Namanya Raras.
Di sebuah rumah besar berlantai marmer di kawasan elit Jakarta Selatan, ia pernah berdiri di dapur sempit dekat ruang cuci, memeras kain pel dengan tangan yang pecah-pecah. Usianya baru tujuh belas tahun. Rambutnya selalu diikat seadanya. Ia datang dari sebuah desa kecil di pesisir Jawa, membawa satu koper kain dan harapan yang terlalu besar untuk ukurannya.
Ia datang untuk bekerja sebagai asisten rumah tangga.
Majikannya waktu itu seorang perempuan karier yang sukses, tinggal bersama suami dan dua anak yang masih kecil. Rumah itu selalu ramai, tapi tidak pernah benar-benar hangat.
Di hari pertama, Raras dipanggil ke ruang keluarga.
“Kamu anggap saja ini rumah sendiri,” kata sang majikan sambil tersenyum tipis. “Anggap saya seperti ibu kamu sendiri.”
Raras mengangguk cepat. Hatinya berbunga. Ia merasa diterima.
Namun kalimat itu kelak menjadi alasan yang paling menyakitkan dalam hidupnya.
Bulan pertama berlalu. Raras bekerja dari subuh hingga hampir tengah malam. Ia menyiapkan sarapan, mencuci pakaian, menyetrika, membersihkan kamar mandi, menjaga anak-anak, bahkan kadang ikut menemani majikannya ke acara keluarga sebagai pengasuh.
Ia lelah, tapi ia bertahan.
Saat akhir bulan tiba, ia memberanikan diri bertanya dengan suara pelan.
“Bu… soal gaji…”
Majikannya menoleh sekilas. “Lho, kamu kan sudah saya anggap anak sendiri. Anak mana digaji orang tuanya?”
Kalimat itu diucapkan dengan ringan. Seolah wajar. Seolah logis.
Raras terdiam. Di kepalanya berputar wajah ibunya di desa yang menunggu kiriman uang untuk biaya sekolah adiknya. Ia ingin membantah, tapi ia tidak punya keberanian. Ia hanya anak kampung yang menumpang hidup di rumah orang.
Dan begitulah bulan-bulan berikutnya berjalan.
Ia tetap bekerja. Tetap bangun paling pagi. Tetap tidur paling akhir. Tetap disebut “anak sendiri”.
Tanpa gaji.
Kadang ia diberi baju bekas. Kadang ia diberi sisa makanan dari pesta. Kadang ia diberi uang dua puluh ribu saat Lebaran.
“Kamu kan tidak perlu bayar kos. Tidak perlu beli makan. Sudah untung,” kata majikannya suatu kali ketika Raras mencoba menyinggung lagi soal upah.
Raras menelan air mata. Ia mulai paham bahwa “anak sendiri” bukan tentang kasih sayang. Itu tentang kuasa.
Tiga tahun ia bertahan. Tiga tahun tanpa tabungan. Tiga tahun menahan rindu dan rasa malu ketika pulang kampung tanpa membawa apa-apa.
Di malam-malam sunyi, ketika semua penghuni rumah sudah tidur, ia sering duduk di lantai dapur sambil menatap jendela kecil. Ia berbisik pada dirinya sendiri.
“Aku tidak boleh selamanya begini.”
Suatu hari, sebuah kejadian kecil mengubah segalanya.
Anak majikannya yang paling kecil memecahkan vas mahal di ruang tamu. Ketika majikannya pulang dan melihat pecahan itu, tatapannya langsung mencari Raras.
“Kamu yang ceroboh, ya?”
“Bukan, Bu… tadi adek yang—”
“Jangan banyak alasan!” bentaknya. “Kamu ini sudah saya anggap anak, tapi tidak tahu balas budi.”
Kalimat itu seperti pisau.
Malam itu Raras menangis tanpa suara. Bukan karena dimarahi. Tapi karena akhirnya ia mengerti. Ia tidak pernah benar-benar dianggap keluarga. Ia hanya dianggap milik.
Besok paginya, dengan tangan gemetar, ia berkata, “Bu, saya mau berhenti.”
Majikannya terkejut. “Kamu mau ke mana? Siapa yang mau terima kamu? Kamu tidak punya ijazah tinggi.”
Raras mengangkat wajahnya. Untuk pertama kali, ia menatap lurus.
“Tidak apa-apa, Bu. Saya ingin mencoba.”
Ia keluar dari rumah itu hanya dengan tas kecil dan uang tabungan nol rupiah.
Dunia terasa menakutkan. Ia sempat bekerja serabutan. Menjaga warung, menjadi kasir kecil, bahkan pernah tidur di kamar kos berukuran dua kali dua yang lembap.
Tapi di setiap tempat, ia belajar.
Ia belajar menghitung uang dengan rapi. Ia belajar berbicara dengan pelanggan. Ia belajar mencatat pemasukan dan pengeluaran. Ia belajar bahwa harga diri tidak bisa dinegosiasikan.
Suatu hari, ia melihat peluang sederhana. Di lingkungan kosnya banyak pekerja kantoran yang sibuk dan tidak sempat mencuci pakaian.
Ia meminjam uang kecil dari temannya. Membeli satu mesin cuci bekas.
Lahirlah usaha laundry kiloan yang diberi nama “Raras Clean”.
Awalnya hanya beberapa pelanggan. Ia mengantar cucian sendiri dengan sepeda motor tua. Tangannya kembali kasar karena deterjen. Tapi kali ini, setiap tetes keringat punya arti.
Setiap akhir bulan, ia memegang uang hasil jerih payahnya sendiri. Tidak besar, tapi halal dan jelas.
