Vania Maharani pergi ke Levante untuk merekam perang, bukan untuk jatuh cinta. Namun sebuah bom tekanan di jalan hancur Alepo mempertemukannya dengan Satria Heryanto, prajurit pendiam yang menjinakkan kematian dengan tangan tenang dan meninggalkan seutas benang merah di pergelangan Vania.
Bertahun-tahun kemudian, perang mempertemukan mereka lagi di Garun, Hapir, dan Zandi: di ladang ranjau, barak berdebu, tempat penampungan anak, rumah sakit lapangan, dan misi rahasia yang tidak akan tercatat di laporan resmi. Di antara tugas, luka, dan pilihan yang tidak pernah sederhana, Vania harus memutuskan seberapa jauh ia sanggup mengejar kebenaran, dan seberapa banyak hatinya bisa bertahan ketika orang yang ia cintai selalu berjalan menuju bahaya.
Ini adalah kisah cinta yang dibangun dari hal-hal kecil yang bertahan setelah ledakan: tali merah, harmonika, apel, sepatu yang talinya diikatkan, cincin di jari yang salah, dan satu kalimat yang menjadi jangkar saat ingatan runtuh: Sat dan Van sudah menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mía Ríos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1
Bab 1
Bom Itu
Jalan terakhir di Suriya berbau kabel hangus dan debu beton.
Vania memacu motornya melewati reruntuhan, menghindari kasur robek yang entah siapa lemparkan dari balkon. Mesin motor tersendat setiap melibas lubang, tetapi masih menurut. Ini hari terakhirnya di Alepo. Hari terakhirnya di Levante. Besok, pada jam seperti ini, ia sudah berada di pesawat pulang, membawa tiga bulan rekaman dan dengung bombardir yang masih menempel di gendang telinganya.
Ia mengerem di persimpangan kosong. Di kanan, fasad sebuah gedung memperlihatkan lantai-lantainya seperti lapisan kue yang terpotong separuh: dapur dengan panci masih di atas kompor, kamar mandi dengan tirai plastik berkibar diterpa angin. Tiga hari lalu, seseorang masih tinggal di sana. Vania sudah belajar untuk tidak memikirkannya. Tiga bulan perang mengajarinya melihat tanpa membayangkan, merekam tanpa bertanya siapa yang tidur di ranjang itu, siapa yang memasak di panci itu. Kalau ia bertanya, ia tidak akan sanggup memegang kamera.
Ia mengeluarkan ponsel untuk memotret. Fasad yang hancur itu masuk bingkai, berlatar langit sore yang jingga. Kaki kirinya turun ke tanah untuk menyeimbangkan motor.
Bunyi klik itu berbeda dari klik kamera.
Logam. Kering. Tepat di bawah botnya.
Napas Vania berhenti. Ia menunduk. Sol botnya menekan pelat logam berkarat sebesar piring, setengah terkubur di antara pecahan beton dan pasir. Seutas kabel tipis keluar dari tepinya lalu menghilang ke bawah reruntuhan.
Ia tidak menggerakkan kaki. Ia tidak bisa menggerakkan kaki.
Bunyi bip mulai terdengar, nyaring, tetap, seperti monitor jantung di ruang gawat darurat. Suaranya datang dari bawah.
"Kalau aku mengangkat kaki, ini meledak."
Kepastian itu menyambar tubuhnya seperti sengatan listrik. Kakinya gemetar, tetapi kaki kiri itu tetap terpaku di atas pelat. Motor miring ke samping lalu jatuh menghantam tanah, mengangkat segumpal debu. Vania tidak bergerak. Ia tidak melihat motor. Ia tidak melihat jalan. Ia hanya menatap botnya sendiri di atas pelat logam dan merasakan tiap degup jantung di telapak kaki, seolah denyut itu saja bisa memicu mekanisme.
Setetes keringat turun dari pelipis dan menggantung di garis rahangnya. Ia tidak menyekanya.
Bunyi bip bertambah cepat.
"Jangan gerakkan kakimu!"
Suara itu datang dari atas. Vania mengangkat kepala. Di lantai dua gedung yang tercabik, pada lubang yang dulu mungkin sebuah jendela, berdiri seorang pria. Rompi taktis, sarung tangan hitam, penutup wajah yang menutupi seluruh wajahnya kecuali mata.
