𝘓𝘢𝘮𝘱𝘶 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘥𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘢𝘳 𝘊𝘭𝘢𝘪𝘳𝘦 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘭𝘢 𝘳𝘦𝘥𝘶𝘱, 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘰𝘳𝘰𝘵 𝘣𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘯𝘫𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘱𝘢𝘮𝘱𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘥𝘪𝘯𝘥𝘪𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘩𝘪𝘢𝘴𝘪 𝘣𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘶𝘯𝘨𝘢 𝘮𝘢𝘵𝘢𝘩𝘢𝘳𝘪. 𝘜𝘥𝘢𝘳𝘢 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘸𝘢 𝘢𝘳𝘰𝘮𝘢 𝘭𝘦𝘮𝘣𝘶𝘵 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘥𝘢𝘶𝘯 𝘱𝘢𝘯𝘥𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢𝘭 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘫𝘦𝘯𝘥𝘦𝘭𝘢, 𝘯𝘢𝘮𝘶𝘯 𝘥𝘪 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘬𝘢𝘮𝘢𝘳 𝘪𝘵𝘶, 𝘴𝘶𝘢𝘴𝘢𝘯𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘦𝘥𝘢—𝘴𝘦𝘰𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘯𝘥𝘢𝘱 𝘥𝘪 𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘯𝘢𝘱𝘢𝘴 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘩𝘪𝘳𝘶𝘱.
Rose duduk di tepi ranjang anak perempuannya yang berusia sembilan tahun, tangan kirinya memegang buku kulit tua yang sampulnya sudah mulai mengelupas, warnanya kecoklatan seperti kopi yang sudah dingin. Di sampulnya tertulis dengan huruf cetak tua: “𝗞𝗲𝗻𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗥𝗼𝘀𝗲 & 𝗕𝗿𝘂𝗻𝗼—𝗛𝗮𝗹𝗮𝗺𝗮𝗻 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗧𝗮𝗸 𝗧𝗲𝗿𝗯𝗮𝗰𝗮.” Di sisinya, Claire berbaring dengan kepala menyandar pada bantal berbentuk bulat, mata besarnya terpaku pada buku itu, sementara tangan kanannya mengusap lembut bulu boneka kelinci putih yang selalu dia genggam sebelum tidur. Di lantai dekat kaki ranjang, seekor anjing kecil berwarna coklat tua—mirip dengan sosok yang ada di foto lama di meja sisi ranjang—duduk diam, telinganya sedikit terangkat seolah mendengar suara yang tak terdengar oleh manusia.
“Kali ini, aku akan membacakan bagian yang belum pernah kubagikan padamu, sayang,” ujar Rose dengan suara yang pelan namun penuh dengan makna. Jari-jarinya yang halus menyentuh lembaran pertama yang sudah kuning akibat usia, dan saat dia membukanya, terdengar suara kresek yang menembus keheningan malam. “𝘐𝘯𝘪 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘳𝘢𝘩𝘢𝘴𝘪𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘺𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪𝘢𝘯. 𝘏𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢, 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘵𝘦𝘳𝘬𝘶𝘢𝘬. 𝘊𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘢𝘴𝘢 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭𝘬𝘶—𝘳𝘢𝘩𝘢𝘴𝘪𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘶𝘣𝘢𝘸𝘢, 𝘊𝘭𝘢𝘪𝘳𝘦. 𝘕𝘢𝘮𝘢 𝘭𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘱𝘬𝘶 𝘙𝘰𝘴𝘢𝘭𝘪𝘯 𝘌𝘭𝘢𝘳𝘢 𝘙𝘰𝘴𝘪𝘦𝘮𝘢𝘳𝘳𝘺… 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘣𝘶𝘵𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢, 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘸𝘢 𝘣𝘢𝘩𝘢𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨𝘨𝘪𝘭 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯. 𝘗𝘢𝘯𝘨𝘨𝘪𝘭 𝘢𝘬𝘶 𝘙𝘰𝘴𝘦 𝘴𝘢𝘫𝘢—𝘯𝘢𝘮𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘶 𝘨𝘶𝘯𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘉𝘳𝘶𝘯𝘰, 𝘢𝘯𝘫𝘪𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘴𝘪𝘬𝘶. 𝘕𝘢𝘮𝘢 𝘱𝘢𝘯𝘫𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘭𝘶 𝘥𝘪𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵.”