Ia menangis saat pertama kali bisa mengirim uang ke ibunya.
“Mak, Raras sudah kerja sendiri sekarang.”
Di seberang telepon, ibunya terdiam lama. “Nak… yang penting kamu bahagia.”
Tahun demi tahun berlalu. Raras tidak berhenti di satu mesin cuci. Ia menambah dua, lalu lima. Ia menyewa ruko kecil. Ia mempekerjakan satu karyawan.
Dan di sinilah hidup seperti sedang bercermin.
Di hari pertama karyawan itu masuk, seorang gadis muda bernama Siti yang juga datang dari desa, Raras mengajaknya duduk.
“Kamu tahu berapa gaji kamu?” tanya Raras lembut.
Siti menggeleng.
Raras menyebut angka yang layak, di atas UMR daerahnya. Mata Siti membesar.
“Ini gaji kamu. Dan setiap lembur, ada tambahan. Kalau ada masalah, kita bicarakan. Kamu bukan keluarga yang tidak dibayar. Kamu pekerja yang harus dihargai.”
Siti tiba-tiba menangis. “Mbak… saya takut tidak dianggap apa-apa.”
Raras tersenyum, tapi matanya berkaca-kaca. “Di sini, kamu dianggap manusia.”
Bisnisnya terus berkembang. Ia memperluas layanan, menambah cabang, bahkan masuk ke bisnis cleaning service untuk perkantoran. Ia belajar manajemen, mengikuti seminar, membaca buku bisnis setiap malam.
Beberapa media mulai melirik kisahnya. Mantan asisten rumah tangga yang kini menjadi pengusaha sukses.
Tapi yang tidak banyak orang tahu adalah luka lama yang masih tinggal di dadanya.
Suatu siang, bertahun-tahun kemudian, ia mendapat telepon dari nomor tak dikenal.
“Raras? Ini Ibu… dulu kamu kerja di rumah saya.”
Jantungnya berdegup aneh.
“Ibu dengar kamu sekarang sukses. Ibu bangga, lho.”
Kata bangga itu terasa hambar.
Lalu suara itu melanjutkan, “Anak Ibu mau buka usaha, tapi butuh investor. Siapa tahu kamu bisa bantu.”
Ada jeda panjang.
Raras menatap jendela kantornya yang kini luas dan terang. Ia teringat dapur sempit dan kata “anak sendiri” yang pernah membuatnya tak digaji.
“Ibu,” katanya pelan, “dulu saya belajar satu hal dari rumah Ibu.”
“Apa itu?”
“Bahwa seseorang harus tahu nilainya.”
Di seberang sana hening.
“Saya tidak dendam. Tapi saya juga tidak lupa.”
Ia menolak dengan sopan. Bukan karena ingin membalas, tapi karena ia tahu batas.
Bagi Gen Z yang tumbuh di era digital, mungkin cerita seperti ini terasa jauh. Tapi ketidakadilan masih ada, dalam bentuk berbeda. Magang tanpa bayaran. Kerja lembur tanpa upah. Relasi yang memakai kata kekeluargaan untuk menutupi eksploitasi.
Raras sering diundang menjadi pembicara di kampus dan komunitas.
“Kak, bagaimana caranya kuat?” tanya seorang mahasiswa dalam sebuah diskusi.
Raras tersenyum. “Saya tidak selalu kuat. Saya sering takut. Tapi saya selalu ingat, kalau saya terus diam, tidak ada yang berubah.”
“Kalau kita miskin, apa bisa sukses?”
“Bisa. Tapi bukan cuma soal uang. Sukses itu saat kamu bisa berdiri tanpa merendahkan orang lain.”
Ia membangun perusahaannya dengan satu prinsip: tidak ada pekerja yang tidak digaji dengan layak. Tidak ada yang dipanggil “keluarga” untuk menutupi haknya.
Beberapa tahun kemudian, ia mendirikan yayasan kecil untuk anak-anak perempuan dari desa yang ingin bekerja di kota. Ia memberi pelatihan keterampilan, edukasi hukum tenaga kerja, dan modal usaha mikro.
Di sebuah sesi pelatihan, seorang gadis bertanya lirih, “Kak, kalau kita dianggap anak sendiri tapi tidak digaji, apa itu salah?”
Raras menatapnya dalam-dalam.
“Kasih sayang tidak pernah menghapus hak. Kalau kamu bekerja, kamu berhak dihargai.”
Kalimat itu sederhana. Tapi lahir dari luka.
Suatu malam, setelah semua karyawan pulang, Raras duduk sendirian di kantornya. Ia membuka laci dan menemukan foto lama dirinya di dapur rumah majikan dulu—foto yang diambil tanpa sengaja oleh anak kecil saat bermain kamera.
Wajahnya polos, sedikit takut, tapi ada cahaya keras kepala di matanya.
Ia menyentuh foto itu.
“Terima kasih sudah bertahan,” bisiknya pada dirinya sendiri.
Ia sadar, hidupnya bukan tentang membalas dendam. Tapi tentang memutus rantai ketidakadilan.
Ia pernah tidak digaji karena dianggap anak. Kini ia menggaji orang lain dengan adil karena ia tahu rasanya tidak dianggap.
Dan mungkin, di luar sana, ada satu anak muda yang membaca kisahnya lalu berani berkata tidak pada ketidakadilan. Berani keluar dari tempat yang merendahkan. Berani memulai dari nol.
Karena terkadang, luka yang paling dalam justru melahirkan empati yang paling luas.
Dan dari dapur sempit yang sunyi itu, lahirlah seorang perempuan yang tidak lagi meminta dihargai—
Ia menciptakan tempat di mana semua orang dihargai.