NovelToon NovelToon
SI JUTEK DAN PAK DOSEN KILLER

SI JUTEK DAN PAK DOSEN KILLER

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Nina Sani

Ana—si “Jutek" cantik yang keras kepala—tidak pernah takut pada siapa pun di kampus. Kecuali satu orang yang benar-benar membuatnya naik darah: **Adi**, dosen muda yang terkenal killer, dingin, dan terlalu sexy untuk diabaikan.

Pertemuan mereka selalu penuh ketegangan—tatapan tajam, debat panas di kelas, dan permainan kecil yang hanya mereka berdua pahami.

Ana yakin ia membenci Adi.
Adi justru menikmati setiap detik perlawanan itu.

Namun di balik kebencian yang keras dan gengsi yang tinggi, ada sesuatu yang perlahan tumbuh—**panas, berbahaya, dan semakin sulit disembunyikan.**

Karena kadang…
orang yang paling ingin kita lawan adalah orang yang paling membuat jantung kita berdebar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

AWAL SEGALANYA DI MULAI

Sore itu, Ana masih berada di perpustakaan Joglo pribadi milik Adi. Selain di kampus, sesekali ketika harus bimbingan skripsi di luar jam kantor, Adi meminta Ana datang ke perpustakaan pribadi miliknya yang memang terbuka untuk umum.

Mungkin karena hujan deras yang mengguyur sejak siang tadi, hingga sore menjelang tidak ada satu pun pengunjung yang datang, hanya ada mereka berdua di antara aroma buku dan kayu jati.

Di atas meja, diantara buku-buku, draf skripsi Ana penuh coretan merah dari tangan Adi.

Ana berdiri di depan meja tempat Adi duduk dengan wajah kesal.

“Mas… tapi ini sudah revisi kesekian, minggu ini,” ucapnya dengan suara bergetar, berusaha sekuat tenaga menjaga suaranya agar tidak pecah menjadi tangisan frustrasi. Di luar kampus, Ana memang memanggil dosen yang dijuluki si killer ini dengan panggilan santai.

Adi bersandar di kursinya. Ia menatap Ana dengan tatapan datar yang sanggup membuat nyali mahasiswa paling berani sekalipun menciut. “Tapi ini masih belum cukup, Ana.”

Ana mendengus pelan, namun tawa sarkatik lolos dari bibirnya. “Mas apa nggak terlalu perfeksionis?.”

Mendengar itu, Adi menghela nafas dan perlahan bangkit. Langkahnya tenang namun mengintimidasi saat ia mengitari meja dan berhenti tepat di depan Ana. Jarak mereka kini terkikis.

“Kalau kamu tidak keras kepala,” bisik Adi dengan nada rendah yang berat, “skripsi ini mungkin sudah selesai sejak lama.”

Ana mengangkat dagu menantang, emosinya benar-benar tersulut. Namun dia tetap mencoba menata nada bicaranya agar tidak terlalu frontal, “Kalau mas nggak terlalu perfeksionis, aku juga nggak akan segini keras kepalanya. Apa yang aku sampaikan juga berdasarkan data lho mas.”

Hening menyergap. Mereka saling menatap dalam jarak yang berbahaya. Begitu dekat hingga Ana bisa merasakan embusan napas Adi yang hangat menerpa keningnya. Di tengah kemarahan itu, sesuatu yang selama ini ia tekan dalam-dalam mendadak bergejolak. Ada getaran aneh di dadanya yang menolak untuk diabaikan—sebuah ketegangan yang bukan lagi soal akademik.

Tatapan Adi berubah. Ketajaman yang biasanya dingin kini terasa lebih dalam, lebih gelap. “Kenapa kamu selalu menentang saya?” tanyanya pelan, hampir seperti bisikan pada diri sendiri.

Ana menghela napas pelan, mencoba mendapatkan kembali kontrol dirinya “Saya nggak menentang, pak. Tapi Bapak kayaknya gak pernah mau mendengar masukan saya.” Ana sudah benar-benar kesal sengaja beralih ke panggilan formal untuk membentengi diri.

Adi menggeleng kecil. “Saya mau skripsi kamu sempurna, makanya kamu harus mendengarkan arahan saya."

"Tapi ini skripsi saya, pak. Bukan skripsi Bapak. Saya punya cara pandang saya sendiri yang dapat saya pertanggungjawabkan sesuai dengan konteks dari pandangan generasi saya." Ana sudah benar-benar kehilangan kesabaran.

Adi menatap Ana lekat-lekat, memerhatikan bagaimana gadis di depannya ini terengah karena amarah. "Kamu benar-benar gadis yang menyulitkan."

“Bapak juga sama, bapak sangat menyulitkan saya.”

Suasana mendadak kaku. Ana tanpa sadar menggigit bibir bawahnya—bagi Ana ini adalah sebuah mekanisme pertahanan agar tidak memaki pria di depannya. Namun bagi Adi, gestur itu adalah pemantik. Pertahanannya yang dibangun dengan logika dan profesionalisme runtuh seketika saat melihat bibir yang memerah karena gigitan itu.

