NovelToon NovelToon
Penyesalan Ceo: Mantan Istriku Ternyata Konglomerat

Penyesalan Ceo: Mantan Istriku Ternyata Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Anak Genius / CEO
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Finus Ina

"Tandatangani ini dan pergilah dari rumahku! Anak haram di rahimmu itu bukan darah dagingku!"Devan Mahendra, CEO dingin penguasa bisnis kota, melempar surat cerai tepat di wajah Anya. Terhasut oleh fitnah kejam, Devan mengusir Anya yang sedang hamil tua di tengah badai malam. Anya pergi membawa luka sedalam lautan dan dianggap tewas dalam kecelakaan tragis

Lima tahun berlalu. Devan hidup dalam penyesalan setelah kebenaran terungkap. Namun, dalam sebuah perjamuan bisnis kelas atas, sosok wanita yang sangat mirip dengan mendiang istrinya muncul. Dia bukan lagi Anya yang miskin dan penurut, melainkan Anastasia Wijaya, putri tunggal pewaris takhta keluarga terkaya nomor satu, didampingi sepasang anak kembar yang berwajah sangat mirip dengan Devan

Saat Devan berlutut memohon ampun, Anya hanya tersenyum dingin, "Maaf, Tuan Mahendra. Anda salah orang."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finus Ina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 23

happy reading guys

Bab 23: Perburuan Siska

Atmosfer keharuan yang baru saja menyelimuti ruang ICU terisolasi itu menguap tanpa bekas dalam satu ketukan detik yang krusial.

Berita mengenai kaburnya Siska Amalia dari mobil tahanan baja milik kejaksaan laksana hembusan angin sedingin es yang kembali membekukan ketenangan Anastasia Wijaya.

Sepasang netra indahnya berkilat tajam memancarkan kembali aura otoritas seorang pimpinan tertinggi Wijaya Corps yang tak tertandingi.

"Bagaimana bisa sistem pengawalan kejaksaan sekorup itu, Hendra?!"

desis Anastasia, suaranya merendah hingga ke titik beku, memancarkan kemurkaan seorang ibu yang insting protektifnya kembali terusik.

"Siska sudah kehilangan seluruh aset finansialnya. Samuel dan Paman Kornelius juga sudah berada di balik jeruji besi. Siapa lagi kelompok bersenjata yang memiliki kekuatan untuk membajak mobil tahanan di jalur arteri kota?!"

"Kami sedang menyelidiki manifes persenjataan mereka, Nona,"

Sekretaris Hendra menjawab dengan peluh dingin yang membasahi keningnya.

"Namun, analisis awal tim intelijen menunjukkan bahwa para pelaku adalah tentara bayaran dari jaringan hitam internasional yang kontraknya telah dilunasi oleh Samuel melalui rekening lepas pantai di Swiss, tepat beberapa jam sebelum pengadilan bursa efek dibuka pagi tadi. Siska tidak melarikan diri untuk bersembunyi... wanita itu sengaja dilarikan karena ia memegang kode akses darurat menuju sisa dana likuiditas Amalia yang belum sempat kita sita."

Mendengar penjelasan Hendra, Devan Mahendra yang masih terbaring lemah di atas ranjang perawatan mendadak mencengkeram kuat sisi pembatas besi ranjang.

Meskipun rasa nyeri yang teramat sangat menjalar dari perut kirinya akibat jahitan operasi yang menegang, sepasang netra elang sang CEO memancarkan ketetapan hati yang teramat dingin dan mematikan.

Pria itu perlahan melepaskan selang oksigen dari hidungnya secara mandiri, mengabaikan tatapan cemas dari tim perawat yang masih bersiaga di sudut ruangan.

"Siska tidak akan melarikan diri ke luar negeri sebelum dia melayangkan belati terakhirnya kepada kita, Anya..."

suara bariton Devan terdengar begitu dalam, serak, namun sarat akan analisis taktis seorang singa bisnis yang tahu betul bagaimana isi kepala mantan selingkuhannya itu.

Devan menolehkan kepalanya secara perlahan ke arah Rian yang berdiri tegap di balik pintu kaca.

"Rian! Masuk ke sini sekarang!" perintah Devan dengan nada suara yang penuh penekanan mutlak.

Rian dengan sigap merangsek masuk, membungkuk hormat sedalam-dalamnya di depan ranjang atasannya.

"Saya di sini, Tuan Besar."

"Hubungi kepala jaringan hitam (underground) Mahendra Group di sektor pelabuhan tikus utara dan seluruh bandara perbatasan swasta malam ini juga,"

titah Devan, sepasang matanya berkilat memancarkan perintah perburuan berskala raksasa.

"Aktifkan protokol Red Alert. Perintahkan seluruh informan bawah tanah kita untuk mengunci setiap jalur keluar dari Kota Jakarta. Saya tidak peduli berapa ratus miliar biaya yang harus kita keluarkan dari dana darurat korporasi. Cari mobil pelarian mereka, lacak setiap transaksi komunikasi nirkabel yang mereka gunakan, dan bawa Siska Amalia kembali ke hadapan saya dalam kondisi hidup atau mati!"

"Baik, dimengerti, Tuan Besar! Perintah eksekusi akan segera disebarkan dalam waktu lima menit!" jawab Rian dengan sikap tegas sebelum berbalik cepat untuk mengoordinasikan tim keamanan Mahendra Group yang berada di luar.

Anastasia menatap Devan dengan pandangan mata yang kompleks.

