Kerajaan Zorvath, sebuah negeri yang megah dan agung, dipimpin oleh Raja Reynold Arcturus Zorvath dan Ratu Aurelia Elyse Zorvath. Mereka telah mengikat janji suci selama 20 tahun, namun takdir masih belum memperkenankan mereka untuk memiliki penerus. Empat musim berganti, dari panasnya matahari hingga dinginnya salju, namun harapan akan kehadiran pewaris tahta masih belum terwujud.
Zorvath, sebuah kerajaan yang dikelilingi oleh pegunungan yang menjulang tinggi, menjadi saksi bisu atas perjuangan pasangan kerajaan ini. Desakan dari berbagai pihak semakin kuat, menguji kesabaran dan cinta mereka. Namun, Raja Reynold dan Ratu Aurelia tetap teguh, memegang erat janji mereka untuk menjaga kerajaan dan cinta mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chas_chos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Masa kini 1
Tangan kuat Raja Reynold masih membungkus tubuh Ratu Aurelia dengan erat, memeluknya seolah tak ingin melepaskan. Mereka masih terlena dalam euforia malam yang panjang dan sangat intim, seperti dua puluh tahun yang lalu ketika mereka pertama kali bersumpah setia di altar.
Setiap detik yang mereka curi di tengah jadwal padat, mereka manfaatkan untuk menjalin keromantisan dan memperkuat ikatan cinta mereka. Dari pagi hingga sore, mereka sibuk dengan urusan kerajaan, tapi malam adalah milik mereka berdua. Mereka akan berbagi cerita, tertawa, dan kadang-kadang, mereka akan berdiam diri, menikmati kehadiran satu sama lain.
Tangan Raja Reynold terus mengelus perut Ratu Aurelia dengan lembut, doanya membuncah dalam hati - semoga malam ini menjadi awal dari sesuatu yang indah, pewaris takhta Kerajaan Zorvath yang telah lama mereka tunggu. Umur mereka yang sudah matang, Raja Reynold 38 tahun dan Ratu Aurelia 37 tahun, masih memungkinkan mereka untuk memiliki buah hati.
Mereka berdua telah menikah selama 20 tahun, dan selama itu pula mereka telah mencoba untuk memiliki anak, namun belum ada tanda-tanda kehamilan. Ratu Aurelia telah menjalani berbagai pemeriksaan kesehatan, dan semuanya menunjukkan bahwa dia sehat dan siap untuk hamil.
"Semoga dewa segera memberikan kita penerus, sayang. Aku ingin melihat anak kita tumbuh dan menjadi raja atau ratu yang hebat."
Ratu Aurelia menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca, hatinya terasa berat karena merasa belum bisa memenuhi harapan Raja Reynold. Dia merasa bersalah karena belum bisa memberikan apa yang diinginkan suaminya, pewaris takhta yang akan melanjutkan kerajaan mereka.
"Aku... aku akan berusaha, sayang," bisik Ratu Aurelia, suaranya hampir tidak terdengar.
Raja Reynold tersenyum dan memeluk istrinya lebih erat. "Aku tidak peduli, Aurelia. Aku hanya ingin kamu bahagia. Jika tidak ada pewaris, kita akan mencari cara lain. Yang penting kita bersama."
Ratu Aurelia tersenyum lembut dan memeluk suaminya kembali. Mereka berdua tahu bahwa mereka akan menghadapi apa pun bersama, sebagai suami istri dan sebagai raja dan ratu Kerajaan Zorvath.
〰️〰️〰️〰️〰️〰️
Tok ... Tok ...
"Masuk," ucap Raja Reynold sambil bersandar di samping Ratu Aurelia yang masih terbaring dengan lembut, sorot matanya yang tajam menatap pintu yang terbuka. Udara pagi yang sejuk masuk melalui jendela, membawa aroma bunga mawar dari taman istana yang indah.
"Salam yang mulia, semoga zorvath selalu diberkati oleh Dewa Zeus," ucap Liam, _Liam Arden Vesper_, sang tangan kanan dan penasehat Raja Reynold, sambil membungkuk dengan hormat.
Raja Reynold mengangguk, lalu menatap Liam dengan tatapan yang tajam, seolah-olah mencoba membaca apa yang tersembunyi di balik kata-kata Liam. Karena pagi-pagi sekali sudah mengetuk kamar pribadinya, Raja Reynold tidak bisa menyembunyikan rasa sedikit terganggu.
