Setelah tiga tahun lulus kuliah, Aira merasa hidupnya hanya sebagai beban. Di saat teman-temannya sukses dengan pekerjaannya, Aira harus menerima kenyataan jika hidupnya sangat menyedihkan.
Di tengah frustrasinya, teman kuliahnya yang paling cuek, tiba-tiba menelepon Aira. Berawal dari obrolan malam dan lamaran yang dikira candaan, teman prianya mendadak muncul di depan rumah Aira bersama keluarga besarnya untuk melamar Aira.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apa Aira akan menerima lamaran tersebut? Mengapa pria itu tiba-tiba melamar Aira?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aira Sudah Datang
Jawaban Ibu Astri laksana petir di siang bolong bagi Aira. Kamarnya yang sempit mendadak terasa berputar, ucapan Arsen di telepon tiga hari lalu, yang ia kira hanya bualan malam atau taruhan garing bersama Eric dan Bram, ternyata nyata. Pria itu tidak sedang bercanda, dia benar-benar datang menepati perkataannya.
"A-Arsen, Bu?" suara Aira tercekat di tenggorokan, matanya membelalak tak percaya.
"Iya, Nduk. Nak Arsen datang sama bapak dan ibunya. Mereka... mereka datang untuk melamarmu," ucap Ibu Astri, sebutir air mata keharuan lolos dari sudut mata senjanya.
Aira terpaku, menatap tunik merah maroon di tangannya dengan perasaan yang campur aduk antara syok, bingung dan tidak siap.
"Sudah, cepat ganti bajumu, Nduk. Kasihan tamunya sudah menunggu lama," tegur Ibu Astri lembut seraya mengusap bahu Aira, lalu berbalik keluar untuk kembali menemani keluarga besarnya.
Dengan tangan yang gemetar hebat, Aira mengenakan tunik merah maroon tersebut, lalu merapikan rambutnya. Ia tidak sempat memoleskan riasan tebal, hanya bedak tipis dan sedikit pelembap bibir untuk menyamarkan wajahnya yang pias karena gugup. Setelah menarik napas sedalam mungkin untuk menata detak jantungnya, Aira pintu kamarnya.
Setiap langkah menuju ruang tamu terasa begitu berat, seolah semen rumahnya menahan kakinya. Namun, begitu ia menyembul dari balik tirai pembatas ruangan, pandangannya langsung bertubrukan dengan sepasang mata tajam yang sangat ia kenal.
Arsen duduk tegap di atas tikar anyaman. Dan benar saja, ia mengenakan kemeja batik modern bernuansa merah maroon yang sangat serasi dengan tunik yang kini melekat di tubuh Aira. Di sebelahnya, sepasang pria dan wanita paruh baya berwajah teduh dan elegan menatap Aira dengan binar mata yang begitu hangat.
"Nah, ini Aira sudah datang," ucap Ibu Astri dengan nada canggung yang kentara.
Aira melangkah mendekat, membungkuk pelan untuk menyalami kedua orang tua Arsen dengan takzim. "Assalamualaikum, Bapak, Ibu..." lirih Aira, suaranya hampir tenggelam.
"Waalaikumussalam. Cantik sekali kamu, Nduk. Persis seperti yang diceritakan Arsen," sahut Bu Mutia, ibu Arsen, dengan senyuman yang begitu tulus, sama sekali tidak memedulikan status Aira yang baru saja pulang dari ladang.
Arsen menatap Aira tanpa berkedip, ada kilat kepuasan yang samar di matanya saat melihat Aira benar-benar memakai baju berwarna merah, persis seperti gurauan mereka di telepon tempo hari. Sifat dingin yang biasa ia tunjukkan di kampus seolah meleleh, digantikan oleh pembawaan seorang pria dewasa yang matang dan penuh kepastian.
"Aira," suara bariton Arsen memecah keheningan yang sempat merayap.
"Seperti yang sudah saya sampaikan kepada Ibu tadi, kedatangan saya dan keluarga jauh-jauh dari Jakarta ke Lumajang adalah untuk meminta kesediaanmu, saya ingin melamarmu secara resmi untuk menjadi istri saya," ucap Arsen lagi tanpa basa basi.
Aira menelan ludah, dadanya bergemuruh. Ia menatap Arsen lalu beralih pada Ibu Astri yang menatapnya dengan mata penuh harap namun menyerahkan segala keputusan padanya. Di luar rumah, ia tahu Bu Romlah dan tetangga lainnya pasti sedang memasang telinga lebar-lebar.
"Sebelumnya, saya berterima kasih atas kedatangan kamu dan keluarga kamu. Selain itu, saya juga meminta maaf jika keluarga saya belum bisa menyambut dengan baik, apalagi saya terlambat... Untuk niat baik kamu, saya masih belum bisa menerimanya, saya rasa kamu harus memikirkannya baik-baik, saya bukan berasal dari keluarga kaya, saya berasal dari keluarga miskin, kamu lihat sendiri bagaimana rumah saya...," belum sempat Aira menyelesaikan perkataannya, Arsen sudah bersuara terlebih dahulu.
