TOXIC AND CONTROL
Karya: Parkha
Bagi Kinara Jose, hidup sebagai siswi penerima beasiswa berpenampilan polos dengan kacamata tebal adalah cara terbaik untuk bertahan hidup dengan tenang di SMA Elite. Namun, seluruh dunianya runtuh saat ia tidak sengaja menarik perhatian Rian Pradifta.Rian—sang Tiran berwajah malaikat namun berhati iblis, cowok terkaya, terdingin, dan paling ditakuti satu sekolah. Sekali Rian mengunci pandangannya pada Kinara, tidak ada jalan keluar. Cowok itu terobsesi mengontrol setiap jengkal hidup Kinara, memutuskan dengan siapa ia bicara, ke mana ia pergi, hingga apa yang harus ia pakai.Kehidupan Kinara yang tenang kini berubah menjadi labirin yang mencekik. Rian adalah racun, namun juga satu-satunya oksigen yang tersisa untuknya. Di tengah kepungan obsesi gila itu, sebuah rahasia besar perlahan terkuak: di balik kacamata tebal dan sikap penurutnya, Kinara menyimpan pesona tersembunyi yang siap menjungkirbalikkan kuasa Rian sang Tiran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Toxic and Control *BAB 23: SKENARIO YANG MENYESATKAN* _
`
---Toxic and Control
*BAB 23: SKENARIO YANG MENYESATKAN*
_
Gemercik lampu hias dari megahnya salah satu pusat perbelanjaan elit di pusat kota malam itu tampak berkilauan. Namun, bagi Kinara Jose, semua kemewahan di sekelilingnya tidak lebih dari sekadar dekorasi sangkar baru yang menjebak langkah kakinya.
Kinara melangkah kaku di samping tubuh tinggi tegap Rian Pradifta. Gaun kasual selut berwarna putih tulang yang dia ambil dari lemari basecamp sore tadi terasa begitu pas membungkus tubuh mungilnya. Tanpa kacamata bingkai hitamnya yang sengaja disita Rian di dalam mobil, pandangan matanya yang jernih terekspos sepenuhnya, memancarkan kepolosan murni yang begitu memikat.
Di sampingnya, Rian berjalan dengan langkah tegap yang santai, melipat kedua tangan di dada berbalut jaket kulit hitamnya. Di balik wajah tampannya yang ditekuk datar dan sedingin es, jantung di dalam dada bidang Rian sebenarnya sedang bergemuruh gila-gilaan. Ada letupan kebahagiaan yang teramat pekat menyergap batinnya. Ini adalah pertama kalinya dia bisa berjalan berdua dengan Kinara di luar lingkungan sekolah. Skenario "tugas pelayan" yang dia rancang terbukti sukses besar menyeret gadis itu ke dalam teritorinya.
"Kak, kita sebenarnya mau makan di mana? Kakiku sudah pegal mengikuti langkah besarmu," gerutu Kinara ketus, memutus keheningan di antara mereka sembari memutar bola matanya jengah.
Rian menghentikan langkahnya tepat di depan sebuah restoran piring cantik bernuansa kaca yang mewah. "Di sini. Masuk."
Begitu mereka mendudukkan diri di sudut restoran yang sepi, seorang pelayan pria dengan setelan rapi datang membawakan buku menu. Kinara membuka buku tebal itu, dan detik berikutnya, sepasang matanya membelalak sempurna melihat deretan angka nol yang berjejer di samping nama makanan berbahasa Prancis yang tidak dia pahami.
Melihat ekspresi kebingungan yang teramat polos di wajah Kinara, sudut bibir Rian perlahan berkedut—sebuah senyuman miring yang teramat tipis dan langka terukir di wajah tampannya. Rasa gemas yang luar biasa asing mendadak merayap di ulu hati sang penguasa sekolah.
"Pesan saja apa yang kamu mau, Pelayan," ujar Rian datar, mencoba menyembunyikan binar kepuasan di mata elangnya. "Tugasmu malam ini adalah menghabiskan makananmu tanpa sisa."
"Aku tidak mengerti bahasa di menu ini, Kak," cicit Kinara jujur dengan wajah yang memerah merona akibat malu. "Samakan saja pesenanku dengan milikmu."
Rian tidak menjawab. Dia langsung mengalihkan pandangannya pada pelayan pria yang sejak tadi berdiri menunggu. Namun, saat Rian menyadari bahwa pelayan pria tersebut tidak lagi fokus mencatat, melainkan sedang menatap lekat-lekat ke arah wajah polos Kinara dengan binar mengagumi, darah Rian seakan mendidih hebat di dalam dada seketika.
Kilat amarah cemburu yang masif langsung membakar manik mata elang Rian. Rahang tegasnya mengeras kokoh, dan aura membunuh yang sangat pekat mendadak mengepung meja mereka.
"Catat pesanan ini dan singkirkan matamu sebelum aku membeli restoran ini dan memecatmu malam ini juga," desis Rian dengan suara bariton yang teramat rendah, dingin, dan sarat akan ancaman mutlak yang mematikan.
Pelayan pria itu seketika memucat pasi, membungkuk panik meminta maaf sebelum berlari tunggang-langgang menuju dapur.
Kinara tersentak kaget, menatap jengah ke arah Rian. "Kak Rian kenapa, sih? Sewenang-wenang sekali pada orang lain!"
"Aku tidak suka milikku dijadikan bahan tontonan," potong Rian dingin, sebaris luka di bibirnya mengencang saat dia memajukan tubuh tegapnya ke depan meja, mengunci mati pandangan mata jernih Kinara. "Dan malam ini, seluruh atensimu hanya boleh tertuju padaku."
