Dua penulis rival.
Dua dunia cerita.
Dua takdir yang seharusnya tidak pernah bertemu.
Namun sebuah kecelakaan mengubah segalanya mereka terlempar ke dalam dunia novel yang mereka ciptakan sendiri.
Mo Chen, pangeran ketiga yang dianggap lemah namun menyimpan kekuatan tersembunyi.
Gu Yanran, putri panglima perang yang difitnah dan ditakdirkan mati demi politik kekaisaran.
Masalahnya… mereka tidak masuk ke dunia mereka sendiri.
Mereka masuk ke dunia satu sama lain.
Dan ketika dua cerita yang berbeda mulai menyatu, alur yang seharusnya sudah ditentukan mulai retak.
Kini tidak ada lagi naskah yang pasti.
Hanya satu pertanyaan yang tersisa:
Apakah mereka bisa mengubah akhir… sebelum cerita mengubah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhin Pasker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUA KISAH MENJADI SATU
Retakan Takdir
Dunia… tidak langsung berubah.
Ia retak… terlebih dahulu.
Bukan retakan yang bisa dilihat dengan mata.
Namun cukup untuk membuat segalanya terasa… tidak lagi nyata.
Waktu melambat.
Detik kehilangan arah.
Suara terulur panjang… lalu pecah menjadi gema yang asing.
Dan di tengah ketidakpastian itu
dua kesadaran… mulai terlepas.
Lin Xueyi tidak lagi merasakan tubuhnya.
Bukan karena ia hilang.
Namun karena keberadaannya… sedang diurai.
Seperti tinta yang larut dalam air.
Perlahan.
Tak terhentikan.
Cahaya keemasan muncul dari ketiadaan.
Bukan sekadar cahaya
melainkan sesuatu yang hidup.
Ia mendekat… membungkus… lalu menelan segalanya tanpa sisa.
Namun anehnya tidak ada rasa sakit.
Hanya kehampaan… yang terlalu tenang.
Di sisi lain
Zhao Wei berdiri dalam kegelapan.
Bukan gelap biasa.
Gelap yang bergerak.
Bernafas.
Mengawasinya.
Bayangan merayap di sekelilingnya seperti makhluk yang tak terlihat.
Mendekat… namun tidak menyentuh.
Ia mencoba melangkah.
Namun tidak ada lantai.
Tidak ada langit.
Tidak ada arah.
Hanya satu hal yang terasa nyata sesuatu sedang menariknya… ke suatu tempat yang tidak ia kenal.
Dan kemudian di antara cahaya yang menelan… dan bayangan yang mengikat…
terbuka sebuah celah.
Sangat tipis.
Hampir tak terlihat.
Namun cukup untuk mempertemukan dua pasang mata.
Lin Xueyi.
Zhao Wei.
Tatapan mereka bertemu.
Hanya sekejap.
Namun waktu seolah berhenti di antara momen itu.
Tidak ada kata.
Tidak ada pengenalan.
Namun ada sesuatu yang terasa salah… sekaligus familiar.
Seolah mereka pernah saling mengenal di kehidupan yang bahkan belum terjadi.
Retakan itu… akhirnya pecah.
Bukan dengan suara melainkan dengan kehancuran yang tak bisa dijelaskan.
Cahaya dan bayangan bertabrakan.
Berputar.
Menelan satu sama lain.
Hingga akhirnya semuanya runtuh menjadi ketiadaan.
Dalam satu tarikan napas
kesadaran mereka jatuh.
Terlempar.
Ditarik masuk ke dalam dunia yang berbeda.
Dan tepat sebelum semuanya benar-benar lenyap sebuah kesadaran muncul.
Singkat.
Namun tajam.
Ini bukan sekadar perpindahan.
Ini adalah takdir yang ditulis ulang.
Saat Lin Xueyi membuka mata ia tidak lagi berada di dunia asalnya.
Dan saat Zhao Wei menarik napas ia bukan lagi dirinya yang dulu.
Tanpa mereka sadari mereka tidak hanya melintas waktu.
Beberapa waktu sebelumnya.....
Cahaya… dan bayangan… lenyap.
Digantikan oleh
bunyi denting logam.
Ting.
Pintu lift hampir terbuka.
Namun sebelum celah itu melebar
lampu di dalamnya berkedip.
Sekali.
Dua kali.
Lalu…
padam.
Sunyi.
Lin Xueyi berdiri kaku di sudut kiri.
Tangannya menggenggam naskah dengan erat.
Tatapannya lurus ke depan dingin, seolah tidak peduli siapa pun yang ada di sekitarnya.
Di sisi lain Zhao Wei bersandar santai.
Namun matanya… tidak sepenuhnya tenang.
Ia tahu siapa wanita di depannya.
Dan wanita itu pun tahu siapa dia.
Tidak perlu perkenalan.
Karena dalam dunia yang mereka jalani mereka adalah rival.
Lomba penulisan itu mempertemukan mereka.
Dua nama yang terus dibandingkan.
Dua karya yang terus diadu.
Tema yang sama fantasi… romansa… dan balas dendam.
Namun arah cerita yang berbeda.
