Seorang gadis kecil,harus menerima nasib buruk ketika ibu nya tiada.Sebut saja namanya Melisa gadis malang yang di asing kan ke luar negeri oleh Danu ayah nya sendiri ketika usia nya baru beranjak lima tahun.
Setelah beberapa minggu ibu nya meninggal,ayah nya memutuskan untuk menikah lagi dengan selingkuhan nya yang sudah mempunyai anak.
Di luar negeri,Melisa sendiri diurus oleh bibi nya yang bernama Rosa sekaligus sahabat ibu nya.
Setiap hari ingatan Melisa selalu membayangkan kejadian saat ibu nya tewas di bunuh.
Jangan lupa baca karya ku ya🙂
Jangan lupa Like Vote Rate and Comment
terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin mangaToon Wiyola, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili MangaToon sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ༂𝑾𝒊𝒚𝒐𝒍𝒂❦ˢQ͜͡ᵘⁱᵈ༂, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Melisa pergi ke kantor di mana ayah nya berada.Sampai di kantor ayah nya,ia berjalan masuk tanpa menghiraukan orang di sekeliling nya.
"Sudah lama aku tak kemari!"ucap Melisa membuka kacamata nya.
Gadis itu kemudian masuk ke dalam ruangan ayah nya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.Ia menghampiri ayah nya yang sedang duduk.Danu terkejut dengan kedatangan anak nya.
"Ayah!"panggil Melisa.
"Melisa,ada apa kau kemari!bagaimana jika orang lain melihat mu."tanya Danu beranjak berdiri.
"Aku ingin mengatakan bahwa aku akan melanjutkan kuliah ku di universitas yang sama dengan saudara tiri ku."tutur Melisa menghempaskan tubuh nya ke sofa.
"Apa kau yakin?"tanya kembali Danu.
"Kenapa tidak yakin?bukan kah nanti nya aku akan pergi kuliah bersama saudara tiri ku setiap hari nya?bukankah itu sangat menyenangkan dalam keluarga?"tanya Melisa berulang kali membuat Danu diam tak berkutik.
Dengan menghembuskan nafas kasar,Danu tak bisa menyangkal ucapan putri nya.
"Baiklah terserah kau saja!"ucap Danu membuat Melisa tak habis pikir.
"Kenapa ayah seperti orang yang tidak peduli padaku?"batin Melisa melirik Danu.
"Baiklah kalau begitu,berikan aku fasilitas seperti card atau mobil."pinta Melisa beranjak berdiri.
"Pergi lah dulu,masalah ini bisa kita bicarakan nanti."pinta Danu.
Melisa pun pergi meninggalkan kantor Danu.Tak lama kemudian Melisa sampai di rumah nya.Ternyata dari tadi kepulangan nya di tunggu oleh Mirna.
"Kau membawa mobil Erik tanpa berbicara terlebih dahulu."gerutu Mirna menghentikan langkah kaki Melisa.
"Apakah kau marah padaku?"tanya Melisa.
"Kau adalah anak yang tidak punya sopan santun ternyata."kecam Mirna.
"Apapun yang kau bicarakan,aku tidak peduli!"ujar Melisa lalu pergi.
Lagi-lagi Mirna di buat kesal oleh tingkah laku Melisa.
Malam hari nya,mereka makan malam bersama khalayak nya seperti keluarga bahagia.Suasana yang hening membuat Danu membuka suara.
"Melisa,ayah sudah mengurus berkas mu untuk masuk ke universitas yang sama dengan Tasya."ucap Danu membuat Mirna langsung melirik nya.
"Apa?Melisa akan kuliah di universitas yang sama dengan Tasya?"tanya Mirna kaget.
"Ibu,memang nya kenapa jika Melisa berkuliah yang sama dengan ku?aku sangat senang sekali."sambung Tasya.
"Tidak apa-apa!"jawab Mirna menghembuskan nafas kasar.
"Melisa,siap-siap lah besok.Kau akan berangkat kuliah bersama ku."tutur Tasya tersenyum.
"Kalian harus menyelesaikan pendidikan kalian dengan benar.Jangan sampai tidak berhasil.Ayah akan selalu mendukung kalian berdua."jelas Danu.
"Baiklah,aku sangat menyukai saudara tiri sepertimu."seloroh Melisa pada Tasya yang duduk berhadapan dengan nya.
Selesai makan,Mirna yang menunggu Danu dari tadi nampak seperti singa yang menahan lapar.
"Bagaimana bisa kau memasukan putri mu di universitas yang sama dengan Tasya?"tanya Mirna yang geram.
"Sudahlah Mirna,apa salah nya jika Melisa masuk di universitas yang sama dengan Tasya?lagi pula kelihatan nya mereka sangat rukun."ucap Danu.
"Mas...bukan kah dulu kau berjanji akan hidup bersama ku dan anak-anak dari ku tanpa Ada nya putri mu?"tanya Mirna dengan mata lebar nya.
"Diam lah Mirna!aku sedang pusing!"sergah Danu membuat Mirna murka dan langsung meninggalkan Danu seorang diri di kamar.
Lanjut
kasihan melisa,
bapak nya terlalu di butakan wanita sampah