Judul: My alter ego
Kehilangan orang tua, pengkhianatan suami, dan terjebak di kantor yang toksik membuat hidup Hira Lione hancur dalam semalam. Namun, saat keputusasaan mencapai puncaknya, sebuah suara misterius muncul di dalam kepalanya.
Demi membalas dendam, Hira membuat kesepakatan berbahaya: menyerahkan kendali tubuhnya pada sosok alter ego yang dingin dan kejam. Hira yang rapuh kini telah tiada, digantikan oleh predator yang siap meruntuhkan hidup siapa pun yang pernah menginjak-injak harga dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FantasiKuyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Pemilik Anjing Penjaga
"Ini fitnah murahan!"
Herman menggebrak meja mahoni di depannya. Urat-urat di leher pria berambut perak itu menonjol keluar. Wajahnya merah padam menahan kepanikan yang luar biasa.
"Anda merekayasa data perbankan internasional! Saya akan menuntut Anda atas pencemaran nama baik!"
Hira sama sekali tidak berkedip. Senyum miring di wajahnya justru semakin melebar.
Jari lentiknya menyentuh layar tablet digital di atas meja, menggeser sebuah dokumen ke tengah layar agar bisa dilihat jelas oleh semua orang di ruangan itu.
[Mutasi Rekening Offshore - Kepulauan Cayman. Penerima: Richard Herman. Nominal: USD 2.500.000.]
"Rekayasa yang sangat presisi kalau begitu."
Hira menyandarkan punggungnya ke kursi dengan gerakan elegan. Ia menyilangkan kakinya.
"Bahkan sampai ke detail pembelian villa mewah di pesisir selatan Spanyol atas nama putra sulung Anda bulan lalu."
Bahu Herman merosot seketika. Pria paruh baya itu jatuh terduduk di kursinya seolah kedua lututnya baru saja dipatahkan.
{Lihat wajahnya. Arogansi itu runtuh berkeping-keping hanya dengan satu baris nama.}
Suara alter ego bergema di dalam kepala Hira. Tawa pelan yang penuh kepuasan memanaskan aliran darah di nadinya.
Hira yang asli hanya diam. Ia mengamati bagaimana kekuasaan absolut di ruangan ini berpindah tangan dengan begitu brutal.
Pria berkepala plontos di sebelah Herman buru-buru menggeser kursinya menjauh. Suara gesekan kaki kursi dan lantai marmer terdengar sangat nyaring.
"Herman, kamu benar-benar kelewatan." Pria plontos itu menunjuk Herman dengan jari telunjuk yang gemetar. "Membawa keluarga dalam penggelapan uang perusahaan? Saya tidak mau ikut campur dalam urusan kotor ini!"
Hira memutar kepalanya pelan. Matanya menatap tajam pria plontos tersebut.
"Jangan terburu-buru menghakimi dan mencuci tangan, Pak Surya."
Hira menopang dagu dengan satu tangan.
"Atau haruskah saya buka juga folder bernama 'Proyek Pembebasan Lahan Fiktif' di dalam tablet ini?"
Surya langsung membeku di tempatnya. Pria itu menutup rapat-rapat mulutnya. Ia menundukkan kepala dalam-dalam, tidak berani membalas tatapan mata Hira sedetik pun.
Tiga direktur senior lainnya ikut menundukkan pandangan. Tidak ada satu pun dari mereka yang berani mengeluarkan suara pembelaan. Solidaritas mereka hancur total.
Hira kembali memusatkan perhatiannya pada Herman.
"Putra kebanggaan Anda sedang menempuh pendidikan magister hukum di sana, bukan?"
Hira memiringkan kepalanya sedikit. Tatapannya seolah sedang membedah isi kepala pria tua di hadapannya.
"Sayang sekali kalau karirnya harus hancur berantakan sebelum dimulai, hanya karena kasus pencucian uang lintas negara."
Tangan Herman gemetar hebat. Ia menoleh ke ujung meja. Tatapannya memelas ke arah Teran Honigan.
"Pak Teran... kumohon." Suara Herman kini terdengar parau dan pecah. "Kita sudah merintis perusahaan ini sejak era ayah Anda. Anda tidak bisa menghancurkan keluarga saya seperti ini."
Teran menyilangkan lengannya di depan dada. Wajah tegas pria itu sama sekali tidak menunjukkan belas kasihan.
"Hira yang memegang kendali atas datanya sekarang, Herman." Teran mengangkat dagunya ke arah Hira. "Bicaralah padanya. Bukan pada saya."