"Ada apa?" tanyanya, suaranya dalam dan penuh wibawa, membuat Liam merasa sedikit lebih tegak.
Liam berdiri tegak, dengan mata yang menunduk ke bawah, menunjukkan rasa hormat yang mendalam. "Mohon maaf, Yang Mulia," katanya, suaranya lembut namun jelas. "Archduke Fleur ingin bertemu dengan Anda. Beliau sedang menunggu Anda di Istana Timur."
Istana Timur di Kerajaan Zorvath adalah tempat yang sangat penting, berfungsi sebagai tempat rapat dan ruang pertemuan sang raja dengan para bangsawan dan tamu-tamu penting. Jadi, jika Archduke Fleur ingin bertemu di sana, pasti ada sesuatu yang sangat penting dan mendesak.
〰️〰️〰️〰️〰️〰️
Raja Reynold Arcturus Zorvath, dengan langkah mantap dan khidmat, menuju ke istana timur didampingi Liam dan beberapa pengawal setia. Suasana di sekitar istana terasa begitu tenang, namun penuh dengan antisipasi.
Saat Raja Reynold mendekati pintu, penjaga di depan pintu segera menyambutnya dengan seruan yang lantang, "Yang mulia Raja Reynold Arcturus Zorvath memasuki ruangan!" Suara penjaga itu seperti memecahkan kesunyian, membuat semua orang di dalam ruangan langsung berdiri dengan hormat.
"Salam yang mulia, semoga Zorvath selalu diberkati dewa Zeus," ucap mereka serempak, dengan nada yang penuh hormat dan takzim. Di dalam ruangan itu, terdapat Archduke Fleur, Ethan Grey Fleur, Asisten Thomas Brown, dan penerus selanjutnya Archduke, Ryker Blackwood Fleur.
Raja Reynold melenggang memasuki ruangan, sorot matanya menyapu setiap sudut ruangan sebelum akhirnya berhenti di hadapan para bangsawan yang berkumpul. Dengan gerakan yang elegan, ia memberi isyarat kepada mereka untuk duduk, dan ruangan itu pun dipenuhi dengan suara gesekan kursi dan kain yang lembut.
"Ada apa?" ucap Raja Reynold dengan nada yang tegas dan ingin tahu.
Archduke Ethan Grey Fleur, dengan ekspresi serius, segera menjawab, "Yang Mulia, kami baru saja menerima laporan terbaru dari perbatasan Utara. Situasi di sana semakin memprihatinkan. Hutan di Kerajaan Winters telah ditebang secara masif untuk pembangunan penginapan, yang mengakibatkan longsor besar. Tanaman pangan di desa fuhan tertimbun hampir 80%, dan ini sangat berdampak pada pasokan pangan kita. Warga di sana meminta bantuan segera."
Ruangan itu menjadi sunyi sejenak, para bangsawan saling menatap dengan kekhawatiran. Raja Reynold mendengarkan laporan itu dengan ekspresi yang tidak berubah, namun sorot matanya menunjukkan keprihatinan yang mendalam.
"Kerusakan lingkungan yang tidak terkendali," gumam Raja Reynold, suaranya penuh dengan kekecewaan. "Bagaimana dengan cadangan pangan kita? Apakah kita bisa bertahan sampai panen berikutnya?
Liam Arden Vesper, asisten Raja, segera menjawab, "Yang Mulia, cadangan pangan kita masih cukup, namun jika situasi ini berlanjut, kita mungkin akan menghadapi kekurangan pangan dalam beberapa bulan ke depan."
Raja Reynold mengangguk, pikirannya sudah mulai merencanakan langkah-langkah untuk mengatasi krisis ini. "Kita harus bertindak cepat. Ethan, kirimkan tim bantuan ke perbatasan Utara segera. Sediakan makanan, obat-obatan, dan tenaga kerja untuk membantu warga di sana. Ryker, kamu akan memimpin tim bantuan itu."
Ryker Blackwood Fleur, dengan sigap, menjawab, "baik, Yang Mulia. Saya akan berangkat segera."
Dengan keputusan itu, Raja Reynold memberikan isyarat kepada para bangsawan untuk melanjutkan diskusi lebih lanjut, sementara Liam, memperhatikan situasi dengan mata yang waspada, siap menghadapi kemungkinan terburuk.
Ini cerita pertamaku, maaf kalau kurang menarik serta banyak typo 🥹
Semoga kalian suka 😊