Suara tangisan bayi di ruang bersalin malam itu tidak membawa kebahagiaan bagi Husein. Bagi pria itu, jeritan napas pertama putri kecilnya adalah detik terakhir dari hembusan napas wanita yang paling dicintainya. Istrinya mengembuskan napas terakhir tepat setelah merenggang nyawa demi melahirkan sang buah hati.
"Namanya... Kirana Husein..." bisik Husein dengan suara bergetar, memeluk tubuh istrinya yang telah mendingin tanpa sedikit pun menatap bayi di dalam boks bayi.
Sejak hari itu, Kirana tumbuh bukan sebagai lambang cinta, melainkan sebagai bayangan duka yang teramat dalam bagi Husein. Setiap kali melihat wajah polos Kirana, yang terbayang di benak Husein hanyalah penderitaan dan kepergian istrinya. Rasa benci yang tidak adil mulai mengakar di dada Husein. Bagi Husein, kehadiran Kirana adalah alasan utama mengapa belahan jiwanya telah tiada.
Demi menjauhkan Kirana dari pandangannya, Husein mengirim putri tunggalnya itu ke sekolah asrama di tempat yang sangat jauh sejak usia K
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengertian Sang Suami
Setelah perbincangan hangat di ruang tamu, Kirana memutuskan untuk membersihkan diri. Guyuran air hangat di kamar mandi mewah itu berhasil meluruhkan seluruh rasa lelah yang menumpuk sepanjang hari pertamanya bekerja.
Selesai mandi, Kirana mengenakan gaun tidur bahan sutra berwarna lembut yang jatuh dengan anggun di tubuhnya. Ia mengeringkan rambutnya yang basah, lalu melangkah keluar menuju area kamar tidur utama.
Begitu pintu kamar mandi terbuka, pandangan Kirana langsung tertuju pada tempat tidur berukuran king size di tengah ruangan.
Di atas ranjang megah itu, Devan sedang bersandar santai pada headboard tempat tidur. Pria itu telah bertelanjang dada, memamerkan bentuk tubuhnya yang begitu proporsional—otot perut berbentuk six-pack yang tegas bagai roti sobek, serta sepasang lengan kekar yang memancarkan aura maskulin yang sangat kuat. Siluet suaminya di bawah temaram lampu kamar membuat jantung Kirana mendadak berdegup jauh lebih cepat dari biasanya.
Devan memegang sebuah buku di tangannya, namun perhatiannya langsung teralih sepenuhnya begitu Kirana melangkah keluar. Matanya yang tajam menatap sang istri dengan binar kehangatan dan ketertarikan yang tak disembunyikan.
"Sudah selesai mandinya?" tanya Devan dengan suara berat nan serak yang terdengar begitu seksi di sunyinya malam.
"S-sudah, Devan..." jawab Kirana agak gugup. Pipinya merona merah secara alami.
Kirana berjalan menuju meja rias untuk mengoleskan sedikit pelembab wajah dan menyisir rambutnya. Momen berdandan itu ia gunakan juga untuk menenangkan degup jantungnya yang tak beraturan.
Meskipun Devan adalah suami sahnya yang sangat perhatian, lembut, dan selalu melindunginya, di dalam hati kecil Kirana masih ada keraguan dan rasa canggung. Ia belum sepenuhnya siap untuk melangkah lebih jauh dan menyerahkan hal paling berharga dan suci miliknya malam ini. Pengalaman pahit di masa lalu bersama keluarga kandungnya membuat Kirana masih membutuhkan waktu untuk benar-benar membuka seluruh hatinya secara utuh.
Melalui pantulan cermin meja rias, Kirana melihat Devan masih setia menunggunya dengan sabar. Tidak ada desakan atau paksaan dari raut wajah pria itu.
Kirana meremas jemarinya pelan di atas meja rias, mencoba mengumpulkan keberanian untuk menyampaikan perasaannya kepada sang suami.
Kirana memutar tubuhnya perlahan dari meja rias. Dengan langkah pelan, ia berjalan mendekati sisi tempat tidur. Matanya menatap jujur ke arah Devan, menyembunyikan rasa gugup yang masih tersisa di dadanya.
Devan meletakkan bukunya di meja samping tempat tidur, lalu menatap istrinya dengan lembut. Ia bisa melihat raut ragu dan kecanggungan di wajah Kirana.
"Devan..." panggil Kirana halus, suaranya terdengar begitu lembut di heningnya malam. "Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu."
"Bicara saja, Kirana. Aku mendengarkan," jawab Devan seraya mengulurkan tangannya, mengisyaratkan Kirana untuk duduk di tepi ranjang.
Kirana menyambut uluran tangan itu, merasakan kehangatan jemari Devan yang menggenggamnya erat. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan kalimatnya.
"Aku... aku sangat bersyukur dan bahagia menjadi istrimu. Kau begitu baik dan selalu melindungiku," tutur Kirana jujur, menatap langsung ke dalam manik mata Devan. "Tapi... bolehkah aku minta sedikit waktu? Jujur, aku belum sepenuhnya siap untuk... melangkah lebih jauh malam ini. Aku masih butuh waktu untuk menata hatiku."
Ruangan itu hening sejenak. Kirana menahan napasnya, khawatir keputusannya akan membuat Devan kecewa atau marah.
Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Sorot mata Devan memancarkan rasa pengertian yang begitu dalam. Senyum tulus terukir di bibirnya. Tanpa sedikit pun nada keberatan, Devan menarik tubuh Kirana lembut ke dalam pelukannya, merengkuh wanita itu dengan penuh rasa hormat.
"Kirana, dengarkan aku," bisik Devan lekat-lekat di samping telinga Kirana. "Aku menikahimu bukan hanya untuk raga atau nafsu semata. Aku menginginkan hatimu secara utuh. Jika kau butuh waktu, aku akan menunggunya sampai kau benar-benar siap dan nyaman."
Mendengar jawaban itu, pertahanan Kirana runtuh. Rasa haru dan lega membuncah di dadanya. Ia membalas pelukan Devan rapat-rapat, menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya yang hangat.
"Terima kasih, Devan... terima kasih banyak," gumam Kirana tulus.
Devan mengusap lembut punggung Kirana, lalu merebahkan tubuh mereka perlahan di atas kasur king size tersebut. Ia menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh mereka, membiarkan Kirana tertidur dalam dekapan hangat dan amannya—tanpa paksaan, hanya ada rasa saling menghargai dan cinta yang kian bertumbuh.