NovelToon NovelToon
Penyesalan Ceo: Mantan Istriku Ternyata Konglomerat

Penyesalan Ceo: Mantan Istriku Ternyata Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Anak Genius / CEO
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Finus Ina

"Tandatangani ini dan pergilah dari rumahku! Anak haram di rahimmu itu bukan darah dagingku!"Devan Mahendra, CEO dingin penguasa bisnis kota, melempar surat cerai tepat di wajah Anya. Terhasut oleh fitnah kejam, Devan mengusir Anya yang sedang hamil tua di tengah badai malam. Anya pergi membawa luka sedalam lautan dan dianggap tewas dalam kecelakaan tragis

Lima tahun berlalu. Devan hidup dalam penyesalan setelah kebenaran terungkap. Namun, dalam sebuah perjamuan bisnis kelas atas, sosok wanita yang sangat mirip dengan mendiang istrinya muncul. Dia bukan lagi Anya yang miskin dan penurut, melainkan Anastasia Wijaya, putri tunggal pewaris takhta keluarga terkaya nomor satu, didampingi sepasang anak kembar yang berwajah sangat mirip dengan Devan

Saat Devan berlutut memohon ampun, Anya hanya tersenyum dingin, "Maaf, Tuan Mahendra. Anda salah orang."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finus Ina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 24

happy reading guys

------------------------------

Master Bab 24: Keheningan di Balik Badai

Jarum jam dinding di ruang ICU terisolasi itu telah melewati pukul dua dini hari.

Kesunyian yang pekat mendadak menelan seluruh koridor lantai VIP Rumah Sakit Pusat Jakarta, menyisakan bunyi ritmis dari mesin patient monitor yang mengawal detak jantung Devan Mahendra. Di luar,

fajar masih jauh dari jangkauan, dan langit malam Jakarta tampak kian pekat seolah sedang menyembunyikan badai bahaya yang tengah mengintai dari kegelapan kota.

Di sofa sudut ruangan, Alta dan Arka telah tertidur lelap di bawah selimut tebal yang disiapkan oleh perawat.

Sementara itu, Anastasia Wijaya masih duduk mematung di kursi samping ranjang perawatan.

Sepasang netra indahnya menatap kosong ke arah jemari tangan Devan yang sejak tadi enggan ia lepaskan seutuhnya.

Ada pergolakan batin yang teramat hebat yang sedang meruntuhkan sisa-sisa pertahanan egonya malam ini.

Devan perlahan menolehkan kepalanya, menatap wajah tirus Anastasia yang tampak begitu lelah di bawah temaram lampu darurat ruangan.

"Anya... tidurlah sejenak. Pengawal Wijaya Corps dan anak buah Rian sudah mengunci seluruh lantai ini. Kamu aman di sini,"

suara bariton Devan terdengar begitu lirih, serak, namun sarat akan kehangatan yang telah lama hilang.

Anastasia menarik napas panjang secara perlahan, mencoba meredam getaran emosional yang mendadak merayap di ulu hatinya.

Ia menegakkan tubuhnya, menatap langsung ke dalam manik mata elang Devan dengan pandangan yang kompleks.

"Bagaimana aku bisa tidur, Devan, sementara wanita ular yang telah menghancurkan hidup kita lima tahun lalu kini berkeliaran bebas di luar sana?" desis Anastasia, suaranya merendah penuh dengan penekanan batin yang matang.

"Dan yang paling membuatku tidak mengerti... kenapa kamu harus menyembunyikan semua kebenaran ini selama tiga tahun? Jika kamu sudah tahu Siska yang menjebakku, kenapa kamu tidak mengatakannya padaku sejak dulu?"

Devan menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan kepedihan penyesalan terdalam dari balik wajah pucatnya.

Ia meremas lemah jemari tangan Anastasia, membiarkan air mata yang selama bertahun-tahun ini ia tahan akhirnya merembes keluar dari sudut netranya.

"Karena malam itu... saat Rian membawa kabar bahwa bus yang kamu tumpangi meledak dan terbakar habis, saya mengira kamu sudah tiada, Anya," bisik Devan dengan suara yang tercekat menahan tangis.

"Dunia saya hancur seutuhnya dalam satu kedipan mata. Selama dua tahun pertama, saya hidup bagaikan mayat hidup yang menggilai pekerjaan hanya untuk melarikan diri dari bayang-bayang dosa saya sendiri."

Devan memejamkan matanya sejenak, menahan denyut perih yang membakar dari jahitan luka operasi di perut kirinya demi melanjutkan kalimatnya.

"Lalu, saat tim detektif saya berhasil menemukan rekaman kamera pengawas hotel yang asli dan bukti transaksi fitnah Siska tiga tahun lalu... rasa penyesalan itu berubah menjadi monster yang menggerogoti kewarasan saya setiap malam. Saya tidak mengatakannya kepada dunia karena bagi saya, menghancurkan Siska secara instan lewat jalur hukum terlalu mewah untuk kejahatan yang telah ia lakukan padamu."

Devan membuka kembali netranya, memancarkan kilat ketajaman seorang CEO yang telah mengorbankan seluruh hidupnya demi sebuah penebusan dosa.

