Keluarga Chandra membuang Lukas dengan alasan ia miskin dan tidak beruntung, tanpa tahu bahwa selama ini mereka menutupi jejak identitas aslinya yang sesungguhnya. Saat Lukas sudah tak punya tempat tujuan, Kirana datang—bukan untuk memberi belas kasihan, melainkan untuk mencarinya. Sebagai CEO yang sedang menyelidiki persaingan bisnis kotor, Kirana tahu Lukas adalah kunci dari semua misteri yang terjadi di lingkaran elit.
Pernikahan mereka adalah topeng untuk menyusup ke dalam rahasia besar. Di sela-sela kehidupan mewah yang tak pernah ia miliki, Lukas mulai menemukan fakta mengejutkan: pengusirannya dari rumah bukan sekadar karena ia miskin, melainkan upaya untuk menyembunyikan warisan besar yang seharusnya menjadi miliknya. Dan Kirana… wanita yang mengangkatnya dari keterpurukan, ternyata memiliki kaitan mendalam dengan musuh terbesar yang merampas haknya sejak dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Minggu-minggu berikutnya berjalan dengan ritme yang sangat cepat. Pagi hingga sore dihabiskan dengan mempelajari berkas hukum, menelusuri jejak perusahaan cangkang milik Bima, dan menghadiri pertemuan bisnis di mana mereka harus tetap mempertahankan topeng pasangan yang sempurna. Malamnya pun sering kali berakhir lewat tengah malam, dengan keduanya masih duduk di meja kerja, membandingkan catatan dan menganalisis potongan teka-teki yang belum tersambung.
Awalnya, interaksi mereka masih sangat kaku dan formal. Di balik pintu apartemen, mereka berbicara seperti rekan kerja yang sangat disiplin—tidak ada percakapan tentang perasaan, tidak ada tanya jawab tentang kebiasaan pribadi. Kirana selalu tampak tenang, terukur, dan seolah tak pernah lelah. Lukas pun berusaha mengikutinya, menekan segala rasa canggung dan keraguannya agar tidak menjadi beban. Namun seiring berjalannya waktu, celah-celah kecil mulai terbuka, membiarkan kehangatan menyelinap masuk di antara kesibukan yang padat.
Salah satu momen itu terjadi saat Lukas sedang berusaha menguasai materi ekonomi dan hukum bisnis yang sama sekali baru baginya. Ia sudah berjam-jam duduk di meja belajar, keningnya berkerut kuat, matanya terasa perih menatap deretan angka dan istilah asing yang rumit. Berkali-kali ia mencoba memahami maksud paragraf demi paragraf, namun pikirannya sering kali macet di tengah jalan. Ia merasa bodoh, merasa tidak pantas dipercaya memegang bagian penting dalam penyelidikan ini. Rasa lelah dan frustrasi perlahan menumpuk, hingga akhirnya ia menutup buku itu dengan kasar, menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi sambil memejamkan mata erat.
Tidak lama kemudian, terdengar langkah kaki mendekat. Sebuah cangkir berisi susu hangat diletakkan pelan di samping bukunya.
“Membaca sambil memaksakan diri tidak akan membuatmu lebih cepat paham,” ucap suara lembut Kirana di sampingnya.
Lukas membuka mata, melihatnya berdiri di sana dengan wajah yang tidak lagi kaku seperti biasanya. Ia menarik kursi dan duduk di hadapan Lukas, lalu menunjuk ke bagian halaman yang paling membingungkan itu.
“Aku ingat betul rasanya,” lanjutnya pelan, nada bicaranya berubah menjadi lebih santai dan mudah dipahami. “Saat ayahku meninggal, aku tiba-tiba harus memimpin perusahaan yang ribuan kali lebih rumit dari apa pun yang pernah kupelajari. Aku menangis di ruang kerja ini sendirian karena takut salah mengambil keputusan. Tidak ada yang lahir langsung paham soal ini, Lukas. Kita belajar pelan-pelan.”
Ia kemudian menjelaskan kembali istilah-istilah sulit itu dengan bahasa yang sederhana, menyertakan contoh kasus nyata yang mudah dibayangkan. Tidak ada nada meremehkan, tidak ada kesan terburu-buru. Di bawah bimbingannya, yang tadinya terlihat seperti teka-teki mustahil perlahan mulai terurai masuk ke akal pikiran Lukas. Saat akhirnya Lukas mengangguk paham, Kirana tersenyum lebar—senyum yang sampai ke matanya, membuat wajah biasanya serius itu tampak jauh lebih muda dan lembut.
Itu adalah pertama kalinya Lukas melihat sisi lain dari wanita yang selalu dianggap dingin dan tak tersentuh itu.
