NovelToon NovelToon
Keturunan Raja Alkemis

Keturunan Raja Alkemis

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nur Hali

Di sebuah desa tersembunyi bernama Desa Batu, hiduplah keluarga Chen, keturunan langsung dari Raja Alkemis legendaris yang menguasai rahasia kehidupan dan kematian. Harta terbesar mereka bukanlah emas atau perak, melainkan resep Ramuan Keabadian—cairan mistis yang dapat memberikan kekuatan tak terbatas dan hidup selamanya bagi yang meminumnya.

Namun, kekuatan besar selalu menarik bayangan gelap. Saat Chen Si, pewaris tunggal keluarga itu, baru berusia lima bulan, desa mereka diserang habis-habisan oleh sekelompok manusia bertopeng yang haus kekuasaan. Seluruh klan Chen dibantai tanpa ampun demi merampas rahasia suci itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: KERANJANG SAYUR DAN PEDANG SURGAWI

Dunia baru ini terasa begitu nyata dan keras. Udara yang dihirup terasa seperti cairan yang kental, penuh dengan energi spiritual yang murni namun liar. Chen Si berdiri di atas rerumputan hijau yang sangat halus, menatap sekelompok pemuda yang kini mengepungnya.

Mereka berjumlah lima orang. Semuanya mengenakan jubah putih dengan garis biru langit di ujung lengan. Di punggung mereka terselip pedang panjang yang sarungnya terbuat dari kayu hitam berharga. Aura yang mereka pancarkan stabil dan tajam, jauh lebih halus dibandingkan ahli bela diri di Benua Kuning yang dulu ia tinggali.

"Heh, lihat baju dia. Kain kasar macam apa ini? Seperti orang gunung," ejek salah satu pemuda di sebelah kanan, sambil memutar-mutar pedangnya dengan santai namun penuh ancaman.

"Dan lihat senjatanya... apa itu? Tongkat kayu? Atau gagang sapu?" yang lain tertawa mengejek.

Chen Si diam saja. Ia menunduk sedikit, menutupi cahaya emas di matanya. Ia sadar betul situasi saat ini. Setelah melewati celah dimensi dan terjangan badai ruang-waktu, kekuatannya saat ini tertekan drastis. Ia merasa seperti seorang raja yang diturunkan menjadi rakyat biasa. Energi Naga di dalam tubuhnya ada, tapi terkunci dalam sel-sel terdalam, sulit dikeluarkan secepat dulu.

Jika ia bertarung sekarang dengan kekuatan penuh, ia mungkin bisa menang, tapi akan menghabiskan terlalu banyak tenaga. Di dunia asing ini, ia harus hemat sumber daya.

"Maaf, aku tidak bermaksud mengganggu," kata Chen Si dengan nada datar, berusaha menyelesaikan masalah dengan damai. "Aku baru saja tiba di tempat ini dan sedang mencari jalan ke kota terdekat. Kalian bisa lanjutkan aktivitas kalian."

"Wah, masih berlagak santai ya?" Pemimpin kelompok itu maju selangkah. Pria ini memiliki wajah tampan namun sombong, alisnya tegas dan matanya tajam. Di dadanya terdapat lencana berbentuk awan yang berputar. "Di Benua Surgawi ini, aturannya sederhana: Yang kuat berbicara, yang lemah menunduk. Kau mendarat di wilayah kekuasaan Sekte Pedang Awan tanpa izin, itu sudah pelanggaran berat."

"Jadi, apa yang kalian inginkan?" tanya Chen Si.

"Serahkan semua barang berharga yang kau bawa, dan ikut kami kembali ke sekte. Kau akan menjadi budak pribadiku, mencuci pakaian dan membersihkan kandang kuda. Mungkin suatu hari nanti aku akan mengajarimu sedikit teknik bernapas, hahaha!" tawa pemimpin itu melengkung tinggi.

Para pengikutnya ikut tertawa terbahak-bahak. Suasana menjadi sangat meremehkan.

