NovelToon NovelToon
SISTEM WINGER

SISTEM WINGER

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Pemain Terhebat
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: samsu234

Setiap bek senior menganggapnya beban tim. Alex cuma winger kurus dari klub kasta tiga yang gajinya sering telat. Tapi malam itu, sebuah Sistem aktif di kepalanya — dan mengubah anak kampung jadi ancaman nyata bagi bek terbaik dunia.

#SportsSystem #SistemWinger #FromZeroToHero #RonaldoVibes #EvolusiFisik #FiksiOlahraga #NovelSepakBola #SkillTreeSepakBola #WingerLegendaris #ProgressionFantasy

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Suara dari Rumah

Ponsel Alex bergetar di atas kasur tipis, mengganggu tidur siangnya yang singkat setelah sesi latihan pagi yang menguras habis tenaganya. Dia meraihnya dengan mata masih setengah terpejam, lalu seketika terduduk begitu melihat nama yang tertera di layar retak itu: *Ibu*.

"Halo, Bu?"

"Nak..." Suara di seberang telepon terdengar parau, sedikit tersendat. Alex langsung mengenali nada itu—nada yang selalu muncul setiap kali ibunya berusaha menyembunyikan sesuatu yang berat di baliknya. "Kamu sehat, kan? Makan teratur?"

"Sehat, Bu. Ibu sendiri gimana? Kok kedengeran capek?"

Hening sejenak. Hanya suara kipas angin butut yang berputar di latar belakang, suara yang sudah sangat familiar bagi Alex sejak kecil.

"Nggak apa-apa," jawab ibunya akhirnya, terlalu cepat untuk terdengar meyakinkan. "Cuma tadi abis nyuci baju banyak. Rina juga nanya kabar kamu terus, katanya mau lihat kamu main langsung suatu hari."

Alex menutup matanya rapat-rapat, membiarkan kata-kata itu meresap. Dia tahu betul ibunya sedang menyembunyikan sesuatu—mungkin soal biaya sekolah Rina yang menunggak, mungkin soal atap rumah yang bocor setiap musim hujan, mungkin soal utang kecil di warung tetangga yang belum terbayar. Ibunya selalu begitu, menyimpan beban sendirian, tak ingin anak semata wayangnya yang sedang berjuang di perantauan ikut memikirkan hal-hal yang "bukan urusannya."

"Bu," kata Alex pelan, suaranya sedikit bergetar, "kalau ada yang perlu, bilang aja ya. Aku udah mulai dapet uang saku lebih dari klub."

"Kamu fokus main bola aja, Nak. Ibu masih kuat kerja."

Percakapan itu berlangsung tak sampai lima menit, tapi setelah sambungan telepon terputus, Alex duduk diam cukup lama di tepi kasur, menatap dinding kamar yang catnya mengelupas di beberapa sudut. Dadanya terasa sesak oleh perasaan yang sulit dia namai—campuran rindu, bersalah, dan tekad yang membara sekaligus.

Dia teringat masa kecilnya: rumah petak sempit yang atapnya berbunyi setiap kali hujan deras, ibunya yang pulang larut malam dengan tangan keriput karena terlalu lama terendam air sabun, dan adiknya, Rina, yang selalu menunggu di depan pintu setiap sore, berharap kakaknya membawa oleh-oleh sekecil apa pun dari lapangan tempatnya berlatih.

*Aku harus berhasil,* batinnya, mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih. *Bukan buat diri aku sendiri. Buat mereka.*

Sore itu, alih-alih beristirahat seperti jadwal semestinya, Alex kembali ke lapangan kosong belakang mes—sendirian, tanpa ditemani siapa pun. Langit sore itu berwarna jingga pudar, bercampur abu-abu mendung yang menggantung rendah, seolah menahan hujan yang siap tumpah kapan saja.

Dia berdiri di tengah lapangan yang sepi, bola tua di kakinya, dan untuk pertama kalinya sejak sistem itu hadir dalam hidupnya, Alex tidak menunggu instruksi apa pun. Dia hanya berlari, menggiring bola, melepaskan tembakan ke gawang kosong berkali-kali, membiarkan setiap benturan kaki dengan bola menjadi semacam pelampiasan dari emosi yang membuncah di dadanya.

Keringat bercampur dengan sesuatu yang lebih hangat di sudut matanya—entah dia sendiri tak yakin apakah itu air mata atau sekadar efek kelelahan fisik. Tapi dia terus berlari, terus menendang, terus bergerak, seolah dengan begitu dia bisa menjangkau ibunya yang jauh di kampung halaman, memberi tahu bahwa semua pengorbanan mereka tidak akan sia-sia.

Ketika akhirnya dia berhenti, napasnya tersengal-sengal, tubuhnya ambruk berlutut di rumput basah yang mulai gelap dimakan senja. Hujan gerimis mulai turun perlahan, membasahi rambut ikalnya, mengalir di sepanjang wajahnya yang menengadah menatap langit.

"Aku janji, Bu," bisiknya lirih, suaranya nyaris tenggelam oleh suara gerimis yang semakin deras. "Aku bakal bawa kita keluar dari semua ini."

Tak ada notifikasi sistem yang muncul saat itu, tak ada angka atau statistik yang menyela momen itu. Untuk sekali ini, semuanya murni datang dari dalam dirinya sendiri—tekad yang tumbuh bukan dari misi atau hadiah poin atribut, melainkan dari cinta sederhana seorang anak kepada keluarganya yang telah berkorban begitu banyak.

Malam itu, saat kembali ke mes dengan pakaian basah kuyup, Alex merasa ada sesuatu yang berubah dalam dirinya—bukan soal kecepatan atau kekuatan fisik, melainkan soal alasan. Dan alasan itu, dia sadar, akan menjadi bahan bakar yang jauh lebih kuat dari sistem apa pun saat dia melangkah ke Derby Sumatra dua hari lagi.

1
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
Otw
aldo
lanjut author 🙏🙏🙏🙏
the misterius author 🐐: jangan lupa bintang 5 nya bg biar semangat up nya bg 🙏
total 3 replies
Protocetus
Novel yang menarik from Zero to Hero
Protocetus
Semangat2
the misterius author 🐐: makasih bg bintang 5 nya
total 1 replies
Protocetus
Wuih jadi keinget Manhwa namanya Build Up. Si MC berusaha menghancurkan tembok penghalang dirinya.
Protocetus
Divisi berapa ini min?
the misterius author 🐐: devisi 3 kak
total 1 replies
the misterius author 🐐
bantu support nya kak bg kalau mampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!