Selama lima tahun, Nur Halimah mengabdikan seluruh hidupnya untuk keluarga suaminya. Meski hanya menerima cacian, cemoohan, dan sikap dingin yang menyakitkan, dia tetap menyayangi mereka dengan tulus tanpa pamrih.
Namun ketulusan ternyata tidak selalu dihargai, saat Nur Halimah gagal menghadirkan buah cinta dalam pernikahan itu, suaminya tidak segan berpaling pada wanita lain.
Di titik terendah hidupnya, Halimah bertemu dengan Daffa Nugraha Surya. Pria kaya raya yang terlihat ambisius, tertutup, dan tak pernah merasakan hangatnya kasih sayang tulus.
Demi menjadi pewaris sah perusahaan keluarga serta membuktikan dirinya di mata ibunya, Daffa memilih menikahi Halimah.
Bukan karena cinta, melainkan demi kesepakatan yang saling menguntungkan.
Dua jiwa yang sama-sama terluka... kini terikat dalam pernikahan tanpa cinta.
Mampukah ketulusan Halimah perlahan meluluhkan hati yang sedingin es milik Daffa? Atau justru Daffa-lah yang akan menghancurkan sisa hati Halimah untuk kedua kalinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RahmaYesi.614, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harapan tanpa ujung
Sejak subuh, Halimah sudah turun ke dapur, mengawali pagi sebagai seorang istri.
Suara pisau beradu cepat di atas talenan, denting panci yang dipindahkan, air keran yang mengalir deras, uap yang mengepul, hingga tetesan air yang membasahi lantai keramik. Sedikit gambaran suasana pagi yang tak pernah tenang.
Nur Halimah bergerak cepat tanpa henti, membalik masakan, menyendok bumbu, menata piring, sekaligus mengingat-ingat apa yang belum selesai. Sesekali punggung tangannya menyapu keringat di dahi yang mulai membasah.
Ditengah kesibukannya, suara lantang suaminya terdengar memanggil dari dalam kamar. "Halimah, di mana kaos kakiku?" Rangga tampak gelisah, mengacak-acak isi keranjang pakaian yang belum sempat dilipat.
Halimah mendongak ke arah pintu kamar. "Di atas rak sepatumu, Mas!" sahutnya lantang.
Mata Rangga menyusuri setiap sudut kamar, hingga akhirnya melihat sepasang kaos kaki yang tergantung di pinggir rak sepatu.
Tidak lama kemudian, suara teriakan terdengar lagi. "Halimah, blouse biruku sudah kamu setrika belum?"
Itu Rengganis, kakak iparnya yang baru saja selesai mandi. Seperti biasa, ia keluar dari kamar mandi hanya dengan memakai tank top dan celana pendek.
"Sudah, Mbak. Blouse-nya ada di lemari depan kamar Mama," jawab Halimah, meski suaranya agak tertutup suara percikan minyak saat mencelupkan ikan ke dalam wajan panas.
"Mbak Halimah, baju olahragaku mana?" seru Rita dari ujung lorong.
"Di jemuran belakang. Sudah Mbak cuci kok, cuma tadi malam masih agak sedikit lembab!"
Gadis tomboy itu langsung melangkah menuju halaman belakang yang berarti harus melewati dapur tempat Halimah sedang sibuk memasak.
"Mbak masak apa?" tanyanya sekilas, lalu mengerutkan kening melihat isi wajan. "Ikan lagi, ikan lagi. Bosan ah," ketusnya berlalu melanjutkan langkah menuju halaman belakang.
Halimah tersenyum tipis, "Memangnya Rita mau Mbak masakkan apa hari ini?"
"Gak usah, aku makan di luar aja nanti." Rita berjalan pergi setelah memakai baju olahraganya.
Di antara keluarga suaminya, Rita jauh lebih sopan dan tidak pernah berbicara kasar padanya. Mungkin karena dia adik bungsu, pikir Halimah dalam hati.
Langkah kaki sayup terdengar mendekat ke arah dapur, "Masih belum siap juga?" ketus Bu Ramlah, mertua yang berprofesi bak juri di setiap sesi memasaknya.
"Bentar lagi, Ma," sahut Halimah hendak membalik ikan di wajan.
"Kamu tu ya, gak bisa dibilangin!" bentaknya sambil mendorong kepala Halimah. "Goreng ikan itu minyaknya dikit aja. Pemborosan."
"Maaf, Ma. Tadi, aku buru-buru..."
