Lampu gerbong kereta api ekonomi itu berkedip-kedip tak stabil, memancarkan cahaya kuning kusam yang tampak lelah. Di sudut paling belakang, seorang pria duduk kaku dengan topi pet yang menaungi wajah penuh kerutan rahasia. Nama aslinya adalah Otmane Alfabet, namun orang-orang lebih mengenalnya dengan sebutan Bapak Uman. Di pangkuannya, sebuah buku catatan tua bersampul kulit hitam pekat tampak seolah memiliki denyutnya sendiri.
"Generasi pendar biru," bisik Uman dengan nada parau yang menembus sunyi. Ia memegang pena bulu tua yang ujungnya hitam legam. Setiap kali ujung pena itu menyentuh kertas, terdengar suara gesekan yang mirip dengan bisikan kecil. Uman tidak sedang mengarang cerita biasa; ia sedang menyusun realitas untuk seorang pemuda di lapisan waktu yang berbeda, seorang jiwa dari masa depan yang ia sebut sebagai Boy Angkasa.
Bagi Boy , kereta ini adalah mesin modern yang melaju menuju kota. Namun bagi Uman, gerbong ini adalah ruang abadi tempat ia mencatat setiap jiwa yang tersesat dalam pendar biru.
Dalam buku itu, Uman mendeskripsikan Boy dengan sangat teliti: pemuda dengan hoodie hitam, telinga tertutup headphone, dan mata yang terpaku pada layar ponsel yang berpijar. Uman mulai menggerakkan penanya, dan secara ajaib, apa yang diketik Boy di ponselnya mengalir muncul di halaman buku Uman dalam bentuk tinta pekat yang berdenyut. Itu adalah monolog puitis milik Boy yang berjudul:
_________
PENDAR BIRU YANG MENAWAN JIWA
Di balik kaca kereta yang menderu, aku menemukan duniaku dalam satu genggaman. Layar ini adalah jendela kecil yang melampaui cakrawala, tempat jemariku menari di atas kaca yang membeku. Ada ribuan suara bermuara di sana, namun tak satu pun yang memiliki napas. Aku terhanyut dalam pendar biru yang merayu, perlahan menyerap sisa-sisa nyata yang kutinggalkan di sudut bangku.
Apakah aku yang menggenggamnya, atau justru aku yang terikat oleh pesonanya? Jarak kini tak lagi berjarak, namun kesunyian ini terasa semakin riuh. Di sini, aku abadi dalam jutaan piksel, mencari hangat di antara pantulan cahaya yang enggan berkedip. Aku nyata, namun aku terasa tiada.
— B.A. (Terlarut dalam Pendar Uman)
Begitu kata "Tiada" tertulis, suasana di sekitar Uman berubah seketika. Udara mendadak menjadi sedingin es yang membeku, membuat napasnya menguap putih di tengah sunyi yang kian pekat. Bau tinta yang khas dalam sekejap berganti menjadi aroma kuno yang sangat asing, menyelimuti setiap sudut gerbong. Uman tersenyum tipis, sebuah senyum penuh rahasia yang membuat kumis tebalnya bergetar misterius.
Ia menoleh ke arah jendela kereta. Namun, bukannya melihat kegelapan malam di luar, ia melihat pantulan Boy di kaca tersebut. Sosok Boy di dalam pantulan itu tidak lagi memegang ponsel, melainkan tampak tergenggam oleh pusaran pendar yang perlahan menyamarkan parasnya, menyatu ke dalam keabadian digital yang hampa.
Tiba-tiba, dari sela-sela lipatan buku hitam itu, mengalir cairan pekat yang berdenyut. Cairan itu bukan tinta biasa; ia merayap dengan gerakan halus, menyusuri pergelangan tangan Uman seolah sedang mencari jalan untuk menyatu. Di saat yang bersamaan, di dalam gerbong yang dihuni Boy, sebuah notifikasi muncul di ponselnya. Bukan pesan dari dunia nyata, melainkan sebuah barisan kalimat berwarna merah tua yang berbunyi: "Engkau adalah aksara yang kutulis, kini engkau abadi dalam naskahku."
