NovelToon NovelToon
Cerpen Misteri Dan Horor

Cerpen Misteri Dan Horor

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Hantu
Popularitas:109
Nilai: 5
Nama Author: yani 11

cerita pendek misteri dan horor

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3_Sosok menyerupai ibuku part akhir.

"Jangan lihat wajahnya!" teriak sang ibu dengan wajah panik. Matanya membelalak, sementara tubuhnya langsung berdiri di depan Nisa, melindungi putrinya dengan kedua tangan yang terbentang.

Makhluk itu memiringkan kepalanya perlahan.

Senyumnya semakin lebar.

"Hehehe..." tawanya lirih. Bahunya bergerak naik turun, seolah menikmati ketakutan mereka.

"Nisa..." panggilnya lagi dengan suara lembut yang sangat mirip suara sang ibu. "Kemarilah... Ibu merindukanmu."

Nisa memejamkan mata rapat-rapat. Air matanya terus mengalir. Jemarinya mencengkeram baju ibunya hingga memutih.

"Aku tidak akan mendengarkanmu!" teriak Nisa dengan suara bergetar. Wajahnya dipenuhi ketakutan, tetapi ada keberanian yang mulai tumbuh di dalam dirinya.

Makhluk itu berhenti tertawa.

Perlahan ia menoleh ke arah sang ibu.

"Kau..." desisnya. Suaranya berubah berat dan menggeram. "Selama puluhan tahun kau terus melarikan diri dariku."

Sang ibu menarik napas panjang.

"Iya," jawabnya lirih. Wajahnya tetap pucat, tetapi tatapannya mulai tegas. "Karena aku tahu siapa dirimu."

Makhluk itu merangkak semakin dekat.

Tubuhnya bergerak patah-patah. Setiap persendiannya berbunyi retak.

"Krak..."

"Krek..."

"Krek..."

"Aku hanya ingin masuk..." katanya sambil tersenyum mengerikan. "Seseorang harus mengizinkanku."

Sang ibu menggeleng pelan.

"Tidak akan pernah."

Makhluk itu menggeram keras hingga seluruh rumah bergetar.

"Lalu biarkan anakmu menggantikanmu!"

"Tidak!" bentak sang ibu. Wajahnya memerah dipenuhi keberanian.

Ia meraih sebuah kalung kecil yang sedari tadi tersembunyi di balik bajunya.

Kalung itu berbentuk salib kayu tua yang sudah kusam.

Nisa baru pertama kali melihat benda itu.

"Ibu..."

"Dulu nenekmu memberikan ini," ucap sang ibu sambil menggenggam kalung itu erat. Air matanya kembali menetes. "Beliau bilang... makhluk itu tidak bisa menyentuh orang yang hatinya tidak menyerah pada rasa takut."

Makhluk itu mendesis marah.

"Itu tidak akan menghentikanku!"

Sang ibu mengangkat kalung tersebut.

Dengan suara bergetar, ia mulai berdoa.

Doanya sederhana.

Namun semakin lama semakin lantang.

Rumah kembali berguncang.

Angin dingin berembus sangat kencang.

Makhluk itu menjerit.

"Aaaaaargh!"

Tubuhnya mengeluarkan asap hitam pekat.

Kulitnya mulai retak seperti tanah yang mengering.

"Tidak!" jeritnya sambil menutup wajahnya.

Sang ibu terus berdoa tanpa berhenti.

Nisa ikut menggenggam tangan ibunya.

Meski masih menangis, ia mulai mengucapkan doa yang sama.

Tangis berubah menjadi keberanian.

Ketakutan berubah menjadi keyakinan.

Semakin lama...

Suara jeritan makhluk itu semakin melemah.

Wajah yang menyerupai sang ibu mulai meleleh, berubah menjadi sosok hitam tanpa bentuk.

Satu per satu suara yang selama ini ditirunya keluar bersamaan.

Suara nenek.

Suara ayah.

Suara sahabat.

Suara anak kecil.

Semua bergema memenuhi rumah sebelum akhirnya menghilang.

Makhluk itu mengangkat kepalanya untuk terakhir kali.

Tatapannya kosong.

"Aku... belum... selesai..."

Tubuhnya perlahan hancur menjadi abu hitam yang diterbangkan angin malam.

Seketika...

Rumah kembali sunyi.

Lampu yang sejak tadi berkedip kini menyala normal.

Udara dingin perlahan menghangat.

Tidak ada lagi suara ketukan.

Tidak ada lagi suara tawa.

Hanya isak tangis Nisa dan ibunya yang memenuhi kamar.

Nisa langsung memeluk ibunya erat.

"Ibu..." tangisnya pecah. Wajahnya basah oleh air mata. "Kita selamat..."

Sang ibu membalas pelukan itu sambil menangis.

"Iya, Nak..." bisiknya. Senyumnya tipis, penuh rasa syukur. "Akhirnya... semua sudah berakhir."

Keesokan paginya, matahari bersinar hangat untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun rumah itu terasa suram.

Sang ibu mengajak Nisa meninggalkan rumah tua tersebut.

Sebelum pergi, mereka menoleh untuk terakhir kalinya.

Rumah itu tampak kosong.

Tak lagi menyeramkan.

Tak lagi terasa dipenuhi hawa yang menyesakkan.

Beberapa hari kemudian, rumah itu dijual dan akhirnya diratakan. Di atas tanah bekas rumah tersebut dibangun sebuah taman kecil yang selalu ramai oleh anak-anak bermain.

Sejak malam itu, sang ibu tidak pernah lagi mendengar suara yang memanggil namanya.

Tidak ada lagi ketukan di tengah malam.

Tidak ada lagi bayangan yang mengikuti.

Teror yang menghantuinya selama puluhan tahun benar-benar telah berakhir.

Namun, sebelum meninggalkan tempat itu untuk selamanya, sang ibu berpesan kepada Nisa dengan wajah tenang.

"Ingat satu hal, Nak," ucapnya lembut sambil menggenggam tangan putrinya. "Jika suatu malam nanti kau mendengar seseorang memanggilmu dari balik pintu dengan suara orang yang paling kau cintai... padahal kau tahu mereka tidak mungkin berada di sana..."

Nisa mengangguk pelan.

"Jangan pernah menjawab."

Angin sore berembus pelan, membawa dedaunan kering berputar di halaman bekas rumah itu.

Di kejauhan, terdengar suara tawa anak-anak yang riang.

Dan sejak hari itu, Nisa memahami bahwa tidak semua suara yang terdengar akrab berasal dari manusia. Ada kalanya, yang paling berbahaya bukanlah sosok yang menyeramkan, melainkan sesuatu yang datang dengan wajah dan suara orang yang paling kita percaya.

TAMAT

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!