NovelToon NovelToon
Istri Kecil Kesayangan Presdir

Istri Kecil Kesayangan Presdir

Status: tamat
Genre:CEO / Beda Usia / Konflik etika / Tamat
Popularitas:225.7k
Nilai: 5
Nama Author: kikoaiko

Aaron Bernard merupakan presiden direktur dari perusahaan raksasa, dia pria yang berkuasa, dingin, dan penuh misteri.

Malam-malam, saat sedang dalam perjalanan pulang dari perusahaannya, di tengah jalan dia menemukan seorang gadis yang tergeletak di tengah jalan.

Aaron yang pensaran meminta asistennya untuk mengecek kondisi perempuan tersebut, dia takut hanya sebuah jebakan untuk membunuhnya.

Namun, ternyata salah, gadis itu benar-benar pingsan tak sadarkan diri dengan kondisi yang memprihatinkan.

Aaron meminta asistennya untuk memasukkan kedalam mobilnya, dan membawanya ke rumah.
Dia merawat gadis itu hingga sembuh sampai akhirnya menikahinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1

Lampu-lampu kota masih menyala terang, berkilau seperti gugusan bintang buatan manusia yang tak pernah tidur. Dari balik dinding kaca ruang kerja di lantai tertinggi Bernard Holding, siluet seorang pria tampan terlihat berdiri tegak di hadapan meja kerjanya. Jas hitam yang dikenakannya sudah dilepas, menyisakan kemeja putih dengan dua kancing teratas terbuka, namun raut wajahnya tetap tampan, namun dingin dan penuh ketegasan.

Aaron Bernard. Nama itu bukan sekadar identitas, melainkan simbol kekuasaan. Seorang Presiden Direktur Bernard Holding yang dikenal ambisius, tegas, dan tak memberi ruang untuk kesalahan. Banyak yang mengaguminya, tak sedikit pula yang takut padanya. Baginya, malam bukan alasan untuk berhenti bekerja. Selama pikirannya masih berputar, selama target belum tercapai, tidur hanyalah pilihan kedua.

Jari-jarinya bergerak cepat di atas tumpukan dokumen, matanya tajam menelusuri angka demi angka. Sesekali ia berhenti, menautkan kedua alisnya, lalu menorehkan tanda tangan dengan goresan tegas, seolah setiap tarikan pena adalah keputusan yang menentukan hidup banyak orang.

Ceklek….

Suara pintu yang terbuka memecah keheningan ruangan.

“Tuan, sudah malam. Anda belum pulang?” tanya Miko dengan nada hormat, berdiri beberapa langkah dari pintu. Asisten kepercayaannya itu sudah terbiasa melihat Aaron bekerja hingga larut, namun kali ini jam benar-benar sudah melewati batas wajar.

Aaron menghentikan aktivitasnya. Ia menarik napas pelan, lalu mengangkat pergelangan tangannya. Jam tangan mahal dengan desain klasik itu menunjukkan pukul satu dini hari. Tatapan matanya sejenak kosong, seolah pikirannya masih tertinggal di antara laporan dan strategi bisnis yang belum selesai.

“Kita pulang sekarang,” ucapnya singkat.

Tanpa banyak bicara, Aaron menutup dokumen satu per satu dengan rapi, mematikan laptopnya, lalu berdiri. Postur tubuhnya yang tinggi dan tegap, memancarkan wibawa yang tak bisa disangkal. Ia meraih jas hitam yang tersampir di sandaran kursi, dan memakainya.

Aaron melangkah keluar dari ruang kerjanya, diikuti Miko yang segera menutup pintu di belakang mereka. Lorong kantor yang biasanya ramai kini sunyi, hanya terdengar suara langkah kaki mereka yang bergema di lantai.

 Lampu-lampu putih menyinari jalan mereka, dingin dan formal, seperti suasana hati sang Presdir.

Ting

Lift khusus presiden direktur membawa mereka turun ke parkiran bawah tanah. Begitu pintu lift terbuka, udara dingin menyambut. Deretan mobil mewah terparkir rapi, namun perhatian Aaron langsung tertuju pada sedan hitam miliknya.

