NovelToon NovelToon
Bidan Cantik Di Ujung Pelosok

Bidan Cantik Di Ujung Pelosok

Status: sedang berlangsung
Genre:Mata Batin / Cinta Istana/Kuno / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:14.8k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

~

Melani, seorang bidan muda yang berdedikasi, harus menelan pil pahit akibat keteguhan prinsipnya. Karena berani menolak lamaran untuk menjadi istri siri dari pejabat Dinas Kesehatan yang berkuasa, ia "dibuang" ke sebuah desa paling terpencil dan terperosok yang nyaris terisolasi dari peradaban.

~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 20

***

Bulan yang ditentukan akhirnya tiba di ambang batas Hulu Rawa. Pagi itu, kabut tebal menyelimuti jalanan berbatu yang memisahkan area hutan adat dengan wilayah luar. Di teras Pustu, Melani meremas jemarinya yang dingin. Bidan muda itu mengenakan pakaian rapi dengan selendang tenun khas Hulu Rawa yang tersampir anggun di bahunya.

Di sampingnya, Rangga Wira berdiri gagah. Sang Ketua Adat mengenakan kemeja kain kasar berwarna hitam dilapisi rompi tenun adat, memancarkan wibawa pimpinan yang tenang namun amat siap menghadapi apa pun.

"Jangan cemas, Melani," pukas Rangga lembut seraya meremas pelan bahu Melani. "Ayahmu akan sampai di batas perbatasan dengan selamat."

"Saya hanya merasa ada yang tidak tenang, Rangga..." bisik Melani menatap jalanan hutan yang berkabut. "Seno bilang, tadi pagi ada beberapa pria tak dikenal berlalu-lalang di dekat gapura perbatasan."

Rangga menyipitkan matanya. Isyarat bahaya mendadak berdering di kepalanya. "Seno! Kumpulkan lima pemuda adat terbaik. Kita susur jalan perbatasan sekarang!"

Beberapa kilometer dari gapura perbatasan Hulu Rawa, sebuah mobil minibus hitam melaju pelan menembus tebing tanah liat yang curam. Di dalam mobil, Pak Rahardjo—ayah Melani yang paruh baya dan berpenampilan bersahaja—duduk di samping sopirnya dengan raut cemas luar biasa.

"Pak, jalannya makin sempit dan licin. Katanya desa itu terasing sekali," ujar sopir dengan napas memburu.

"Terus jalan, Pak. Saya harus menjemput putri saya," tegas Pak Rahardjo, memegangi dadanya yang sesak oleh kekhawatiran.

Namun, tepat saat mobil melewati belokan tajam di tepi jurang dangkal, Brak!

Suara benturan keras menghantam bagian bawah mobil. Ban depan mendadak meletus hebat akibat melindas deretan paku besar yang sengaja ditebar di atas tanah. Mobil oleng tak terkendali, meluncur bebas menuju tepi jurang dan tersangkut dalam posisi miring di atas tanah longsor yang mulai runtuh!

"Aaaaghh! Longsor! Pak, tolong!" jerit sopir panik mencoba membuka pintu yang terjepit batu tebing.

Pak Rahardjo terlempar ke samping, kepalanya membentur kaca hingga berdarah. Di luar mobil, dari balik semak-semak lebat, muncul empat pria berbadan tegap membawa kayu balok dan pisau besar. Di antara mereka, berdiri Sutan—mantan pengikut Mbah Karsa yang dulu diusir karena berkhianat—bersama anak buah suruhan Pak Pramono dari kota.

"Haha! Akhirnya orang tua Bidan itu datang juga!" gelak Sutan dingin seraya memainkan pisau di tangannya. "Dorong mobilnya ke dalam jurang! Biar dibuat seolah-olah kecelakaan murni akibat longsor! Tanpa ayahnya, Bidan Melani tak punya pilihan selain menyerah pada Pak Pramono!"

"Jangan... jangan sentuh mobil ini!" teriak Pak Rahardjo dari dalam kaca jendela yang retak, tubuhnya gemetar ketakutan melihat para preman mendekat.

"Banyak cakap kau, Tua Renta!" bentak salah satu preman seraya mengangkat balok kayu, siap menghantam kaca depan tempat Pak Rahardjo terjebak.

Tepat saat kayu itu hendak menghantam wajah Pak Rahardjo—

Brak!

