Tiga puluh ribu tahun peperangan berakhir dengan kehancuran Alam Dewa. Lin XingYu, sang Dewa Primordial terakhir, harus mengorbankan 99% basis kultivasinya demi memukul mundur sembilan Iblis Agung. Di ambang kematian, ia melintasi dimensi untuk mencari penerus dan menemukan Ling Xinyue—seorang gadis bumi berusia 16 tahun yang tengah menghitung detik terakhir hidupnya akibat kanker otak.
Kini, dengan jiwa manusia yang rapuh dalam raga dewi tercantik di jagat raya, Xinyue harus memulai perjalanan mustahil sejauh 50.000 mil menuju Pulau Warisan. Bersama Lian Yue, sang Merak Bulan Es, ia harus belajar menguasai kekuatan yang sanggup mengguncang semesta sebelum para Iblis Agung bangkit kembali. Ini bukan lagi tentang bertahan hidup dari penyakit, ini tentang menaklukkan takdir para dewa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon XING YI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 1:Perang Dan Takdir Kehidupan Kedua
Langit Alam Dewa tidak lagi mengenal siang dan malam. Selama tiga puluh ribu tahun, cakrawala hanya diisi oleh kilatan pedang yang membelah dimensi dan raungan Ras Iblis yang memekakkan telinga.
Lin XingYu, sang Dewa Primordial terakhir, berdiri tegak di atas hamparan mayat dewa dan iblis yang membeku dalam keabadian.
Jubah putihnya yang dulu melambangkan kesucian, kini ternoda oleh darah hitam legam milik dua belas Iblis Agung.
Dari dua belas penguasa kegelapan itu, kini hanya sembilan yang tersisa—dan mereka gemetar.
Di tengah puing-puing istana langit yang mengambang, Lin XingYu berdiri tegak. Jubahnya yang seputih salju kini terkoyak, ternoda oleh campuran darah perak dewa dan cairan hitam legam milik iblis.
Meskipun tubuhnya dipenuhi luka, kecantikannya tetap tidak tersentuh oleh kehinaan perang. Wajahnya yang sempurna—yang sering dikatakan sebagai mahakarya terbaik dari penciptaan alam semesta, memancarkan aura ketenangan yang dingin, meski matanya menyiratkan kelelahan yang luar biasa.
Di hadapannya, sembilan sosok raksasa yang diselimuti kabut hitam pekat menggeram. Mereka adalah sisa dari Dua Belas Iblis Agung, penguasa kegelapan yang telah menelan ribuan bintang selama peperangan ini.
"Tiga puluh ribu tahun..."
suara Lin XingYu keluar dari bibirnya yang pucat, pelan namun bergema di seluruh dimensi.
"Sudah terlalu banyak nyawa yang hilang. Sudah terlalu banyak bintang yang padam."
Di belakangnya, tujuh Dewa Ilahi yang tersisa berlutut dengan napas tersengal. Mereka adalah elit dari segala elit, namun di hadapan kekacauan ini, mereka hanyalah lilin kecil di tengah badai.
Lin XingYu tahu bahwa pedangnya tidak akan lagi cukup untuk menyapu bersih kegelapan ini. Sebagai Dewa Primordial terakhir, ia memikul tanggung jawab yang tidak bisa dibayangkan.
Ia menoleh sekilas ke arah tujuh dewa di belakangnya. Tatapannya memberikan perintah bisu.
"Bersiaplah".
Ia mulai mengangkat tangannya ke langit. Seketika, hukum alam di sekitar mereka mulai menjerit. Ruang dan waktu seakan retak di bawah kakinya.
"Dengan darah Primordialku, aku memanggil pengadilan abadi," gumamnya. Ini adalah Teknik Terlarang Pemutus Sembilan Jiwa Samsara.
Cahaya putih murni yang menyilaukan meledak dari tubuh Lin XingYu. Cahaya itu bukan berasal dari energi kultivasi biasa, melainkan dari inti jiwanya sendiri. Cahaya itu membentuk rantai-rantai transparan yang melesat menembus ruang, mengabaikan segala bentuk pertahanan fisik dan langsung menghujam inti jiwa sembilan Iblis Agung tersebut.
