WARNA -WARNI YANG HILANG
Kafe kayu tua itu selalu penuh tawa setiap hari jam tiga sore. Suara rambut putihnya yang menggema tak pernah gagal membuat pelanggan lain mengangkat bibirnya tersenyum—bahkan yang sedang merenung di
0
0
RAHASIA DI BALIK LEMBARAN KUNING
𝘓𝘢𝘮𝘱𝘶 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘥𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘢𝘳 𝘊𝘭𝘢𝘪𝘳𝘦 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘭𝘢 𝘳𝘦𝘥𝘶𝘱, 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘰𝘳𝘰𝘵 𝘣𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘯𝘫𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘱𝘢𝘮𝘱𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘥𝘪𝘯𝘥𝘪𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘩𝘪𝘢𝘴𝘪 𝘣𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘶𝘯𝘨𝘢 𝘮𝘢𝘵𝘢𝘩𝘢𝘳𝘪. 𝘜𝘥𝘢𝘳𝘢 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘸𝘢 𝘢𝘳𝘰𝘮𝘢 𝘭𝘦𝘮𝘣𝘶𝘵 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘥𝘢𝘶𝘯 𝘱𝘢𝘯𝘥𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢𝘭
0
0
PENDAR SUNYI DI GERBONG TERAKHIR
Lampu gerbong kereta api ekonomi itu berkedip-kedip tak stabil, memancarkan cahaya kuning kusam yang tampak lelah. Di sudut paling belakang, seorang pria duduk kaku dengan topi pet yang menaungi wajah
0
0
BINGKAI TERAKHIR DI UJUNG CAKRAWALA
Roman menarik napas panjang, membiarkan udara dingin apartemen memenuhi paru-parunya. Ia duduk bersila di depan jendela besar, rambutnya diikat simpul ke atas—sebuah kebiasaan saat kepalanya mulai pen
0
0
TINTA YANG MENGAGUMI LAUT
Awan kelabu menggantung rendah di atas permukaan laut yang tenang, seperti selimut kabut tipis yang menyembunyikan rahasia kedalaman laut. Di tepi pantai sebuah pulau terpencil, sebuah rumah kayu reyo
0
0
Layangan Bagian 5
Tiga puluh keping, Bukan kayu, Bukan plastik. Arip memandang tumpukan bambu wulung yang sudah dipotong melingkar sempurna. Diameternya tiga puluh sentimeter. Seperti piring makan, tapi ringan seperti
0
1
Layangan Bagian 4
"Ambil," kata Arip tiba-tiba. Maman mengerutkan kening. "Apa?" "Ambil gelasannya. Ambil bangkai layangannya. Gua nggak butuh." Arip berbalik. Dia berjalan menjauh. Langkahnya pelan, tidak lagi terb
0
1
Layangan Bagian 3
Si Kuning milik Koh Ahong tak lagi perkasa. Dia limbung. Menukik ke sebelah timur, ke arah pemukiman padat yang atap-atap sengnya berkilat seperti gigi hiu. Dan di bawah? Neraka pecah. "GATENG! GATEN
0
1
Layangan bagian 2
Langkah kaki Arip menghantam tanah kering. Dung, Dung, Dung. Tanah lapang di belakang pabrik tekstil itu sudah penuh. Bau debu bercampur dengan bau amis selokan. Angin bertiup kencang, menggoyang-goya
0
1
Layangan bagian 1
Matahari itu bukan bola api. Dia adalah pemangsa. Dia menjilat tengkuk Arip, mengubah keringatnya menjadi kerak garam yang perih di sela pori-pori. Di tangannya, sebilah bambu petung yang tadinya bisu
0
1
Separuh Jiwaku Tertinggal di Aspal
Sore Hari, 31 Desember 2020 (Pukul 17.00) Suara nada sambung telepon grup berbunyi, lalu satu per satu mengangkat. Arumi: "Halo? Kalian di mana? Ibuku bolak-balik tanya nih, jadi pergi nggak?" S
0
1
Percobaan
Aku hanya sebatas alasan untuk membuatmu bisa bertahan. Aku tak punya apapun untuk ku tawarkan. Jangan menungguku. Karena itu akan sangat menyakitkan.
0
4
Abang Yang Aneh
Dika adalah nama gue, gue gak paham sama Abang gue sendiri karena setiap gue bikin novel baru tapi semua itu gak ada apa-apanya di mata Abang, bahkan waktu gue nunjukin cerpen dan minta biar dia baca
2
6
Ngakak Berkenalan
Pada satu di antara pelabuhan laut di Tanah Papua, sedang berbincang tiga orang pria yang sedang menunggu datangnya kapal penumpang, untuk menjemput sanak familinya. Ketiga pria tersebut berasal dari
0
0
Jatuh Dari Rakit
Halo namaku Nemilia Wahyuna, panggil aku Mili ya. Aku punya adik bernama Michella Wahyuna, panggil dia Michell ya. Karena sebentar lagi sekolahku libur selama dua minggu, maka Ayahku mengajak kami men
0
0
Hadiah untuk Salsa
“Tinggal dua hari lagi salsa ulang tahun, aku bingung mau kasih kado apa? kamu ada ide nggak ca?” tanyaku pada sepupuku caca. Salsa adalah adikku dan aku sangat menyayanginya untuk itu setiap dia ulan
0
0
Ujian Nasional
“jangan ulangi lagi!!” ini sudah ke-20 kalinya aku dihukum karena tidur di kelas saat pelajaran. entah ada apa dengan mataku yang selalu mengantuk di setiap pelajaran guru bahasaku. Aku mengucek matak
0
0
Seutas Kisah Dariku
Sore itu aku sedang membantu Mama memasak. Memotong-motong bawang merah dan kawan-kawannya. Aku melirik Mama yang sedang fokus mengaduk nasi di panci. Lalu berdehem, bersiap menanyakan sesuatu pada Ma
0
0
Cerita Rakyat Putri Niwerigading dari Aceh
Cerita rakyat Putri Niwerigading yang sangat terkenal di Aceh merupakan suatu cerita turun temurun yang mengisahkan tentang kehidupan seorang anak bernama Amat Mude yang lahir ketika sang ayah meningg
1
0
ART Tak Digaji Karena Dianggap Anak
Namanya Raras. Di sebuah rumah besar berlantai marmer di kawasan elit Jakarta Selatan, ia pernah berdiri di dapur sempit dekat ruang cuci, memeras kain pel dengan tangan yang pecah-pecah. Usianya bar
0
1