Kinara hanya mendengus pasrah, meyakini bahwa Rian melakukan itu murni karena watak tiraninya yang gila kontrol dan anti-sosial. Kepolosan batinnya membuat Kinara benar-benar buta bahwa semua kebrutalan verbal Rian barusan adalah wujud dari rasa cemburu masif seorang pria yang sedang menandai wilayah kekuasaannya.
Selesai makan, runtunan skenario kencan berlanjut ke area bioskop lantai atas. Rian sengaja memesan dua tiket di barisan paling belakang yang sepi dari penonton lain.
Di dalam studio yang temaram dan dingin, fokus Kinara sepenuhnya teralihkan oleh film aksi yang memukau di layar besar. Dia sesekali mencondongkan tubuhnya ke depan dengan binar mata yang bersemangat, melupakan sepenuhnya rasa takut terhadap cowok di sampingnya.
Sementara itu, Rian sama sekali tidak melirik ke arah layar bioskop sedikit pun. Sepasang mata elangnya yang menggelap pekat hanya terkunci mati pada profil samping wajah jelita Kinara yang sesekali diterangi cahaya bioskop yang temaram.
Melihat kepolosan gadis itu yang tersenyum tipis menyaksikan film, batin Rian berdenyut pekat oleh rasa kepemilikan yang kian absolut. Jerat kendalinya telah bekerja dengan sangat sempurna. Di bawah kuasa mutlaknya, dia berhasil mengubah hukuman menjadi sebuah kencan pertama yang manis, mengikat perlahan seluruh sisa hidup Kinara Jose agar tidak akan pernah bisa lepas lagi dari dekapannya.
Malam semakin larut ketika mobil sport mewah milik Rian Pradifta melaju membelah jalanan kota yang mulai lengang. Di dalam kabin mobil yang sunyi dan beraroma parfum maskulin pekat itu, Kinara duduk bersandar sembari menatap ke luar jendela kaca, memeluk tas ranselnya erat-erat.
Keheningan malam mendadak terputus saat Rian yang fokus mencengkeram setir mobil perlahan membuka obrolan dengan suara baritonnya yang rendah.
"Nara, berapa gajimu sebagai pelayan di Aston Club?"
Kinara tersentak kecil mendengar pertanyaan tiba-tiba itu. Panggilan nama 'Nara' yang sempat keluar dari bibir Rian mengirimkan debaran kaku di dadanya, mempertegas fakta bahwa cowok gila kontrol ini memang sudah menggenggam seluruh rahasianya. Kinara menoleh jengah, menatap profil samping wajah tampan Rian dari balik kaca mobil yang temaram.
"Kenapa? Kak Rian mau minta uang ganti rugi karena aku makan banyak di restoran mahal tadi?" sewot Kinara ketus, memalingkan wajahnya kembali ke jendela dengan kesal. "Tadi kan Kak Rian sendiri yang menyuruhku makan sepuasnya."
Rian tidak langsung membalas. Dia memutar setir mobil dengan santai, mengabaikan ketukan nada judes dari pelayan pribadinya.
"Aku mau kamu berhenti bekerja di tempat seperti itu," titah Rian datar, nadanya merendah namun sarat akan otoritas mutlak yang tidak menerima bantahan. "Gunakan waktumu dengan baik untuk persiapan ulangan kenaikan kelas tiga."
Kinara tertegun di tempat duduknya. Jantungnya melewatkan satu detakan. Di dalam benak batinnya yang polos, Kinara mendadak merasa aneh dengan perubahan sikap Rian yang tiba-tiba melunak dan menaruh perhatian pada pendidikannya. Namun, kenyataan pahit tentang kondisi ibunya dengan cepat meruntuhkan rasa heran tersebut.
"Gak bisa..." jawab Kinara dengan suara yang mendadak parau dan lirih. Dia menundukkan kepalanya dalam-dalam, meremas tali tas ranselnya kuat-kuat. "Aku butuh uang untuk biaya Ibu di rumah sakit."
Rian perlahan melirik ke arah Kinara. Menyaksikan raut keputusasaan yang kembali membayang di wajah polos gadis itu membuat dadanya berdenyut perih luar biasa. Sisi posesif dan protektifnya bergejolak hebat, menolak membiarkan permatanya kembali bergaul dengan lingkungan liar kelab malam setiap harinya.
"Aku mau kamu berhenti," tekan Rian mutlak, menghentikan mobilnya tepat di lampu merah koridor jalan. Dia membalikkan tubuh tegapnya, menatap lurus ke dalam sepasang mata jernih Kinara dengan binar kepemilikan yang kian pekat.
Sebaris luka kering di bibir bawah Rian mengencang seiring senyuman miring tak terlihat yang terukir di wajah tampannya. "Sebagai gantinya... sebagai pelayanku, kamu akan aku gaji sepuluh kali lipat dari gaji yang kamu terima dari Aston Club."
Mendengar nominal fantastis yang ditawarkan begitu enteng dari bibir Rian, Kinara membelalakkan matanya sempurna. Jerat sangkar emas sang penguasa sekolah kini telah resmi ditutup rapat, mengunci mati seluruh jalan keluar dan memastikan hidup Kinara Jose mutlak berputar di bawah kuasanya.
---
semoga Kinara terselamatkan dr jebakan Randy
kalian yang awal bab maki2 Rian ..tetap maki2 ya soalnya Rian tobatnya masih lama wkkwkwk