Sebuah tendangan melayang yang sangat cepat dan telak mendarat tepat di dada preman tersebut! Tubuh preman itu terpental keras menghantam tebing tanah liat hingga pingsan seketika.

"Siapa yang berani berbuat liar di tanah hukum Hulu Rawa?!"

Suara bariton yang menggelegar dan sarat akan ancaman mutlak membelah kabut pagi.

Pak Rahardjo membelalakkan matanya yang kabur oleh darah. Di hadapannya, berdiri seorang pria berbadan tegap dengan dada bidang dan mata tajam sehitam malam. Rangga Wira berdiri bagaikan benteng kokoh di depan mobil yang hampir jatuh ke jurang, disusul oleh Seno dan para pemuda adat yang mengepung area tersebut.

"Ki Rangga?!" pekik Sutan terkejut, langkahnya mundur ketakutan. "Cepat habisi dia!"

Tiga preman tersisa menerjang Rangga Wira bersamaan dengan kayu dan pisau. Namun, Rangga bergerak dengan ketangkasan luar biasa. Pria tegap itu mengelak tebasan pisau secara presisi, menangkap pergelangan tangan lawan, lalu memutarnya hingga terdengar bunyi retakan kencang.

Krak!

"Aaargh!" jerit preman pertama seraya ambruk melintir di tanah.

Seorang preman lain mencoba menyerang dari belakang, namun Rangga menyikut ulu hatinya dengan telak, disusul bantingan keras yang membuat lawan tak berdaya. Sutan yang melihat kekuatannya hancur seketika mencoba kabur, namun Seno dan pemuda adat dengan cepat meringkusnya ke tanah.

"Tahan mereka semua! Serahkan ke pos polisi kecamatan!" perintah Rangga tegas.

Tanpa membuang waktu satu detik pun, Rangga Wira berbalik menuju mobil yang kondisinya kian kritis. Tanah liat di bawah roda belakang mulai berguguran jatuh ke dasar jurang.

"Pak! Tahan posisi Anda! Jangan bergerak!" seru Rangga berlutut di tepi tanah longsor.

"Tolong... kaki saya terjepit!" tangis Pak Rahardjo dari dalam, matanya menatap pasrah pada maut yang sudah di depan mata.

Rangga Wira menyusupkan tubuh tegapnya menembus pintu mobil yang bengkok. Dengan urat-urat lengan yang bertonjol menahan beban besi mobil, Rangga menarik bodi pintu secara paksa menggunakan kekuatan fisiknya yang luar biasa.

Krek... Sret!

Engsel pintu besi itu terlepas kasar! Rangga merengkuh tubuh Pak Rahardjo ke dalam pelukan dada bidangnya, lalu melompat mundur tepat saat bagian belakang mobil meluncur jatuh menghantam dasar jurang di bawah sana!

Duar!

Debu tanah membumbung tinggi. Pak Rahardjo terduduk lemas di atas tanah rumput, dadanya naik turun dengan napas memburu. Jantungnya berdegup kencang, menyadari bahwa nyawanya baru saja diselamatkan secara ajaib dari pintu kematian.

Rangga Wira berlutut di hadapan Pak Rahardjo, memegang kedua bahu pria paruh baya itu dengan sangat lembut. "Bapak tidak apa-apa? Ada luka yang parah?"

Pak Rahardjo menatap wajah tegap di depannya. Garis rahang yang keras, mata hitam yang penuh perlindungan murni, serta tubuh bersimbah peluh dan noda tanah liat demi menyelamatkannya.

"K-kamu... kamu siapa, Anak Muda?" bisik Pak Rahardjo dengan suara bergetar hebat.

Dari arah belakang, suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar menjerit histeris.

"Bapak! Bapak!"

Melani berlari menembus kabut, air matanya menetes deras. Bidan muda itu langsung berlutut dan memeluk tubuh ayahnya erat-erat. "Bapak! Bapak tidak apa-apa?! Ya Tuhan, Bapak..."

"Melani... putriku..." Pak Rahardjo memeluk anaknya dengan tangis haru meledak. "Bapak tidak apa-apa, Nak... Orang anak muda ini... orang ini yang menyelamatkan nyawa Bapak..."

Melani mendongak, menatap Rangga Wira yang berdiri pelan di samping mereka. Pandangan mata Melani dan Rangga bertautan—menyimpan rasa syukur yang tak terhingga.

