"Apa-apaan sih loe, pincang! Jangan sok kecantikan deh. Lebih baik pakai baju loe sana! Loe pikir gue bakalan tertarik apa sama loe!" ujar Zayn berkata kasar pada istrinya saat malam pertama mereka.
Varisha Salsabilla Jannah.
Gadis pincang yang baru saja kehilangan suami sekaligus calon anaknya.
Ia bahkan terpaksa harus menikah dengan adik iparnya sendiri, yaitu Zayn Alkautsar.
Adik ipar yang membenci dirinya.
Apakah pernikahan terpaksa ini akan berakhir mulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Regazz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehilangan suami tercinta
Bab 1 — Kehilangan suami tercinta
•••
Terlihat sepasang suami istri sedang berdiri menghadap sebuah bangunan rumah yang masih setengah dalam pengerjaan.
Pria bernama Adam tersebut merangkul pundak istrinya yang mengenakan gamis dan jilbab berwarna dark mauve, warna yang sama persis dengan gamis dan khimar yang ia kenakan.
Wanita tersebut berdiri dengan satu tangan yang memegang tongkat kecil untuk menopang tubuhnya.
Karena kecelakaan fatal ketika kecil, Varisha harus hidup dengan memegang tongkat sepanjang hidupnya. Kaki kanannya pincang.
Karena hal itu juga, ia kehilangan kedua orang tuanya saat itu.
"Sebelum anak kita lahir, insyaallah rumah ini akan siap, sayang..." ujar Adam sembari mengelus perut rata sang istri.
"Aamiin Ya Allah," balas doa sang istri yang bernama Varisha.
"Nanti kamu maunya rumah kita warna cat apa, sayang?" tanya Adam lagi.
Varisha nampak berpikir.
"Aku mau warna kalem aja, Mas. Sederhana tapi nyaman."
Adam mengelus pucuk kepala sang istri penuh kasih sayang.
"Siap, nyonya besar."
"Udah yuk, kita pulang. Udah keburu Maghrib nih. Kasihan Ayah dan Ibu pasti nungguin kita," ajak Adam meraih tangan Varisha untuk masuk ke dalam mobil mereka.
Mobil sederhana yang dihasilkan oleh Adam dari profesinya sebagai seorang dosen di sebuah kampus negeri ternama di kota ini. Tak hanya itu, Varisha juga seorang guru di sekolah swasta di kota Jakarta ini.
Sepanjang perjalanan, Adam tak henti-hentinya memegang tangan Varisha. Ia menyetir dengan hanya satu tangan saja. Suasana di luar begitu gelap akibat kabut serta hujan deras yang melanda sore ini.
"Fokus ke jalanan, Mas. Jangan pegang tanganku terus dong..." tegur Varisha lembut.
Cup.
Adam malah mencium punggung tangan istrinya.
"Tidak mau. Tangan sehangat dan selembut ini sampai mati pun tidak akan Mas lepaskan."
"Ihh, jangan ngomong-ngomong mati deh!" gerutu Varisha dengan nada tak suka.
"Kenapa? Kamu takut kalau Mas berpulang ke sang Khalik duluan?" tanya Adam sesekali melirik Varisha.
"Mas Adam jangan ngaco deh! Sana fokus lihat ke depan." Varisha mulai kesal karena Adam malah asyik menggoda dirinya.
"Oke, Mas akan pegang anak kita aja," sambung Adam lagi yang kini tangannya beralih ke perut Varisha. Ia bahkan tidak terlalu fokus melihat jalanan.
TIN!!!
TIN!!!
Suara klakson begitu kencang sekali, bertepatan dengan cahaya yang menyilaukan menyinari mobil mereka.
"AWAS MAS!!!" teriak Varisha.
Mobil tersebut langsung terhantam oleh sebuah truk besar yang membawa persediaan minyak goreng.
Mobil yang ditumpangi oleh Adam dan Varisha tersebut langsung berbalik.
Varisha seketika langsung terpental keluar mobil dengan posisi telungkup, merasa kesakitan di area perutnya.
"Akh!!" ringisnya tak tertahankan. Ia memegang perutnya.
Lalu, dari jarak beberapa meter, ia melihat Adam yang masih berada di dalam mobil dengan kondisi sebagian tubuh mobil yang sudah terbakar.
Adam mulai sedikit bergerak dengan kondisi kepala terluka parah.
Varisha mencoba menggapai tangannya pada Adam.
"Mas Adam ayo keluar, Mas..." lirih Varisha pelan tak sanggup bicara karena menahan rasa sakit.
Namun, Adam hanya tersenyum.
BOOM!!
Mobil tersebut meledak dahsyat tepat di depan mata Varisha.
"Tidak!!" teriak Varisha.
"Akh!!" perutnya kembali sakit.
•••
"Mas Adam!" panggil Varisha dalam posisi terbaring mencoba menggapai langit-langit kamar di bilik ruangan inap tersebut.
Ia kaget melihat dirinya yang kini sudah berada di dalam ruangan yang serba putih dan berbau etanol. Ia juga melihat botol infus yang menggantung di samping ranjangnya.
Ia berada di rumah sakit.
Ia melihat ada ibu Ratna di sampingnya. Ibu mertua Varisha dan termasuk ibu kandung Adam sendiri.
"Varisha, kamu sudah sadar, Nak?" tanya ibu Ratna begitu khawatir sekali.