"Saya sengaja menjadikannya Direktur Pemasaran, membiarkannya merasa menang, dan menuntunnya secara perlahan untuk memasukkan seluruh modal keluarganya ke dalam proyek-proyek Mahendra Group yang sudah saya kunci. Saya ingin dia merasakan bagaimana rasanya kehilangan segala hal yang paling ia banggakan dalam hidupnya... sama seperti saat ia merebutmu dari hidupku. Aku melakukan semua kegilaan ini selama tiga tahun... demi membalaskan setiap tetes air mata yang kamu keluarkan di malam pengusiran itu, Anya."

Anastasia mematung seutuhnya, seluruh kalimat makian yang sudah ia siapkan di dalam kepalanya mendadak menguap tanpa bekas.

Air matanya kembali mengalir deras melewati pipinya yang semula pias.

Kenyataan bahwa Devan telah menghabiskan tiga tahun hidupnya dalam kegelapan batin demi merancang pembalasan dendam yang sistematis untuk dirinya, menghantam telak seluruh dinding kebencian yang ia pelihara selama di Singapura.

"Kamu bodoh, Devan Mahendra..." suara Anastasia bergetar hebat di sela-sela isak tangisnya yang pecah.

"Kamu menghancurkan Mahendra Group, mengorbankan nyawamu di tangga darurat, dan sekarang menyerahkan seluruh aset bersih untuk si kembar... Apa kamu mengira semua harta itu bisa menghapus ingatan tentang dinginnya aspal jalanan di malam kamu membuangku?!"

"Tidak, Anya... harta itu tidak akan pernah bisa menghapus dosaku,"

Devan memotong dengan nada suara yang tertata rapi, penuh ketetapan hati seorang ksatria sejati yang telah berserah pada takdirnya.

"Harta itu adalah jaminan masa depan untuk Alta dan Arka agar mereka tidak perlu mengalami penderitaan seperti ibunya dulu. Dan jika sisa napas serta darah saya di tangga darurat kemarin belum cukup untuk membayar luka di hatimu... saya bersedia membiarkan Siska menusuk jantung saya malam ini, asalkan kamu dan anak-anak bisa hidup tenang seumur hidup kalian."

Mendengar pengakuan yang begitu jujur dan sarat akan kepasrahan cinta yang mendalam dari Devan, Anastasia tidak mampu menahan jarak batinnya lagi.

Ia menjatuhkan wajahnya di atas lengan tegap Devan, menangis sejadi-jadinya meluapkan seluruh trauma masa lalu yang akhirnya mencair malam itu.

Devan menggerakkan tangan kanannya yang bebas, mengusap lembut helai rambut Anastasia dengan pendaran kehangatan yang meruntuhkan sisa jarak di antara mereka.

Lembaran penderitaan lima tahun kini telah resmi selesai, menyisakan aliansi hati yang baru di balik keheningan ruang medis.

Namun, ketenangan sakral di tengah malam buta itu mendadak hancur berkeping-keping dalam satu hentakan detik yang mematikan.

Jep!

Seluruh pendaran lampu utama di dalam ruang ICU terisolasi seketika mati total, menenggelamkan seisi ruangan ke dalam kegelapan malam yang pekat dan mencekam.

Lampu indikator mesin monitor detak jantung pun mendadak beralih menggunakan daya baterai darurat yang memancarkan cahaya redup berwarna kuning pekat.

Bzzz... Bzzz... Bzzz...

Belum sempat Anastasia menegakkan tubuhnya akibat terkejut, suara sirine pendek tanda bahaya dari sistem keamanan internal lantai VIP mendadak bergetar halus melalui perangkat nirkabel di saku jasnya.

Brak!

Pintu elektronik ruang ICU dipaksa didorong terbuka secara manual dari arah luar.

Cahaya senter taktis yang tajam menyorot masuk, menampilkan sosok Sekretaris Hendra yang merangsek masuk dengan raut wajah yang dipenuhi horor yang teramat nyata.

Di belakangnya, dua pengawal unit taktis Wijaya Corps langsung memasang posisi tiarap dengan senjata laras pendek yang sudah terkokang sempurna mengarah ke lorong luar.

"Nona Anastasia, Tuan Devan! Mereka sudah tiba!"

bisik Hendra dengan napas yang memburu panik, suaranya ditekan serendah mungkin di tengah kegelapan.

"Seseorang baru saja memotong kabel serat optik utama di lantai bawah dan melumpuhkan tiga petugas jaga di koridor lift VIP menggunakan senapan peredam suara! Saluran ventilasi udara di ujung koridor baru saja mendeteksi adanya pergerakan siber asing! Siska dan para tentara bayarannya... telah resmi melangkah masuk ke dalam perimeter lantai ini!"

________

Bersambung......

1
Iffanaya 😽
perasaan ujian mereka gk ada habisnya, semoga mereka semua selamat gk ada yg terluka 🥺
Mboke Pratama
jadi kayak cerita mafia🤭
Finus Ina
baca bab selanjutnya yaa
Mboke Pratama
lanjut
fia ss
bukannya di bab sebelumnya, Siska udah mati yaaa Thor??
Iffanaya 😽
padahal kk nya dipenjara, siapa orang dibalik menghilang nya Siska 🤔
Anonim
AWOKAWOK CERITA BALIKAN LAGI AWOKAWOK LAWAK
Finus Ina
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!