NovelToon NovelToon
Ketika Istri Pendiamku Berubah Bar-Bar

Ketika Istri Pendiamku Berubah Bar-Bar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Selingkuh / Penyesalan Suami
Popularitas:29.9k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

"Baguslah kamu ada di sini. Tolong urus makan malam mas Ardy juga ibu mertuaku! Aku mau belanja dan bersenang-senang pakai kartu kreditnya."

Selama tiga tahun pernikahan, Kirana dikenal sebagai istri yang penurut, pendiam dan selalu mengalah.

Bahkan ketika tahu suaminya, Ardy, memelihara wanita lain. Kirana hanya bisa menangis di pojok kamar, menerima semua makian dari mertua dan manipulasi dari keluarga suaminya sendiri.

​Sampai sebuah kecelakaan tragis mengubah segalanya.

​Saat Kirana membuka mata, ketakutan di jiwanya lenyap tanpa bekas.

​Ardy mengira dia masih memegang kendali atas hidup Kirana, sampai akhirnya pria itu sadar, Kirana yang sekarang bukanlah Kirana yang dulu.

Dan saat Ardy mulai berlutut memohon cintanya kembali, Kirana sudah menutup pintu hatinya untuk pria itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 10 Sarapan Basi?

"Ingat hari itu, Yati?" bisik Kirana tepat di telinga pelayan itu. "Dulu, kau pernah melakukan hal yang sama persis padaku."

Tubuh Yati seketika membeku. Tentu saja ia ingat.

Suatu pagi di musim hujan dua tahun lalu, hanya karena Kirana tidak sengaja terlambat menyajikan teh untuk Sarah, Yati dengan sengaja menyiram wajah Kirana dengan air teh. Dan saat itu, Kirana hanya bisa meringkuk di lantai, menangis menahan perih, tak berani melawan, apalagi mengadu pada Ardy yang tak pernah peduli.

"Yang kulakukan ini supaya matamu terbuka," ucap Kirana, membuyarkan lamunan Yati. Kirana menatap lurus menembus bola mata pelayan itu dengan sorot kebencian yang selama ini ia kubur dalam-dalam.

"Dan supaya matamu yang buta itu bisa melihat dengan sangat jelas siapa sebenarnya pemilik sah rumah ini," imbuhnya.

Tak ada seorang pun pelayan di dapur yang berani bergerak. Bahkan suara napas mereka terdengar tertahan.

Kirana memundurkan tubuhnya, kembali berdiri tegak dengan dagu terangkat.

"Tugasku di sini bukan untuk mengingatkan orang bodoh dua kali. Cepat ambilkan sarapanku. Sekarang!" titah Kirana, tak membiarkan adanya penolakan.

Yati menelan ludah dengan susah payah. Ia mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Harga dirinya sebagai kepala pelayan yang ditakuti merasa hancur lebur diinjak-injak. Namun, saat ia mendongak dan melihat sorot mata Kirana, keberaniannya mendadak menguap entah kemana.

Tatapan itu bukan lagi tatapan wanita lemah penurut yang bisa ia maki dan ia injak sesuka hati seperti dulu. Tatapan itu adalah tatapan seorang predator yang siap membunuhnya kapan saja. Yang membuat tubuhnya pagi ini gemetar hebat hingga ke tulang.

"I–iya, Nyonya," cicit Yati dengan kepala tertunduk dalam.

Tanpa berani membantah atau mengangkat wajahnya lagi, Yati berbalik dan setengah berlari menuju dapur, diiringi tatapan syok dari rekan-rekannya.

Di sela-sela tangannya yang gemetar menyiapkan piring, batin Yati menjerit panik.

"Kenapa wanita lemah itu mendadak berubah menjadi iblis? Padahal dulu, dia bahkan bersujud minta maaf saat aku menamparnya. Tidak Yati, kamu tidak boleh takut. Dia pasti hanya menggertakmu," batinnya.

*

*

"Nih. Makan! Jangan banyak gaya minta dilayani seperti putri raja," ketus Yati sambil berkacak pinggang.

Kirana tidak terkejut. Ia hanya menunduk, menatap hidangan di depannya dengan wajah tanpa ekspresi. Pandangannya berhenti pada seporsi tumis kangkung yang daunnya sudah menghitam layu, serta kuahnya yang mulai memisah dengan genangan minyak kental. Di sebelahnya, tergeletak sepotong ikan goreng yang warnanya sudah pucat dan keras.

Aroma asam samar langsung menusuk indra penciuman Kirana.

"Ini sayur sisa kemarin?" tanya Kirana.

"Masih bisa dimakan kok. Jangan sok pemilih."

"Oh...," Kirana mengangguk pelan, jemarinya mengetuk meja. "Lalu ikan itu? Kelihatan seperti sudah dipanaskan berkali-kali."

"Itu masih bagus!" bantah Yati mulai meninggikan suara.