Uman menggoreskan penanya dengan mantap hingga ujungnya membekas dalam pada serat kertas, seolah sedang mengunci sebuah takdir yang tak terelakkan. "Sekarang, jadilah abadi," gumamnya pelan.
Mendadak, sebuah getaran rendah yang asing menyelimuti keheningan kereta. Suara itu terasa ganjil, bukan seperti suara manusia, melainkan perpaduan antara gema yang menjauh dan suara frekuensi mesin yang perlahan memudar. Uman membuka halaman berikutnya dengan tenang. Di sana, secara ajaib telah terpatri sebuah potret nyata yang memperlihatkan Boy sedang duduk kaku, namun parasnya tampak memudar, larut perlahan ke dalam pendar ponselnya yang menyala biru terang.
Mata Boy di dalam potret itu tampak memberikan isyarat! Ia seolah menatap keluar dari hamparan kertas, membalas pandangan Uman dengan tatapan penuh kehampaan. Bibir Boy di dalam lembaran itu tampak bergerak-gerak tanpa suara, seolah sedang membisikkan kalimat terakhirnya sebelum seluruh sosoknya benar-benar memudar: "Tolong... aku benar-benar tiada."
Uman menyatukan kedua sampul bukunya dengan suara yang dalam, bergema pelan menyapu seluruh sudut gerbong. Ia bangkit dengan tenang, merapikan topinya, dan meninggalkan buku itu di atas kursi yang kini terasa asing dan dingin. Saat kereta berhenti di stasiun berikutnya, gerbong itu benar-benar sunyi. Hanya ada sebuah ponsel yang tergeletak di lantai, layarnya masih menyala redup menampilkan bait-bait puisi "PENDAR BIRU YANG MENAWAN JIWA" yang kini seluruh hurufnya perlahan meluruh menjadi jejak-jejak tinta hitam yang pekat.
...
𝗣𝗼𝘁𝗿𝗲𝘁 𝗥𝗲𝗮𝗹𝗶𝘁𝗮 𝗞𝗶𝘁𝗮:
Kisah ini seolah menjadi cermin bagi kehidupan modern saat ini. Di berbagai sudut kota dan di tengah hiruk-pikuk transportasi umum, ada begitu banyak sosok seperti Boy Angkasa yang duduk tenang, namun perhatiannya terlarut sepenuhnya oleh pendar cahaya biru di genggaman. Dalam kesunyian yang terasa puitis itu, sering kali kita tidak menyadari bahwa waktu dan kesadaran kita perlahan memudar, seolah ditarik oleh kekuatan yang sulit dijelaskan. Secara fisik kita berada di sana, namun jiwa dan perhatian kita mungkin telah berpindah, hanyut ke dalam dunia digital yang tak bertepi.
𝗣𝗲𝘀𝗮𝗻 𝗕𝗶𝗷𝗮𝗸 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗞𝗶𝘁𝗮:
Kisah ini hadir sebagai sebuah renungan lembut di tengah derasnya arus teknologi. Di era di mana segalanya bergerak begitu cepat, terkadang kita perlu sejenak berhenti untuk merasai kembali kehadiran diri yang seutuhnya.
Gunakanlah jendela kecil di genggamanmu sebagai alat untuk memperluas cakrawala, namun tetaplah menjaga agar mata hatimu selalu tertuju pada keindahan dunia di sekitarmu. Layar mungkin mampu memperdengarkan ribuan suara dari tempat yang jauh, namun jangan sampai itu meredupkan ketulusan sapaan dan kehangatan kehadiran manusia yang ada di sisimu.
Teknologi adalah jembatan yang indah untuk mendekatkan yang jauh, selama kita tetap menjadi tuan atas perangkat kita sendiri. Mari kita temukan kebahagiaan yang seimbang: merayakan kemudahan digital tanpa kehilangan esensi kemanusiaan kita. Karena pada akhirnya, makna kehidupan yang paling dalam ditemukan dalam setiap embusan napas yang kita jalani dengan penuh kesadaran dan rasa syukur.
