Demi menguji ketulusan, Aldi Pratama menyamar sebagai pria biasa selama dua tahun pernikahan. Namun, Kirana beserta keluarganya yang gila gengsi terus menghina dan merendahkannya. Batas sabar Aldi habis; ia mengungkap identitas aslinya sebagai pewaris tunggal konglomerat raksasa Pratama Group, menceraikan Kirana, dan memiskinkan keluarganya.
Kejatuhan itu seketika menghancurkan hidup Kirana—ibunya meninggal karena syok, adiknya dipenjara, dan ia harus bertahan hidup sebagai pedagang sembako miskin. Di titik nadir inilah Kirana bertobat total dan belajar bersyukur. Takdir kemudian mempertemukan mereka kembali lewat program sosial. Meski dipisahkan jurang kasta yang permanen, Aldi diam-diam memberi perlindungan rahasia karena belum bisa melupakan Kirana sebagai cinta pertamanya, sementara Kirana menjalani takdirnya dengan keikhlasan dan penyesalan abadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 34: Laporan Darurat di Tengah Malam
Di saat yang sama, di kawasan pusat bisnis Jakarta, sebuah mobil sedan mewah Rolls-Royce hitam membelah jalanan protokol yang mulai lengang. Di dalam kabin belakang yang kedap suara dan sejuk, Aldi Pratama sedang bersandar pada jok kulit premiumnya sambil memijat pelipisnya yang terasa pening setelah menghadiri rapat koordinasi dengan jajaran direksi asing hingga larut malam.
Di kursi depan, Edi yang sedang memeriksa tablet kerjanya tiba-tiba menerima sebuah notifikasi pesan darurat dengan kode khusus dari tim pengawas lapangan yayasan Pratama Care. Setelah membaca isi pesan tersebut, wajah Edi mendadak berubah menjadi sangat tegang. Dia menoleh ke belakang melalui kaca spion tengah, menatap tuannya dengan ragu-ragu.
"Tuan Muda..." panggil Edi dengan nada suara yang bergetar pelan, memecah keheningan di dalam mobil.
"Ada apa, Edi? Jika ini mengenai laporan akuisisi lahan di Surabaya, simpan saja untuk besok pagi. Kepala saya sedang sangat penat," jawab Aldi tanpa membuka matanya, suaranya terdengar datar dan dingin.
"Bukan, Tuan Muda. Ini... ini mengenai laporan darurat dari informan kita yang berjaga di sekitar wilayah Kelurahan Sukamaju. Mengenai Ibu Kirana," ucap Edi berhati-hati.
Mendengar nama Kirana disebut, mata Aldi langsung terbuka lebar. Seluruh rasa kantuk dan penat yang menggelayuti pikirannya mendadak menguap tanpa sisa. Dia menegakkan posisi duduknya, menatap tajam ke arah Edi. "Ada apa dengan Kirana? Apakah ada orang yang mengganggunya? Atau warungnya mengalami masalah?"
Edi menghela napas pendek sebelum melanjutkan, "Informan kita baru saja melaporkan bahwa sekitar lima belas menit yang lalu, Ibu RT setempat menemukan Ibu Kirana pingsan di dalam warungnya sendiri. Tubuhnya mengalami demam yang sangat tinggi akibat kelelahan ekstrem setelah memaksakan diri membungkus lima ratus paket sembako pesanan rahasia dari Anda sendirian tanpa asisten. Saat ini warga sedang berusaha membawanya ke puskesmas terdekat menggunakan mobil pik up warga."
Brak!
Aldi memukul sandaran tangan kursinya dengan sangat keras, membuat Edi dan sopir pribadi di depan tersentak kaget. Wajah Aldi yang biasanya tenang dan berwibawa kini dipenuhi oleh gurat kecemasan yang teramat sangat, bercampur dengan rasa bersalah yang mendalam. Kebijakan rahasianya untuk menambah kuota pesanan demi membantu keuangan Kirana justru berbalik menjadi senjata yang menyiksa fisik wanita yang dia cintai itu.
"Bodoh! Kenapa tim lapangan yayasan tidak memikirkan aspek tenaganya?!" bentak Aldi dengan suara baritonnya yang menggelegar di dalam mobil. "Lima ratus paket itu berat, Edi! Dan dia mengerjakannya sendirian di dalam warung sempit itu!"
