NovelToon NovelToon
My Little Actress

My Little Actress

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / CEO / Selingkuh / Cinta setelah menikah / Aliansi Pernikahan / Nikah Kontrak
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tiara Pratiwi

Kemungkinan ada narasi adegan nyerempet 21th+
Pembaca mohon lebih bijak dalam memilih bacaan yang sesuai usia! Cerita cuma fiksi jgn terlalu baper

Setelah mengetahui perselingkuhan tunangannya dengan saudara tirinya, Beatrice justru dipertemukan dengan Alexander, seorang CEO ganteng, kaya, dingin yang sangat menyayangi dan memanjakannya. Awalnya Alex hanya penasaran terhadap Beatrice, pasalnya penyakit alerginya terhadap wanita sama sekali tidak kambuh saat bersentuhan dengan Beatrice. Sahabat sekaligus dokter pribadinya, Harris menyuruhnya terus bersentuhan dengan Beatrice sebagai upaya terapi untuk kesembuhan alergi yang diderita Alex. Namun lama-lama sikap posesif dan cemburuan Alex terhadap Beatrice semakin menjadi, membuatnya sadar bahwa dia telah jatuh hati pada Beatrice. Alex ingin pernikahan kontrak mereka menjadi pernikahan sungguhan. Akankah hati Beatrice terbuka untuk Alex?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiara Pratiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 Aku Hamil

Aroma champagne mahal, parfum kelas atas, dan musik orkestra yang merdu berbaur menjadi satu, memenuhi ballroom mewah di salah satu hotel bintang lima di Kota Zenith. Cahaya kristal dari lampu gantung memantul, menciptakan kilauan pada gaun-gaun sutra dan setelan tuksedo mahal.

Di tengah kemewahan dan keramaian pesta itu, Beatrice Brooks, dengan gaun malam berwarna hijau emerald yang memeluk tubuhnya dengan elegan, merasakan gelombang kegelisahan. Matanya yang indah, biasanya memancarkan ketenangan, kini menyapu kerumunan dengan cemas.

Ia mencari sosok yang seharusnya berada di sisinya, Zane Moreno, tunangannya. Beatrice tidak terlalu mengenal tamu-tamu pesta ini karena dia hanya mendampingi tunangannya.

Malam itu, mereka datang bertiga.

Beatrice, Zane, dan Rosela Brooks, saudara tiri Beatrice. Rosela, adik tiri yang lebih muda satu tahun dari Beatrice dengan rambut pirang ikal dan mengenakan gaun off-shoulder berwarna merah menyala, tampak sangat mencolok, gaun itu membungkus tubuhnya dengan erat sampai memperlihatkan seluruh lekuk tubuhnya.

Beatrice dan Rosela tidak pernah akrab. Setelah ibunya, Genevieve Montclair meninggal dunia karena sakit, tak lama Benjamin menikahi Daisy Fields. Saat Daisy mulai tinggal di rumah keluarga Brooks, dia membawa serta anak gadisnya, Rosela. Di awal kehadiran mereka, Beatrice berusaha mengakrabkan diri karena belum mengetahui bahwa Rosela adalah anak dari hasil hubungan di luar nikah antara ayahnya, Benjamin Brooks dan Daisy. Namun, setelah mengetahuinya Beatrice pun menjaga jarak dari keduanya, ditambah lagi keduanya memang tidak pernah memperlakukan Beatrice dengan baik.

Mereka selalu berusaha mengadu domba antara Benjamin dan Beatrice yang membuat hubungan ayah-anak itu semakin renggang seiring berjalannya waktu, apalagi Benjamin selalu mempercayai Daisy dan Rosela secara sepihak.

Malam ini, saat mendengar Beatrice akan keluar menghadiri pesta dengan Zane, ayahnya meminta Beatrice membawa Rosela juga dengan alasan Rosela sekarang sudah menjadi artis dan perlu terekpos lebih banyak.

Meskipun Benjamin sering bersikap tidak adil pada Beatrice, Beatrice tidak pernah menolak keinginannya sebagai bentuk bakti.

Kini, sudah hampir satu jam, Zane menghilang dari ballroom. Awalnya, Beatrice mengira Zane hanya ke toilet atau bertemu dengan rekan bisnisnya. Tapi waktu terus berjalan dan tidak ada tanda-tanda kemunculan Zane.

Beatrice pun berusaha mencari Rosela, mungkin dia ada bersama Zane, tapi Beatrice juga tidak menemukan keberadaan Rosela.

Beatrice mencoba menelpon keduanya tapi tidak ada yang menjawab panggilannya.

Kecemasan Beatrice perlahan berubah menjadi rasa tidak enak.

Sesaat, Beatrice merasa dadanya tercekat.