Mata paling gelap yang pernah ia lihat.
"Kau dengar aku?" ulang pria itu, dengan aksen yang langsung Vania kenali. Dari negerinya sendiri, bersih, tanpa ragu. "Itu alat tekan. Selama kakimu tetap di atas pelat, timer berjalan tapi tidak meledak. Kalau kau angkat kaki, mekanisme utamanya aktif. Mengerti?"
Vania mengangguk. Tenggorokannya terkunci.
"Aku turun. Jangan bergerak."
Pria itu menghilang dari jendela. Vania mendengar botnya menuruni tangga yang rusak, bunyi anak tangga patah berderak, sepotong beton jatuh. Bip itu terus berbunyi. Lebih cepat. Makin cepat.
"Berapa lama? Tiga puluh detik? Satu menit?"
Ia mengepalkan tangan. Buku-buku jarinya panas oleh tekanan.
Pria itu muncul di sisinya. Dari dekat, ia lebih tinggi daripada yang terlihat dari jendela, hampir satu kepala lebih tinggi. Baunya campuran keringat, logam, dan sesuatu yang mungkin mesiu. Tanpa ragu, ia berlutut di samping bot Vania, menarik pisau pendek dari rompinya, lalu mulai menyingkirkan puing di sekitar pelat dengan gerakan cepat namun presisi. Seolah ia sudah melakukan ini seratus kali. Seolah bunyi bip itu tidak ada.
Vania memperhatikan tangannya. Bahkan melalui sarung tangan, keyakinan di setiap gerakannya terlihat jelas. Jari-jarinya tidak gemetar. Jari Vania sendiri kaku mencengkeram pahanya.
"Aku koresponden Kanal 7," kata Vania, tanpa tahu mengapa ia mengatakannya. Mungkin ia butuh seseorang tahu siapa dirinya sebelum tubuhnya terlempar berkeping-keping.
"Aku tahu," jawab pria itu tanpa mengangkat wajah. Ujung pisaunya mengungkit satu sudut pelat, memperlihatkan kotak hijau sebesar kepalan tangan. "Motormu punya stiker pers. Dan tak ada warga sipil yang masuk sendirian ke zona ini."
Jari-jari bersarung itu membuka kotak. Di dalamnya, simpul kabel merah, putih, dan hijau mengelilingi silinder logam tempat bunyi bip berasal. Vania bisa merasakan getarannya menembus sol bot, naik ke pergelangan kaki, betis, lutut.
"Ada sensor gravitasi di bawah silinder," kata pria itu, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Vania. "Kalau aku melepas kabel merah, pelat bebas. Tapi aku harus menetralkan sensornya dulu, atau getaran dari perubahan beban akan mengaktifkannya."
"Berapa waktu kita?"
Untuk pertama kalinya ia mengangkat wajah. Mata gelap itu menancap pada mata Vania. Tanpa panik. Tanpa tergesa. Dengan ketenangan yang seharusnya mustahil ada pada saat seperti ini.
"Cukup."
Ia mengeluarkan alat kecil dari saku rompinya, semacam penjepit berujung jarum, lalu memasukkannya ke mekanisme. Bunyi bip berubah frekuensi. Menjadi terputus-putus. Lebih lambat. Lebih lambat.
Berhenti.
"Sensor gravitasi sudah kumatikan," katanya. "Saat kubilang, kau angkat kaki dan lari. Jangan menoleh. Mengerti?"
"Lalu kau?"
"Aku akan memotong kabel merah. Itu mematikan timer, tapi kadang potongannya memicu percikan sisa di detonator kedua. Kalau itu terjadi, kita punya lima detik."
"Lima detik untuk apa?"
"Untuk lari."
Vania menelan ludah. Pria itu menjepit kabel merah dengan tangan kiri. Dengan tangan kanan, ia menggenggam lengan bawah Vania.
"Sekarang."
Ia memotongnya.
Satu ceklik kering. Lalu suara lain, dengung berat dari bawah tanah, lebih terasa di tulang Vania daripada di telinganya. Pelat bergetar di bawah botnya.
"Lari!"
