponnya tapi sengaja jalan sedikit menjauh.

"Iya, aku selesain. Besok udah beres kok, tinggal terima bersih.... Iya sama-sama."

Naya dengar, walaupun Arkan sudah angkat telepon menjauh darinya tapi suaranya tidak bisa disembunyikan. Arkan mengantongi ponselnya lanjut duduk disebelahnya. Senyum sekilas terus melanjutkan ngetik di laptopnya.

"Siapa yang telepon Mas..?" pertama kalinya Naya penasaran, karena tidak biasanya Arkan teleponan memakai kata aku,kamu.

Arkan berhenti mengetik, dia menurunkan layar laptopnya sedikit. "Temen kantor Nay, dia tanya laporan yang aku buat" katanya, suaranya meyakinkan, tidak marah karena Naya terlalu kepo, hal kecil begitu membuat Naya lega. Entah Arkan terlalu bisa menutupi semuanya, atau Naya yang terlalu percaya.

Setelah satu minggu berlalu, malam itu dia tidak lagi datang ke kontrakannya, setelah Naya telepon beberapa kali baru diangkat.

"Maaf Nay, malam ini aku lembur jadi gak bisa datang" kata Arkan dari ujung teleponnya.

Naya percaya, dia lega kembali. Lalu lanjut tiduran di kasur empuknya, bahkan flat shoes dan baju kemeja kerja nya masih ia pakai saat sudah didalam kamarnya saking khawatirnya sampai tidak peduli dengan dirinya sendiri karena Arkan yang tak bisa dihubungi seharian.

...----------------...

Ditempat lain, sebuah cafe yang terlihat ramai. Cafe yang berisi orang-orang lelah berkumpul untuk minum kopi ataupun satu gelas bir dingin. Di pojok sana, Arkan duduk dengan ragu. Tangannya memegang gagang gelas bir dingin. Saking dinginnya membuat seluruh tubuhnya terasa beku.

"Mas, kok bengong sih" suara lembut wanita itu membuyarkan lamunannya.

"Eh.. Enggak kok Dew, gimana hasil laporan yang aku buat minggu lalu. disetujui apa gak tuh..?" ujar Arkan, tangannya sudah beralih dari gagang gelas bir, ia meremas lututnya, seolah sangat gugup dengan situasi saat itu.

...🍒🍒🍒...

...'Terkadang cinta yang tulus bukan hanya tentang ada setiap waktu, cukup meluangkan satu waktu untuk bertemu setiap hari sudah mampu dianggap tulus😁'...

1
azzura faradiva
terlalu berbelit²,tinggal bilang aku ga jadi nikah aja kok susah....🙄
azzura faradiva
dasar si Arkan bunglon semoga saja pasangan gila itu mendapatkan karma,mereka tertawa bahagia diatas penderitaan dan luka hati si naya
azzura faradiva
seharusnya Naya menghilang dan pergi yg jauh,biar ga pernah bertemu lagi dgn kluarga gila itu lagi
azzura faradiva
pergi aja, ngapain juga masih bertahan di rumah syetan itu.udah di tindas harga diri di injak² masih aja mau di jadikan budak🙄
azzura faradiva
lagian jadi perempuan ga ada harga dirinya sama sekali,udah tau di budakin dan di khianati masih saja bertahan tinggal disitu
Raden Saleh
💪 semangat terus berupaya, karena cinta tak selalu mulus, dan perlu di perjuangkan. 👍
senjani jingga: benar sekali😁💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!