"Tidak mungkin. Rosela menghilang, disusul Zane?", batinnya.

Pikirannya yang rasional berusaha menepis asumsi buruk, mengatakan bahwa itu hanya kebetulan. Mungkin Rosela juga ke toilet. Mungkin Zane sedang menerima telepon penting di luar.

Beatrice mulai berkeliling. Ia melewati pasangan-pasangan yang sedang berdansa, menyapa dengan senyum paksa, dan sesekali berhenti untuk berpura-pura menyesap champagne. Ia mencari di dekat area bar, di balkon, bahkan melongok ke deretan pintu toilet. Nihil.

Ia akhirnya mendekati seorang pelayan wanita yang sedang merapikan gelas di sudut ruangan.

“Permisi. Apakah Anda melihat Tuan Zane Moreno?", bisiknya lembut.

Pelayan itu, seorang wanita muda dengan seragam rapi, tampak berpikir sejenak. “Oh, Tuan Moreno. Ya, saya melihatnya, sekitar satu jam yang lalu. Ia berjalan ke luar ballroom, menuju lorong bagian Barat. Lalu ada wanita bergaun merah itu, menyusulnya tidak lama kemudian.”

Lorong Barat. Lorong menuju kantor manajemen hotel. Beatrice ingat ada toilet publik di area itu, walaupun sedikit lebih sepi karena letaknya agak terpencil.

Beatrice kembali berusaha berpikir positif.

Beatrice mengucapkan terima kasih pada pelayan itu dan bergegas meninggalkan ballroom. Musik dan tawa riuh di belakangnya seolah memudar, digantikan oleh suara langkah kakinya sendiri di atas karpet tebal di koridor.

Lorong itu sangat sepi, dihiasi lukisan mahal dan lampu dinding temaram. Setelah menyusuri beberapa tikungan, di ujung lorong yang sedikit lebih gelap, sebuah pemandangan mulai tampak, menghentikan langkah Beatrice secepat kilat.

Beatrice melihat Zane keluar dari toilet pria diikuti Rosela berjarak beberapa langkah di belakangnya.

Zane kemudian berdiri di dekat jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota Zenith di malam hari, disusul oleh Rosela yang bergelayut manja di lengan Zane.

Napas Beatrice tertahan. Ia hendak memanggil nama Zane, menuntut penjelasan, tapi instingnya berbisik untuk menunda.

Beatrice ingin tahu ada hubungan apa di antara Zane dan Rosela.

Setahu Beatrice hubungan mereka hanyalah atasan dan bawahan, Zane adalah CEO Moreno Entertainment sedangkan Rosela adalah salah satu artis di bawah naungan perusahaan itu.

Zane tahu bahwa Beatrice punya cita-cita menjadi Best Actress tapi dia selalu menghalangi keinginan Beatrice untuk masuk ke dunia hiburan dengan berbagai alasan. Namun, sebaliknya, Zane malah menarik Rosela sebagai salah satu artisnya setelah Rosela lulus SMA, mempromosikannya secara besar-besaran, memberikan berbagai dukungan dan kesempatan untuk menjadikannya artis terkenal.

Padahal Zane tahu, Beatrice bukan hanya sekedar ingin menjadi artis terkenal tapi Beatrice juga butuh uang untuk pengobatan Colton Brooks, adik laki-lakinya yang sudah beberapa minggu ini tengah berbaring di rumah sakit.

Awalnya Colton, anak laki-laki yang sehat dan ceria tapi tiba-tiba di usia 12 tahun, Colton didiagnosa mengidap penyakit parah.

Sebelumnya, Benjamin sangat menyayangi Colton karena Benjamin menganggap hanya anak laki-laki yang bisa jadi penerusnya, sedangkan anak perempuan pada akhirnya akan menikah dan pergi dari rumah. Menurutnya pada akhirnya nama keluarganya hanya bisa diturunkan pada anak laki-laki.

Tapi setelah mengetahui Colton sakit parah, Benjamin yang semula sangat menyayangi Colton dan ingin menjadikannya penerus Brooks Corporation, langsung lepas tangan dan tidak mau mengeluarkan biaya sepeserpun untuk pengobatan Colton.

Sebenarnya Colton masih bisa disembuhkan dengan operasi tapi dokter dan fasilitas di dalam negeri tidak terlalu mumpuni sehingga harus dibawa berobat ke luar negeri, itupun jaminan kesembuhannya tidak 100%. Tapi Benjamin tidak mau mengeluarkan uang pengobatan karena belum tentu Colton akan sembuh.

Sejak saat itu hubungan Colton dan Benjamin pun memburuk, mereka tidak bertengkar tapi lebih seperti orang asing.

Sejak saat itu juga lah, Beatrice yang mengusahakan biaya pengobatan Colton.

