NovelToon NovelToon
The Professor’S Karma

The Professor’S Karma

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ra H Fadillah

​"Jangan berharap terlalu tinggi, Aruna. Mahasiswi seperti kamu hanya akan menjadi sampah di industri ini."

​Kata-kata tajam dari Baskara Dirgantara, dosen jenius yang berhati es, masih terngiang jelas di telinga Aruna. Di London, Baskara adalah hakim yang menghancurkan kepercayaan dirinya. Namun, sebuah tragedi besar memaksa Aruna kembali ke tanah air dengan rahasia yang ia simpan rapat-rapat, jantungnya sedang perlahan berhenti berdetak.

​4 Tahun Kemudian, Aruna bukan lagi mahasiswi yang bisa diremehkan. Ia adalah pewaris tunggal yang siap mengambil alih kekuasaan. Namun, tepat saat ia mencoba berdiri tegak, sosok Baskara kembali muncul. Bukan lagi sebagai pengajar, melainkan sebagai pria yang mendadak muncul di setiap sudut hidupnya mengawasi setiap geraknya, memonitor setiap helaan napasnya, dan menunjukkan dominasi yang tidak masuk akal.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 Barisan Terdepan

Udara London pagi itu terasa lebih tajam dari biasanya, menusuk hingga ke tulang lewat celah syal rajut tua yang melilit leher Aruna Prawijaya. Di depan gerbang universitas yang megah dengan arsitektur gotik yang kokoh, Aruna berdiri mematung sebentar. Tas ranselnya tampak terlalu besar untuk tubuh mungilnya, penuh sesak dengan buku-buku hukum yang beratnya tidak main-main.

​Penampilannya memang mencolok, tapi bukan karena kemewahan. Di antara mahasiswi lain yang menjinjing tas desainer dan mengenakan mantel wol seharga ribuan poundsterling, Aruna justru memakai jaket parka kedodoran dan sepatu kets yang warnanya sudah mulai memudar.

​"Lihat itu, dia tersesat ya?" bisik seorang gadis berambut pirang saat Aruna melangkah melewati koridor gedung Fakultas Hukum.

​Aruna menoleh, bukannya tersinggung, ia justru melempar senyum lebar hingga matanya menyipit. "Pagi! Ruang kuliah Hukum Perdata lewat sini, kan? Kamu cantik banget hari ini!"

​Gadis pirang itu melongo, kehilangan kata-kata untuk membalas sindiran yang justru disambut dengan pujian tulus. Aruna terus berjalan dengan langkah ringan. Baginya, tatapan merendah atau bisikan sinis hanyalah bising latar belakang. Fokusnya cuma satu, belajar.

Ruang auditorium utama sudah hampir penuh. Aruna tidak membuang waktu untuk mencari posisi aman di barisan belakang seperti kebanyakan mahasiswa baru yang masih malu-malu. Tanpa ragu, ia melangkah menuju baris paling depan, tepat di hadapan meja dosen yang masih kosong.

​"Permisi, boleh duduk di sini?" tanya Aruna pada seorang pemuda di sebelahnya yang tampak sibuk dengan MacBook terbaru.

​Pemuda itu menatap Aruna dari ujung kaki ke ujung kepala, lalu menggeser duduknya dengan wajah risih. "Duduk saja, asal jangan menaruh tas kumalmu itu di meja."

​"Oh, tentu! Terima kasih, ya," jawab Aruna ceria, seolah tidak menangkap nada ketus di suara laki-laki itu.

​Tak lama kemudian, suasana kelas yang riuh tiba-tiba senyap. Suara langkah sepatu pantofel yang beradu dengan lantai kayu terdengar berirama, berat dan tegas. Pintu terbuka, dan seorang pria melangkah masuk dengan aura yang sanggup membekukan ruangan.

​Dia adalah Baskara Dirgantara. Dosen muda yang wajahnya seolah dipahat dari batu marmer, maskulin, simetris, namun luar biasa dingin. Setelan jas hitamnya melekat sempurna di tubuh tegapnya. Ia meletakkan tas kulitnya di meja tanpa suara, lalu matanya menyapu seluruh ruangan.

​Tatapan Baskara berhenti tepat di depan matanya. Di sana, seorang gadis dengan rambut berantakan dan jaket parka murahan sedang menatapnya dengan binar mata yang terlalu bersemangat. Baskara berdecih pelan, sebuah suara tipis yang hanya bisa didengar oleh Aruna. Matanya menyipit, menyiratkan ketidaksukaan yang terang-terangan terhadap pemandangan "kontras" di hadapannya.