 

Kesabaran Ada Batasnya

Chen Si menghela napas panjang. Dadanya terasa sesak. Selama ini, meski pernah hidup menderita bersama Kakek Wu, tidak pernah ada yang berani memperlakukannya seperti sampah. Terlebih lagi setelah ia menjadi Raja di kerajaannya sendiri.

"Kalian tidak tahu dengan siapa kalian berbicara," bisik Chen Si pelan, tapi suaranya cukup jelas terdengar di telinga mereka semua.

"Apa? Kau bilang apa?!" Pemuda itu marah. "Kau pikir kau siapa?! Kaisar atau apa?!"

"Aku bukan kaisar," Chen Si perlahan mengangkat kepalanya. Saat itu juga, udara di sekitar mereka tiba-tiba menjadi dingin. "Aku hanya orang yang tidak suka diganggu saat sedang beristirahat."

SREET!

Tanpa peringatan, pemuda itu menyerang! Pedangnya dihunuskan dengan kecepatan tinggi, menciptakan bayangan pedang yang menyambar leher Chen Si!

"Teknik Pedang Awan: Irisan Angin!"

Serangan itu cepat, sangat cepat. Bahkan ahli tingkat tinggi di dunia lama pasti akan kesulitan mengikutinya.

Namun...

TRANG!!!

Suara benturan logam bergema keras, bukan suara daging yang teriris.

Semua orang terbelalak.

Chen Si tidak mengangkat senjata. Ia hanya mengangkat tangan kirinya, dan... ia menangkap bilah pedang tajam itu tepat di antara dua jari telunjuk dan tengahnya!

Bilah baja yang bisa membelah batu itu berhenti total, tidak bisa bergerak maju maupun mundur sedikitpun!

"Bagaimana... mungkin?!" Pemuda itu kaget setengah mati. Ia menarik pedangnya sekuat tenaga, tapi pedang itu seperti menempel pada batu karang.

"Kualitas bajanya lumayan, tapi teknik mengayunnya buruk. Terlalu banyak gerakan tidak perlu," komentar Chen Si santai.

"LEPASKAN! ANJING!" Pemuda itu panik dan marah. Ia mengerahkan seluruh energinya, wajahnya memerah padam.

Chen Si menggeleng prihatin. "Sudah kubilang jangan ganggu aku."

CRAK!

Jari-jari Chen Si sedikit mengerat.

TING!

Bilah pedang berkualitas tinggi itu langsung pecah menjadi dua bagian di tengah! Ujung pedang jatuh ke tanah berdentang nyaring.

 

Kekacauan di Padang Rumput

"PEDANGKU!!" jerit pemuda itu histeris. "Kalian lihat apa?! Dia menghancurkan Pedang Awan Ku! BUNUH DIA! SERANG BERSAMA-SAMA! JANGAN BIARKAN DIA HIDUP!"

Empat temannya baru sadar dari keterkejutan. Wajah mereka berubah pucat lalu menjadi garang.

"Berani merusak harta sekte! Mati kau!"

Mereka berempat menyerang sekaligus dari segala arah! Sinar pedang berwarna biru putih memenuhi udara, menciptakan perangkap maut yang sempurna.

Chen Si tidak mundur. Ia melangkah maju selangkah. Gerakannya tidak menggunakan teknik mewah, tapi sangat efisien dan mematikan.

"Langkah Kaki Naga: Menembus Kabut!"

Tubuhnya menghilang seketika.

WUSH!

Ia melewati celah terkecil di antara serangan pedang mereka seolah udara.

BAM! BAM! BAM! BAM!

Hanya terdengar suara tamparan keras yang cepat berturut-turut.

Awh!

Ugh!

Bruk!

Dalam hitungan detik, kelima pemuda itu terlempar mundur masing-masing ke arah yang berbeda, mendarat di tanah dengan posisi yang sangat memalukan, mulut mereka penuh darah, tulang rusuk mereka terasa remuk redam.

Chen Si berdiri tenang di tengah lapangan, menepuk-nepuk bajunya yang tidak kotor sama sekali.

"Terlalu lemah," komentarnya dingin. "Di tempat asalku, kalian level ini baru pantas jadi penjaga gerbang luar."