Colton bukanlah anak dari Daisy, saat Colton lahir, Genevieve masih menjadi istri Benjamin.

Beatrice sendiri tidak terlalu ingat kejadian-kejadian saat dia masih kecil karena Beatrice mengalami amnesia setelah mengalami kecelakaan mobil bersama Benjamin di usia sepuluh tahun.

Kembali ke hotel, Beatrice dengan cepat menyelinap ke balik pilar batu hiasan yang terletak beberapa meter sebelum mereka. Dari balik persembunyiannya, ia bisa mendengar percakapan itu dengan jelas, seolah lorong itu sengaja diperkuat untuk menyalurkan suara.

Rosela berujar, suaranya terdengar lembut namun penuh penekanan, “Zane, aku ingin memberitahu sesuatu.”

Zane menjawab dengan nada datar, “Apa?”

Kemudian, kalimat itu meluncur, memecah kesunyian sekaligus hati Beatrice menjadi serpihan-serpihan tajam.

“Aku hamil. Aku hamil anak kita, Zane.”

Dunia Beatrice seolah berhenti berputar. Udara di sekitarnya mendadak terasa tipis dan dingin.

Zane merespons dengan panik, suaranya tinggi, “Apa kau bilang? Hamil?? Bagaimana bisa?”

Jelas, kepanikan itu nyata. Zane Moreno, tunangannya, pria yang selalu tampak seperti gentleman dan sangat menjaga citra, kini dilanda ketakutan. Zane sangat menjaga Beatrice dalam hubungan mereka. Setiap sentuhan di antara mereka tidak pernah lebih dari sekadar bergandengan tangan, semuanya karena Beatrice sendiri yang selalu menolak keintiman yang lebih jauh sebelum pernikahan. Dan Zane sangat menghargai keputusannya. Beatrice pikir seperti itu juga Zane dalam menjaga jarak dari perempuan lain.

Tapi sekarang, ia melihat betapa paniknya Zane menghadapi kenyataan bahwa ia akan memiliki anak dengan wanita lain. Dan wanita itu tidak lain adalah Rosela.

Rosela tertawa pelan, tawa yang menusuk tulang Beatrice. “Apa maksudmu? Tentu saja mungkin, kita kan sudah sering melakukannya. Apa kau ingat saat terakhir kali kita melakukannya di sofa ruang kerjamu yang ada di mansion-mu? Waktu itu kau tidak memakai pengaman.”

Rahang Zane mengeras. “Bukankah kamu minum pil kontrasepsi pagi itu?”

“Hanya karena kita sudah memakai kontrasepsi bukan berarti jaminan seratus persen aku tidak akan hamil,” Rosela membalas dengan nada menantang.

Beatrice mencengkeram kain gaunnya sendiri. Rasa sakit itu tak terkatakan, lebih buruk dari tusukan belati. Pengkhianatan Zane dan Rosela. Sofa di ruang kerja mansion Zane adalah sofa yang Beatrice beli sendiri, Beatrice sangat menyukai sofa itu dan sering menghabiskan waktu membaca buku sambil merebahkan diri di sana sembari menunggu Zane bekerja.

Ugh membayangkan sofa kesayangannya itu sudah ternoda, Beatrice langsung merasa mual.

Zane tidak tahu harus menjawab apa dan segera berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Kita bicarakan lagi besok. Kita sudah terlalu lama di sini, Beatrice pasti mencari kita.”

Rosela, dengan senyum manisnya hanya mengangguk.

1
Danella Juanitha
maaf yah sebelumnya karena ini ada miripnya di aplikasi sebelah dan itu sepertinya aku baca sekitar 2 atau 3 tahun lalu, aku bukan mau bilang otornya gimana, aku cuma mengatakan bahwa cerita ini hampir mirip seperti yg pernah aku baca di aplikasi sebelah, maaf yah otor jgn tersinggung 🙏🙏🙏
Danella Juanitha: iya otor ceritanya kurang lebih sama walaupun ada bedanya walaupun beberapa tapi lebih banyak samanya sih menurutku sejauh ini, maaf yah otor bukan mau meruntuhkan mental atau bagaimana, aku gak maksud apa tapi siapa tau selanjutnya akan lain atau otor memang pernah nulis cerita di aplikasi sebelah f***o, soalnya aku tuh tim suka baca tapi jarang tau penulis nya🤭🤭🤣
total 2 replies
Tiara Pratiwi
lupa ngasih keterangan foto terakhir ya, yg rambut agak keriting Colton, yg rambut klimis Alex
jgn lupa subscribe, like, komen, kasih rating dan gift, gift yg free jg gpp nonton iklan aja bentar 🤣
Tiara Pratiwi
Jangan lupa subscribe, like, komen, dan share ya 😍🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!