Roman menarik napas panjang, membiarkan udara dingin apartemen memenuhi paru-parunya. Ia duduk bersila di depan jendela besar, rambutnya diikat simpul ke atas—sebuah kebiasaan saat kepalanya mulai penuh dengan tanya. Di tangannya, ponsel itu terasa seperti bongkahan es. Layarnya gelap, namun di baliknya ada pesan yang dikirim tiga jam lalu yang tak kunjung mendapat balasan.
“Indah, kau di mana? Senja sudah habis.”
Di luar jendela, langit kota perlahan berubah menjadi biru pekat yang membisu. Roman merasa ada yang ganjil. Indah , kekasihnya yang berambut panjang, tidak pernah membiarkan pesan Roman menggantung selama ini. Terakhir kali terlihat, Indah mengirimkan sebuah foto: dirinya sedang berdiri di tepi pantai, membelakangi kamera, menatap cakrawala yang mulai meredup. Ia tampak sendirian, namun ada sesuatu yang janggal pada garis air di bawah kakinya yang tidak memantulkan bayangan tubuhnya dengan benar.
Tiba-tiba, suara ketukan pelan terdengar dari dinding sebelah. Itu Keenan, tetangga apartemennya yang penyendiri. Roman tidak pernah benar-benar melihat wajah Keenan secara jelas selama tinggal di sana, hanya mendengar langkah kakinya yang berat di balik beton.Keenan memang jarang bicara, tapi ia selalu tahu kapan Roman sedang gelisah.
"Dia tidak akan membalasnya, Roman," sebuah bisikan merayap dari celah antara dinding dan lantai, terdengar begitu dekat hingga bulu kuduk Roman berdiri.
Roman tersentak, menempelkan telinganya ke tembok yang terasa sedingin kutub. "Keenan? Apa maksudmu? Dia hanya sedang di pantai."
"Pantai itu tidak punya jalan pulang bagi mereka yang membawa kenangan Leon," suara dari balik tembok itu kini berubah, bergetar seperti suara orang yang berbicara di bawah air. "Leon tidak pernah hilang, Roman. Ia hanya berhenti bernapas agar bisa menjadi kesunyian yang abadi. Dan sekarang, kesunyian itu sedang menjemput apa yang tertinggal."
Roman menyandarkan tubuhnya dengan lemas ke tembok".. "Bicara yang jelas, Nan! Apa hubungannya dengan Leon?"
Namun, tidak ada lagi jawaban dari balik dinding. Hanya suara ketukan ritmis yang kini terdengar dari dalam lemari baju Roman sendiri, seolah dinding apartemen itu tidak lagi memiliki batas yang nyata.
Nama itu membuat jantung Roman berdegup kencang. Leon. Mantan kekasih Indah yang dikabarkan menghilang secara misterius setahun lalu di pesisir yang sama. Roman kembali menzoom foto kiriman Indah. Di sana, Indah memotret dirinya sendiri, tapi siapa yang menekan tombol shutter jika kedua tangannya terlihat sedang merapikan rambut di foto itu?
Layar ponsel Roman tiba-tiba berkedip. Sebuah notifikasi muncul dari nomor tanpa identitas: "Beberapa keindahan memang hanya untuk dinikmati, bukan untuk dimiliki selamanya. Sekarang, giliranku menyisir rambutnya yang basah."
Tiba-tiba, lampu apartemen padam. Roman terpaku melihat pantulan layar ponselnya yang mulai retak. Di belakang bahunya, sesosok pria berambut panjang yang basah kuyup berdiri memegang sebuah ikat rambut milik Indah. Namun, sebelum Roman sempat berbalik, ponselnya memutar sebuah rekaman suara otomatis. Itu suara Indah, membacakan baris-baris sajak dengan nada yang datar, seolah ia berbicara dari dasar laut:
 ̄ ̄ ̄ ̄ ̄ ̄
SAJAK DI UJUNG CAKRAWALA
Di sini, aku membelakangi dunia,
menghadap luasnya biru yang perlahan memudar.
Ada percakapan rahasia antara langit dan ombak,
tentang bagaimana cara merelakan matahari yang mulai pulang.
Senja hari ini warnanya seperti rindu;
sedikit jingga, banyak sendu, dan penuh ragu.
Aku mengangkat ponselku, bukan sekadar memotret cahaya,
tapi mencoba membekukan waktu agar tenang ini tak segera sirna.
Angin laut menyisir rambutku,
membisikkan bahwa hidup memang tentang pasang dan surut.
