"Sekali saja kita melangkah melewati batas ini, Arden... semuanya tidak akan pernah sama lagi."
Alyssa tidak pernah menyangka pernikahannya akan menyeretnya ke dalam pusaran dosa yang terlarang. Sebagai istri yang berbakti, ia selalu menekan keinginan pribadinya demi menjaga kehormatan keluarga besar suaminya.
Namun, benteng pertahanan itu runtuh saat Arden—adik iparnya—kembali dari luar negeri.
Arden bukan lagi remaja tanggung yang dulu ia kenal. Pria itu telah menjelma menjadi sosok dewasa yang penuh pesona, perhatian, dan diam-diam menawarkan kehangatan yang tak pernah Alyssa dapatkan dari suaminya sendiri.
Di sisi lain, Arden tersiksa. Semakin ia mencoba menjauh, semakin ia mendambakan Alyssa—wanita yang seharusnya haram untuk ia sentuh.
Kini, keduanya terjebak dalam tarik ulur perasaan yang menyiksa. Antara kesetiaan pada keluarga, atau menyerah pada godaan gairah yang candu.
Saat batas suci itu akhirnya dilanggar, siapkah mereka membayar harga yang teramat mahal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nopani Dwi Ari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.29 -Keputusan
Keesokan paginya, suasana kediaman Narendra terasa dingin dan menusuk. Sebuah mobil van hitam berhenti tepat di halaman depan. Lucas turun terlebih dahulu, disusul beberapa anak buahnya yang membopong tubuh Adrian yang masih belum sadarkan diri akibat efek bius.
Pintu utama terbuka. Bi Sri yang baru saja selesai menyapu seketika menghentikan langkahnya. Matanya terbelalak kaget.
"Ya Allah! Mas Adrian?!" seru Bi Sri tertahan, menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Tanpa membalas ucapan Bi Sri, anak buah Lucas membawa masuk tubuh Adrian secara paksa. Pria itu dibawa menuju ruang keluarga lalu dilemparkan begitu saja ke atas karpet—tepat di hadapan Bagas dan Maya yang sudah duduk menanti dengan wajah setajam sembilu.
Sementara itu dari lantai dua, gedoran pintu bertubi-tubi terdengar bersahut-sahutan. Arden—yang dikunci semalaman—tak berhenti memberontak dan berteriak memanggil nama sang Ibu, menambah riuh suasana rumah yang kian mencekam.
Bagas menatap putra sulungnya yang tergeletak lemas di lantai tanpa rasa kasihan sedikit pun.
"Siram dia," titah Bagas, suaranya berat dan berwibawa.
Seorang pengawal sigap melangkah ke dapur dan kembali dalam hitungan detik membawa seember air dingin.
BYUR!
Aroma air dingin menghantam wajah Adrian secara mendadak. Pria itu tersedak, matanya terbelalak lebar, lalu ia terbatuk-batuk sembari berusaha memposisikan tubuhnya untuk duduk.
"Apa-apaan ini?! Berani-beraninya kalian—" amuk Adrian terputus. Matanya mendadak terkunci pada dua sosok yang duduk tegak di hadapannya. "Ma... Pa? Kalian...?"
Adrian mengedarkan pandangan dengan napas memburu. Ia mengenali ruangan ini. Ia berada di rumah orang tuanya sendiri. Namun, sedetik kemudian ingatan terakhirnya di Korea berputar cepat.
"Hanum!" cetus Adrian panik, baru tersadar bahwa wanita itu tertinggal sendirian di Seoul. Adrian bergegas hendak bangkit. "Aku harus—"
"DIAM!" gertak Maya tegas, suaranya menggelegar memenuhi seluruh sudut ruangan. "Langkah satu senti saja dari tempatmu, Mama pastikan nama kamu dicoret dari keluarga ini dan kamu diusir detik ini juga!"
Langkah Adrian membeku. Ia menatap ibunya dengan raut ketakutan yang nyata. "Tapi, Ma... Hanum ditinggal di sana—"
"Tapi apa?!" potong Maya tajam. "Istri siri kamu ketinggalan di negeri orang, lalu kamu panik?! Lalu bagaimana dengan Alyssa yang kamu terlantarkan sendirian di Bali, Adrian?!"
Srak!
Maya melempar seberkas amplop tebal tepat ke dada Adrian. Lembaran-lembaran foto berhamburan di atas lantai marmar.