"Maafkan kelalaian saya, Tuan Muda. Saya tidak mengira Ibu Kirana akan senekat itu bekerja tanpa beristirahat sama sekali," sesal Edi sambil menundukkan kepalanya.
"Putar balik mobilnya sekarang! Kita ke Puskesmas Sukamaju!" perintah Aldi dengan nada mutlak yang tidak menerima bantahan apa pun.
Sopir pribadi Aldi dengan sigap langsung menginjak pedal rem, memutar arah mobil Rolls-Royce mewah itu di jalur putaran jalan, lalu melesat cepat membelah malam menuju ke arah perkampungan kumuh di sudut Jakarta Barat, meninggalkan seluruh protokol keamanan korporasi demi menyelamatkan nyawa sang cinta pertama.
.
.
.
.
Puskesmas Kecamatan Sukamaju malam itu tampak sepi dan temaram. Di dalam salah satu ruang rawat inap kelas tiga yang hanya dibatasi oleh tirai kain hijau tipis, Kirana terbaring lemas dengan jarum infus yang menancap di punggung tangan kirinya.
Wajahnya masih sangat pucat, dan napasnya terdengar pendek-pendek di balik masker oksigen sederhana yang terpasang di hidungnya.
Suara langkah sepatu pantofel yang tegas dan teratur mendadak menggema di koridor puskesmas yang sunyi. Pintu ruang rawat digeser perlahan, dan melangkah masuk sosok Aldi Pratama dengan setelan jas mewahnya yang kini tampak sedikit kusut.
Kehadiran pria berwibawa tinggi itu langsung membuat perawat jaga malam yang ada di ruangan itu terkesima dan membungkuk hormat dengan gugup.
Aldi memberi isyarat tangan agar perawat dan Edi menunggu di luar ruangan, membiarkan dirinya terisolasi di dalam kamar bersama wanita yang pernah mengisi hari-hari indahnya dulu.
Aldi melangkah perlahan mendekati ranjang besi tempat Kirana terbaring. Dia berdiri mematung di samping ranjang, menatap lekat-lekat wajah wanita yang dulu sangat dia manjakan itu. Hatinya terasa seperti diiris sembilu saat melihat betapa kurusnya tubuh Kirana sekarang, dan bagaimana kedua tangan yang dulu selalu dia kecup dengan lembut kini dipenuhi luka lecet kasar akibat bekerja demi mencari uang halal.
"Kenapa kamu harus sekeras kepala ini, Kirana...?" bisik Aldi dengan suara yang sangat rendah, hampir tidak terdengar. Air mata yang selama berbulan-bulan ini dia tahan di balik topeng ketegasannya sebagai pemimpin korporasi besar, akhirnya menetes perlahan melewati pipinya.
Aldi perlahan mengulurkan tangan kanannya yang kekar, berniat untuk mengusap kening Kirana yang masih terasa panas. Namun, tepat beberapa sentimeter sebelum jemarinya menyentuh kulit Kirana, kelopak mata Kirana bergerak perlahan. Wanita itu mulai sadar dari pingsannya.
Kirana membuka matanya yang sayu dengan perlahan. Pandangannya yang kabur perlahan-lahan mulai memfokuskan, dan bayangan pria yang berdiri di sampingnya menjadi semakin jelas. Kirana tertegun, mengira bahwa dirinya saat ini sedang berada di dalam alam mimpi karena saking rindunya pada mantan suaminya.
"Mas... Aldi...?" bisik Kirana dari balik masker oksigennya, suaranya sangat lemah dan bergetar. "Apakah... apakah aku sudah meninggal? Kenapa... kenapa aku bisa melihatmu di sini, Mas...?"
Aldi terdiam, hatinya bergemuruh hebat mendengar panggilan 'Mas' yang sudah sangat lama tidak dia dengar dari bibir Kirana. Dia menarik kembali tangannya, mencoba mengembalikan ekspresi wajahnya menjadi dingin untuk menyembunyikan badai emosi yang berkecamuk di dalam dadanya.
"Kamu tidak meninggal, Kirana. Kamu hanya pingsan karena kebodohanmu sendiri yang bekerja tanpa batas," jawab Aldi dengan nada suara yang diusahakan tetap datar, meski matanya tidak bisa berbohong bahwa dia sangat mencemaskan kondisi wanita di hadapannya itu.