Apakah perjalanan kisah Zeva dan Askara kembali berlanjut setelah 6 tahun berpisah. Pertemuan keduanya di rumah sakit yang sama. Zeva yang sudah menjadi Dokter muda beberapa bulan di rumah sakit dan tidak lama Askara yang tiba-tiba bergabung di rumah sakit yang sama sebagai senior.
Kecanggungan pertemuan keduanya. Karena masa lalu yang mereka alami bersama. Kasus kematian model terkenal. Membuat keduanya kembali dekat. Askara yang mengetahui kelemahan Zeva sebagai seorang Dokter yang ternyata memiliki ketakutan dan bukan seperti seorang Dokter pada umumnya. Askara yang tetap mendampingi Zeva sebagai senior dalam profesional pekerjaan.
Namun kedekatan keduanya tidak lepas dari dari rasa sakit hati Zeva yang merasa di permainkan dan tidak ingin terjebak dengan masalah hati dengan pria yang sama untuk kedua kalinya.
Bagaimana hubungan mereka selanjutnya?
Bagaimana Askara yang menyembuhkan luka yang pernah di berikannya pada wanita yang dulu pernah mengisi hari-hari nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10 Pelukan Askara.
Zeva menarik nafas panjang dan membuang perlahan ke depan setela selesai melakukan konferensi pers yang merasa lega.
"Zeva!" suara itu membuat Zeva kaget dan langsung membalikkan tubuh.
"Dokter!" sahut Zeva dengan memegang dada yang masih terlihat kaget.
"Kamu sudah melakukan yang terbaik hari ini!" ucap Askara.
"Makasih Dokter!" sahut Zeva.
Askara mengeluarkan sesuatu dari saku Dokter nya dan memberikan pada Zeva kotak.
"Ambillah!" Askara menyodorkan pada Zeva.
"Ponsel?" sahut Zeva yang belum mengambil benda tersebut.
"Kemarin saya sudah merusak ponsel kamu. Jadi ambilah!" titah Askara.
"Tidak usah, ponsel saya tidak rusak parah dan lagi pula masih bisa di pakai," Zeva pasti menolak barang itu.
"Ambil saja dan jangan menolak, itu hanya sebagai pertanggungjawaban. Apa yang saya lakukan harus di pertanggung jawabkan!" ucap Askara dengan singkat.
"Lalu bagaimana apa yang terjadi dulu? kenapa kamu tidak punya pikiran untuk bertanggung jawab," batin Zeva dengan wajah sendu.
"Zeva!" tegur Askara yang kembali membuat Zeva kaget.
"Maaf Dokter! tapi saya tidak bisa menerima!" Zeva tetap menolak. Zeva tidak ingin kembali terjebak dalam masa lalu.
"Permisi!" ucap Zeva pamit.
"Zeva tunggu!" Askara menahan tangan Zeva. Zeva kembali melihat ke arah Askara sama dengan Askara yang juga menatap Zeva dengan penuh arti.
"Hey kamu mau kemana!"
"Ayo kejar aku!"
Tiba-tiba ada anak kecil yang berlari dengan kencang dan anak kecil itu mendorong Zeva yang membuat Zeva kaget dengan tubuh Zeva yang tiba-tiba jatuh ke pelukan Askara.
Askara dan Zeva sama-sama kaget dengan jantung mereka yang berdebar dengan kencang. Zeva yang sadar akan hal itu langsung mencoba untuk menjauh. Tetapi ternyata Askara menahan tubuh kecil Zeva dan justru memeluk Zeva yang membuat Zeva kaget tindakan Askara.
Suara degup jantung mereka yang semakin berdebar dengan kencang dalam pelukan yang seperti melepas rindu di antara mereka berdua.
Askara memejamkan mata yang sudah tidak bisa menahan diri. Kesempatan yang membuatnya melakukan hal itu, memeluk gadis yang pergi 6 tahun lalu. Pelukan yang terasa hangat dan ingin waktu lebih lama lagi berputar.
Sampai beberapa detik yang akhirnya membuat Zeva mendorong pelan dada Askara dan menjauh dari pelukan itu dengan raut wajah yang salah tingkah yang terlihat bingung.
"Permisi!" ucap Zeva yang langsung pergi dengan wajah gelisah.
Askara tidak menghentikan dan melihat ke pergian Zeva dengan tatapan mata Askara yang sendu.
"Kenapa aku jadi terkesan seperti pengecut yang tidak mencoba untuk berbicara!" batin Askara dengan tersenyum getir.
************
Langkah Zeva yang melangkah begitu cepat yang memasuki mobil setelah Zeva dan Askara mengalami kejadian itu. Zeva yang duduk di kursi pengemudi.
Air mata Zeva tiba-tiba jatuh yang tidak tahu apa yang membuatnya menangis. Tangan wanita yang terus menangis itu dengan cepat menghidupkan mobil dan mobil itu langsung berjalan.
Zeva menyetir sembari menangis yang tidak mengerti apa yang di rasakannya sebenarnya. Jantungnya sampai detik ini masih saja tetap berdebar dengan kencang yang mengingat kejadian yang baru saja terjadi.