Adrian menunduk gagap. Di antara hamparan foto itu, ada dokumen pernikahan sirinya dengan Hanum, foto-foto mesra mereka di Korea, hingga foto Alyssa yang tampak duduk sendirian dengan raut kesepian di Bali—sebuah buktikan matang yang disiapkan oleh tim Lucas untuk membungkam setiap alibinya.
"Di mana hati dan otak kamu, Adrian?! Di mana?!" cercas Maya. Matanya memerah menahan lahar emosi yang siap meledak. Tangannya gemetar hebat saat menunjuk wajah putra sulungnya.
"Kamu buang wanita setia yang sah demi racun masa lalu kamu! Kamu injak-injak pernikahan kamu sendiri!" amuk Maya penuh kepedihan.
Adrian mematung. Wajahnya seketika pucat pasi, seluruh kata-katanya tertahan di tenggorokan. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia melihat ibunya semarah dan sehancur ini di hadapannya.
"Maafkan aku, Ma... Pa..."
Hanya kalimat itu yang sanggup keluar dari bibir Adrian. Pria itu menunduk dalam-dalam, tak berani sedikit pun mengikis jarak untuk menatap wajah kedua orang tuanya yang diselimuti kekecewaan mendalam.
"Jangan minta maaf pada kami," ujar Bagas dengan suara berat dan dingin.
"Minta maaf pada Alyssa! Pergi dari sini dan susul dia ke rumah orang tuanya. Minta maaf dengan benar sebagai seorang laki-laki."
Bagas menatap putra sulungnya itu tanpa selapis pun rasa iba. Ia menegaskan agar Adrian tidak menginjakkan kaki kembali ke rumah ini sebelum urusan rumah tangganya dengan Alyssa selesai sepenuhnya. Pagi ini juga, Bagas dan Maya harus pergi menyelesaikan agenda penting yang tak kalah krusial.
"Lucas, pastikan dia sampai di rumah orang tua Alyssa dengan selamat," perintah Bagas menatap sang asisten kepercayaan.
"Baik, Pak," balas Lucas tegas seraya mengangguk patuh.
Lucas melangkah maju, lalu menarik lengan Adrian untuk bangkit dari lantai. Namun sebelum membawanya pergi, Lucas meminta Adrian untuk membersihkan diri dan mengganti pakaiannya yang kusut terlebih dahulu.
Begitu bayangan Adrian dan Lucas menghilang dari balik pintu utama, ketegangan di ruangan itu sedikit menyusut, menyisakan kesunyian yang berat. Maya dan Bagas saling bertukar pandang. Sebuah keputusan besar telah diambil. Pagi ini, mereka akan mendatangi kediaman keluarga Raharja—bukan untuk mengurus bisnis, melainkan melamar Nabella secara resmi atas nama Arden demi memutus obsesi terlarang putra bungsu mereka pada Alyssa.
Sementara itu, ribuan kilometer dari Jakarta...
Di sebuah kamar hotel mewah di daerah Gangnam, Hanum tampak berbaring santai di atas kasur berseprai putih bersih. Ia sama sekali tidak menyadari huru-hara dahsyat yang tengah melanda keluarga Narendra di Jakarta.
Pikirannya masih mengira bahwa hilangnya Adrian hanyalah gertakan atau urusan mendadak dari keluarga pria itu. Tanpa rasa cemas, Hanum meraih ponselnya dan mengetik pesan pada sang ayah untuk meminta transferan dana darurat.
Tak butuh waktu lama, denting notifikasi masuk. Ayahnya mengirimkan sejumlah uang yang menurut Hanum cukup lumayan untuk menyambung hidup dan membeli tiket pulang.
Dengan helaan napas gusar, Hanum membuka aplikasi pemesanan tiket pesawat.
"Tahu bakal ada kejadian konyol kayak gini, dari awal mending pesan tiket PP aja waktu itu," gerutu Hanum sebal seraya memoles kuku jarinya, sama sekali tak menduga kekacauan besar yang siap menyambutnya di tanah air.
Bersambung ....
mana sih Suami'y.,
wwooii Suami Indah yang gak Indah.,
bawa pulang noh istri durjana'mu itu
🏃🏼♀️🏃🏼♀️🏃🏼♀️🏃🏼♀️🤣🤣🤣🤣🤣
Intan : kali ini klo Kamu bikin ulah., mengganggu siapapun termasuk Alis., Aku akan mengembalikan Kamu sm Kakak'mu
KAMU BOLEH BALIK KE SINI KLO SUDAH BAWA SURAT CERAI
s' Han ini bebener ya...
astagaaaaaaaa...
Han : ko' nyalahin Aku Jum., ini semua gegara Otor lo., bukan Aku
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