Kehangatan itu kemudian muncul dalam hal-hal kecil lainnya. Saat Lukas pulang dengan kondisi basah kuyup karena hujan deras tanpa sempat menunggu jemputan, Kirana sudah menyiapkan air hangat dan pakaian ganti di kamar mandi, serta menyalakan pemanas ruangan di kamarnya. Saat ia sakit demam tinggi karena kelelahan, ia tidak perlu memanggil siapa pun—pagi-pagi sekali Kirana sudah mengetuk pintu, membawa obat dan bubur yang dimasak sendiri, lalu duduk di samping tempat tidur sebentar untuk memastikan suhu tubuhnya turun.
“Kamu tidak perlu melakukan ini semua,” kata Lukas suatu hari, saat Kirana sedang merapikan selimutnya. “Kita hanya perjanjian setahun. Kamu tidak harus repot-repot merawatku.”
Kirana berhenti sejenak, menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Perjanjian itu tentang status kita di depan orang lain, Lukas. Tapi sebagai manusia, kita tetap saling peduli, kan? Lagipula, jika kamu sakit, siapa yang akan membantuku mengingat detail-detail masa kecil yang hanya kamu tahu?” jawabnya sambil tersenyum tipis, lalu beranjak pergi sebelum Lukas sempat membalasnya.
Namun bukan hanya Kirana yang menunjukkan perubahan. Lukas pun perlahan mulai peka terhadap beban berat yang dipikul wanita itu. Ia menyadari bahwa di balik sikap tegas dan berwibawanya, Kirana sebenarnya sering kali menahan rasa lelah yang luar biasa. Sering kali Lukas melihatnya duduk diam di depan jendela larut malam, memijat pelipisnya yang kencang, atau menatap foto ayahnya dengan pandangan yang sepi. Ia juga sering melihatnya menelan obat penenang diam-diam saat tekanan dari mitra bisnis atau ancaman terselubung semakin bertambah berat.
Suatu malam, setelah rapat yang sangat menegangkan di mana Bima hadir secara langsung dan sempat melontarkan sindiran halus namun mengancam ke arah Kirana, wanita itu langsung masuk ke kamar dan tidak keluar lagi hingga lewat tengah malam. Lukas yang tidak bisa tidur akhirnya berjalan mendekati pintu kamarnya, mendengar suara napas berat yang berusaha diredam dari dalam.
Ia mengetuk pintu pelan, lalu berkata lembut: “Kirana… boleh aku masuk sebentar?”
Tak lama kemudian pintu terbuka. Kirana berdiri di sana dengan mata sedikit merah, rambutnya terurai berantakan, jauh berbeda dari penampilannya yang selalu rapi. Ia tidak menolak saat Lukas masuk dan duduk di kursi dekat jendela.
“Kamu tidak perlu selalu terlihat kuat di depan semua orang,” ucap Lukas pelan, mengambil segelas air putih dan menyodorkannya kepadanya. “Kamu juga manusia biasa. Kamu boleh lelah, kamu boleh takut. Dan kamu tidak perlu menanggung semuanya sendirian lagi. Aku ada di sini.”
Kata-kata sederhana itu seolah memecahkan tembok pertahanan yang selama ini ia bangun tinggi-tinggi. Kirana menundukkan wajahnya, air matanya akhirnya jatuh bebas. Ia menceritakan betapa takutnya ia jika gagal menepati janji pada ayahnya, betapa kesepiannya berjuang sendirian selama bertahun-tahun, dan betapa beratnya harus selalu berhati-hati agar tidak ada celah yang dimanfaatkan oleh musuh.
Lukas hanya mendengarkan, sesekali menepuk pelan punggungnya untuk menenangkan. Ia tidak menawarkan solusi ajaib, ia hanya membiarkan wanita itu tahu bahwa beban itu kini terbagi dua.
Sejak malam itu, suasana di apartemen berubah total. Tidak ada lagi kesan kaku seperti dua orang asing yang berbagi atap. Mereka mulai saling berbagi cerita tentang masa kecil, tentang harapan yang pernah pupus, tentang impian yang ingin diwujudkan jika penyelidikan ini selesai. Saat makan malam bersama, mereka sering tertawa membahas hal-hal konyol yang dialami saat pertama kali beradaptasi satu sama lain. Saat bekerja, kehadiran satu sama lain bukan lagi sekadar kewajiban, melainkan penyemangat yang membuat tugas berat terasa lebih ringan.
Mereka belum berani menyebut apa yang tumbuh di antara mereka dengan kata tertentu. Mereka tahu waktu perjanjian masih berjalan, dan bahaya belum sepenuhnya berlalu. Namun satu hal yang pasti: di tengah kesibukan yang melelahkan dan ancaman yang selalu mengintai, kehangatan yang mereka temukan di dalam satu sama lain telah menjadi kekuatan terbesar yang membuat mereka berani terus melangkah maju.