NovelToon NovelToon
Sang Dewa Cangkul Sakti

Sang Dewa Cangkul Sakti

Status: sedang berlangsung
Genre:Budidaya dan Peningkatan / Reinkarnasi / Sistem
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: UrLeonard

Bereinkarnasi di Era Kultivasi Modern, Yang Chan awalnya hanyalah remaja tanpa bakat yang mendambakan kehidupan damai. Memilih untuk tidak masuk dalam kebrutalan dunia kultivasi.

​Tanpa disangka, rutinitas mencangkulnya justru membangkitkan Sistem Taman Kehidupan. Bukan misi berdarah yang didapat, melainkan keajaiban agrikultur penakluk lahan mati yang kelak melahirkan legenda suci, juga bakat terpendam yang seharusnya tidak ia miliki.

​Saat para penguasa dunia sibuk mencari jejak keilahian, mampukah ia menjaga kedamaian hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31: Teman Baru

Pagi kembali menyapa koridor kelas pendukung yang sunyi.

Di ruang baca yang sepi, aroma kertas tua bercampur dengan bau tanaman obat yang menyengat.

Jari telunjuk ramping itu mendorong bingkai kacamata tebal yang melorot.

Kepangan rambut hijau yang kaku dan sangat ketat ikut bergerak seiring kepalanya menunduk.

Bruk!

Setumpuk perkamen tebal beraroma obat diletakkan dengan keras di atas meja kayu.

Zhao Biyu langsung duduk tegak lurus bagaikan robot tanpa nyawa.

Tepat di sebelah Yang Chan, gadis itu mengeluarkan sebatang pena bulu miliknya.

Goresan mekanis di atas kertas langsung tercipta, menggambar diagram formasi pil obat dengan cepat.

"Bisakah kau bergeser sedikit, Saudara Yang. Kau menghalangi jatuhnya cahaya ke arah perkamenku."

Suara datar dan sangat formal itu meluncur tanpa ada gerakan kepala sama sekali.

Yang Chan tersenyum tipis.

Ia menarik tangannya, lalu bersedekap dengan santai untuk memberi ruang.

"Tentu, silakan."

Biyu kemudian duduk, membuka bukunya.

Lalu kemudian rentetan tulisan mulai dituliskan dalam buku itu.

"Ngomong-ngomong, hipotesis yang bagus mengenai fertilisasi yang kamu punya di situ."

Goresan pena bulu Biyu mendadak berhenti total di udara.

Keheningan tipis merayap di antara meja mereka.

Ia mengangkat kacamatanya, lalu menoleh cepat ke arah pemuda di sebelahnya.

Ada kilatan heran yang sangat jelas terpancar dari balik lensa tebal itu.

Yang Chan hanya menopang dagu dengan santai, mengabaikan ketegangan yang mendadak muncul.

Kekakuan robotik dalam diri Biyu seolah runtuh, digantikan oleh rasa penasaran intelektual yang meluap-luap.

Sret... sret... sret!

Suara goresan pena kembali terdengar, kali ini dengan tempo yang jauh lebih cepat dari sebelumnya.

Ia mencoret catatan lamanya tanpa ragu.

Lonceng tengah hari berbunyi, mengantar langkah mereka menuju kebun percobaan akademi di area belakang.

Hanya ada dinding kaca besar yang membatasi tempat sunyi itu dari hiruk-pikuk luar.

Sayup-sayup, dentingan pedang dari arah lapangan latihan terdengar di kejauhan.

Yang Chan sedang berjongkok santai, tangannya sibuk menggemburkan tanah gembur.

Alat serbaguna miliknya kini telah berubah bentuk menjadi sebuah cangkul kecil yang praktis.

Satu meter di belakangnya, Zhao Biyu berdiri kaku seperti biasa.

Ia memegang buku teori di atas tangannya, lalu membacakan rentetan formula dengan suara datar.

Tiap kali Biyu menyebutkan teori tentang katalis obat, Yang Chan langsung memotong dengan santai.

Ia memberikan koreksi kecil mengenai kondisi tanah yang seharusnya diperhatikan terlebih dahulu.

Biyu membetulkan letak kacamatanya berulang kali.

Sepasang matanya berbinar antusias, sibuk mencerna pengetahuan praktis yang bahkan tidak pernah ditulis di perpustakaan klannya.

"Secara teori, Bunga Es butuh katalis api tingkat tiga agar netral," tutur Biyu pelan. "Tapi kau bilang cukup menanamnya di sebelah lumut belerang?"

Ia menutup buku itu.

Nadanya kini terdengar sedikit lebih hidup.

Yang Chan berdiri santai.

Ia menepuk-nepuk debu tanah yang mengotori lutut celananya.

"Ya ... Aku tidak mau menyangkal teori itu, tapi yang perlu diperhatikan juga adalah iklim dan kualitas tanahnya, apakah bisa ditanami atau tidak."

Dua orang itu berdiri berdekatan di tengah embusan angin kebun yang sejuk.

Satu orang tampak berlumuran tanah dengan pakaian santai, sedangkan yang lain berdiri rapi tanpa cela.

Ada kehangatan aneh yang perlahan tumbuh di antara perbedaan mencolok itu.