"Ngejawab! Jawab aja terus. Dasarnya kalau kebiasaan melawan orang tua, ya gitu. Di kasih tau, malah ngejawab." Bu Ramlah ngedumel sambil menunjuk wajah Halimah.
Halimah menunduk diam, menatap ikan yang baru saja ia balik di dalam wajan. Sementara Bu Ramlah sudah kembali ke ruang tengah dengan masih terus berceloteh tidak jelas yang intinya menyalahkan Halimah.
Lima tahun sudah Halimah mengabdikan dirinya menjadi istri rumah tangga dan menantu yang berbakti untuk keluarga suaminya. Namun, belum pernah sekalipun ia mendengar ucapan terima kasih dari mereka, termasuk dari suaminya sendiri.
Mereka menganggap apa yang Halimah lakukan memang sudah kewajiban mutlak seorang istri dan menantu. Untuk apa berterima kasih pada hal yang seharusnya memang sudah menjadi tugasnya, bukan?
Halimah tidak berkecil hati sama sekali. Ia paham betul, sejak awal menjalin hubungan dengan Rangga, keluarga pria itu memang sudah tidak menyukainya.
Halimah bertahan sampai akhirnya mereka menikah karena Rangga yang memohon-mohon, bersumpah tidak bisa hidup tanpanya, dan menolak menikah dengan wanita lain selain dirinya.
Diawal pernikahan, Rangga sangat baik. Ia penuh kasih sayang, selalu membelanya saat dicaci maki oleh ibu mertua dan kakak iparnya.
Namun, setelah dua tahun berlalu dan Halimah belum juga dikaruniai keturunan, perlahan sikap Rangga berubah. Ia menjadi dingin, sering mendiamkan Halimah dan jarang menatap wajah Halimah.
Meski diperlakukan tidak adil, Halimah tetap bertahan. Tidak ada pilihan lain, karena sudah tidak ada tempat kembali selain rumah ini.
Kedua orang tua Halimah sudah meninggal tiga tahun yang lalu. Kalau pun mereka masih ada, rasanya Halimah juga enggan untuk kembali setelah dengan percaya dirinya ia lebih memilih tinggal bersama Rangga dari pada tetap tinggal bersama orang tuanya.
Meski begitu, Halimah tetap tulus melakukan semuanya, walau memang akhir-akhir ini ada perasaan lelah yang tak kunjung usai.
Namun, Halimah tidak pernah sekalipun berpikir untuk membenci mertua dan iparnya yang sering mencaci makinya, mengatainya mandul.
Disela-sela kesibukan mengurus rumah, Halimah bahkan mulai rutin berobat ke dokter spesialis kandungan. Namun setahun terakhir, Rangga justru melarangnya.
"Berobat itu cuma buang-buang uang saja!" tegur Rangga dengan nada tinggi.
"Sekali berobat habis jutaan, tapi hasilnya nihil. Kamu itu bisanya cuma ngabisin uang suami. Udah, gak usah berobat-berobat lagi. Memang dasarnya kamu gak bisa kasih anak!"
Halimah terdiam membisu. Kalimat itu akhirnya keluar dari mulut pria yang paling dicintainya. Kalimat itu terasa tajam seperti belati yang menyayat hati. Air matanya jatuh, namun tidak ada satu pun yang peduli.
Rangga makin berubah. Enam bulan terakhir, ia bahkan jarang pulang, dengan alasan harus mengerjakan proyek di luar kota hingga harus menginap.
Setiap kali Halimah menelepon, panggilannya selalu diabaikan. Rangga bahkan tidak pernah memberi kabar padanya, kecuali pada ibunya.
Saat Halimah memberanikan diri bertanya pada ibu mertua, yang didapat hanyalah makian.
"Resiko wanita mandul itu ya begini! Lagian mana mungkin suami betah di rumah kalau anak juga gak ada? Kalau mau suami sering pulang, ya kasih anak lah!" sindir Bu Ramlah tanpa peduli perasaan Halimah yang semakin hancur.
Dada Halimah sesak, bulir bening menumpuk di kelopak matanya. Namun, belum sempat air matanya jatuh, Bu Ramlah meraih tas di meja, lalu melemparkan selembar kertas ke hadapannya.
Kertas itu meluncur, berhenti tepat di atas pangkuan Halimah.
"Tanda tangani itu secepatnya," ucapnya dingin, "Anakku sudah tidak sudi punya istri mandul sepertimu!"
Halimah menunduk, perlahan tangannya menyentuh kertas itu, matanya mulai menatap tulisan di atas kertas putih dengan tulisan hitam tebal SURAT GUGATAN PERCERAIAN.
Bersambung...