Kelas Privat Maya: Di Balik Senyum CEO
Di sebuah sudut kota yang ramai, tersembunyi sebuah ruangan kecil yang penuh dengan tumpukan buku dan aroma kopi yang khas. Ruangan itu adalah 'Kelas Privat Maya', tempat di mana mimpi-mimpi sederhana diukir dan harapan-harapan baru tumbuh. Maya, seorang guru privat yang ceria dan penuh semangat, mendedikasikan hidupnya untuk membantu anak-anak dari latar belakang kurang mampu.
Suatu hari, seorang pria misterius datang ke kelas Maya. Pria itu tinggi, tampan, dan berpakaian rapi, jauh dari bayangan Maya tentang seorang ayah atau kakak yang biasa mengantar anak-anaknya les. Pria itu memperkenalkan dirinya sebagai CEO sebuah perusahaan besar, namun sorot matanya yang lelah dan senyumnya yang terpaksa menyiratkan beban yang berat.
Awalnya, Maya mengira pria itu ingin mendaftarkan anaknya. Namun, ia terkejut ketika pria itu berkata, "Aku ingin belajar, Maya. Ajari aku cara tersenyum lagi." Ternyata, di balik kesuksesannya yang gemilang, CEO
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizaidhan Luthfian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka di Balik Jeruji Besi dan Penyesalan yang Terlambat
Suara sirene ambulans meraung memecah kegelapan malam di kota kecil itu. Di lorong Rumah Sakit Daerah yang remang dan dingin, Maya duduk bersandar di dinding dengan tubuh yang masih basah, gemetar, dan bernoda lumpur. Bajunya compang-camping, namun matanya tak sedikit pun berkedip menatap pintu ruang ICU yang tertutup rapat.
Di sampingnya, Dika duduk di atas kursi roda dengan kaki yang dibebat gips. Pria lokal yang biasanya gagah dan ceria itu kini tertunduk dalam, mengusap wajahnya yang penuh dengan rasa penyesalan mendalam.
"Bu Maya..." suara Dika parau, sarat akan beban berat di dadanya. "Mas Kian... dia mempertaruhkan nyawanya untuk saya. Pria kota yang selama ini saya anggap manja dan sok tahu... justru melompat ke dalam bahaya demi menyelamatkan orang yang menjadi saingannya."
Maya tidak menjawab. Air matanya sudah mengering, menyisakan kepedihan yang teramat hampa di dadanya. Setiap kali memejamkan mata, bayangan senyum Kian yang tertutup darah dan bisikan terakhir pria itu—“Apa aku sudah lulus jadi pria yang pantas untukmu?”—terus bergema, menikam jantungnya tanpa ampun.
Tiba-tiba, suara derak sepatu hak tinggi yang tergesa-gesa terdengar tajam bergema di lorong rumah sakit.
Pintu koridor terbuka kasar. Hani muncul dengan riasan yang berantakan, wajahnya pucat pasi, dan matanya memerah basah. Namun, kedatangannya kali ini tidak lagi membawa keangkuhan atau kemewahan seperti sebelumnya. Tidak ada gaun desainer atau tas mahal; Hani hanya mengenakan pakaian serba hitam yang kusut.
Hani berlari mendekati ruang ICU. Begitu melihat Maya yang terduduk lemas di lantai, langkah Hani terhenti. Bahunya terguncang hebat, lalu tubuhnya merosot berlutut tepat di depan Maya.
"Kian... bagaimana keadaan Kian?!" jerit Hani dengan suara melengking yang pecah oleh tangisan.
Maya menatap Hani dengan tatapan kosong. "Dia masih di dalam... dokter sedang berjuang menyelamatkan nyawanya."
Hani menutupi wajah dengan kedua tangannya, meraung-raung di lantai dingin rumah sakit. Tangisannya begitu emosional, meluapkan seluruh kehancuran dan kebenaran pahit yang baru saja menghantam hidupnya.
"Ini semua salahku... ini semua gara-gara aku dan ayahku!" bisik Hani histeris di antara isak tangisnya.