Claire mendengarkan dengan seksama, jari-jarinya yang kecil kini berhenti mengusap boneka itu. Ia melihat foto kecil yang menempel di sudut halaman buku—gadis kecil dengan topi merah bundar yang mengenakan rompi rajut, tangan kanannya memegang gulungan kertas, berdiri di depan dinding yang penuh dengan buku berwarna-warni yang menjulang tinggi ke langit-langit. Di sisinya, seekor anjing dachshund berwarna coklat kecoklatanan berdiri dengan sikap setia. 𝘐𝘵𝘶 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘉𝘳𝘶𝘯𝘰, 𝘔𝘢𝘮? tanya Claire dengan suara pelan.
Rose mengangguk perlahan, namun matanya tampak jauh, seolah terbang kembali ke masa lalu yang sudah lama terkubur. “𝘠𝘢, 𝘴𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨. 𝘐𝘵𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘉𝘳𝘶𝘯𝘰, 𝘥𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘱𝘶𝘴𝘵𝘢𝘬𝘢𝘢𝘯 𝘵𝘶𝘢 𝘯𝘦𝘯𝘦𝘬 𝘮𝘰𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘭𝘢𝘨𝘪. 𝘗𝘢𝘥𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘵𝘶, 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘣𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘨𝘢𝘭𝘢𝘯𝘺𝘢—𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘳𝘢𝘩𝘢𝘴𝘪𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘺𝘪 𝘥𝘪 𝘣𝘢𝘭𝘪𝘬 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘣𝘶𝘬𝘶 𝘥𝘪 𝘳𝘢𝘬 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘢𝘵𝘢𝘴, 𝘳𝘢𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘤𝘢𝘱𝘢𝘪 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘉𝘳𝘶𝘯𝘰 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘵𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘬 𝘵𝘦𝘳𝘥𝘶𝘨𝘢.” Ia berhenti sejenak, menatap jauh ke arah jendela sebelum melanjutkan. “𝘒𝘪𝘵𝘢 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘮𝘢𝘪𝘯 𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘯𝘢 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘴𝘰𝘳𝘦, 𝘊𝘭𝘢𝘪𝘳𝘦. 𝘉𝘳𝘶𝘯𝘰 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘯𝘫𝘪𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘳𝘢𝘢𝘯—𝘥𝘪𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘬𝘢𝘵𝘢-𝘬𝘢𝘵𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢. 𝘒𝘢𝘥𝘢𝘯𝘨-𝘬𝘢𝘥𝘢𝘯𝘨, 𝘥𝘪𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘸𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘬𝘦 𝘳𝘢𝘬 𝘵𝘦𝘳𝘵𝘦𝘯𝘵𝘶, 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘪𝘮𝘣𝘪𝘯𝘨𝘬𝘶 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶.
Pada malam hujan deras, saat suara tetesan air menggelegar di atas atap dan kilat sesekali menerangi langit gelap, Bruno mendorong aku dengan hidungnya ke arah rak paling dalam perpustakaan—rak yang selalu terkunci dan hanya bisa dibuka dengan kunci kayu yang nenekku simpan di dalam kotak besi tua. Namun pada malam itu, pintu rak itu terbuka selebar celah jari, dan dari dalamnya keluar cahaya keemasan yang lembut. Bruno menggonggong pelan, seolah mengizinkanku untuk masuk. Di dalam rak yang sesungguhnya adalah lorong sempit yang mengarah ke ruangan bawah tanah yang aku tidak pernah tahu keberadaannya. Di sana, ada ribuan buku kecil yang terbuat dari kulit yang aku tidak kenal, dan setiap sampulnya memiliki nama anak-anak yang pernah tinggal di rumah kita jauh sebelum aku lahir—nama-nama yang tidak pernah aku dengar dari keluarga.*
Claire merasa bulu di lehernya berdiri tegak. Suara hujan yang tadinya terasa menenangkan kini seolah menjadi irama yang mengancam. “𝘓𝘢𝘭𝘶 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘣𝘶𝘬𝘶-𝘣𝘶𝘬𝘶 𝘪𝘵𝘶, 𝘔𝘢𝘮?” tanyanya dengan suara yang sedikit gemetar.