Jeritan yang sanggup meruntuhkan gunung-gunung pecah dari mulut para pemimpin ras iblis itu. Jiwa mereka, yang seharusnya abadi, mulai terkoyak dan pecah menjadi fragmen-fragmen kecil. Tekanan dari teknik ini begitu besar hingga Alam Dewa itu sendiri mulai bergetar hebat, seolah-olah dunia akan segera kiamat.
Namun, harga yang harus dibayar sangatlah mahal.
Sembilan Iblis Agung itu terjatuh, tubuh mereka hancur, dan aura mereka meredup drastis. Namun, dalam sisa-sisa kekuatan terakhir yang penuh keputusasaan, mereka membakar sisa jiwa mereka untuk menciptakan lubang dimensi.
"Kami tidak akan berakhir di sini, Lin XingYu!"
Raung salah satu iblis sebelum sosoknya menghilang ke dalam celah hitam, melarikan diri menuju alam bawah yang jauh dan gelap.
Lin XingYu mencoba mengejar, namun langkahnya terhenti.
Deg.
Jantungnya terasa seperti ditusuk oleh ribuan jarum es. Cahaya yang tadi memancar dari tubuhnya padam seketika. Ia terhuyung, darah segar keluar dari sudut bibirnya yang indah.
Basis kultivasinya—kekuatan yang ia kumpulkan selama jutaan tahun—mulai bocor keluar dari tubuhnya seperti air yang tumpah dari wadah yang retak.
Sembilan puluh sembilan persen kekuatannya lenyap dalam sekejap mata untuk mengaktifkan teknik tersebut. Yang tersisa hanyalah secuil energi yang nyaris tidak cukup untuk mempertahankan kesadarannya.
"Yang Mulia!" Tujuh Dewa Ilahi berlari mendekat, namun Lin XingYu mengangkat tangan, memberi isyarat agar mereka berhenti.
Kulitnya yang seputih porselen kini mulai terlihat transparan. Jiwanya yang agung mulai meredup, perlahan-lahan kehilangan cahayanya.
Ia menatap langit yang kini sunyi, menyadari bahwa meski perang besar telah usai, perjuangan baru saja dimulai. Para iblis itu masih hidup, dan ia... kini hampir tidak lebih kuat dari seorang manusia fana.
Rasa sakit yang dirasakan Lin XingYu saat ini bukan lagi sekadar luka fisik. Itu adalah rasa hampa yang mengerikan seolah-olah seluruh samudra di dalam dirinya menguap dalam sekejap, menyisakan palung yang kering dan retak.
Sebagai Dewa Primordial, kekuatannya adalah identitasnya. Kini, saat 99% basis kultivasinya terbakar habis, ia merasa seolah-olah sebagian besar dari keberadaannya telah dihapus dari hukum alam semesta.
Ia mencoba menggenggam sisa-sisa energi di udara, namun jemarinya yang gemetar hanya menangkap hampa.
Energi spiritual yang biasanya tunduk pada setiap kehendaknya, kini mengalir melewatinya begitu saja, seolah-olah ia bukan lagi penguasa dari energi tersebut.
"Apakah ini rasanya menjadi rapuh?"
Di matanya yang mulai meredup, ia melihat tujuh Dewa Ilahi yang tersisa. Wajah mereka yang biasanya kaku dan agung kini dipenuhi dengan ketakutan yang murni. Bukan takut akan kematian, melainkan ketakutan melihat pilar penyangga langit mereka runtuh. Salah satu dewa, yang memegang tombak perak yang telah patah, jatuh berlutut di sampingnya.
"Yang Mulia! Jangan bicara lagi! Kami akan menyegel inti jiwa Anda agar tidak terus meredup!" teriak dewa tersebut, suaranya parau karena debu peperangan.
Lin XingYu hanya bisa tersenyum tipis sebuah senyuman yang begitu indah namun menyayat hati bagi siapa pun yang melihatnya.
"Segel tidak akan bisa menahan... hukum pertukaran yang setara. Aku membayar keselamatan alam ini... dengan keabadianku."
Sementara itu, di celah dimensi yang diciptakan oleh ledakan jantung iblis, sembilan fragmen jiwa iblis agung itu meluncur jatuh seperti meteor hitam yang membawa kutukan.
Mereka melewati lapisan-lapisan awan Alam Dewa, menembus penghalang antar dimensi, dan menuju ke Alam Bawah dunia tempat manusia fana tinggal, di mana kekuatan para dewa hanyalah dianggap sebagai legenda.