𝐘𝐨𝐮𝐂𝐡𝐚,𝟎𝟗 𝐅𝐞𝐛𝐫𝐮𝐚𝐫𝐢 𝟐𝟎𝟐𝟔
Icha Serizawa____✍️📓⌚
Lampu gerbong kereta api ekonomi itu berkedip-kedip tak stabil, memancarkan cahaya kuning kusam yang tampak lelah. Di sudut paling belakang, seorang pria duduk kaku dengan topi pet yang menaungi wajah penuh kerutan rahasia. Nama aslinya adalah Otmane Alfabet, namun orang-orang lebih mengenalnya dengan sebutan Bapak Uman. Di pangkuannya, sebuah buku catatan tua bersampul kulit hitam pekat tampak seolah memiliki denyutnya sendiri.
"Generasi pendar biru," bisik Uman dengan nada parau yang menembus sunyi. Ia memegang pena bulu tua yang ujungnya hitam legam. Setiap kali ujung pena itu menyentuh kertas, terdengar suara gesekan yang mirip dengan bisikan kecil. Uman tidak sedang mengarang cerita biasa; ia sedang menyusun realitas untuk seorang pemuda di lapisan waktu yang berbeda, seorang jiwa dari masa depan yang ia sebut sebagai Boy Angkasa.
Bagi Boy , kereta ini adalah mesin modern yang melaju menuju kota. Namun bagi Uman, gerbong ini adalah ruang abadi tempat ia mencatat setiap jiwa yang tersesat dalam pendar biru.
Dalam buku itu, Uman mendeskripsikan Boy dengan sangat teliti: pemuda dengan hoodie hitam, telinga tertutup headphone, dan mata yang terpaku pada layar ponsel yang berpijar. Uman mulai menggerakkan penanya, dan secara ajaib, apa yang diketik Boy di ponselnya mengalir muncul di halaman buku Uman dalam bentuk tinta pekat yang berdenyut. Itu adalah monolog puitis milik Boy yang berjudul:
_________
PENDAR BIRU YANG MENAWAN JIWA
Di balik kaca kereta yang menderu, aku menemukan duniaku dalam satu genggaman. Layar ini adalah jendela kecil yang melampaui cakrawala, tempat jemariku menari di atas kaca yang membeku. Ada ribuan suara bermuara di sana, namun tak satu pun yang memiliki napas. Aku terhanyut dalam pendar biru yang merayu, perlahan menyerap sisa-sisa nyata yang kutinggalkan di sudut bangku.
Apakah aku yang menggenggamnya, atau justru aku yang terikat oleh pesonanya? Jarak kini tak lagi berjarak, namun kesunyian ini terasa semakin riuh. Di sini, aku abadi dalam jutaan piksel, mencari hangat di antara pantulan cahaya yang enggan berkedip. Aku nyata, namun aku terasa tiada.
— B.A. (Terlarut dalam Pendar Uman)
Begitu kata "Tiada" tertulis, suasana di sekitar Uman berubah seketika. Udara mendadak menjadi sedingin es yang membeku, membuat napasnya menguap putih di tengah sunyi yang kian pekat. Bau tinta yang khas dalam sekejap berganti menjadi aroma kuno yang sangat asing, menyelimuti setiap sudut gerbong. Uman tersenyum tipis, sebuah senyum penuh rahasia yang membuat kumis tebalnya bergetar misterius.
Ia menoleh ke arah jendela kereta. Namun, bukannya melihat kegelapan malam di luar, ia melihat pantulan Boy di kaca tersebut. Sosok Boy di dalam pantulan itu tidak lagi memegang ponsel, melainkan tampak tergenggam oleh pusaran pendar yang perlahan menyamarkan parasnya, menyatu ke dalam keabadian digital yang hampa.
Tiba-tiba, dari sela-sela lipatan buku hitam itu, mengalir cairan pekat yang berdenyut. Cairan itu bukan tinta biasa; ia merayap dengan gerakan halus, menyusuri pergelangan tangan Uman seolah sedang mencari jalan untuk menyatu. Di saat yang bersamaan, di dalam gerbong yang dihuni Boy, sebuah notifikasi muncul di ponselnya. Bukan pesan dari dunia nyata, melainkan sebuah barisan kalimat berwarna merah tua yang berbunyi: "Engkau adalah aksara yang kutulis, kini engkau abadi dalam naskahku."