“𝘚𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘣𝘶𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘪𝘴𝘪 𝘤𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘴𝘢 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭 𝘢𝘯𝘢𝘬-𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘪𝘵𝘶, 𝘊𝘭𝘢𝘪𝘳𝘦,” jawab Rose dengan nada yang semakin pelan. “𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘤𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘥𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘥𝘰𝘯𝘨𝘦𝘯𝘨—𝘮𝘦𝘭𝘢𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘬𝘦𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘺𝘪, 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘬𝘦𝘵𝘢𝘬𝘶𝘵𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘴𝘪𝘮𝘱𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘩𝘢𝘵𝘪, 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘪𝘮𝘱𝘪𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘭𝘦𝘸𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘵𝘢𝘬𝘶𝘵 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘫𝘢𝘳𝘯𝘺𝘢. 𝘋𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩—𝘴𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘤𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘴𝘢𝘪 𝘥𝘪𝘵𝘶𝘭𝘪𝘴 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 sendiri, 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘫𝘦𝘫𝘢𝘬. 𝘏𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘶𝘬𝘶 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 bukti 𝘬𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘥𝘢𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢.” Ia mengangkat salah satu halaman yang memiliki bekas noda seperti air mata kering. “𝘕𝘦𝘯𝘦𝘬𝘬𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 rumah 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘥𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘪𝘮𝘱𝘪𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘴𝘢 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭 𝘥𝘪𝘴𝘪𝘮𝘱𝘢𝘯—𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘬𝘶𝘯𝘤𝘪 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘯𝘺𝘢. ”𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘯𝘪 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘮𝘱𝘪𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘶𝘴𝘪𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘶𝘭𝘶𝘩 𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯 𝘵𝘪𝘣𝘢, 𝘮𝘢𝘬𝘢 𝘪𝘮𝘱𝘪𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩—𝘥𝘢𝘯 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘪𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘯𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢, 𝘴𝘦𝘮𝘦𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘭𝘶𝘱𝘢𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘢𝘥𝘢."
Pada saat yang bersamaan, pintu kamar tiba-tiba terbuka sedikit tanpa suara, dan angin malam yang dingin menerbangkan beberapa lembaran buku. Claire melihat bayangan kecil berlari di luar kamar, namun ketika ia ingin melihat lebih jelas, bayangan itu menghilang. “𝘐𝘵𝘶 𝘊𝘩𝘢𝘳𝘭𝘰𝘵𝘵𝘦, 𝘬𝘢𝘯 𝘔𝘢𝘮? 𝘛𝘦𝘮𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘬𝘦𝘭𝘢𝘴 𝘥𝘶𝘭𝘶— 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘴𝘰𝘳𝘦 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨," ujar Claire dengan suara pelan. Matanya tidak lagi melihat ke arah Rose, melainkan terpaku pada poster buku di dinding. Tiba-tiba, terdengar suara buku-buku yang bergeser rapi di balik poster, seolah sedang menyusun diri dalam kegelapan yang dalam.