Maya mengerutkan dahi, suaranya terdengar sangat pelan namun menuntut. "Maksudmu apa, Hani?"
Hani mendongak, menatap Maya dengan mata yang dipenuhi rasa bersalah yang teramat sangat.
"Keluargaku... Pratama Group... sudah hancur, Maya," aku Hani dengan suara bergetar hebat. "Siang tadi, polisi datang ke rumah dan menangkap ayahku. Ayah terbukti melakukan penipuan investasi, penggelapan dana saham Hartawan Holdings milik keluargamu, dan pemalsuan dokumen pertunanganku dengan Kian...
Maya dan Dika tersentak mendengarnya.
"Ibu Kian... Tante Rosa... dia kena serangan jantung dan sekarang dirawat di Jakarta setelah tahu kalau selama ini dia dimanfaatkannya oleh ayahku," lanjut Hani dengan deru napas sesak. "Aku kehilangan segalanya, Maya! Namaku hancur, hartaku disita, dan ayahku di penjara! Satu-satunya alasan aku lari ke sini... aku cuma ingin minta maaf pada Kian... aku cuma ingin melihat Kian untuk terakhir kalinya sebelum..."
Hani tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Wanita yang dulu begitu sombong dan merendahkan Maya, kini berdiri telanjang di hadapan kenyataan bahwa semua kekayaan dan manipulasinya hanyalah kebohongan yang menghancurkan semua orang—termasuk pria yang diam-diam sebenarnya amat ia kagumi.
"Aku yang membuat Kian menderita... Aku yang membuat kalian terpisah," rintih Hani sambil memegang ujung gaun basah Maya, memohon ampun. "Tolong... tolong jangan biarkan Kian meninggal, Maya... Aku tidak sanggup hidup dengan rasa salah ini..."
Sebelum Maya sempat menjawab, lampu merah di atas pintu ICU mendadak padam. Seorang dokter keluar dengan raut wajah yang teramat letih, melepas masker medisnya dengan perlahan.
Maya, Hani, dan Dika langsung berdiri serentak. Jantung Maya serasa berhenti berdetak saat melihat ekspresi dokter yang serba salah.
"Dokter... bagaimana keadaan Kian?" tanya Maya, suaranya hampir tak terdengar karena ketakutan yang mencekat tenggorokannya.
Dokter itu menarik napas panjang, menatap mereka satu per satu dengan pandangan penuh simpati.
"Benturan di kepala pasien sangat keras, ditambah pendarahan dalam yang cukup parah," ujar dokter dengan nada berat. "Kami berhasil menyelamatkan nyawanya... tapi pendarahan itu menekan saraf utamanya. Pasien saat ini jatuh ke dalam koma kritis. Dan... kami tidak bisa memprediksi kapan beliau akan terbangun, atau apakah ia akan sanggup mengingat segalanya saat terbangun nanti."
Kata-kata itu menghantam Maya bagaikan petir di siang bolong. Pandangannya langsung mengabur. Hani memekik histeris di sampingnya, sementara Dika memegang dadanya yang sesak.
Maya melangkah perlahan menerobos pintu ICU yang terbuka. Di atas ranjang rumah sakit, Kian terbaring kaku dengan berbagai selang dan mesin penopang hidup yang berbunyi teratur namun menyakitkan. Wajahnya yang biasa tegas kini pucat pasi bagai kertas.
Maya mendekati ranjang, menggenggam tangan Kian yang dingin dan tak berdaya. Ia menyatukan jemarinya dengan jemari Kian, menciumnya berulang kali di tengah deru tangisnya yang akhirnya pecah tanpa tertahan lagi.
"Kian... kamu sudah lulus..." bisik Maya di telinga Kian, air matanya menetes membasahi pipi pria itu. "Bangunlah... Aku tidak butuh nilai sempurna lagi... Aku cuma butuh kamu kembali..."
Namun, yang menjawab hanyalah suara garis grafik di monitor jantung yang berdetak pelan, meninggalkan mereka semua dalam keheningan malam yang teramat menyayat hati.