Pelarian mereka meninggalkan jejak api hitam di langit. Kehadiran mereka di alam bawah akan menjadi benih bencana yang baru. Meski mereka lemah dan hanya tersisa secuil jiwa, bagi manusia fana, mereka tetaplah bencana yang tak terbayangkan.
Lin XingYu melihat jejak-jejak hitam itu menjauh. Ia tahu bahwa tugasnya belum benar-benar selesai. Jika ia membiarkan mereka pulih di alam bawah, maka pengorbanannya selama 30.000 tahun ini akan sia-sia. Dengan sisa kesadaran yang nyaris padam, ia membuat keputusan terakhir.
"Jika kegelapan jatuh ke sana... maka cahaya harus mengikuti," gumam Lin XingYu dalam hati.
Meski tubuhnya sekarat, Lin XingYu menolak untuk menyerah pada takdir. Ia memanggil teknik terlarang kedua—sebuah teknik pelacak jiwa yang mampu menembus batas-batas realitas.
Ia tidak mencari dewa lain, karena ia tahu dewa-dewa yang tersisa terlalu terikat oleh hukum alam mereka sendiri. Ia mencari seseorang yang memiliki "jiwa yang kosong" namun memiliki resonansi yang kuat dengan esensinya.
Jiwanya mulai meninggalkan tubuh fisiknya yang terluka, menjelajahi ruang hampa yang dingin. Ia melewati nebula yang terbakar, menembus lubang cacing yang memutarbalikkan waktu, hingga pandangannya yang mulai kabur tertuju pada sebuah galaksi kecil di sudut alam semesta yang terlupakan.
Di sana, ia menemukan sebuah planet biru kecil yang tenang—Bumi.
"Tunggu aku..."
Bisiknya, entah pada siapa. Apakah pada musuh-musuhnya yang melarikan diri, atau pada kehidupan barunya yang penuh ketidakpastian.
Lin XingYu meluncur turun seperti bintang jatuh yang tidak terlihat oleh radar manusia. Ia melintasi kota-kota yang bercahaya, masuk ke dalam bangunan-bangunan beton, hingga ia berhenti di sebuah ruangan yang berbau kematian dan obat-obatan.
Di atas ranjang putih rumah sakit, Ling Xinyue terbaring lemah. Gadis berusia enam belas tahun itu tampak seperti bunga yang layu sebelum sempat mekar. Kanker otak telah merampas segalanya; setiap detak jantungnya adalah perjuangan, dan setiap napasnya adalah rasa sakit.
Tiba-tiba, udara di kamar itu membeku. Waktu seolah berhenti berputar.
"Apakah kau ingin kehidupan kedua?"
Suara itu terdengar seperti harmoni musik kuno di telinga Xinyue. Ia membuka matanya yang sayu dan melihat sesosok wanita berdiri di tengah kamar. Wanita itu memiliki kecantikan yang melampaui imajinasi manusia—begitu sempurna hingga terasa menyakitkan untuk dipandang.
"Siapa kau?" bisik Xinyue. Ketakutan muncul di wajahnya yang pucat, namun ada kilatan rasa ingin tahu di balik matanya yang mulai meredup.
Lin XingYu menatap gadis itu. Ia melihat penderitaan yang sama dengan peperangan yang ia lalui, hanya saja dalam skala yang berbeda. "Aku adalah akhir dari masa lalumu, dan awal dari masa depanmu," ujar Lin XingYu lembut.
Ia menjelaskan siapa dirinya dan alasan mengapa ia menempuh perjalanan jutaan mil lintas dimensi hanya untuk menemukan Xinyue. Mendengar cerita tentang dewa, iblis, dan perang 30.000 tahun, Xinyue terdiam. Di dunia yang logis ini, hal itu terdengar seperti dongeng, namun rasa hangat yang terpancar dari jiwa Lin XingYu membuatnya percaya.
"Aku setuju," ujar Xinyue dengan tekad yang mendadak muncul dari sisa-sisa kekuatannya. "Jadi... apakah aku akan terlahir kembali?"
Lin XingYu tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sanggup meruntuhkan pertahanan batin siapapun.