Ibu Rose tidak menjawab langsung. Ia menutup buku dengan perlahan, namun sebelum lembaran terakhir tertutup, Claire melihat sebuah nama yang tertulis dengan jelas di bagian bawah halaman terakhir: “𝗖𝗹𝗮𝗶𝗿𝗲 & 𝗖𝗵𝗮𝗿𝗹𝗼𝘁𝘁𝗲—𝗜𝗺𝗽𝗶𝗮𝗻 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗠𝗲𝗻𝘂𝗻𝗴𝗴𝘂.” “𝘊𝘩𝘢𝘳𝘭𝘰𝘵𝘵𝘦 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘮𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘳𝘶, 𝘴𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨,” ucap Ibu Rose dengan suara yang kini terdengar seperti bisikan angin. “𝘋𝘪𝘢 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘯𝘢𝘬-𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 𝘥𝘪 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘪𝘯𝘪, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘢𝘴𝘪𝘭 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘫𝘢𝘳 𝘪𝘮𝘱𝘪𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢. 𝘋𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨, 𝘥𝘪𝘢 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘵𝘶 𝘬𝘢𝘮𝘶—𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘪𝘮𝘱𝘪𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪.”
Claire melihat ke arah lantai, di mana anjing kecilnya yang selalu tenang kini menggonggong dengan suara yang keras dan penuh ketakutan, menggeram ke arah sudut kamar yang gelap. Di sana, muncul sosok gadis kecil lain dengan rambut pirang yang kusut, mengenakan baju biru muda yang sudah lusuh. Gadis itu tersenyum, namun senyumnya tidak terasa ramah—lebih seperti panggilan yang tak bisa ditolak. Di tangannya, ia memegang gulungan kertas yang sama seperti yang ada di foto masa kecil Ibu Rose. “𝘒𝘪𝘵𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨, 𝘊𝘭𝘢𝘪𝘳𝘦,” ujar gadis itu dengan suara yang terdengar seperti bisikan daun. “𝘒𝘪𝘵𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘪𝘮𝘱𝘢𝘯 𝘪𝘮𝘱𝘪𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘮𝘣𝘢𝘵—𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘬𝘢𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘢𝘬𝘶, 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘤𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢 𝘥𝘪 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘣𝘶𝘬𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘣𝘢𝘤𝘢.”
Rose berdiri perlahan, tangannya mencapai ke arah lampu malam untuk mematikannya, namun sebelum ia bisa melakukannya, seluruh lampu di rumah padam total. Hanya cahaya bulan yang menerangi kamar melalui jendela, menyorot sosok gadis kecil yang kini sudah berdiri di tepi ranjang Claire. Di luar, suara hujan semakin deras, dan dari arah perpustakaan tua yang sudah tidak ada lagi—yang kini menjadi taman belakang rumah mereka—terdengar suara buku yang terbuka dan ditutup dengan cepat, seolah ada seseorang yang sedang mencari halaman tertentu dengan tergesa-gesa.
“𝘐𝘮𝘱𝘪𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘢𝘱𝘢, 𝘊𝘭𝘢𝘪𝘳𝘦?” tanya gadis itu dengan lembut, sambil mengulurkan tangannya ke arah Claire. “𝘒𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘬𝘶, 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘪𝘮𝘱𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘢𝘮𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘣𝘶𝘬𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘴𝘪𝘢𝘱 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬𝘮𝘶.”
Claire merasa tubuhnya tidak bisa bergerak. Ia ingin memanggil Rose, namun lidahnya seperti terkunci. Di saat yang sama, ia merasakan ada sesuatu yang menarik dirinya ke arah jendela—seolah ada jalan yang terbuka menuju tempat di mana semua impian masa kecil berada. Di sisinya, buku tua milik Rose mulai terbuka sendiri, halaman demi halaman bergerak dengan cepat hingga berhenti di halaman kosong yang menunggu untuk diisi. Di bagian atas halaman itu, tertulis dengan jelas: “𝗜𝗺𝗽𝗶𝗮𝗻 𝗖𝗹𝗮𝗶𝗿𝗲—𝗛𝗮𝗹𝗮𝗺𝗮𝗻 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗔𝗸𝗮𝗻 𝗗𝗶𝘁𝘂𝗹𝗶𝘀.”
Claire harus membuat pilihan. Apakah dia akan mempercayai Charlotte dan menyerahkan mimpinya ke dalam buku, atau menemukan kekuatan dalam dirinya untuk mengejar impian itu sendiri, sebelum terlambat?