Di rumah megah keluarga Pramoedya, Nadia bukanlah siapa-siapa. Statusnya mengambang. Bukan sekadar pembantu, tapi juga tak sepenuhnya dianggap sebagai anak angkat. Demi bisa bertahan hidup dan membiayai kuliahnya, Nadia rela memeras keringat dari pagi buta hingga larut malam, mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tanpa mengeluh. Hingga malam jahanam itu tiba...Saat jam dinding menunjukkan tengah malam, Nadia yang baru sempat membersihkan kamar mandi akibat jadwal kuliahnya yang padat, dikejutkan oleh kepulangan Axel, putra tunggal sang majikan. Axel pulang dalam keadaan mabuk berat, kehilangan akal sehat, dan menyimpan amarah terpendam.
Dalam kegelapan malam dan di bawah pengaruh alkohol, Axel melompati batas yang tak seharusnya. Dia memaksa Nadia, menodai kesucian gadis itu dalam sebuah malam penuh tangis yang tak akan pernah bisa dimaafkan. Dan satu malam itu mengubah segalanya. Nadia hamil. Bukannya mendapatkan pertanggungjawaban, dia justru di campakkan dan diusir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 6. Tawaran di tepi Jalan
Pintu gerbang besi yang menjulang tinggi itu berdentang menutup di belakang tubuh Nadia. Bunyi logam yang beradu seolah menjadi batas pemisah mutlak bahwa kehidupannya di rumah keluarga Pramoedya telah benar-benar berakhir. Nadia melangkah keluar ke jalanan aspal kompleks elite dengan tubuh yang bergetar menahan rasa sakit luar biasa. Tangan kanannya mencengkeram erat tali tas ransel tua yang lusuh dan tampak terlalu berat untuk bahunya yang sempit. Setiap kali kaki kanannya menapak, rasa nyeri yang menusuk dari pergelangan kaki yang keseleo memaksa Nadia berjalan dengan terseok-seok. Langkahnya pincang, lambat, dan penuh penderitaan. Di balik jaketnya yang dikancing rapat, jiwanya merintih meratapi kesucian yang dirampas paksa dalam satu malam jahanam.
Di lantai dua rumah megah itu, di balik kaca jendela kamarnya yang besar, Axel berdiri mematung. Pria itu menyembunyikan kedua tangannya di dalam saku celana, matanya terkunci pada siluet tubuh kurus Nadia yang semakin mengecil di kejauhan. Wajah Axel tampak pucat dan rahangnya mengeras. Ada badai penyesalan yang samar di dalam dadanya, namun keegoisan, ketakutan akan kehilangan takhta pewaris, serta harga dirinya yang tinggi menahan kakinya untuk tidak berlari mengejar gadis itu. Dia hanya diam, membiarkan Nadia pergi membawa seluruh noda dan penderitaan sendirian.
Setelah menempuh jarak yang terasa seperti ribuan kilometer dengan kaki yang cedera, Nadia akhirnya ambruk di sebuah bangku panjang yang ada di pinggir jalan umum, tepat di sebelah halte bus yang sepi. Ia menurunkan tas ranselnya ke atas tanah dengan lemas. Tubuhnya benar-benar kehabisan daya, namun pikirannya justru berputar dengan sangat liar.
Nadia menatap jalanan yang mulai ramai oleh kendaraan, lalu perlahan meraba saku jaketnya dan mengeluarkan amplop tebal pemberian Bi Sumi. Ketika dia menghitung lembaran uang di dalamnya, air matanya kembali menetes pelan. Uang pesangon ini memang cukup jika hanya digunakan untuk membayar uang muka sewa kamar kos kecil pinggiran kota seperti yang dilakukan oleh mahasiswa-mahasiswa merantau lainnya. Dia bisa mendapatkan tempat bernaung dari hujan dan terik matahari. Namun, setelah itu apa?
Ketakutan yang teramat besar mulai mencekik dada Nadia saat ia menyadari kenyataan pahit di depannya. Selama bertahun-tahun tinggal di rumah keluarga Pramoedya, meski dia diperlakukan seperti pembantu tanpa gaji, setidaknya seluruh biaya kuliahnya, biaya transportasi, serta makan sehari-harinya ada yang menanggung. Segala kebutuhan hidupnya terjamin dari sisa kebaikan Tuan Pramoedya.