Setibanya di parkiran, Aaron masuk ke dalam mobil dengan tenang, duduk di kursi belakang. Miko mengambil posisi di kursi pengemudi, menyalakan mesin, lalu perlahan melajukan mobil keluar dari area Bernard Holding. Gedung megah itu semakin menjauh, namun bayangannya seakan masih melekat di benak Aaron. Di balik wajah datarnya, pikirannya kembali bekerja, tentang ekspansi perusahaan, tentang lawan bisnis yang mulai bergerak, dan tentang ambisi yang belum sepenuhnya terpuaskan.

Malam semakin larut, jalanan tampak lengang. Lampu-lampu jalan memantulkan cahaya kekuningan di atas aspal yang basah oleh embun malam. Mobil hitam itu melaju stabil, membelah kota yang sunyi, membawa seorang pria yang tampak sempurna di luar, namun menyimpan dunia yang rumit dan penuh perhitungan di dalam dirinya.

Ckitttt…….

Suara gesekan ban dengan aspal terdengar nyaring, memecah keheningan. Mobil berhenti mendadak. Tubuh Aaron sedikit terdorong ke depan, membuatnya refleks menahan diri dengan tangan. Raut wajahnya langsung berubah, alisnya mengernyit kesal.

“Kenapa, Mik? Kalau sudah tidak mau bekerja, katakan saja,” ucap Aaron dengan suara tinggi.

Miko menelan ludah, tangannya masih mencengkeram kemudi dengan kuat. “Ada orang pingsan, Tuan,” ucapnya gugup, suaranya sedikit bergetar.

“Di mana?” tanya Aaron singkat.

“Di depan, Tuan,” jawab Miko sambil mengangkat tangannya, menunjuk ke arah jalan di depan mobil.

Pandangan Aaron mengikuti arah tunjukan itu. Di bawah sorot lampu mobil, tampak sosok seorang perempuan tergeletak di tengah jalan. Tubuhnya tengkurap, tak bergerak sedikit pun, rambut panjangnya terurai menutupi sebagian wajah. Pemandangan itu membuat suasana malam terasa semakin mencekam.

“Coba kamu cek, Mik,” titah Aaron tanpa ragu.

Miko menoleh cepat ke arah tuannya. Wajahnya jelas menunjukkan keraguan. “Anda yakin, Tuan? Bagaimana kalau ini sebuah jebakan? Tempat ini cukup sepi. Bisa jadi dia sengaja menjadi umpan untuk merampok orang,” ucapnya waspada, matanya kembali mengamati sekitar dengan penuh kehati-hatian.

Aaron menyandarkan punggungnya ke kursi, sorot matanya tetap dingin dan tenang. “Kau punya pistol, Mik. Kau bisa menggunakannya jika memang berbahaya,” katanya datar, seolah situasi genting itu hanyalah hal kecil baginya.

Miko menganggukkan kepalanya pelan. Tak ada pilihan lain selain menuruti perintahnya. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu membuka pintu mobil dengan hati-hati.

Dengan gerakan pelan dan penuh kewaspadaan, Miko keluar dari dalam mobil. Di tangannya, sebuah pistol sudah siap siaga, jari telunjuknya bertengger dekat pelatuk. Pandangannya tajam menyapu setiap sudut jalan yang gelap dan sepi, memastikan tidak ada pergerakan mencurigakan di sekitar mereka.

Setelah yakin situasi cukup aman, barulah Miko melangkah mendekati sosok perempuan yang tergeletak tak bergerak di aspal.

Miko berhenti tepat di samping tubuh wanita itu. Dengan ujung sepatunya, ia menendang pelan untuk memastikannya, namun tidak ada reaksi apa-apa.

Perempuan itu tetap terdiam, tubuhnya lemah seolah tak bernyawa. Kening Miko berkerut melihatnya, Ia pun berjongkok, menyimpan pistolnya sejenak di tangannya, lalu mulai memeriksa kondisi wanita tersebut.