"Pak..." panggil Melani pelan seraya mengusap darah di dahi ayahnya. "Pria ini... beliau adalah Rangga Wira. Ketua Adat Desa Hulu Rawa."

Pak Rahardjo tersentak pelan. Gambaran dalam pikirannya tentang "orang dalam hutan yang liar dan berbahaya" lebur seketika menjadi serpihan tak berguna. Pria di hadapannya bukan orang liar, melainkan seorang pelindung sejati yang mempertaruhkan nyawanya sendiri demi menyelamatkan orang asing.

Satu jam kemudian, di dalam ruangan Pustu yang hangat dan bersih, Melani telah selesai mengobati dan membalut luka di dahi ayahnya. Teh hangat manis dan hidangan buah segar tersaji rapi di atas meja kayu.

Pak Rahardjo duduk di atas kursi kayu, menyapu pandangannya ke sekeliling Pustu. Ia melihat papan rekam medis yang rapi, obat-obatan yang tersusun steril, serta beberapa warga dan dukun beranak yang menyapa Melani dengan rasa hormat dan kasih sayang yang amat murni.

Pintu Pustu terbuka. Rangga Wira melangkah masuk setelah merapikan pakaiannya. Sang Ketua Adat melangkah tenang, lalu duduk di kursi tepat di hadapan Pak Rahardjo.

Suasana ruangan mendadak hening dan sarat akan ketegangan yang terhormat.

"Pak Rahardjo..." buka Rangga Wira dengan suara baritonnya yang berat, dalam, dan sangat santun. "Saya memohon maaf atas kejadian buruk yang menimpa Bapak di perbatasan tadi. Orang-orang itu adalah suruhan pejabat kota yang menyimpan dendam pada kami dan Melani."

Pak Rahardjo menatap lurus ke dalam mata hitam Rangga. "Anak muda... kalau bukan karena keberanian dan ketangkasanmu tadi, saya mungkin sudah membusuk di dasar jurang itu."

Rangga menggeleng pelan. "Menjaga keselamatan siapa pun yang melangkah ke tanah Hulu Rawa adalah kewajiban saya, Pak. Terlebih... Bapak adalah ayah dari wanita yang paling saya hormati dan cintai di dunia ini."

Deg!

Pak Rahardjo menahan napasnya, berpaling menatap Melani yang berdiri di samping mejanya dengan pipi merona merah muda dan mata berbinar haru.

Rangga Wira bangkit berdiri dari kursinya. Di hadapan Pak Rahardjo, sang Ketua Adat yang ditakuti dan disegani oleh seluruh suku di dalam hutan itu... menurunkan tubuh tegapnya dan berlutut secara terhormat di atas lantai kayu di depan kaki ayah Melani.

"Rangga...?" bisik Melani kaget.

Pak Rahardjo terpaku, matanya membelalak tak percaya melihat pimpinan adat tertinggi itu berlutut di hadapannya.

"Pak Rahardjo," tutur Rangga Wira dengan nada yang amat dalam, tulus, dan bergetar oleh keseriusan. "Saya berdiri di sini hari ini bukan sebagai pimpinan yang angkuh, melainkan sebagai seorang pria yang ingin meminta izin dan restu secara terhormat kepada Anda."

Pak Rahardjo memegang kedua tepi kursinya. "Rangga..."

"Ibu dan Bapak di kota cemas karena menganggap putri Anda menderita di tempat buangan yang liar ini," lanjut Rangga, menatap lurus wajah orang tua di depannya. "Tapi saya berjanji di hadapan Tuhan dan para leluhur tanah ini... Melani tidak pernah menderita di sini. Dia adalah jiwa, cahaya, dan 'Bidan Pelindung' bagi seluruh rakyat kami."

Rangga menggenggam telapak tangan Pak Rahardjo yang gemetar.

"Izinkan saya meminang putri Anda, Pak Rahardjo..." bisik Rangga mantap tanpa ragu sedikit pun. "Saya berjanji akan menjaganya dengan seluruh darah dan jiwa saya. Saya akan membangun rumah yang aman untuknya, memfasilitasi tugas medismu, dan membahagiakannya seumur hidup saya. Jika Bapak mengizinkan, saya siap mendampingi Melani ke kota untuk menemui Ibu dan memohon restu di rumah Anda."