​"Selamat pagi," suara Baskara rendah dan berat, bergema di setiap sudut auditorium. "Saya tidak suka membuang waktu. Saya akan mengabsen kalian satu per satu. Saat nama kalian dipanggil, berdiri, perkenalkan diri, dan sebutkan apa impian terbesar kalian masuk ke jurusan hukum ini."

​Satu per satu mahasiswa berdiri. Jawabannya seragam, ingin menjadi pengacara ternama, hakim agung, atau konsultan hukum di firma internasional. Baskara hanya mengangguk tipis, nyaris tanpa ekspresi.

​Hingga akhirnya, nama itu disebut.

​"Aruna Prawijaya."

​Aruna langsung berdiri tegak. Kursinya sedikit berderit, membuat beberapa mahasiswa di belakang tertawa kecil.

​"Saya, Pak! Nama saya Aruna Prawijaya. Saya dari Indonesia," ucapnya lantang dengan senyum yang tidak luntur.

​Baskara melipat tangan di depan dada, menyandarkan pinggulnya di pinggir meja kelas sambil menatap Aruna dengan pandangan meremehkan. "Dan apa impianmu, Gadis Kecil? Mencari beasiswa untuk memperbaiki gaya berpakaianmu?"

​Ledakan tawa pecah di seluruh ruangan. Beberapa mahasiswa bahkan terang-terangan menunjuk ke arah sepatu Aruna yang kusam. Aruna tidak merah padam, ia justru terkekeh pelan sebelum menjawab.

​"Bukan, Pak. Impian saya adalah pulang ke desa saya dan menjadi pembela bagi petani-petani yang tanahnya dirampas secara ilegal oleh perusahaan besar. Saya ingin hukum bukan cuma jadi milik orang yang bisa beli jas mahal seperti Bapak, tapi juga buat mereka yang hanya punya sandal jepit."

​Suasana kelas mendadak hening. Tawa yang tadi membahana hilang seketika.

​Baskara tidak terkesan. Ia justru melangkah mendekat hingga jarak mereka hanya terhalang meja dosen. Ia menunduk, menatap Aruna dengan mata elangnya yang tajam.

​"Impian yang naif," bisik Baskara, namun cukup jelas untuk didengar Aruna. "Dunia hukum tidak butuh pahlawan kesiangan dengan penampilan seperti gelandangan. Kamu hanya akan menjadi santapan empuk di pengadilan."

​Aruna tidak mundur satu senti pun. "Kalau begitu, saya harus belajar banyak dari Bapak supaya tidak jadi santapan, kan?"

​Baskara kembali berdecih. Ia memalingkan wajah dan kembali ke kursinya. "Duduk. Kita mulai materinya. Dan jangan pernah berpikir senyuman konyolmu itu bisa memberimu nilai tambahan di kelas saya."

​"Siap, Pak Baskara yang ganteng tapi galak!" jawab Aruna spontan.

​Seluruh kelas menarik napas serentak. Berani-beraninya dia? Baskara hanya diam, namun buku jari yang memegang pulpen tampak memutih karena genggaman yang mengeras. Ia tahu, semester ini akan menjadi sangat panjang dan melelahkan.

1
Desi Santiani
semangat trus thor up nyaa 😍💪
Desi Santiani
semakin seruuu, dtunggu selalu thor update kisah mereka😍
Desi Santiani
terima kasih thor, untuk up kisah mereka dgn lgsg bbrp bab, selalu dtunggu cerita mereka, sehat selalu thor /Heart/
Ra H Fadillah: Sama-sama 😉 Semoga kamu suka dengan ceritanya !
total 1 replies
Desi Santiani
semangat up nya trus thor, alur ceritanya sgt seru
Ra H Fadillah: Terima kasih, senang sekali melihat komentar mu yang sangat positif 😉 💞
total 1 replies
Ra H Fadillah
Terima kasih sudah bantu ngeramein💕 Semoga betah terus marathon bacanya ya!😇
Desi Santiani
up lg thor... ceritanya keren
⚔️⃠❥␠⃝ ͭ🍁🧸𝐘𝐖💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱
Mantap, Aruna, tunjukkan 'pesona'mu 🔥🔥🔥
⚔️⃠❥␠⃝ ͭ🍁🧸𝐘𝐖💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱: Cama², Ade, Siap, kami tunggu, udh gk sabar liat 'Karma' utk yg udh nyakitin Tuan Putri ❤️🤗😘
total 2 replies
Anonim
sepele bgt ni dosen 😡
Anonim
masuk tata rias aja lu michel 😡
Anonim
wahhhh 💞 cerita baru lagi dri author kesygn 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!