"Saya tidak mempermasalahkan soal status keluarga, saya menerima kamu apa adanya," potong Arsen.
"Apa kamu tidak mau menikah dengan Arsen?" tanya Ibu Mutia.
"Saya hanya merasa, saya tidak pantas karena saya berasal dari kalangan bawah," jawab Aira.
Ibu Mutia pun tersenyum lalu menghampiri perempuan pilihan anaknya itu, Ibu Mutia menggenggam tangan kasar itu dengan penuh kelembutan.
"Kami sebagai keluarganya Arsen, tidak pernah sekalipun melihat seseorang dari atas atau bawah. Bagi kami semuanya sama, kalaupun ada perempuan kaya yang cocok dengan Arsen, tapi Arsen maunya sama kamu... kami sebagai keluarganya bisa apa? Semua keputusan ada di Arsen, dia bebas memilih perempuan untuk dijadikan istri terlepas dari status keluarganya," ucap Ibu Mutia, berusaha meyakinkan Aira agar menerima Arsen.
Mendengar penuturan lembut dari Bu Mutia, sekat-sekat pertahanan di dada Aira seolah runtuh. Kehangatan yang disalurkan melalui genggaman tangan wanita anggun itu terasa begitu tulus, sebuah penerimaan yang tidak pernah Aira bayangkan akan ia dapatkan dari keluarga terpandang.
Namun, tepat ketika Aira hendak membuka mulutnya untuk memberikan jawaban, suara deru motor yang kasar kembali memutus keheningan di halaman depan. Suara langkah kaki yang berat dan tergesa-gesa terdengar mengentak lantai teras, disusul munculnya dua sosok pria paruh baya di ambang pintu.
Aira tersentak, pria yang berdiri di depan adalah Bapak Hilman, Ayahnya, yang datang dengan napas sedikit memburu dan kemeja yang tampak kusut. Di belakangnya, menyusul Pak De Karwo, kakak tertua sang Ayah yang dikenal kaku dan selalu dominan dalam urusan keluarga besar.
"Ibu yang minta Anggi buat kabarin Bapak kamu, mau bagaimanapun Bapak kamu harus ada saat lamaran kamu," bisik Ibu Astri, saat melihat wajah tegang Aira. Anggi adalah Kakak dari Gio, tetangga sebelah rumah Ibu Astri.
"Assalamualaikum," ujar Bapak Hilman, matanya langsung menyapu seisi ruangan, terpaku pada sosok Arsen dan kedua orang tuanya yang memancarkan aura berkelas.
"Waalaikumussalam," jawab seisi ruangan serentak.
Bapak Hilman melangkah masuk dengan sisa rasa canggung, sementara Pak De Karwo mengekor di belakang dengan tatapan mata yang menyelidik, menilai setiap jengkal penampilan tamu-tamu kota tersebut. Setelah semua kembali duduk melingkar di atas tikar anyaman yang sempit, atmosfer di dalam ruangan itu mendadak berubah menjadi lebih formal dan menegangkan.
"Ngapunten, Bapak-Bapak sekalian," Pak De Karwo langsung mengambil alih pembicaraan, berdeham berat sebelum menatap Pak Aldi dan Arsen bergantian.
"Ini Hilman, Ayahnya Aira. Dan saya Karwo, Abangnya Hilman. Tadi Hilman mendapat kabar jika ada tamu jauh yang datang dengan niat baik untuk Aira. Sebagai yang dituakan di keluarga ini, saya ingin mempertegas langsung, sejauh mana keseriusan Nak Arsen ini terhadap keponakan saya?" tanya Pak De Karwo.
Arsen membetulkan posisi duduknya, menegakkan punggung tanpa ada keraguan sedikit pun di wajah ketampanannya.
"Terima kasih, Pak. Seperti yang sudah saya utarakan kepada Ibu Astri dan Aira tadi, kedatangan saya bersama kedua orang tua saya ke sini adalah untuk memohon izin, memohon restu dari Bapak dan seluruh keluarga besar, untuk meminang Aira sebagai istri saya. Saya serius dan saya ingin membawa hubungan ini ke jenjang pernikahan sesegera mungkin," jawab Arsen.
Bapak Hilman terdiam, menatap putrinya yang mengenakan tunik merah maroon. Ada rasa bersalah yang sempat melintas di dada pria itu mengingat ia telah meninggalkan Aira dan ibunya dalam kesulitan setelah perceraian. Namun, sebelum Bapak Hilman sempat bersuara, Pak De Karwo sudah mendahuluinya lagi.
.
.
.
Bersambung.....
baru nikah di atas kertas donk namanya..
jangan di tunda lagi,mank malam pertama harus wow gtu keadaan dan tempatnya..
walaupun nikah dadakan tapi kan sudah saling Nerima...
salut aja udah sebulan 😆😆😆
mati aja sana...
udah nggak ada membantu anak,anak dapat suami kaya malah mau morotin...
biar tambah panas hati para ibuk2 julidin🤣🤣🤣
hati" buanykkkkkk ular kadut menggatal