Air mata bening perlahan menetes di pipi Pak Rahardjo yang berkeriput. Rasa haru, hormat, dan ketenangan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya memenuhi dadanya. Prasangka buruknya tentang dunia luar runtuh sepenuhnya. Ia melihat ketulusan murni seorang pria gentleman sejati pada diri Rangga Wira.

Pak Rahardjo memegang bahu tegap Rangga, lalu membimbing sang Ketua Adat untuk bangkit berdiri.

"Rangga..." panggil Pak Rahardjo dengan suara serak yang sarat akan keharuan. "Bapak datang ke sini dengan ketakutan untuk membawa putri Bapak pulang... Tapi hari ini, Bapak menyaksikan dengan mata kepala Bapak sendiri bahwa putri Bapak tidak berada di tempat buangan."

Pak Rahardjo menatap Melani yang mengusap air mata bahagianya, lalu kembali menatap Rangga Wira seraya menyatukan tangan Rangga dengan telapak tangan lentik Melani di dalam genggamannya.

"Dia berada di tempat yang paling aman di dunia... di samping pria sejati seperti dirimu," bisik Pak Rahardjo tersenyum tulus. "Bapak merestui kalian... Merekalah tempat pulangmu yang sesungguhnya, Nak."

Melani tidak bisa lagi menahan Isak bahagianya. Ia merangkul ayahnya erat-erat, sementara Rangga Wira tersenyum lega dengan senyuman paling tampan dan penuh kepuasan hati. Di dalam Pustu yang bersahaja itu, diiringi kehangatan matahari pagi Hulu Rawa, janji cinta dua dunia yang berbeda itu kini secara resmi direstui dan siap melangkah menuju pelaminan yang sakral.

Bersambung....

1
falea sezi
benerr pergi
falea sezi
pergi jauh
dika edsel
noh istrimu sudah mode pasrah dan tertekan...huh..ntar klo terjadi sesuatu sama istrmu pegimana...?? emang anda sudah siap jd duda?? kita mikir yg buruk aja deh..klo diliat dr kondisinya melani yg kian hari kian ngenes ini😌
Heresnanaa_: iyaa, Ki Rangga benar benar yaaa 😌
total 1 replies
Ayusha
Dr. (Doktor)
dr. (dokter)
Ayusha: macama. lanjut kak, semangat 💪
total 2 replies
Kusii Yaati
wes mboh sak karepmu Ki...lama" Melani bisa depresi semua di pendam sendiri.😩
Heresnanaa_: kann, author juga ngerasa kaya gitu 🥹🥹
total 1 replies
falea sezi
klo q jd Melani pergi plg ke rmh ortu 🤣🤣 ngapain di situ punya suami goblok
Ayusha
jadi keinget lahiran pertama /Smile/
Kusii Yaati
up lagi dong Thor, jangan satu bab aja 🥺
Heresnanaa_: stay tune ya beb😚🫶
total 1 replies
Kusii Yaati
yang sabar Melani,Ki Rangga sedang capek dan banyak pikiran jadi nggak bisa ngontrol emosinya 🤧... semoga lekas berbaikan 🥹
Kusii Yaati: up lagi dong Thor...2 bab ya 🤭
total 2 replies
neng ade
tapi jangan yang berat konfliknya,
Heresnanaa_: amannn kok 🤭
total 1 replies
Reni Anggraeni
bagus sekali
Reni Anggraeni
emmm bagus ceritanya
♉ ᴹᴬsih ᴸᴬgi saYang Aim
bongkarkan yang hati busuk thor
♉ ᴹᴬsih ᴸᴬgi saYang Aim
habislah tamat riwayat
♉ ᴹᴬsih ᴸᴬgi saYang Aim
bunga² sedang mekar..
♉ ᴹᴬsih ᴸᴬgi saYang Aim
bagus di awal bacaannya
sunshine wings
yang sabar ya pak ketua adat.. lumrah ibu hamil bermacam ragam.. ❤️❤️❤️❤️❤️
sunshine wings
hebat kisahnya aku sukaaa..
❤️❤️❤️❤️❤️
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
neng ade
Alhamdulillah, Melani hamil ..
🤲
Kusii Yaati
ya ampun pak ketua suku ganas amat ,air tenang menghanyutkan ya, semalam suntuk di gempur sama pak ketua suku 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!