Seolah mereka menulis dua sisi dari satu kebenaran.
“…”
Tidak ada yang berbicara.
Lampu berkedip lagi.
Kali ini… lebih lama.
Zhao Wei mengangkat kepala.
“Ini nggak biasa.”
Lin Xueyi tidak menjawab.
Namun alisnya sedikit berkerut.
BRAKK!!
Lift tiba-tiba bergetar hebat.
Naskah di tangan Lin Xueyi hampir terjatuh.
Lampu menyala kembali tapi bukan cahaya biasa.
Cahaya itu… keemasan.
Terlalu terang.
Terlalu hidup.
Dinding lift… berubah.
Permukaannya beriak… seperti air.
“Apa ini…” bisik Lin Xueyi.
Untuk pertama kalinya nada suaranya tidak sepenuhnya tenang.
Zhao Wei berdiri tegak.
Matanya menyipit, mengamati setiap detail.
“Ini bukan kerusakan biasa…”
Tiba-tiba tangan Lin Xueyi bergetar.
Ia menatapnya.
Kulitnya… perlahan terurai menjadi serpihan cahaya.
“Apa yang terjadi”
Suara retakan terdengar.
Namun bukan dari lift.
Dari realita itu sendiri.
Zhao Wei menoleh.
Dan saat itu untuk pertama kalinya mereka benar-benar saling melihat.
Tanpa ego.
Tanpa rivalitas.
Hanya… dua orang yang menyadari mereka sedang kehilangan dunia mereka.
Cahaya itu membesar.
Menelan ruang.
Menelan suara.
Menelan segalanya.
Dan dalam satu tarikan mereka hilang.
Dua Takdir yang Salah
(Mo Chen)
Aroma dupa menyambut kesadarannya.
Mo Chen membuka mata perlahan.
Langit-langit ukiran naga.
Tirai sutra yang bergoyang pelan.
Dan pakaian berat… yang jelas bukan miliknya.
Ia diam.
Tidak panik.
Hanya… berpikir.
Ingatan masuk.
Cepat.
Terstruktur.
Tentang seorang pangeran ketiga…
yang lemah.
Tidak berguna.
Dan ditakdirkan… dilupakan.
Mo Chen tersenyum tipis.
“Sepertinya… aku melintas waktu.”
Namun dunia ini terasa aneh baginya.
Seolah ia mengenalnya… tapi tidak sepenuhnya.
Seperti membaca cerita yang pernah ia lihat…
namun bukan miliknya.
Ia bangkit perlahan.
Langkahnya ringan, namun terukur.
Tatapannya menyapu ruangan.
Setiap detail… ia simpan.
Setiap kemungkinan… ia hitung.
“Kalau ini benar dunia lain…”
Ia menatap tangannya sendiri.
“…maka aku harus berhati-hati.”
Senyumnya memudar.
Digantikan oleh ekspresi tenang… namun dalam.
“Aku belum tahu… peranku di sini.”
Namun jauh di dalam dirinya ada satu hal yang pasti.
Ia tidak akan menjadi seseorang… yang mudah disingkirkan.
(Gu Yanran)
Suara dentingan logam terdengar samar.
Diikuti oleh bau darah.
Gu Yanran membuka mata.
Langit merah senja menyambut pandangannya.
Asap tipis melayang di udara.
Tanah di bawahnya basah… oleh darah yang belum mengering.
Ia terdiam.
Napasnya tertahan sesaat.
“…Aku di mana?”
Ia bangkit perlahan.
Tubuhnya terasa berat.
Namun bukan karena lemah melainkan karena sesuatu yang belum ia pahami.
Di sekelilingnya medan perang.
Mayat berserakan.
Bendera robek.
Pedang patah tertancap di tanah.
Dan di tangannya sebuah pedang.
Gu Yanran menatapnya.
Lama.
Lalu ingatan masuk.
Tentang keluarga Gu.
Tentang pasukan.
Tentang peperangan yang belum selesai.
Dan tentang dirinya.
Napasnya sedikit bergetar.
“…Ini…”
Ia menutup mata sejenak.
Menyusun semuanya.
“Ini bukan duniaku.”
Namun berbeda dengan kebingungannya ada sesuatu yang terasa… selaras.
Seolah tubuh ini memahami segalanya.
Gu Yanran menggenggam pedang itu lebih erat.
Tatapannya perlahan berubah.
Dari bingung…
menjadi tenang.
“Kalau ini medan perang…”
Ia melihat ke arah horizon yang masih dipenuhi asap.
“berarti ini belum berakhir.”
Angin berhembus pelan.
Membawa suara langkah dari kejauhan.
Gu Yanran menoleh.
Beberapa prajurit masih bertahan.
Dan dari arah berlawanan pasukan lain mulai bergerak.
Matanya menyipit.
Tanpa ia sadari kakinya melangkah maju.
Bukan karena ragu.
Namun karena insting.
Insting seorang pejuang.
“…Baiklah.”
Ia mengangkat pedangnya.
Pelan.
“Kalau ini adalah awal dari cerita…”
Tatapannya menjadi tajam.
“…aku akan memastikan aku tidak mati di dalamnya.”