"Disimpan di kulkas?"

"Iya! Di kulkas belakang!"

"Sejak kapan? Tiga hari yang lalu?" kejar Kirana, matanya kini menatap lurus ke arah pelayan itu.

Yati mulai terlihat gelisah.

"Sudah, makan saja cerewet amat sih! Kalau di luar sana banyak orang kelaparan, kamu di sini malah buang-buang makanan! Cepat habiskan, aku masih banyak kerjaan membersihkan kamar nona Siska!"

Mendengar itu, senyum Kirana perlahan mengembang. Sebuah senyuman dingin yang entah mengapa membuat bulu kuduk Yati kembali meremang.

"Yakin makanan ini pantas diberikan kepadaku, Yati?" tanya Kirana.

"Kalau tidak mau makan, ya sudah! Dibuang saja! Lagipula memangnya kamu mau minta di masakan apa? Daging Wagyu? Sadar diri sedikit!"

Tanpa menjawab ocehan pelayan itu, Kirana perlahan mengangkat piring berisi kangkung basi tersebut.

Yati mendelik. "Apa? Mau dibuang betulan?! Dasar perempuan tidak tahu bersyukur!"

"Tidak," jawab Kirana dengan senyum yang makin mematikan. "Aku akan memberikannya kepada orang yang menyajikannya."

"Apa maksudmu?!"

Belum sempat Yati bereaksi, Kirana tiba-tiba bangkit dan langsung mencengkeram rahang bawah Yati dengan sangat kuat.

"Le–lepaskan! Akh!" Yati meronta kaget.

Namun cengkeraman Kirana layaknya capit besi. Dengan cepat, ia menjepit kedua pipi pelayan itu hingga mulut wanita tersebut terpaksa terbuka lebar.

"Kamu suka sekali makanan ini, bukan? Karena kamu yang menghidangkannya, tentu kamu harus mencicipinya terlebih dahulu."

Tangan kanan Kirana meraup segenggam penuh kangkung berminyak dan berbau asam itu dari atas piring.

Lalu tanpa ampun, sayuran basi itu dijejalkan paksa ke dalam mulut Yati.

"Makan dan habiskan," desis Kirana tepat di depan wajah pelayan itu.

Yati membelalakkan matanya. Perutnya seketika mual merasakan tekstur lembek dan rasa asam yang menyerang lidahnya. Ia berusaha memberontak dan memuntahkan isinya. Namun, Kirana menahan dagunya dengan tenaga yang luar biasa kuat, memaksa mulut itu tetap tertutup.

"Kunyah, Yati!"

"Mmphh! T–tidak mau!" erang Yati tertahan, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.

"Yakin tidak mau?" Suara Kirana tetap tenang, setenang permukaan danau yang dalam. Justru ketenangan itulah yang membuat Yati semakin ketakutan setengah mati.

"Kamu sendiri yang bilang makanan ini masih bagus. Kamu bilang jangan buang-buang makanan. Berarti tidak masalah jika kamu yang memakannya lebih dulu, kan?"

"I–itu untuk Nyonya..."

"Nyonya siapa?" Kirana menaikkan sebelah alisnya, mengendurkan sedikit cengkeramannya. "Aku?"

Yati buru-buru mengangguk dengan napas tersengal.

"Dengar baik-baik, aku hanya makan makanan yang layak. Bukan makanan sisa dari tempat sampah. Kamu sendiri yang mengatakan ini masih enak. Jadi, telanlah."

Air mata Yati makin bercucuran deras. Karena tak tahan dengan rasa mualnya, begitu Kirana melepaskan cengkeramannya, pelayan itu langsung jatuh berlutut dan memuntahkan sebagian kangkung itu ke atas lantai.

Kirana menatapnya dengan senyum sinis dari atas. "Loh, kenapa dimuntahkan? Bukannya tadi kamu bilang masih enak? Dasar tidak bersyukur!"

Tepat pada detik yang menegangkan itu, terdengar suara langkah kaki yang terburu-buru dari arah tangga utama.

"Kenapa pagi-pagi sudah ribut-ribut begini?!"

Sarah turun dengan wajah kesal. Di belakangnya, Siska mengekor dengan balutan piyama memasang wajah polos penuh tanda tanya.

"Kirana! Kamu sedang apa, hah?!"

Kirana menoleh dengan sangat santai, lalu mengusap tangannya dengan serbet bersih. "Oh, selamat pagi, Mama."

"Apa yang sudah kamu lakukan pada Yati?!" murka Sarah sambil berjalan menghampiri dengan napas memburu.

"Tidak ada yang spesial, Ma. Aku hanya menyuruh pelayan kurang ajar ini memakan masakannya sendiri yang sudah basi."

Sarah melotot hingga matanya nyaris keluar dari sarangnya. "Kamu benar-benar sudah tidak punya sopan santun! Berani-beraninya kamu menyiksa pelayan di rumah ini!"