Kelima pemuda itu menatap Chen Si dengan mata terbelalak ketakutan. Mereka baru sadar, mereka baru saja menantang monster! Pria di depan mereka bukan orang gunung, tapi setidaknya adalah seorang ahli dari sekte besar yang sedang menyamar!

"Kau... kau siapa sebenarnya?!" tanya pemimpin itu dengan suara gemetar, sambil merangkak mundur.

"Seperti yang kukatakan," Chen Si melangkah mendekat perlahan, bayangannya memanjang dan terlihat sangat besar dan mengerikan di mata mereka. "Aku orang yang tersesat. Sekarang, jawab pertanyaanku. Dimana kota terdekat? Dan bagaimana aturan main di dunia ini?"

 

Informasi Berharga

Karena rasa sakit yang luar biasa dan rasa takut yang menghantui, pemimpin itu tidak berani berbohong sedikitpun.

"Maafkan kami! Maafkan kebutulan kami, Yang Mulia!" ia berlutut dengan gemetar. "Nama saya Zhao Yun, murid luar Sekte Pedang Awan. Tempat ini disebut Dataran Tengah, bagian dari wilayah kekuasaan Kekaisaran Azure."

Zhao Yun mulai menjelaskan dengan cepat dan terbata-bata:

- Dunia ini bernama Alam Sembilan Langit. Tempat mereka berada sekarang adalah Langit Pertama, level terendah namun sudah jauh lebih maju dari dunia biasa.

- Kekuatan di sini dibagi menjadi: Roh Pemula, Roh Terbang, Penguasa Bumi, Penguasa Langit, Raja Sejati, Kaisar Surgawi, dan seterusnya hingga level Dewa.

- Chen Si saat ini terdeteksi memiliki kekuatan sekitar level Roh Terbang Tingkat Akhir (karena tertekan), tapi teknik bertarungnya sudah level Raja.

- Kota terdekat adalah Kota Hujan Jernih, berjarak sekitar seratus kilometer ke arah barat. Di sana ada pasar besar dan tempat berkumpulnya para petualang.

"Dan... ada satu hal lagi," tambah Zhao Yun takut-takut. "Karena kau sudah melukai kami, dan merusak properti sekte... Sebaiknya kau cepat pergi dari sini. Tetua Sekte kami sangat kejam. Jika tahu muridnya dipukuli seperti ini, dia pasti akan mengirim pemburu hadiah untuk memburumu sampai mati!"

Chen Si tersenyum miring. "Terima kasih infonya. Untuk ganti rugi... berikan aku semua tas simpanan kalian."

"Eh?!"

"Cepat! Atau aku patahkan tangan kalian sekarang juga!" ancam Chen Si.

Dengan tangan gemetar, kelima pemuda itu menyerahkan semua tas penyimpanan ruang-dimensi mereka, beserta uang logam dan pil obat yang ada di dalamnya. Chen Si menyambarnya dengan santai, memeriksa isinya sekilas. Lumayan, ada beberapa ratus butir pil Roh dan beberapa keping batu spiritual.

"Bagus. Kalian boleh pergi. Dan ingat... lain kali lihat jalan sebelum menendang pintu," kata Chen Si sambil melambaikan tangan.

"Terima kasih! Terima kasih!" Zhao Yun dan kawan-kawannya tidak perlu disuruh dua kali. Mereka bangkit secepat kilat, menggendong pedang yang rusak, dan lari tunggang langgang meninggalkan tempat itu secepat mungkin, seolah ada hantu mengejar.

 

Perjalanan Menuju Kota

Setelah mereka pergi, Chen Si berdiri sendirian di padang rumput. Ia membuka salah satu tas penyimpanan yang baru dirampasnya, mengambil sepasang pakaian biasa berwarna abu-abu yang lebih sesuai dengan lingkungan sini, lalu memakainya.

"Jadi... levelku sekarang turun drastis ya," gumam Chen Si sambil merasakan aliran energi di tubuhnya. "Tidak apa-apa. Batu landasan yang lebih tinggi justru membuat pandangan lebih luas. Benua Surgawi... ternyata memang tempat yang menarik."