Aliansi batin yang baru saja terjalin di antara mereka kini dipaksa bertransformasi menjadi barikade pertahanan berskala penuh demi melindungi keselamatan Alta dan Arka.

Anastasia melangkah mendekati posisi kedua putra kembarnya, merangkul erat bahu mungil mereka di bawah dekapannya sendiri.

"Hendra, perketat pengamanan di kediaman utama Keluarga Wijaya menjadi tingkat maksimal," perintah Anastasia tanpa mengalihkan pandangannya dari Alta yang tampak menatapnya penuh ketenangan.

"Pindahkan Alta dan Arka ke dalam bungker perlindungan internal di bawah pengawalan dua puluh empat jam dari dua peleton pasukan elit Wijaya Corps. Jangan biarkan ada satu pun kendaraan atau orang asing yang mendekati perimeter rumah dalam radius satu kilometer."

Alta perlahan mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata Anastasia dengan ketajaman netra elangnya yang melampaui usianya.

"Mami... wanita ular itu tidak akan berani menyerang rumah Kakek yang dijaga ketat. Jika dia sudah gila karena kehilangan segalanya... target utamanya malam ini bukanlah tempat tinggal kita."

Mendengar kalimat analisis yang luar biasa genius dari putra sulungnya yang baru berusia empat tahun, Devan dan Anastasia seketika tercekat bersamaan.

Otak gifted Alta rupanya mampu membaca arah pergerakan musuh dengan begitu cepat.

"Alta... apa maksudmu, Sayang?"

Anastasia mengernyitkan dahinya, mencoba menstabilkan getaran kecemasan di dalam suaranya.

"Wanita jahat itu tahu bahwa Ayah sedang terluka dan tidak bisa bergerak di rumah sakit ini," jawab Alta

dengan nada suara yang begitu datar namun sarat akan logika batin yang matang.

"Dia tahu Mami pasti akan membagi fokus pengawalan antara rumah dan rumah sakit. Rumah sakit ini... adalah tempat yang paling mudah diserang jika dia ingin menghancurkan kita dalam satu kali diculik."

Deg!

Darah Anastasia seolah berhenti mengalir seketika mendengar penuturan putra sulungnya.

Kesadaran itu menghantam telak logika taktisnya bagaikan gada besi yang menghancurkan sisa pertahanannya. Alta benar.

Rumah Sakit Pusat Jakarta yang luas dengan ribuan akses masuk bagi publik adalah titik terlemah dalam barikade pertahanan mereka malam ini.

Siska yang jiwanya telah gila akibat kebangkrutan mutlak pasti akan memilih melakukan aksi nekat terakhir untuk membantai Devan atau menyergap Anastasia di area medis ini sebelum melarikan diri.

Devan menyunggingkan senyum tipis yang penuh rasa bangga yang teramat luar biasa di balik wajah pucatnya.

Karakter pelindung dan ketajaman logika Alta benar-benar merupakan replika sempurna dari dirinya sendiri dalam versi yang jauh lebih berwibawa.

"Hendra! Ubah rencana pengamanan sekarang juga,"

Devan memotong pembicaraan dengan suara baritonnya yang menggelegar tenang meskipun tubuhnya sedang sekarat.

"Jangan pindahkan anak-anak ke rumah utama Wijaya. Biarkan mereka tetap berada di lantai VIP rumah sakit ini bersama Anastasia. Kita ubah seluruh lantai perawatan ICU ini menjadi benteng maut yang terisolasi."

Devan menatap Hendra dengan tatapan mata yang tidak menerima bantahan sedikit pun dari siapa pun.

"Kerahkan seluruh pasukan bersenjata dari Wijaya Corps untuk menyamar sebagai staf medis dan petugas jaga di setiap sudut koridor lift. Kita biarkan Siska dan para tentara bayarannya berpikir bahwa rumah sakit ini adalah celah yang lemah. Begitu mereka melangkah kaki masuk ke dalam area lantai ini... kita kunci seluruh pintu akses elektronik dan kita selesaikan seluruh permainan berdarah ini di tempat ini seutuhnya."

Aliansi penguasa tingkat tinggi antara Anastasia Wijaya dan Devan Mahendra kini telah resmi menggeser papan catur pertempuran dari bursa efek menuju ranah pertarungan fisik yang mematikan.

Di bawah arahan taktis Devan yang genius dan dukungan militer mutlak dari kekuasaan Wijaya Corps, lantai ICU Rumah Sakit Pusat Jakarta perlahan mulai bertransformasi menjadi sebuah perangkap maut senyap yang siap menerkam siapa pun yang berani mengusik keselamatan keluarga mereka.

Waktu terus merambat dengan kejam membelah kegelapan malam yang kian pekat di Kota Jakarta.

Di sudut lain kota, di dalam sebuah van hitam yang melaju tanpa lampu di jalur tikus pinggiran pelabuhan, Siska Amalia duduk dengan pakaian oranye narapidana yang robek, jemarinya meremas sebilah senjata api otomatis dengan tatapan mata yang dipenuhi kegilaan dan dendam kesumat yang amat sangat.

Wanita ular itu sama sekali tidak menyadari, bahwa setiap langkah kaki pelariannya kini justru sedang digiring secara perlahan menuju tiang gantungan maut terdalam yang sudah dipersiapkan oleh aliansi Anastasia dan Devan dari balik bayang-bayang rumah sakit.

Bersambung......

1
Ifana
padahal kk nya dipenjara, siapa orang dibalik menghilang nya Siska 🤔
Anonim
AWOKAWOK CERITA BALIKAN LAGI AWOKAWOK LAWAK
Finus Ina
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!