Kania harus mengalami malam tergelap dalam hidupnya, ia dinodai dan kehilangan harga dirinya. Ketika kebenaran terungkap, orang-orang yang seharusnya menjadi tempat perlindungannya justru menjadi hakim yang paling kejam.
Tunangannya, Haris, langsung memutuskan pertunangan mereka, menganggap Kania sudah kotor dan tak layak lagi bersanding dengannya. Bahkan ayah kandungnya sendiri membuangnya, menyebutnya telah mencoreng nama baik keluarga.
Tanpa dukungan siapa pun, Kania terhempas ke jalanan, hingga seseorang mengulurkan tangan dan membantunya untuk bangkit dari keterpurukan.
Kini, ia kembali bukan lagi sebagai wanita lemah yang diusir, melainkan sebagai sosok yang berani menantang takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 26
Langkah Kania seketika terhenti, ia menoleh perlahan. Bian segera berdiri tegak di sampingnya, menatap tajam ke arah sosok pria yang mengenakan setelan jas biru navy itu, menyiapkan diri jika ada gerakan mencurigakan.
Pria itu mendekat dengan langkah hati-hati, tangannya terlipat di depan perut, wajahnya tampak cemas namun berusaha tampil tenang.
"Saya asisten pribadi Tuan Wirawan," ucapnya sopan namun suaranya bergetar samar. "Izinkan saya menyampaikan pesan dari tuanku. Beliau menyadari bahwa perselisihan ini hanya merugikan kita semua. Beliau ingin mengajak Anda duduk bersama, membicarakan jalan damai dan kerja sama yang saling menguntungkan."
Kania menatap pria itu dengan sorot mata yang tenang namun tajam, seolah bisa melihat kebohongan di balik wajahnya.
"Kerja sama?" ulangnya pelan, nada bicaranya datar tanpa emosi. "Aku sudah mengumpulkan banyak bukti tentang kecurangan kalian yang ingin menjatuhkan kantor cabang milik Tuan Victor ini. Dan sekarang dia bicara soal damai?"
Wajah pria itu memucat seketika. Ia menelan ludah susah payah. "Ini hanya kesalahpahaman, Nona. Tuan Wirawan tidak benar-benar ingin membuat cabang perusahaan ini bangkrut. Beliau hanya ingin memastikan bahwa perusahaan ini berjalan dengan benar. Jika Anda bersedia bergabung dengan kami, beliau berjanji akan memberikan posisi tinggi dan keuntungan yang tak terbayangkan. Anda tidak perlu lagi bersembunyi di balik perlindungan orang lain."
Bian hendak maju membentak, namun Kania memberi isyarat halus agar ia diam. Ia melangkah selangkah mendekati pria itu, membuat pria itu refleks mundur dua langkah.
"Katakan pada Tuan Wirawan," ucapnya tegas dan jelas, "Bahwa saya tidak bekerja sama dengan penjahat. Dan katakan juga, bahwa saat ini saya sedang mengumpulkan sisa-sisa bukti terakhir yang akan menjatuhkannya selamanya. Satu-satunya jalan yang tersisa baginya adalah menyerahkan diri pada pihak berwenang sebelum dia ditarik paksa ke dalamnya."
Ia berbalik hendak melangkah masuk, namun suara pria itu kembali terdengar mendesak.
"Pikirkan baik-baik, Nona! Jika Anda menolak, beliau tidak akan segan-segan melakukan hal yang lebih buruk lagi! Beliau punya banyak sekutu yang tak akan tinggal diam!"
Kania berhenti lagi, menoleh sedikit tanpa menampakkan wajahnya sepenuhnya.
"Silakan. Saya menunggu," jawabnya dingin. "Dan sampaikan padanya, kali ini saya tidak akan sekedar menangkis. Saya akan membalas hingga akarnya sampai tak tersisa."
Tanpa menunggu jawaban lagi, ia melangkah masuk ke dalam gedung diiringi Bian yang terus mengawasi dari belakang. Pintu kaca otomatis menutup di belakang mereka, memisahkan dunia yang aman dari sosok pria yang kini berdiri terpaku dengan wajah penuh ketakutan. Ia tahu, pesan yang dibawanya akan membuat amarah Tuan Wirawan meledak, namun ia juga sadar bahwa wanita itu bukanlah sasaran yang lemah seperti yang mereka duga.
-
-
-
Nyonya Melani melangkah masuk ke dalam ruangan kerja suaminya dengan langkah anggun dan tegas, wajahnya menyunggingkan senyum yang dipaksakan. Ia duduk di sofa di seberang meja kerja besar itu, menatap suaminya yang diam memandang ke luar jendela.