Di bawah sorot lampu mobil, luka-luka lebam tampak jelas menghiasi lengan dan wajahnya. Ada darah mengering di ujung bibirnya, pertanda bahwa perempuan itu bukan sekadar pingsan biasa.

“Sepertinya korban kekerasan,” gumamnya lirih.

Ia lalu meraih pergelangan tangan perempuan itu, menempelkan dua jarinya untuk mengecek denyut nadi. Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang menegangkan, hingga akhirnya Miko menghembuskan napas lega.

“Dia hanya pingsan,” gumamnya lagi.

Miko pun bangkit berdiri. Setelah sekali lagi memastikan keadaan sekitar aman, ia melangkahkan kakinya kembali ke arah mobil tempat Aaron menunggu.

Begitu melihat Miko mendekat, Aaron menurunkan kaca mobilnya perlahan.

“Bagaimana, Mik?” tanya Aaron datar.

“Sepertinya korban kekerasan, Tuan. Saat ini kondisinya tidak sadarkan diri” jawab Miko jujur.

Aaron terdiam sejenak. Tatapannya lurus ke depan, seolah sedang menimbang sesuatu dalam pikirannya. “Masukkan ke mobil. Kita bawa dia pulang ke rumah,” pintanya akhirnya. Ia sengaja tidak membawanya ke rumah sakit. Karena takut terseret masalah hukum atau dicurigai atas sesuatu yang tidak dia lakukan.

Miko menatap Aaron ragu. “Anda yakin, Tuan?” tanyanya memastikan. Selama ini, Aaron dikenal dingin dan tak pernah peduli pada orang lain, terlebih pada orang asing yang tak jelas asal-usulnya.

“Cepat, Mik,” desak Aaron singkat, tak ingin perdebatan.

Miko menganggukkan kepalanya patuh. Ia menyelipkan pistolnya kembali ke balik pinggang, lalu melangkah menuju perempuan itu. Dengan hati-hati, ia mengangkat tubuh wanita tersebut dan membawanya ke dalam mobil, menempatkannya di kursi belakang sesuai perintah Aaron.

Aaron langsung mengalihkan perhatiannya pada perempuan itu yang tak sadarkan diri, berada di dekatnya. Wajahnya terlihat pucat dan beberapa luka lebam di tubuhnya. Untuk sesaat, ada rasa iba yang samar, sesuatu yang jarang, bahkan hampir tidak pernah dia rasakan.

1
Ipunk Hantu
mantap jiwa Thor di tgu kelanjutan Thor
Ipunk Hantu
lanjut dong KK Thor
🇹🇼 Mimi Sanah 🇮🇩
tangkap masukkan kemarkas , hayalan ku begitu😄
🇹🇼 Mimi Sanah 🇮🇩
jgn kecewakan kita ya Thor 🥺🙏
🇹🇼 Mimi Sanah 🇮🇩
ya Allah alya😭
🇹🇼 Mimi Sanah 🇮🇩
adduh bahaya , semoga Aaron cepat menyadari orang tersebut, Thor jantungku kebat kebit thoooorrr😭
🇹🇼 Mimi Sanah 🇮🇩
semoga dirumah sakit aman
🇹🇼 Mimi Sanah 🇮🇩
😭😭😭😭😭
Desi Arriani
menarik untuk di baca
Linda Muslimah
wkwk 🤣🤣🤣
Zainuri Zaira
nanti mau tulis lgi kasih nama tokohx calya. avanza. xenia jga bagus dn agya😄
Zainuri Zaira
ap mau susah2 cari ginjal ambil lgi lh ginjal ayla yg ad ditubuh leticia. ayla nama mobil dahatshu 😃😄
Zainuri Zaira
danar gila tega sma ank kandung sendiri
Nazia wafa abqura
bagus thor
Erna sujana Erna sujana
sangat bgus..di tnggu kelanjutan nya thor
Erna sujana Erna sujana
Aron memang keren..😄
Erna sujana Erna sujana
Alya TDK aman..Aron segera lh ambil tindakan..👍👍
Erna sujana Erna sujana
lanjut..seru CRT nya
Asyatun 1
lanjut
Yuni
/Ok/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!