Uman menggoreskan penanya dengan mantap hingga ujungnya membekas dalam pada serat kertas, seolah sedang mengunci sebuah takdir yang tak terelakkan. "Sekarang, jadilah abadi," gumamnya pelan.
Mendadak, sebuah getaran rendah yang asing menyelimuti keheningan kereta. Suara itu terasa ganjil, bukan seperti suara manusia, melainkan perpaduan antara gema yang menjauh dan suara frekuensi mesin yang perlahan memudar. Uman membuka halaman berikutnya dengan tenang. Di sana, secara ajaib telah terpatri sebuah potret nyata yang memperlihatkan Boy sedang duduk kaku, namun parasnya tampak memudar, larut perlahan ke dalam pendar ponselnya yang menyala biru terang.
Mata Boy di dalam potret itu tampak memberikan isyarat! Ia seolah menatap keluar dari hamparan kertas, membalas pandangan Uman dengan tatapan penuh kehampaan. Bibir Boy di dalam lembaran itu tampak bergerak-gerak tanpa suara, seolah sedang membisikkan kalimat terakhirnya sebelum seluruh sosoknya benar-benar memudar: "Tolong... aku benar-benar tiada."
Uman menyatukan kedua sampul bukunya dengan suara yang dalam, bergema pelan menyapu seluruh sudut gerbong. Ia bangkit dengan tenang, merapikan topinya, dan meninggalkan buku itu di atas kursi yang kini terasa asing dan dingin. Saat kereta berhenti di stasiun berikutnya, gerbong itu benar-benar sunyi. Hanya ada sebuah ponsel yang tergeletak di lantai, layarnya masih menyala redup menampilkan bait-bait puisi "PENDAR BIRU YANG MENAWAN JIWA" yang kini seluruh hurufnya perlahan meluruh menjadi jejak-jejak tinta hitam yang pekat.
...
𝗣𝗼𝘁𝗿𝗲𝘁 𝗥𝗲𝗮𝗹𝗶𝘁𝗮 𝗞𝗶𝘁𝗮:
Kisah ini seolah menjadi cermin bagi kehidupan modern saat ini. Di berbagai sudut kota dan di tengah hiruk-pikuk transportasi umum, ada begitu banyak sosok seperti Boy Angkasa yang duduk tenang, namun perhatiannya terlarut sepenuhnya oleh pendar cahaya biru di genggaman. Dalam kesunyian yang terasa puitis itu, sering kali kita tidak menyadari bahwa waktu dan kesadaran kita perlahan memudar, seolah ditarik oleh kekuatan yang sulit dijelaskan. Secara fisik kita berada di sana, namun jiwa dan perhatian kita mungkin telah berpindah, hanyut ke dalam dunia digital yang tak bertepi.
𝗣𝗲𝘀𝗮𝗻 𝗕𝗶𝗷𝗮𝗸 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗞𝗶𝘁𝗮:
Kisah ini hadir sebagai sebuah renungan lembut di tengah derasnya arus teknologi. Di era di mana segalanya bergerak begitu cepat, terkadang kita perlu sejenak berhenti untuk merasai kembali kehadiran diri yang seutuhnya.
Gunakanlah jendela kecil di genggamanmu sebagai alat untuk memperluas cakrawala, namun tetaplah menjaga agar mata hatimu selalu tertuju pada keindahan dunia di sekitarmu. Layar mungkin mampu memperdengarkan ribuan suara dari tempat yang jauh, namun jangan sampai itu meredupkan ketulusan sapaan dan kehangatan kehadiran manusia yang ada di sisimu.
Teknologi adalah jembatan yang indah untuk mendekatkan yang jauh, selama kita tetap menjadi tuan atas perangkat kita sendiri. Mari kita temukan kebahagiaan yang seimbang: merayakan kemudahan digital tanpa kehilangan esensi kemanusiaan kita. Karena pada akhirnya, makna kehidupan yang paling dalam ditemukan dalam setiap embusan napas yang kita jalani dengan penuh kesadaran dan rasa syukur.