"Terlahir kembali adalah pemborosan waktu. Aku tidak akan membiarkanmu memulai sebagai bayi yang lemah. Kau akan mengambil alih posisiku. Kau akan menggunakan tubuhku"
Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Lin XingYu menggunakan sisa energinya untuk menarik jiwa Xinyue keluar dari tubuhnya yang sekarat. Dalam sekejap, kesadaran Xinyue terlepas dari rasa sakit kanker yang menyiksanya selama empat tahun. Ia merasa ringan, seolah-olah ia baru saja melepaskan rantai besi yang mengikatnya.
Mereka melesat kembali menembus ruang, kembali ke Dunia asal Lin XingYu, Di alam bawah tepat ke sebuah gua tersembunyi di kaki gunung yang diselimuti kabut abadi.
"Woahh..." Xinyue bergumam saat melihat kemegahan alam yang sangat berbeda dari bumi.
"Ikuti aku!" perintah Lin XingYu.
Di dalam gua itu, Xinyue melihat tubuh Lin XingYu yang asli terbaring di atas altar giok. Meski tubuh itu tidak bergerak, auranya masih memancarkan keanggunan yang menekan.
"Ini adalah tubuhku—atau lebih tepatnya, mantan tubuhku,"
Jelas Lin XingYu saat jiwanya merasuk kembali ke tubuh itu untuk membuktikannya. Mata biru seputih salju itu terbuka, menatap Xinyue dengan kedalaman yang tak terduga. Kulitnya seputih porselen, sehalus sutra, namun pucat karena kehilangan kultivasi.
"Mulai sekarang, kaulah yang akan menggunakan tubuh ini. Apakah kau siap?"
Lin XingYu melangkah mendekat. Xinyue yang kini hanya berbentuk jiwa menyadari betapa tingginya tubuh dewi ini. Kepalanya bahkan tidak mencapai dada Lin XingYu. Ia mendongak, menatap sosok yang akan menjadi identitas barunya.
"Aku harus menggunakan tubuh ini?" tanya Xinyue tak percaya.
Lin XingYu mengangguk, menjelaskan empat alasan krusial: bakat luar biasa dari Ice Heart Body dan Universe Star Body, kecocokan jiwa mereka, perlunya mengubah aura agar musuh tidak mengenali, dan kenyataan bahwa jiwa Lin XingYu sendiri akan segera tertidur dalam kalung giok untuk waktu yang sangat lama.
Lin XingYu berdiri di tengah gua, tangannya mulai membentuk segel rumit yang memancarkan cahaya biru pucat. Udara di dalam gua mendadak menjadi statis, membuat bulu kuduk jiwa Ling Xinyue meremang.
"Selama proses perpindahan jiwa ini berlangsung, kau akan merasakan sakit yang luar biasa. Jiwamu akan dipaksa untuk mengisi setiap sudut sel tubuh dewa ini, menyatu dengan meridian yang tersumbat, dan mengikatkan diri pada inti kehidupan yang hampir padam. Tahanlah... jangan biarkan kesadaranmu hancur," peringat Lin XingYu dengan suara yang mulai bergetar.
Xinyue mengangguk. "Lakukan saja. Rasa sakit ini tidak akan lebih buruk daripada empat tahun di ranjang rumah sakit."
Lin XingYu menarik jiwa Xinyue mendekat.
Seketika, cahaya menyilaukan meledak dari dada sang Dewi Primordial. Xinyue merasa seolah-olah ia ditarik ke dalam turbin raksasa. Rasanya seperti setiap atom dalam jiwanya ditarik, diregangkan, dan dipaksa masuk ke dalam wadah yang sangat dingin.
CRAKK!
Suara itu terdengar di dalam kepalanya—suara tulang dan otot tubuh Lin XingYu yang mulai menerima penghuni baru. Xinyue menjerit tanpa suara. Sensasi dingin yang membeku mulai merambat dari ujung kaki hingga ke puncak kepala.
Baginya, ini bukan sekadar perpindahan; ini adalah penghancuran dan pembangunan kembali.
Di saat yang sama, jiwa Lin XingYu perlahan-lahan keluar dari bagian belakang tubuhnya, tampak seperti bayangan perak yang mulai memudar.
Proses ini berlangsung selama setengah jam yang terasa seperti ribuan tahun bagi Xinyue.
Saat proses itu selesai, tubuh yang terbaring di atas altar giok itu tersentak.
Kelopak matanya bergetar hebat sebelum akhirnya terbuka lebar. Pupil matanya yang kini berwarna biru cerah mencerminkan kebingungan yang murni.