Kini, penopang itu telah runtuh. Jika uang pesangon ini habis digunakan untuk membayar kos, bagaimana dengan uang kuliahnya semester depan? Bagaimana dia bisa membayar transportasi untuk pergi ke kampus setiap hari? Dari mana dia akan mendapatkan uang untuk sekadar membeli sebutir nasi dan lauk demi mengisi perutnya yang kosong?
Beasiswa prestasinya memang menutupi sebagian biaya, tetapi biaya operasional kuliah dan hidup di kota besar ini teramat menguras kantong. Tanpa pekerjaan, tanpa tempat bersandar, dan dengan kondisi fisik yang pincang serta trauma psikis yang mendalam, Nadia merasa dunianya benar-benar runtuh hingga ke dasar yang paling gelap. Dia sendirian, tersesat di tengah hiruk-pikuk dunia, memeluk kehancurannya sendiri di atas bangku pinggir jalan.
**
Bremmm... bremm!
Suara raungan mesin dua tak yang bising dan memekakkan telinga tiba-tiba memecah lamunan Nadia. Sebuah sepeda motor RX-King hitam legam berpijar di bawah terik matahari, berhenti tepat di depan bangku pinggir jalan tempat Nadia terduduk lesu. Aroma asap knalpot bercampur dengan bau cengkeh menyengat seketika memenuhi udara di sekitarnya.
Nadia tersentak, refleks beringsut mundur dan meremas tali tas ranselnya erat-erat. Ketakutan baru menjalar di dadanya saat melihat sosok yang menunggangi motor tersebut.
Pria itu berpenampilan layaknya seorang bad boy. Di balik helmnya yang tidak berkaca, terlihat rambut hitamnya yang sedikit gondrong diikat rapi ke belakang. Daun telinga kirinya dihiasi sepasang tindikan hitam kecil yang kontras dengan kulitnya, dan sebuah rokok yang masih menyala terselip di antara jari-jarinya. Dari tatapan matanya yang tajam di balik kepulan asap rokok, ia menatap Nadia dari ujung kepala hingga ujung kaki, memperhatikan jaketnya yang dikancing rapat, tas ransel tuanya, serta pergelangan kaki kanannya yang membengkak parah.
Pria itu menghisap rokoknya dalam-dalam, menghembuskan asapnya ke udara, lalu mematikan mesin motornya. Ia menatap Nadia dengan wajah datar tanpa ekspresi.
"Baru dari kampung ya?" tanya pria itu tiba-tiba. Suaranya terdengar berat dan dingin.
Nadia membeku, tidak berani menyahut. Jantungnya berdegup kencang karena mengira pria ini adalah preman jalanan yang ingin berniat jahat padanya.
Melihat Nadia yang hanya diam ketakutan dengan mata yang sembab, pria gondrong itu kembali bersuara. "Atau... baru diusir karena kos-kosan nggak bisa bayar?" ucapnya lagi.
Nadanya terdengar sangat lempeng dan dingin, namun anehnya, tidak ada nada mengejek atau merendahkan di dalam untaian kalimatnya. Itu adalah jenis pertanyaan blak-blakan dari seseorang yang sudah terlalu sering melihat kerasnya kehidupan di jalanan kota besar.
Nadia semakin mencengkeram tas ransel di pangkuannya, tubuhnya gemetaran, dan ia membuang muka tak berani membalas tatapan pria asing tersebut. Pikirannya yang terlanjur trauma akibat kejadian malam jahanam bersama Axel, membuat Nadia secara otomatis menganggap semua pria asing di dekatnya sebagai ancaman yang menakutkan.
Pria itu kembali menatap Nadia yang masih gemetaran. Dengan sikap yang teramat santai, ia mengetukkan sisa abu rokoknya ke aspal, lalu kembali bersuara.
"Kalau memang kamu baru datang dari kampung, atau habis diusir dari kos-kosan karena nggak bisa bayar... di tempatku tinggal ada satu paviliun kosong," ucap pria itu lempeng.