Dikuasai amarah yang meledak, wanita paruh baya itu langsung mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, bersiap melayangkan tamparan keras ke pipi menantunya.

Grep!

Pergelangan tangan Sarah tiba-tiba tertahan kuat di udara.

Matanya membelalak tak percaya. Menantu yang selama ini selalu pasrah, kini berani menahan tangannya.

"Kamu berani melawan orang tua?!"

"Bukan melawan, Ma. Aku hanya sedang melindungi diriku sendiri. Dulu, aku memang diam saja saat Mama menamparku, menghinaku, dan membiarkan aku diinjak-injak di rumah ini. Tetapi Kirana yang sekarang tidak akan pernah membiarkan siapa pun, termasuk Mama, menyentuhnya sedikitpun."

Kirana melepaskan cengkeramannya dan mendorong tangan wanita itu. Jika Siska tidak segera memegangi lengannya dari belakang, Sarah pasti sudah kehilangan keseimbangan dan terjatuh.

"Kurang ajar kamu, Kirana! Menantu tidak tahu diuntung!" maki Sarah.

Kirana mengabaikan cacian itu. Ia menunduk menatap Yati yang masih gemetar di lantai.

"Lain kali jika kamu ingin memberikan seseorang makanan basi, pastikan kamu sanggup memakannya sendiri sampai habis."

Setelah mengucapkan peringatan dingin itu, Kirana berbalik mengambil tasnya di atas meja.

"Oh ya, Mama. Aku mau ke mall sekarang. Kalau mas Ardy mau sarapan pagi ini suruh saja Siska yang memasak. Bukankah dia calon nyonya rumah ini?" Kirana melirik tajam ke arah Siska yang langsung menunduk pucat.

1
🇦 🇵 🇷 🇾👎
cakep jgn lm x satu bln
Nice1808
tuh Ardy krna kau mulaimencintai kirana tp kau gk mengakui perasaanmu🤣🤣🤣
Sri Rahayu
apa mungkin Siska hanya pura2 hamil agar Ardi selekasnya menikahinya 😇😇😇.... semoga Tristan mendpt kan bukti2 kejahatan dan kebohongan Siska...lanjut Thorr😘😘😘
stela aza
jangan lama2 donk Thor bikin Ardi jadi gembel ,,, q udh g sabar liatnya 🤭
Senja: Hehehe sabar y kak🤣
total 1 replies
Esther
Nanti kalau sakit beneran, gak akan ada orang yang percaya Siska, terlalu banyak berbohong sih.
Heni Fitoria
g sabar lihat kehancuran nya Ardy, perusahaan bangkrut, tahu kenyataan klu anak yg dikandung Siska BKN anaknya 🤭🤭🤭
Heni Fitoria
doa mu tak aamiin kan Kirana
Deasy Suryandari
lanjoooot
mau lihat gimana si siska setelah ardy bangkrut dan pasti itu bukan anaknya ardy
Nice1808
tuh org diam di ganggu dia akn melebihi singa ngamuk🤣🤣kirana akan bertindak dan kalian akn jd gembel ardy, sarah dan kau siska🤭🤣
Nice1808
gak sadar kau ardy, kau yg berkhianat malah nuduh kirana selingkuh, bagus kirana lawan aja tuh ardy yg sok berkuasa🤣
Sri Rahayu
ayo cepet bantu Kirana bikin Ardi bangkrut, kahilangan segalanya Tristan... dan buka kedok sprt apa Siska sebenarnya...lanjut Thorr😘😘😘
sunaryati jarum
Ah emak tidak sabar melihat kemiskinan Ardy dan runtuhnya kesombongannya ibunya dan Siska.Emak juga ingin tahu reaksi Ardy jika terbongkar anak yang dikandung Siska bukan anaknya.
Senja: heheh siapppp makk
total 1 replies
sunaryati jarum
Benar balikan tuduhan padamu ke Ardy yang tidak berkaca pada dirinya sendiri, semoga dalang terjadinya kecelakaan padamu segera terungkap dan pelakunya ditangkap bersama bukti yang tidak bisa dibantah
stela aza
ceritanya keren, karakter toko utama perempuan nya hebat ,,, g cengeng kaya di novel lain ,,, yg bisanya cuma nangis,,, pokoknya best bgt ceritanya ❤️❤️❤️❤️
stela aza
good job Kirana ,, q suka gayamu ❤️❤️❤️
🇦 🇵 🇷 🇾👎
yes😀
Elina thea
benar Kirana buat si Ardy bangkrut...dgn dia bangkrut maka selingkuhannya juga pergi karna gak tahan hidup miskin
Margaretha Indrayani
ardy tidak berkaca dirinya lebih parah karena malah membawa pulang siska
🇦 🇵 🇷 🇾👎
good
🇦 🇵 🇷 🇾👎
bntr lg jd suami tan🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!