Xinyue mencoba untuk langsung berdiri, namun tubuh barunya terasa sangat berat. Ia langsung tersungkur ke tanah yang dingin.
"Ugh..." suaranya kini terdengar berbeda—lebih jernih, lebih dalam, dan memiliki resonansi yang sejuk seperti gemericik air pegunungan.
Jiwa Lin XingYu yang kini berada di luar raga tampak begitu tipis, nyaris transparan seperti kabut pagi. Ia melayang mendekati Xinyue yang masih berusaha menyesuaikan koordinasi motoriknya.
"Kau harus belajar berjalan sebelum bisa terbang," ujar Lin XingYu lemah. Ia mengulurkan tangannya yang bayangan, memberikan sebuah kalung Giok berwarna biru cerah.
"Ini adalah Giok Permata Jiwa. Di sinilah aku akan beristirahat."
Xinyue menerima kalung itu dengan tangan yang gemetar. Ia memperhatikan jari-jarinya yang kini panjang, lentik, dan berkilau seperti porselen.
"Dengarlah baik-baik," lanjut Lin XingYu. "Kurang dari 50.000 mil ke arah utara, melintasi samudera yang tak berujung, ada sebuah pulau tersembunyi. Itu adalah tempat penyimpananku dulu. Kau bisa pergi ke sana dengan perahu yang aku sembunyikan di tepi danau. Di sana terdapat sumber daya, teknik kultivasi, dan harta karun yang akan membantumu pulih secepat mungkin."
Xinyue tersedak saat mendengar angka itu. "50.000 mil?! Senior, itu sama saja dengan aku mengelilingi Bumi sebanyak dua kali! Bagaimana mungkin aku bisa sampai ke sana dengan perahu?!"
Namun, Lin XingYu tidak memberikan jawaban lagi. Cahaya peraknya meredup drastis dan perlahan-lahan tersedot ke dalam permata pada kalung giok tersebut. Gua itu kembali menjadi sunyi, hanya menyisakan suara napas Xinyue yang kini terasa begitu lambat namun bertenaga.
Xinyue menarik napas dalam-dalam. Tiba-tiba, gelombang informasi mulai menghantam otaknya.
Ingatan Lin XingYu—serpihan-serpihan perang, wajah-wajah musuh, hingga letak geografis alam ini—mulai mengalir masuk.
"I-ini... adalah ingatan Lin XingYu!" Xinyue memegang kepalanya yang berdenyut. Ia melihat sebuah peta mental yang menunjukkan pulau di utara tersebut.
Setelah menghabiskan setengah jam untuk menyesuaikan diri dengan tinggi badan dan panjang kakinya yang baru, Xinyue akhirnya berhasil berdiri dengan tegak. Ia berjalan keluar dari gua dengan langkah yang awalnya ragu, namun perlahan menjadi anggun.
Di hadapannya, terbentang sebuah danau kristal yang dikelilingi oleh pepohonan bercahaya. Keinginan untuk menyentuh air itu begitu besar. Selama bertahun-tahun di bumi, ia hanya bisa melihat air dari balik botol infus.
Ia mendekati tepian danau, melihat bayangan dirinya di permukaan air yang tenang. Xinyue tertegun. Pupil matanya melebar, ia tak percaya ada wanita secantik ini di seluruh semesta.
Bayangan itu menunjukkan sosok dengan aura yang transenden, seolah-olah ia adalah perwujudan dari keindahan itu sendiri.
Ia melepaskan jubah beratnya dan melangkah masuk ke dalam danau. Sensasi air yang menyentuh kulitnya terasa sangat akrab. Tanpa sadar, ia tertidur dalam pelukan air dan cahaya bulan. Berendam selama berjam-jam seharusnya membuat manusia biasa mati membeku, namun bagi Xinyue, air dingin itu terasa seperti selimut yang hangat.
"Apakah ini kekuatan Ice Heart Body?" gumamnya saat terbangun di tengah malam.
Tiba-tiba, sebuah kilatan cahaya memecah kegelapan langit malam. Sebuah benda jatuh dengan kecepatan luar biasa, menghantam tanah di dekat danau tersebut dengan ledakan yang menggelegar.
Xinyue segera keluar dari danau, menyampirkan jubahnya yang basah, dan berlari menuju lokasi jatuhnya benda tersebut. Di tengah kawah yang masih mengepulkan debu dan percikan api hitam, sebuah sosok perlahan mulai terlihat.