"Mas," panggilnya lembut namun mengandung tekanan. "Aku datang untuk membicarakan masa depan perusahaan. Kita sudah tidak muda lagi. Bukankah sebaiknya kamu mulai memikirkan penerus yang pantas?"
Tuan Aryan perlahan berbalik dari jendela, menatap istrinya dengan sorot mata yang sedikit menajam. "Aku sudah memikirkannya, Melani. Tapi bukan berarti harus terburu-buru menyerahkan kepemimpinan."
"Kenapa harus menunggu?" potong Nyonya Melani cepat, tangannya meremas sandaran sofa. "Luna sudah dewasa, cerdas, dan semua orang menyukainya. Dia juga sudah bertunangan dengan Haris. Ini waktu yang tepat untuk menyerahkan kendali padanya."
Tuan Aryan menggeleng pelan, rahangnya mengeras. "Luna masih terlalu muda. Dia baru berusia dua puluh dua tahun. Dunia bisnis tidak hanya soal pesta dan pergaulan, Melani. Dia belum siap menanggung beban seberat ini."
"Kalau bukan sekarang, kapan lagi?!" nada suara Nyonya Melani mulai meninggi, tak lagi bisa menahan amarahnya. "Kamu lebih memikirkan siapa lagi selain putri kita yang bisa memimpin perusahaan ini?!"
Tuan Aryan berdiri perlahan, suaranya rendah namun penuh ketegasan yang membuat istrinya terdiam seketika.
"Masih ada Kania."
Kata itu melayang di udara hening. Wajah Nyonya Melani seketika berubah pucat, matanya membelalak tak percaya.
"Kania?!" serunya bergetar. "Kamu masih menyebut nama anak itu? Dia sudah tidak ada! Dia sudah menjadi aib bagi keluarga kita. Dia wanita ternoda!"
"Tapi Kania tetaplah anakku, Melani," potong Tuan Aryan tajam. "Meskipun keberadaannya kini disembunyikan, aku harus bersikap adil. Dia berhak mendapatkan apa yang seharusnya menjadi miliknya."
Nyonya Melani segera berdiri, napasnya memburu karena menahan marah. "Kamu gila! Kamu sendiri yang mengatakan untuk tidak menyebutkan namanya lagi, tapi sekarang kamu malah memikirkan dia untuk memimpin perusahaan!"
Belum sempat Tuan Aryan menjawab kemarahan istrinya, pintu ruangan diketuk pelan. Sekretaris pribadinya melangkah masuk dengan sopan, menunduk hormat saat melihat suasana yang masih tegang.
"Maaf mengganggu, Tuan," ucapnya lembut sambil menyodorkan berkas dan sebuah amplop berwarna emas yang terlihat mewah. "Ini ada dokumen yang perlu Tuan tanda tangani segera. Dan juga... ada undangan resmi untuk pesta tahunan Blackwood Corp minggu depan."
Mata Tuan Aryan langsung tertuju pada amplop itu. Ia meraihnya perlahan, sementara Nyonya Melani yang hendak melangkah keluar pun berhenti, menoleh kembali dengan tatapan curiga.
"Blackwood Corp?" ulang Nyonya Melani dengan nada tajam. "Untuk apa mereka mengundang kita?"
Sekretaris menunduk sedikit. "Tertulis di sini, Nyonya. Pesta ini juga sekaligus menjadi momen pengumuman penting dari Tuan Victor Adrian Blackwood. Acaranya akan diadakan di The Grand Blackwood Ballroom, pukul delapan malam."
"Kita harus datang," sahut Nyonya Melani cepat. "Tuan Victor itu... dia terkenal dingin dan berkuasa. Aku sangat penasaran padanya."
Ia melangkah cepat ke arah suaminya, wajahnya yang tadinya kesal kini berubah senang, "Mas, ini kesempatan bagus bagimu untuk menjalin kerjasama dengan Blackwood Corp. Bukankah kamu sudah sering mengajukan kerja sama tapi selalu di tolak, ini adalah kesempatan emas, kita tidak boleh melewatkannya."
Tuan Aryan menatap istrinya lekat-lekat, jari-jarinya mengetuk pelan permukaan amplop emas itu.
"Baiklah. Kita akan datang."
-
-
-
Bersambung...
mungkin sakit hati karna bapak Haris masih cinta sama mama Kania yg kandung😏
sabar ya pemirsa, bentar lagi malam pesta dimulai😁
lanjut dong thor🤭🤭