Tanpa peringatan, Adi meraih pergelangan tangan Ana dan menariknya mendekat. Ana terkesiap, namun ia tidak menarik diri. Matanya justru menatap Adi semakin tajam, seolah berani bertaruh sejauh mana pria ini akan melangkah.

“Ini salah,” gumam Adi dengan suara serak, matanya terkunci pada bibir Ana.

Ana mengangkat alis, keberaniannya memuncak. “Lalu kenapa Bapak nggak melepaskan saya?”

Adi tidak menjawab dengan kata-kata. Bukannya melepaskan, ia justru melingkarkan lengannya di pinggang Ana, mengunci tubuh gadis itu hingga tak ada lagi jarak di antara mereka. Logika telah kalah. Adi merunduk dan membungkam bibir Ana dengan ciuman.

Ciuman itu awalnya terasa seperti sebuah ledakan singkat—sebuah kesalahan yang bisa dihentikan dalam sekejap. Namun, Ana tidak menjauh dan justru membalasnya, Ia semakin mendekat dan mulai membuka mulutnya, seakan memberi sinyal agar Adi melakukan hal yang lebih jauh. Ciuman itu berubah menjadi lebih dalam. Lebih panas.

Semua ketegangan yang mereka tahan selama berbulan-bulan akhirnya menemukan jalan keluar. Ana mencengkeram kerah kemeja Adi. Sementara kedua tangan Adi secara refleks meraih pinggang Ana, menariknya lebih dekat. Jarak di antara mereka benar-benar hilang. Napas mereka bercampur. Beberapa detik terasa seperti menit yang panjang. Adi akhirnya menarik diri sedikit, napasnya berat. Matanya menatap Ana dengan campuran kaget dan keinginan yang belum sepenuhnya hilang.

“Ana…”

Suara itu rendah. Hampir seperti peringatan pada dirinya sendiri. Namun Ana justru tersenyum tipis. Matanya masih menantang.

“Jadi… revisi saya masih salah juga, Pak?”

Adi tertawa pendek, suara tawa yang jarang didengar siapa pun. Ia tidak menyangka dalam situasi seintim ini, Ana masih sempat melontarkan candaan yang menantang. Menyadari bahwa Ana menikmati setiap detiknya, Adi tidak lagi memberi celah. Ia kembali menciumnya—kali ini tanpa keraguan. Lebih dalam, lebih menuntut, sesekali menyesap bibir Ana seolah ingin menuntaskan seluruh dahaga yang ia tahan selama ini di balik tumpukan buku dan coretan merah.

*

AWAL SEGALANYA DI MULAI

Pertemuan pertama Ana dan Adi terjadi dalam suasananya yang kurang menyenangkan.

Hari itu adalah jadwal sidang skripsi Ratih, sahabat sekaligus kakak tingkat Ana. Atmosfer di koridor kampus terasa lebih mencekam dari biasanya. Meskipun sidang terbuka, penonton dibatasi dan ditempatkan di ruang tunggu untuk menyaksikan jalannya sidang melalui layar televisi besar.

Ana duduk di barisan kedua bersama beberapa teman seangkatannya.

Di layar monitor besar, terlihat Ratih berdiri di depan meja penguji dengan wajah tegang. Sementara di seberangnya, tiga dosen penguji duduk berderet seperti hakim. namun salah satu diantaranya nampak asing bagi Ana.

Dosen itu memiliki perawakan ramping namun tampak atletis di balik kemeja formal yang membungkus tubuhnya dengan pas. Kacamata berbingkai tipis bertengger di pangkal hidungnya, membingkai wajah serius dengan sorot mata yang setajam silet. Berkali-kali, moderator sidang menyebutkan namanya dengan nada penuh hormat.

Pak Adi Pratama.

Pria itu adalah dosen lama yang baru saja kembali dari Australia setelah menyelesaikan masa studi doktoralnya. Hari ini adalah debutnya sebagai penguji pasca-kepulangan, namun dari intonasi bicaranya, tidak ada sedikit pun keraguan atau rasa canggung yang tersisa. Ia tampak begitu berkuasa di kursi penguji.

Berdasarkan info dari Ratih sebelum sidang, Pak Adi sebenarnya adalah penguji cadangan. Ia mendadak menggantikan Pak Dodi, dosen Psikologi Sosial yang juga mengajar di kelas Ana. Hebatnya, meski Adi hanya memiliki waktu singkat—tiga hari—untuk membedah draf skripsi tersebut, ia seolah sudah melahap habis setiap baris kalimatnya. Buktinya nyata di depan mata: saat ini, ia sedang "membantai" Ratih dengan deretan data akurat yang tidak memberi celah untuk berkelit.

“Di halaman 42 Anda menulis bahwa variabel ini berpengaruh signifikan,” kata Adi sambil membuka lembar skripsi Ratih. “Tapi di tabel hasil analisis, angka signifikansinya tidak mendukung kesimpulan itu. Bisa dijelaskan?”