"Eee-ini...!" Mata Xinyue membelalak saat debu itu menipis, memperlihatkan apa yang sebenarnya jatuh dari langit.
Debu yang menyelimuti kawah itu tidak kunjung reda, justru semakin pekat dengan aroma hangus yang aneh—campuran antara bau belerang dan sesuatu yang terasa dingin sekaligus tajam.
Xinyue berdiri di tepi kawah, jubahnya yang tipis berkibar ditiup angin malam. Jantungnya berdegup kencang, sebuah sensasi yang sudah lama tidak ia rasakan dengan begitu nyata.
"Siapa... atau apa yang jatuh?" bisiknya pada diri sendiri.
Perlahan, sosok di tengah kawah itu mulai bergerak. Itu bukan manusia, melainkan seekor makhluk yang menyerupai serigala, namun ukurannya sebesar kereta kuda.
Bulunya yang hitam legam tampak seperti terbuat dari asap yang membeku, dan di punggungnya terdapat sepasang sayap yang terkoyak, mengeluarkan cairan gelap yang merusak tanah di sekitarnya.
Mata makhluk itu terbuka—merah menyala seperti bara api yang ditiup angin. Saat tatapan mereka bertemu, Xinyue merasakan tekanan yang luar biasa menghantam dadanya. Ini bukan sekadar hewan buas; ini adalah fragmen dari Ras Iblis yang disebutkan Lin XingYu.
"Eee-ini...!" Xinyue melangkah mundur, kakinya yang masih lemas hampir membuatnya terjatuh. "Apakah ini salah satu dari sembilan iblis itu?"
Makhluk itu menggeram, suara rendah yang menggetarkan isi perut Xinyue.
Ia bisa merasakan kebencian yang murni terpancar dari mata merah itu. Meskipun makhluk itu terluka parah dan hanya merupakan fragmen kecil dari kekuatan aslinya, bagi Xinyue yang belum memiliki pengalaman bertarung sama sekali, ia tampak seperti malaikat maut.
Serigala iblis itu menerjang. Gerakannya sangat cepat, hanya menyisakan bayangan hitam di udara. Xinyue memejamkan matanya, secara refleks mengangkat tangannya untuk melindungi wajahnya.
Ledakan energi dingin mendadak meledak dari tubuh Xinyue. Tanpa ia perintah, Ice Heart Body miliknya bereaksi terhadap ancaman kematian.
Udara di depan Xinyue membeku seketika, membentuk dinding es setebal satu meter dalam sekejap mata.
BRAKK!
Serigala iblis itu menghantam dinding es tersebut dengan keras. Es itu retak, namun tidak hancur. Makhluk itu terpelanting kembali ke dasar kawah, melolong kesakitan saat energi es merasuk ke dalam luka-lukanya.
Xinyue membuka matanya, terengah-engah. Ia menatap telapak tangannya sendiri yang kini memancarkan uap dingin yang indah.
"Aku... aku melakukannya?"
Suara Lin XingYu tiba-tiba bergema samar dari kalung giok di lehernya.
"Jangan hanya diam! Tubuh itu tahu cara bertarung, jiwamu yang harus menuntunnya! Fokuskan niatmu pada dingin yang ada di dalam hatimu!"
Xinyue menggertakkan giginya. Ketakutan yang tadi menguasainya perlahan berubah menjadi tekad. Ia teringat bagaimana ia berjuang melawan kanker selama empat tahun—sebuah pertempuran tanpa harapan yang berhasil ia lalui hingga titik terakhir.
Jika ia bisa bertahan melawan penyakit yang mematikan otaknya, ia pasti bisa bertahan melawan seekor serigala yang terluka.
"Baiklah... kalau itu maumu," ujar Xinyue, suaranya kini terdengar lebih dingin dan berwibawa, sangat mirip dengan Lin XingYu.
Ia melangkah maju ke arah kawah. Setiap langkahnya meninggalkan jejak es di atas tanah yang hangus. Ia bisa merasakan aliran energi Universe Star Body di dalam nadinya mulai bersinar, memberikan kekuatan pada otot-ototnya yang baru.
Di bawah sinar bulan yang perak, Ling Xinyue dalam raga dewi tercantik di semesta—berdiri tegak, siap menyongsong takdir barunya di alam yang penuh dengan kekacauan ini.