Mereka terhubung oleh satu hal nyata: rasa menghargai terhadap ilmu botani dan alkimia.

Biyu bergumam pelan pada dirinya sendiri.

Tangan kaku itu kembali bergerak cepat, mencoret-coret perkamen baru dengan semangat yang tidak bisa disembunyikan.

Waktu berlalu cepat hingga sore hari tiba di lorong kelas pendukung.

Angin sore mendadak berembus kencang, menerobos masuk melalui jendela koridor yang terbuka lebar.

Syuut!

Belasan lembar catatan penting milik Biyu langsung terbang bebas ke udara.

Gadis itu tersentak panik, tubuh kakunya mendadak limbung saat berusaha mengejar kertas-kertas itu.

Ia membungkuk dengan sangat terburu-buru untuk memungutnya.

Ting!

Kacamata tebalnya tergelincir dari hidung, jatuh berdenting di atas lantai batu yang dingin.

Bahkan jepitan rambut hijaunya ikut terlepas, membuat sebagian rambutnya jatuh berantakan.

Yang Chan segera ikut berjongkok di dekatnya.

Ia mengumpulkan lembaran kertas yang berserakan, lalu memungut kacamata tebal tersebut.

Biyu mendongak tepat saat Yang Chan mengulurkan tangannya.

Tanpa penghalang lensa tebal, sepasang mata besar yang sangat jernih terekspos dengan jelas.

Fitur wajahnya yang sangat cantik dan halus terlihat begitu menawan di bawah cahaya sore.

Satu detik. Dua detik.

Biyu menyadari tatapan itu, lalu buru-buru menunduk dalam-dalam.

Bahunya menegang kaku karena rasa tidak percaya diri yang mendadak menyerang pertahanannya.

"T-terima kasih. Tolong abaikan saja, aku tahu penampilanku... aneh tanpa ini."

Suaranya bergetar pelan saat merampas kacamatanya kembali dengan gerakan yang sangat gugup.

Rona merah menjalar cepat hingga ke ujung telinganya yang putih.

Yang Chan tersenyum wajar, tidak menunjukkan ekspresi berlebihan yang bisa menyinggung perasaannya.

Ia menyodorkan sisa kertas yang ada di tangannya dengan tenang.

"Tidak masalah, kamu malah terlihat cantik, Biyu," ungkap pria itu, sambil memberikan kacamata yang ada di tangannya, "ini kacamatamu."

Biyu mengambil kacamata itu, melihat ke arah pria yang baru saja memberikan pujian padanya.

"Sampai jumpa besok di kelas Profesor Li."

Ia bangkit berdiri, lalu berjalan santai menyusuri koridor yang mulai sepi.

Biyu terpaku di tempatnya berjongkok.

Ia menatap punggung pemuda itu yang menjauh tanpa beban sedikit pun di bahunya.

Pikirannya mendadak kosong.

Teng... teng... teng...

Suara lonceng akademi berdentang berat di kejauhan, memecah kesunyian sore itu dengan kepastian yang dingin.

1
ಠ⁠ω⁠ಠ
oke, kalau jurusnya pakai bahasa inggris keren juga ya /Sweat/, tapi aku kembalikan ke kalian. Apakah perlu aku revisi agar jadi bahasa indo saja, atau aku pertahankan perubahannya? /Slight/
ಠ⁠ω⁠ಠ: /Scare//Scare//Scare/
total 2 replies
Sulaeman Effendi
bagaimana selanjutnya ?
Sulaeman Effendi
kapan peningkatan kultifasi nya?
ಠ⁠ω⁠ಠ: Sebenarnya aku lupa perhatiin aspek Kultivasinya /Sweat/
total 1 replies
Sulaeman Effendi
seorang pendekar yang bijak 👍
Sulaeman Effendi
tehnik yang tepat 👍😄
Sulaeman Effendi
Asyik tanpa risiko berhasil memuaskan 👍
Sulaeman Effendi
era baru menjelajahi hutan
Sulaeman Effendi
mulai terasa ada perkembangan pertemanan yg menggetarkan
Sulaeman Effendi
iya boy, hidup tenang, menyenangkan dan berhasil gemilang 👍💪😀
Sulaeman Effendi
awal untuk maju dengan sekolah boy
Sulaeman Effendi
sekolah apa kuliah boy
ಠ⁠ω⁠ಠ: Agak beda ini, nggak mirip sekolah, kuliah juga gak mirip /Sweat/
total 1 replies
Sulaeman Effendi
sekolah Boy ?
ಠ⁠ω⁠ಠ: Iya, sekolah. Tapi enggak fokus ke sekolahnya, lebih ke hal lain di sekolah/akademi /Slight/
total 1 replies
Sulaeman Effendi
sekolah Boy agar pintar dan sakti
Sulaeman Effendi
Tingkatkan terus Boy
M Mugni
ceritanya mantap 💪💪💪
Sulaeman Effendi
terus semangat Boy 💪
Sulaeman Effendi
tak disangka ternyata hebat
ಠ⁠ω⁠ಠ: Udah ada tanda-tandanya /Slight/
total 1 replies
Sulaeman Effendi
waduh bagaimana selanjutnya???
Sulaeman Effendi
bangkitlah petani miskin tunjukkan taring mu
Sulaeman Effendi
mulai seru nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!