"Mana Mas Adam, Bu? Dan anakku gak kenapa-kenapa, kan?" tanya Varisha bertubi-tubi sembari memegang perutnya.
Raut wajah Bu Ratna terlihat sedih.
"Maaf Varisha, anakmu tidak tertolong. Kamu mengalami keguguran dalam kecelakaan itu," jelas ibu Ratna menahan tangis. Ia memegang pundak Varisha, mencoba memberikan kekuatan pada wanita yang kini sudah berusia 27 tahun tersebut.
"Gak, Bu. Gak mungkin, Bu..." nada suara Varisha langsung tercekat menahan tangis.
"Sabar, Varisha."
"Hiks... hiks... hiks... tidak, anakku..." lirih Varisha menatap ke arah lain. Ia bahkan juga tak sanggup menatap ibu mertuanya.
"Kalau Mas Adam mana, Bu?" tanya Varisha lagi mencoba tegar menerima takdir yang pahit.
"Adam..."
"Bang Adam meninggal gara-gara loe, cewek pincang!" hardik seorang pria.
Ternyata dari tadi ia berada di sana.
Ia adalah Zayn, adik bungsu Adam.
Varisha kaget mendengar penuturan adik iparnya tersebut. Sedangkan ibu Ratna menatap putranya dengan tatapan tak suka.
"Kamu lagi bohong, kan? Gak mungkin Mas Adam meninggal dunia. Hiks... hiks... hiks..." tangisan Varisha semakin pilu.
Varisha menekan dadanya yang sesak.
"JANGAN BICARA BEGITU, ZAYN!" teriak seorang pria paruh baya yang baru saja masuk. Ia adalah pak Hendra, mertua Varisha.
Pria yang sudah setengah berambut putih namun tubuhnya masih tegap tersebut menatap Zayn dengan tatapan marah.
"Bapak jangan menutupi deh. Kan, Bang Adam meninggal dunia gara-gara si pincang ini. Coba saja dia gak ngereog minta pergi, pasti Bang Adam masih hidup sampai sekarang."
"Pergi kamu keluar, Zayn. Jangan memperkeruh keadaan," usir pak Hendra dengan wajah kesal.
Zayn lantas pergi. Tak lupa ia menatap Varisha dengan tatapan tajam dan benci.
'Ini semua gara-gara loe!' ucapnya dalam hati.
Varisha masih saja menangis tersedu-sedu. Memikirkan nasibnya yang kini sudah ditinggal suami dan anaknya sekaligus.
"Mas Adam, maafin aku..."
"Ini bukan salah kamu, Nak. Ini sudah menjadi takdir Allah, kita hanya bisa ikhlas dan sabar," ujar Bu Ratna memeluk sang menantu dengan penuh kasih sayang.
Varisha juga memeluk ibu Ratna dengan erat, meluapkan segala kesedihan dalam hatinya.
•••
Varisha menatap sebuah pusara yang tanahnya masih basah. Bahkan, bunga melati di atasnya masih segar. Di papan tersebut tertuliskan ADAM BIN MAHENDRA.
Sontak Varisha tersungkur jatuh terduduk di samping makam suaminya.
"Ya Allah, Mas..." air matanya langsung jatuh sembari memegang papan kuburan suaminya tersebut.
Ini nyata.
Sangat nyata.
Selama ini ia mengelak kalau suaminya masih hidup. Tapi kini kenyataan sudah ada di depan mata. Dan Varisha sampai detik ini masih belum percaya bahwa suaminya sudah tidak ada lagi di dunia ini.
Ia meneteskan air mata hingga membuat cadar yang ia kenakan jadi basah. Ia hanya menempelkan kepalanya di papan tersebut.
"Maafin aku, Mas. Aku gak bisa jaga kamu dan calon anak kita," ujarnya yang kini telah membaringkan kepalanya di atas pusara tersebut. Seolah-olah ia sedang memeluk suaminya kini.
Begitu lama Varisha duduk di sana, meluapkan segala rasa penyesalan dalam hatinya. Ia tak menyangka suaminya yang begitu ia cintai kini sudah tiada lagi di sisinya dalam sekejap mata akibat kecelakaan hebat tersebut.
"Mas Adam, padahal baru hampir satu tahun pernikahan kita. Tapi kamu sudah pergi duluan ninggalin aku hiks... hiks..."
Buru-buru, Varisha menyeka air matanya. Ia tak boleh larut berlama-lama. Ia akan sama saja semakin mempersulit keadaan suaminya di dalam sana. Ia berusaha tersenyum meski dipaksa.
"Jangan pikirkan aku, Mas. Meski berat, aku akan berusaha untuk ikhlas dengan kepergianmu. Semoga Allah menerima amal ibadahmu selama ini. Dan aku minta maaf jika selama ini aku belum menjadi seorang istri yang baik," ujar Varisha sembari mencium papan nama tersebut begitu lama sekali.
Tak lupa sebelum pergi, Varisha membaca beberapa doa. Bahkan saat ia pulang, ia tak hentinya melihat ke belakang. Hatinya begitu berat sekali meninggalkan Adam sendirian di tempat ini.
Lagi-lagi Varisha meneteskan air matanya. Ia semakin melangkahkan kakinya dengan cepat.
To be continue...
.. smangat untuk kak author .. sdah ngh sbar nungu bab berikutnya