Vania mengangkat kaki dan pria itu menarik lengannya begitu kuat sampai telapak kakinya sempat tidak menyentuh tanah. Mereka berlari. Tangan pria itu mencengkeram pergelangan tangannya, kokoh, panas, bersarung. Puing berderak di bawah bot mereka. Vania tidak tahu ke mana ia menuju; ia hanya mengikuti tarikan di lengannya, irama napas pria itu, hantaman langkah mereka.
Pada detik ketiga, pria itu mendorongnya jatuh di balik dinding beton rendah dan menutupinya dengan tubuh. Punggung pria itu menghadap langit. Kedua lengannya membentuk lengkung di atas kepala Vania.
Bom itu meledak.
Dinding bergetar. Vania merasakan gelombang ledak seperti pukulan di dada, raungan yang memenuhi telinga dan merampas udara dari paru-parunya. Pecahan logam dan batu menghujani mereka. Sesuatu menghantam rompi pria itu dengan bunyi kering, tak, tak, tak, seperti hujan es di atap seng. Debu. Debu di mata, di mulut, di hidung. Semua berubah kelabu.
Sunyi.
Tidak. Bukan sunyi. Itu dengung setelah ledakan, frekuensi tinggi yang menggantikan semua suara di dunia.
Vania membuka mata. Pria itu masih di atasnya, dengan kedua lengan tegang di sisi kepalanya. Ia bernapas. Mata gelapnya memandang Vania dari balik topeng debu.
"Kau baik-baik saja?" tanyanya. Suaranya terdengar teredam, seperti dari dasar sumur.
"Sepertinya."
Pria itu bangkit. Ia menawarkan tangan. Vania menggenggamnya lalu berdiri. Lututnya sempat goyah; pria itu menahan sikunya sampai ia kembali seimbang. Seluruh tubuhnya sakit. Bahu, punggung, tulang rusuk tempat gelombang ledak menghantamnya. Rasa debu menggores lidahnya. Tapi ia hidup. Jantungnya berdegup begitu cepat sampai hampir terasa sakit, tetapi tetap berdegup.
"Kau tidak seharusnya sendirian di zona ini," kata pria itu. Itu bukan teguran, hanya fakta.
"Aku tahu."
Pria itu mengangguk. Ia menunjuk dengan dagu ke arah tenggara.
"Konvoi evakuasi ada delapan blok ke arah sana. Potong lewat gang di balik dinding itu, sepuluh menit kau sampai. Jangan menyimpang."
Vania ingin bertanya bagaimana ia tahu posisi konvoi, siapa dia, dari unit mana. Tetapi suaranya tidak keluar. Pria itu sudah memeriksa rompinya, menyentuh saku-saku seperti orang yang mencocokkan daftar di kepala. Profesional. Jauh.
Lalu Vania melihat ke bawah. Di pergelangan tangan kirinya, pergelangan yang tadi pria itu genggam untuk berlari, ada gelang benang merah. Anyaman tipis, usang oleh pemakaian. Bukan miliknya. Tanpa sadar ia menariknya dari tangan pria itu dalam pelarian tadi. Simpulnya terlepas dan kini tergantung, melingkar di antara jari-jarinya seolah memang selalu berada di sana.
Ia mengangkat wajah untuk mengatakannya.
Namun pria itu sudah menjauh. Ia berjalan di antara puing dengan ketenangan yang sama seperti saat menjinakkan bom. Seolah ledakan itu tidak pernah terjadi. Seolah Vania hanya salah satu hal yang ia selamatkan hari ini dan besok sudah ia lupakan.
"Tunggu!" teriak Vania.
Pria itu tidak berhenti. Siluetnya menghilang di balik gedung tanpa atap, lalu tak ada lagi. Hanya jalan yang hancur, rangka motor yang terguling, dan debu yang turun perlahan di udara seperti salju kotor.
Vania berdiri di tengah jalan. Gelang merah itu menggantung di pergelangan tangannya. Jantungnya berdegup begitu keras sampai ia bisa merasakannya di ujung jari.
Ia tidak tahu nama pria itu. Tidak tahu wajahnya. Ia hanya punya matanya, gelap, teguh, mustahil tenang, dan seutas benang merah yang bukan miliknya.
Serta kepastian ganjil, tidak masuk akal, bahwa ia harus menemukannya.