Herman menelan ludahnya dengan susah payah. Ia kembali menatap Hira. Segala bentuk harga diri dan senioritas yang ia banggakan sepuluh menit yang lalu kini sudah menguap tidak bersisa.
"Apa... apa yang kamu inginkan?"
Herman nyaris berbisik.
Hira mendorong tablet digitalnya ke seberang meja. Benda tipis itu meluncur mulus dan berhenti tepat di depan tangan Herman yang gemetar.
[Surat Pengalihan Saham dan Pengunduran Diri Tanpa Syarat]
"Tanda tangan."
Hira memberikan perintah mutlak tanpa ruang untuk tawar-menawar.
"Seluruh lembar saham Anda di perusahaan ini dikembalikan ke pusat. Dan Anda angkat kaki dari gedung ini tanpa membawa satu sen pun uang pesangon."
Herman menatap layar tablet itu dengan tatapan kosong. Air mata keputusasaan menggenang di pelupuk mata tuanya.
Ia mengangkat tangannya perlahan. Jari telunjuknya menyentuh layar, menggoreskan tanda tangan digital dengan gerakan yang sangat lambat dan bergetar.
Begitu proses verifikasi tanda tangan selesai, layar tablet itu berkedip hijau.
Hira menarik kembali tabletnya. Ia melirik sekilas ke arah empat direktur senior lain yang masih duduk mematung dengan wajah sepucat kertas.
"Satu sudah tumbang."
Hira tersenyum sangat manis.
"Siapa yang ingin menjadi sukarelawan berikutnya hari ini?"
Keempat pria paruh baya itu serentak membuang muka. Tangan mereka meremas lutut masing-masing di bawah meja.
Teran berdiri dari kursinya. Pria itu mengancingkan jas abu-abu gelapnya dengan satu tangan.
"Cukup untuk hari ini."
Suara bariton Teran memecah ketegangan di ruangan itu.
"Biarkan mereka bernapas dan memikirkan dosa-dosa mereka malam ini. Kita tidak ingin seluruh jajaran direksi terkena serangan jantung di hari yang sama."
Hira ikut berdiri. Ia merapikan kerah blus hitamnya dengan gerakan santai.
Ia berbalik, bersiap untuk mengikuti langkah Teran menuju pintu keluar.
Tiba-tiba, layar tablet digital di tangan Hira berkedip dua kali.
Notifikasi sistem keamanan tingkat tinggi menyala merah. Sebuah pesan teks memaksa masuk, menimpa seluruh dokumen yang sedang terbuka di layar.
Langkah Hira terhenti. Ia menurunkan pandangannya, membaca deretan kalimat di layar tersebut.
[Pengirim: Tidak Dikenal]
[Permainan pembuka yang cukup menghibur, Nyonya Lione. Anda berhasil menyingkirkan anjing-anjing penjaga saya dengan sangat rapi.]
Mata Hira menyipit tajam.
[Tapi mari kita lihat, apakah Anda punya nyali untuk berhadapan langsung dengan pemiliknya. Saya tunggu Anda di lantai basemen terdalam. Sendirian.]
Hira mendongak dengan cepat.
Matanya langsung menyapu wajah keempat direktur senior yang masih duduk di meja. Tidak ada satu pun dari mereka yang memegang ponsel atau perangkat komunikasi. Mereka semua masih tertunduk ketakutan.
Hira menoleh ke arah Teran. CEO itu sudah berdiri di dekat pintu, menaikkan sebelah alisnya melihat Hira yang tiba-tiba berhenti melangkah.
Jelas bukan Teran pengirimnya.
Pesan itu menyusup melewati sistem keamanan level eksekutif yang baru saja diberikan kepadanya.
{Ada monster lain yang bersembunyi di balik bayangan gedung ini.}
Jiwa Hira yang asli membeku. Sebuah peringatan bahaya berbunyi nyaring di dalam kepalanya.
Namun sang alter ego justru tersenyum. Seringai mematikan itu melebar sempurna di bibir Hira. Darahnya mendidih oleh rasa penasaran yang luar biasa.
{Akhirnya... lawan yang sepadan.}
lg seru nih
jm 9 ketemu dar, trus ketemu her & si botak, trus ketemu taren(lupa) trus ketemu victor, ini ketemu kael🤔 hrs'a sdh sore x thor
kodammu luar biasa!
🤝
ampe qu ulang baca part 1 hlo
biasa'a dirasuki jiwa lain, ini malah dr diri sendiri, mgkin ini kodam yg memberontak🤭
semangat thor💪