Batu-batu karang itu tetap diam,
setia dipeluk buih, meski tahu pelukan itu akan selalu berakhir dingin.
Aku berdiri di antara sisa hari,
menyadari bahwa beberapa keindahan memang hanya untuk dinikmati,
bukan untuk dimiliki selamanya.
Seperti senja ini—yang meski singkat, cukup untuk menyembuhkan luka.
𝙄𝙣𝙙𝙖𝙝 𝙎𝙬𝙖𝙨𝙩𝙖𝙢𝙞𝙩𝙖🍀🌸
Suara Indah terhenti. Sunyi kembali menyergap. Roman merasakan embusan angin laut yang dingin menyapu tengkuknya, padahal jendela apartemennya tertutup rapat. Ia melihat sebuah pesan terakhir muncul di layar, sebuah keterangan singkat yang seolah merangkum segalanya:
"𝘔𝘦𝘯𝘪𝘬𝘮𝘢𝘵𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘪𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵, 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢𝘮 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨. 𝘒𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘴𝘦𝘯𝘫𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘫𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘥𝘢𝘩 tak 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘥𝘪𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬𝘪 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘯𝘺𝘢."
Roman perlahan menoleh ke belakang, namun kursi di belakangnya kosong. Hanya ada genangan air payau yang kecil di lantai dan sebuah sisir tua dari tulang karang yang tergeletak di sana. Di tembok sebelah, ketukan Keenan terdengar lagi, namun kali ini polanya berbeda—terdengar seperti detak jantung yang perlahan-lahan berhenti.
Roman kembali menatap ke arah jendela besar di depannya. Matanya membelalak. Di balik kaca, ia tidak lagi melihat deretan lampu apartemen kota. Ia melihat hamparan laut luas yang gelap dengan buih putih yang mematikan. Ia tidak lagi berada di lantai dua belas; ia berada tepat di bibir pantai yang sama dengan foto Indah.
Tangannya gemetar saat meraba rambutnya sendiri. Ikat rambut simpul yang tadinya ada di atas kepalanya sudah hilang. Ia kini merasakan jemari yang sangat dingin dan basah perlahan menyisir rambutnya yang terurai.
Di layar ponsel yang retak itu, foto Indah kembali berubah. Indah kini tidak lagi membelakangi kamera. Ia sedang memegang ponsel, memotret ke arah kamera—dan di dalam layar ponsel kecil yang dipegang Indah, terlihat sosok pria dengan rambut terikat sedang duduk bersila di sebuah apartemen yang sunyi, menunggu balasan pesan yang sudah dikirimkan seribu tahun lalu.
Ketukan di dinding berubah menjadi suara bisikan lembut dari segala arah: "Giliranmu menjadi senja, Roman. Giliranmu menjadi yang singkat."
Cahaya ponsel itu padam sepenuhnya, meninggalkan bau garam dan misteri yang takkan pernah tersentuh oleh fajar.
...
𝗥𝗲𝗮𝗹𝗶𝘁𝗮 𝗞𝗶𝘁𝗮 :
Kejadian ini menjadi pengingat pahit bagi kita yang masih berpijak di dunia nyata. Roman terjebak karena ia membiarkan dirinya larut dalam kesedihan atas sesuatu yang sudah hilang, lupa bahwa waktu adalah satu-satunya mata uang yang tak bisa dicetak ulang. Kita sering menunda maaf dan mimpi, seolah hidup akan bertahan selamanya, padahal kehidupan—seperti senja—menjadi indah justru karena ia singkat dan memiliki titik akhir.
𝗣𝗲𝘀𝗮𝗻 𝗨𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗞𝗶𝘁𝗮 :
Maka, jangan biarkan kesempatan lewat begitu saja hanya karena menunggu waktu yang dianggap tepat. Belajarlah merelakan, sebab menggenggam kenangan yang sudah "dingin" hanya akan membuat kita kehilangan pegangan pada masa depan. Hadirlah sepenuhnya di sini, nikmati setiap tarikan napas dan hangatnya matahari, alih-alih membiarkan jiwa tertinggal dalam bayang-bayang yang telah lewat.
Tuliskan narasimu sendiri dan jadilah subjek utama yang bermakna, bukan sekadar bingkai terakhir dalam kenangan orang lain. Sebelum cahaya benar-benar padam, sadarilah bahwa hal yang lebih menakutkan dari akhir itu sendiri adalah kenyataan bahwa kita belum benar-benar hidup saat kesempatan itu masih ada.
Hargai hari ini, karena inilah satu-satunya realita yang kita miliki.