Ratih terlihat gugup. Ia mencoba menjawab, namun Adi sudah membuka halaman lain.

“Dan di bagian metodologi… Anda menggunakan metode ini, tapi tidak menjelaskan alasan pemilihannya secara teoritis.”

Beberapa mahasiswa di ruang tunggu mulai saling pandang. Pertanyaan demi pertanyaan terus keluar. Detail. Tajam.

Tidak memberi ruang bagi kesalahan sekecil apa pun.

Dalam waktu kurang dari satu jam, rasanya seluruh isi skripsi Ratih sudah dibedah habis oleh Adi. Ana yang sejak awal menonton mulai merasa kesal.

“Gila banget itu dosen, kaya nggak punya hati” bisik salah satu temannya.

Ana mengangguk kecil, setuju sepenuhnya. Baginya, cara Adi menguliti argumen Ratih bukan lagi sekadar menguji, tapi intimidasi. Di layar, Ratih tampak seperti prajurit yang kehabisan peluru, nyaris tak mampu lagi mengeluarkan sepatah kata pun.

Ketika sidang akhirnya usai, suasana ruang tunggu mendadak hening selama proses musyawarah. Hingga beberapa menit kemudian, keputusan diumumkan: Ratih dinyatakan lulus. Namun, kelulusan itu terasa pahit. Nilai C dan tumpukan revisi yang menggunung membuat beberapa mahasiswa menarik napas panjang, ikut prihatin. Ratih keluar dari ruang sidang dengan bahu yang merosot lelah.

Ana segera bangkit dari kursinya, berniat memberikan pelukan semangat. Namun, tepat saat ia melangkah, pintu ruang sidang kembali terbuka. Jantung Ana berdesir saat para penguji keluar satu per satu. Salah satunya adalah Adi.

Dari jarak sedekat ini, sosoknya jauh lebih mengintimidasi daripada di layar televisi. Adi memiliki tubuh tinggi dengan postur tegap yang memancarkan kepercayaan diri absolut. Wajahnya tegas, dengan mata agak sipit di balik kacamata tipis yang selalu tampak fokus. Sikapnya yang tenang sekaligus sedingin es justru memberikan karisma yang sulit diabaikan—sebuah daya tarik maskulin yang diam-diam terasa seksi.

Dalam hati ia membatin dengan kesal,

Padahal ganteng banget… tapi kenapa galaknya minta ampun sih. Jangan sampai deh punya suami kayak dia.

Saat Adi melangkah melewati pintu, matanya tanpa sengaja menangkap sosok Ana yang berdiri di dekat pintu. Sejenak pandangan mereka bertemu.

Sulit bagi siapa pun untuk mengabaikan keberadaan Ana. Dengan kulit putih bersih dan wajah cantik yang ekspresif, ia tampak menonjol di antara mahasiswa lain. Hari itu, ia mengenakan kemeja berwarna maroon dan celana dengan ukuran pas badan yang membalut lekuk tubuh proporsionalnya dengan sopan namun tetap memikat.

Adi hanya melirik sekilas. Tidak lama. Namun cukup untuk menyadari satu hal. Mahasiswi itu sedang menatapnya dengan tatapan yang jelas tidak bersahabat.

Ana bahkan tidak mencoba menyembunyikannya. Dalam pikirannya hanya ada satu kalimat; Dosen killer.

Adi kemudian berjalan melewati ruang tunggu tanpa berkata apa-apa. Sementara Ana langsung melangkah menuju Ratih yang baru keluar dari ruang sidang.

“Mbák Ratih!” katanya cepat.

Ratih tersenyum lelah. Ana langsung memeluknya.

“Gila… dia kejem banget,” bisik Ana setengah kesal.

Ratih tertawa kecil meski masih terlihat tegang.

“ Tapi dia emang pinter banget sih, An.”

Ana mendengus pelan.

“Pinter sih iya… tapi nyebelin!. Jadi kesannya sok pinter.”

Ratih hanya tersenyum simpul. Namun, di koridor yang mulai sepi beberapa meter dari sana, langkah Adi sempat melambat. Ia menoleh sebentar ke arah ruang tunggu, mencari sosok dengan kemeja maroon yang tadi berani menatapnya tajam dengan ekspresi datar.

Entah kenapa, wajah yang penuh amarah itu justru terpatri di benaknya. Padahal, ia bahkan belum tahu siapa namanya.

*

*

*

Ijiiiinnn 🙏

*

Gimana menurut kalian, kisah pak Dosen dan mahasiswi cantik yang jutek ini, kira-kira menarik gak?

*

_

_

1
Fitriani
😄😄
Murni Asih
dr pertama sy lngsng suka
dr pertama cerita nya kngsng seru ka
Nina Sani: makasih ya kak, stay tune ikutin kelanjutannya😇
total 1 replies
Sartini 02
kayaknya menarik ya kak Krn masih bab 1
lanjut kak....🤭🙏👍
Nina Sani: siaap 😇😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!