Kafe kayu tua itu selalu penuh tawa setiap hari jam tiga sore. Suara rambut putihnya yang menggema tak pernah gagal membuat pelanggan lain mengangkat bibirnya tersenyum—bahkan yang sedang merenung di sudut paling gelap.
"Kamu lagi cerita apa, huh?!"
Sofie tertawa terbahak-bahak, tangannya menepuk meja kayu kasar yang selalu ada noda kopi di sudutnya. Anjingnya, Pixel, mengangkat kepala dengan mulut terbuka lebar, seolah juga ikut tertawa. Bulu coklatnya bersinar di bawah lampu gantung yang berkilau, dan matanya yang coklat tua selalu mengikuti setiap gerakan sang pemilik.
Tetapi hari ini, ada sesuatu yang berbeda.
Pelayan muda yang baru bekerja, Rinka, melihat dari jauh. Senyum Sofie masih sama lebarnya, tapi tangannya yang menepuk meja terasa lebih kaku. Pixel tetap mengangkat kepala, tapi mulutnya tak lagi terbuka—hanya kumisnya yang sedikit bergetar. Dan yang paling mencurigakan: cahaya di dalam mata Sofie seolah hilang warna. Semuanya hitam putih, seperti foto lama yang terlupakan.
"Bu Sofie, mau tambah kopi kah?" Rinka mendekat dengan senyum lembut.
Sofie menoleh padanya, tawa tiba-tiba terhenti. "Kopi? Sudah cukup, nak. Aku dan Pixel sedang bahagia sekali. Lihat saja, dia baru saja cerita tentang bagaimana kita akan pergi ke taman nanti. Betapa bahagia kita..."
Rinka melihat ke arah Pixel. Anjing itu tetap diam, matanya menatap Sofie dengan ekspresi yang sulit ditebak. Tak ada suara yang keluar dari mulutnya—hanya hembusan napas yang pelan.
Sejak seminggu yang lalu, semua orang di kafe tahu bahwa Pixel telah tiada. Kecelakaan di jalan raya saat mengikuti Sofie berbelanja. Tapi Sofie terus datang setiap hari jam tiga sore, membawa tali rantai kosong yang selalu dia letakkan di kursi sebelahnya. Dia terus bercakap dengan udara kosong, tertawa seolah Pixel masih ada di sana, cerita tentang hal-hal kecil yang membuatnya bahagia.
Malam itu, Rinka pulang kerja terlambat. Saat melewati jalan belakang kafe, dia mendengar suara tawa yang akrab. Dia melihat bayangan dua sosok di jendela kafe yang sudah tutup—Sofie dan seekor anjing yang bentuknya mirip Pixel. Tapi saat cahaya lampu jalan menyinari jendela, bayangan anjing itu menghilang. Yang tersisa hanya Sofie, duduk sendirian di meja itu, tangan kanannya merayap-rayap di atas kursi kosong sambil tertawa dengan suara yang mulai terdengar serak.
Keesokan harinya, Sofie tidak datang.
Rinka menemukan tali rantai Pixel yang ditinggalkan di bawah meja. Saat dia mengambilnya, ada sesuatu yang jatuh dari bagian dalam rantai—sebuah foto berwarna. Di dalamnya, Sofie dan Pixel sedang tertawa riang di taman. Tapi di sudut foto, ada tulisan kecil dengan tangan goyah:
"Bahagia itu tidak perlu dilihat oleh mata. Tapi jika kamu bisa merasakannya, jangan biarkan dia hilang."
Rinka melihat ke arah kursi yang selalu ditempati Pixel. Ada noda basah kecil di sana, seperti bekas air liur anjing. Dan dari kejauhan, dia mendengar suara menggonggong yang lembut—seolah seseorang sedang menyapa teman baiknya.
Ketika Rinka hendak menyimpan foto itu ke dalam kantong, dia merasa ada sesuatu yang menyentuh punggung tangannya dengan lembut. Dia menoleh dengan cepat, tapi tidak ada seorang pun di sekitar. Hanya ada bayangan anjing yang muncul sebentar di lantai kayu sebelum menghilang perlahan. Beberapa hari kemudian, kursi itu kembali ditempati setiap jam tiga sore—tapi kali ini, tidak ada sosok Sofie yang datang. Cuma segelas kopi hangat yang selalu ada di atas meja, dan suara kecil seolah ada yang sedang berbicara dengan ramah. Siapa yang memesan kopinya? Dan mengapa noda air liur selalu muncul di kursi sebelahnya setiap hari?