Nadia sedikit mendongak, menatap ragu dari balik sela-sela rambutnya yang berantakan.
"Nggak besar, kecil. Tapi cukuplah untuk bernaung, daripada kamu duduk terlantar di sini," lanjut si pengendara RX-King, melirik sekilas ke arah langit yang mulai terik. "Kamu nggak tahu saja, di sekitaran sini kalau sore panasnya minta ampun, belum lagi kalau tiba-tiba kehujanan. Banyak orang jahat juga lewat daerah sini."
Pria dengan rambut gondrong itu membuang puntung rokoknya yang sudah habis ke tanah, lalu menginjaknya dengan ujung sepatu botnya yang tampak usang. Ia kembali memegang setang motornya, bersiap untuk pergi.
"Kalau mau, ayo ikut. Kalau nggak mau, ya sudah," katanya dengan nada acuh tak acuh, seolah sama sekali tidak peduli apakah Nadia menerima tawarannya atau tidak. Tidak ada paksaan, tidak ada rayuan manis yang mencurigakan. Sikapnya benar-benar cuek, tipikal orang jalanan yang menawarkan bantuan tanpa mau repot, lebih seperti memberi pilihan hidup mati bagi Nadia yang sedang terlantar.
Nadia terdiam di tempatnya, menatap roda motor RX-King yang besar itu dengan batin yang berkecamuk hebat. Di satu sisi, ia ketakutan setengah mati dengan penampilan pria asing ini. Namun di sisi lain, ucapan pria itu ada benarnya. Hari semakin siang, kakinya bengkak, dan dia benar-benar tidak punya arah tujuan di kota besar yang kejam ini.
Nadia menatap roda motor RX-King yang bergumam pelan di depannya, lalu beralih menatap pemuda berambut gondrong itu. Batinnya bergejolak hebat, menimbang-nimbang antara rasa takut dan kenyataan pahit yang baru saja ia lalui.
Sebuah tawa getir bergaung di dalam hatinya. Selama bertahun-tahun, ia tinggal bersama keluarga terhormat seperti Tuan Pramoedya dan Nyonya Sarah. Mereka adalah orang-orang dari kelas atas, berpendidikan tinggi, berpenampilan rapi, dan selalu berbicara tentang sopan santun serta kehormatan di depan publik. Bahkan Axel, sang tuan muda yang tampan dan modis, selalu terlihat seperti pria terhormat dari luar.
Namun, bagaimana perbuatan mereka pada dirinya? Nyatanya, di balik topeng kemewahan dan etiket kelas atas itu, mereka justru tega menodai, memfitnah, dan membuangnya seperti sampah tanpa ampun.
Nadia tersenyum pahit. Jika orang-orang yang berpakaian jas mahal saja bisa bertindak sekejam binatang, mengapa ia harus begitu takut pada pemuda jalanan bertindik ini? Paling tidak, pemuda di atas motor RX-King ini berbicara jujur dan apa adanya tanpa kepalsuan.
Nadia melirik pergelangan kakinya yang semakin membengkak dan terasa kaku. Dengan uang yang harus ia hemat dan tubuh yang hancur, ia sadar betul bahwa dirinya tidak punya pilihan lain. Di kota sekasar ini, tawaran tempat bernaung, meski sekecil apapun tidak akan mungkin datang untuk kedua kalinya bagi gadis terlantar seperti dirinya. Jika ia menolak, malam nanti ia mungkin akan menghadapi bahaya yang jauh lebih mengerikan di emperan jalan.
Sambil menahan napas dan mencengkeram erat tali tas ransel tuanya, Nadia akhirnya mengangguk pelan.
"B-baik... saya mau," bisik Nadia, suaranya pelan namun mantap.
Pemuda gondrong itu tidak tersenyum ataupun bersorak. Ia hanya mengangguk sekali, seolah sudah menduga keputusan itu, lalu mematikan rokoknya dan memiringkan motornya agar Nadia bisa naik. "Naik. Taruh tasmu di tengah," ucapnya dingin seperti biasa, membiarkan Nadia dengan kaki pincangnya bersiap memulai lembaran hidup baru yang jauh dari cengkeraman keluarga Pramoedya.
***