*********
"Assalamualaikum!" sapa Zeva dengan suara tidak bersemangat yang baru sampai ke rumah dengan mata yang masih terlihat sembab dan tidak tau Zeva menangis berapa lama.
"Walaikum salam!" sahut Risya yang nonton televisi melihat putrinya yang berjalan seperti tidak ada tujuan hidup.
"Sayang kamu keren sekali. Seperti sudah bertahun-tahun menjadi seorang Dokter, mama melihat berita kamu di televisi dan benar-benar bagus sekali," puji Risya yang pasti sangat bangga melihat Zeva yang tampil di televisi.
"Biasanya mah, itu bukan suatu hal yang harus di banggakan," sahut Zeva menyandarkan tubuhnya di kepala sofa yang memang tidak tertarik dengan dirinya yang tadi baru saja menjadi sorotan media.
"Bagaimana bisa biasa saja. Kamu belum 1 tahun berada di rumah sakit Cipta Karya. Tetapi lihat kamu menjadi sorotan semua orang dan mama juga cek di Twitter. Jika kamu menjadi bahan pembicaraan Dokter muda yang keren," Risya tidak henti-hentinya memberikan pujian pada Zeva..
"Mereka tidak tahu saja jika aku hampir saja berbuat curang. Karena tidak memiliki keberanian atas tanggung jawab yang di berikan kepadaku dan Dokter Askara memberikan kesempatan kepadaku. Tetapi orang-orang berpikir jika aku yang melakukan semua itu. Termasuk mama. Mama pasti sudah merasa jika aku berhasil menjadi Dokter, padahal nyaliku masih di bawah rata-rata," batin Zeva yang justru mempunyai beban tersendiri setelah melakukan konferensi pers.
"Lalu Dokter Askara lagi dan lagi melakukan sesuatu hal yang berlebihan kepada ku. Ini yang dilakukannya sejak dulu kepadaku. Apa dia ingin aku punya hutang budi padanya dan tadi apa maksudnya!" batin Zeva yang kembali bingung dengan situasi yang di hadapinya.
Selain memiliki beban atas konferensi pers yang membuat orang-orang kagum dan memuji Zeva. Zeva juga kepikiran dengan masalah dia dan Askara yang mana Askara menahan Zeva dan memeluk Zeva erat.
"Hmmmm, mama masakan kuning ya atas hari baik ini untuk kamu,"ucap Risya.
Hak yang menjadi tradisi di keluarga itu atas selamat keberhasilan salah satu anggota keluarga mereka.
Flashback
"Kamu bawa kerumah sakit dan berikan pada Dokter Askara. Ucapkan terima kasih mama kepadanya,"
"Iya mah!"
"Zeva boleh tidak bawa nasi kuningnya kerumah sakit untuk Dokter Askara?"
"Boleh sayang!"
Zeva mengingat masa lalu. Dirinya yang masih memakai seragam sekolah tiba-tiba pulang dan diberikan perintah oleh Risya untuk membawakan nasi kuning sebagai lambang ucapan terima kasih dan atas keberhasilan Zeva saat itu.
Hubungan keduanya bisa dikatakan menjadi jauh lebih dekat karena kejadian itu.
Dia dan Askara yang makan nasi kuning bersama dan mereka mengobrol. Askara juga menyukai masakan Risya dan Zeva berjanji akan membawakan lain kali.
Namun untuk yang kedua kalinya Zeva dengan semangat yang membawakan nasi kuning untuk Askara sesuai dengan janji Zeva. Walau malam itu hujan deras. Tetapi, Zeva tetap pergi ke rumah sakit.
Saat itu dunia terasa hancur ketikan Zeva melihat pemandangan yang sampai sekarang masih teringat di pikirannya. Bagaimana Askara dan Laras saat itu berciuman dan itulah pertemuan terakhir Zeva dan Askara. Pertemuan yang memberikan luka begitu sakit kepadanya dan sampai detik ini tidak bisa di lupakan dan bertambah dengan perasaan bergejolak dengan sikap Askara.
Flashback of
Air mata Zeva hampir jatuh kembali ketika mengingat luka yang sakit itu.
"Zeva!" tegur Risya melihat Zeva sejak tadi melamun.
"Zeva!" Risya kembali menegur dengan memegang bahu Zeva dan barulah Zeva sadar yang tempat seperti orang linglung.
"Iya mah kenapa?" tanya Zeva seperti orang panik.
"Kamu yang kenapa sayang. Kamu melamun terus dan pasti tidak mendengarkan apa yang mama katakan," ucap Risya.
"Tidak kok mah. Zeva dengar kok apa yang mama katakan," sahut Zeva.
"Ya sudah kalau begitu mama langsung buatkan saja. Kamu sana mandi dan langsung turun!" titah Risya.
"Iya mah, Zeva kekamar dulu mau mandi," sahut Zeva yang langsung berdiri dari tempat duduknya yang langsung menuju kamar.
Risya hanya geleng-geleng dan juga berdiri dari tempat duduknya yang langsung memasuki dapur untuk membuatkan nasi kuning atas keberhasilan Zeva. Walau Zeva yang terlihat tidak semangat sama sekali.
Bersambung
happy ending..so sweet ❤️❤️
makasih mak othor,,,,selamat ya askara dan zeva, semangat terus berkarya ya mak othor,,,,