Ia tidak langsung pergi. Ia duduk bersila di atas rumput hijau itu selama satu jam penuh, menstabilkan kondisi tubuhnya yang masih beradaptasi dengan gravitasi baru.

Saat ia membuka mata, cahayanya sudah jauh lebih tenang dan mematikan.

"Baiklah. Kota Hujan Jernih... Mari kita lihat, seberapa 'liar' dunia ini dibandingkan tempat asalku."

Chen Si mulai berjalan. Langkah kakinya biasa saja, tapi setiap kali kakinya menapak, ia melesat puluhan meter jauhnya. Kecepatannya luar biasa, namun tidak menimbulkan suara sedikitpun.

Di sepanjang perjalanan, ia melihat pemandangan yang menakjubkan. Ada burung-burung raksasa yang membawa awan terbang di langit, ada sungai yang airnya bersinar karena mengandung energi, dan ada hutan pohon yang tingginya menembus awan.

Dunia ini luas, berbahaya, namun juga penuh peluang tak terbatas.

 

Kedatangan di Gerbang Kota

Setelah berjalan sekitar dua jam (yang seharusnya memakan waktu seharian), Chen Si akhirnya melihat pemandangan sebuah kota raksasa di kejauhan.

Tembok kota itu terbuat dari batu kristal putih yang bercahaya, tingginya ratusan meter, dan panjangnya tak terlihat ujung. Di gerbang utama, terdapat patung dua naga batu yang sangat megah.

Lalu lintas orang sangat padat. Banyak yang berjalan kaki, banyak yang mengendarai binatang buas jinak, dan banyak juga yang terbang menggunakan pedang atau awan.

Di depan gerbang, ada dua penjaga raksasa yang memeriksa setiap orang yang masuk.

"Biaya masuk satu butir Batu Roh Dasar per orang! Cepat bayar dan lewat!" teriak penjaga itu dengan suara lantang.

Orang-orang mengantre dengan tertib. Chen Si ikut mengantre di barisan paling belakang, menyamar menjadi salah satu petualang biasa.

Saat gilirannya tiba, penjaga itu menatapnya dari atas ke bawah dengan tatapan meremehkan.

"Heh! Bayar! Jangan coba-coba melengong!"

Chen Si tersenyum. Ia baru saja akan merogoh tas hasil rampokan tadi, tiba-tiba dari belakang terdengar suara gemuruh dan derap kuku kuda yang sangat cepat.

TRAAKK!! TRAAKK!!

Sekelompok ksatria berkuda putih dengan baju besi mengkilap datang dengan kecepatan tinggi, tidak peduli pada antrean. Mereka menerobos langsung menuju gerbang.

"Minggir! Minggir semua! Keluarga Murong lewat!!" teriak salah satu pengawal dengan angkuh.

Orang-orang di sekitar berteriak panik dan menyingkir ke pinggir jalan, ada yang terjatuh dan terluka karena diinjak kuda.

Chen Si yang sedang berdiri di tengah jalan, tidak berniat minggir sedikitpun.

"Heh! Budak buta! Cepat minggir atau kudamu yang menabrak akan menginjakmu sampai mati!" teriak pengawal itu sambil mencambukkan cambuk panjang ke arah Chen Si!

Mata Chen Si menyipit. Suasana di sekitarnya seketika membeku.

"Keluarga Murong ya..." bisiknya pelan. "Sudah di dunia baru saja bertemu orang-orang menyebalkan."

1
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪
Tamima II
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
Tamima II
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥💪💪💪💪💪💪💪💪💪
Tamima II
😇😇😇😇😇😇😇😇😇
Tamima II
👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪💪 bantai....
Tamima II
😂😂😂😂😂😂😂👍👍👍👍👍
Tamima II
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Tamima II
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍👍👍👍
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪💪🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥👍👍👍👍👍👍
Tamima II
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍👍
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪💪🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪💪
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍
mengejar cahaya
terimakasih saran nya nanti saya perbaiki.🙏🙏🙏
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪💪💪
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
waaahhh akan ada pembantaian
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!