"Hana mengorbankan kariernya sebagai otak di balik kesuksesan 3 cabang Rumah Makan demi menjadi ibu rumah tangga seutuhnya. Namun, pengorbanannya dibalas dengan siksaan mental dari mertua cerewet dan perubahan sikap Adrian, suaminya yang perlahan kembali ke tabiat aslinya sebagai playboy.
Semuanya menjadi makin runyam saat mereka membawa pulang seorang baby sitter muda nan cantik dari kampung halaman. Di depan Hana dia adalah pengasuh yang lugu, namun di depan Adrian, dia adalah penggoda yang siap merebut semua yang telah Hana bangun dengan tetesan keringat. Saat Hana sadar dia dikhianati di rumahnya sendiri, haruskah dia tetap bertahan, atau mengambil kembali 3 rumah makan yang merupakan haknya dan meninggalkan mereka dalam kemiskinan?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Keringat, Cinta, dan Rahasia Rasa
Bab 1: Keringat, Cinta, dan Rahasia Rasa
Suara gemerincing sudip besi yang beradu dengan wajan besar terdengar bagai musik klasik di telinga Hana. Asap tipis yang membawa aroma gurih dari campuran kemiri sangrai, ketumbar, dan lengkuas menguar hebat, memenuhi dapur utama Rumah Makan "Rasa Hana" Cabang Pertama. Jam dinding menunjukkan pukul sebelas siang, tiga puluh menit lagi sebelum pintu gerbang restoran dibuka, dan ketegangan di area dapur sudah terasa begitu pekat.
"Mbak Hana! Sambal bajak untuk Cabang Dua agak keasinan! Kepala koki di sana panik, mereka takut komplain pelanggan seperti bulan lalu!" seru Joko, salah satu pegawai senior, sambil berlari membawa semangkuk kecil sambal berwarna merah menyala.
Hana tidak panik. Wanita berusia 26 tahun itu tetap tenang. Ia mengambil sendok kecil, mencicipi sedikit sambal di ujung lidahnya, lalu tersenyum tipis. "Ini bukan keasinan karena garam, Jok. Ini karena terasinya terlalu matang saat disangrai, jadi rasa asinnya mengunci lidah. Sini, ambilkan gulan aren cair dan perasan jeruk nipis murni. Kita imbangi rasanya, jangan ditambah air nanti aromanya mati."
Tangan Hana dengan cekatan menuangkan takaran yang pas tanpa perlu timbangan. Setelah diaduk ulang, ia menyodorkannya kembali ke Joko. "Coba lagi."
Mata Joko langsung berbinar setelah mencicipinya. "Luar biasa! Mbak Hana memang punya lidah emas. Kalau bukan Mbak Hana yang pegang kendali bumbu inti, tiga cabang kita ini pasti sudah limbung sejak lama."
Hana tersenyum tulus, meskipun rasa lelah yang teramat sangat mulai menjalar di punggungnya. Lima tahun lalu, "Rasa Hana" hanyalah sebuah warung tenda pinggir jalan yang kerap digusur satpol PP. Hana ingat betul bagaimana jemarinya sampai melepuh karena mengulek berilo-kilo cabai secara manual, sementara Adrian—suaminya yang tampan—berdiri di tepi jalan dengan peluh bercucuran untuk membagikan brosur kertas kepada para pengendara yang lewat. Mereka merintis semuanya dari nol, dari modal nikah yang pas-pasan, hingga kini sukses memiliki tiga cabang megah yang selalu antre di pusat kota. Hana adalah otak, lidah, dan jantung dari bisnis ini.
"Sayang, kenapa masih di dapur yang panas ini?"
Sebuah suara berat nan bariton memecah kesibukan. Adrian berjalan masuk ke dapur utama. Penampilannya sangat kontras dengan para pekerja dapur yang bersimbah keringat. Adrian mengenakan kemeja satin hitam melekat pas, mengekspos bentuk tubuh bidangnya yang atletis, lengkap dengan jam tangan mewah yang berkilau di bawah lampu neon. Di usianya yang menginjak 28 tahun, ketampanan Adrian yang matang dan karismatiknya sebagai pemilik restoran sukses selalu berhasil memikat siapapun—termasuk para pelanggan wanita yang kerap mencuri pandang ke arah meja kasir.
Adrian berjalan mendekati Hana dari belakang. Tanpa peduli pada noda minyak yang menempel di celemek Hana, tangan kokohnya merayap perlahan ke pinggang ramping sang istri, menarik tubuh Hana hingga punggungnya menempel erat pada dada bidang Adrian.
"Mas, geli... banyak anak-anak," bisik Hana pelan, wajahnya merona merah sembari mencoba melepaskan diri dari dekapan hangat itu.
Adrian justru terkekeh rendah, suaranya serak di ceruk leher Hana. Ia mengabaikan tatapan segan dari Joko dan beberapa asisten koki yang sengaja memalingkan wajah. Adrian mendekatkan bibirnya ke telinga Hana, mengendus aroma tubuh istrinya yang bercampur dengan wangi bumbu dapur. "Aroma ketumbar dan bawang ini... entah kenapa jika melekat di kulitmu, selalu berhasil membuatku lapar dalam arti yang berbeda, Han," bisik Adrian penuh gairah, jemarinya meremas lembut pinggang Hana, memberikan tekanan intim yang membuat detak jantung Hana berdesir hebat.
Hana selalu lemah jika Adrian sudah menunjukkan sisi dominan dan penuh gairah seperti ini. Baginya, sentuhan Adrian adalah obat penawar paling mujarab dari segala rasa lelahnya mengurus bisnis harian.
"Malam ini, kita tidak usah pulang ke rumah cepat-cepat, ya?" bisik Adrian lagi, bibirnya menyapu lembut kulit bahu Hana yang sedikit terekspos karena kerah kaosnya yang melonggar. "Aku sudah meminta sekretarisku untuk mengosongkan jadwalku setelah jam makan malam. Aku ingin kita menghabiskan waktu berdua... di ruang kerja atas."
Hana hanya bisa mengangguk pasrah dengan wajah memerah, menenggelamkan diri dalam pesona suaminya yang begitu memabukkan. Namun, kebahagiaan dan keintiman yang membara itu seketika meredup ketika sebuah suara langkah kaki yang angkuh terdengar dari arah pintu masuk VIP dapur.
Seorang wanita paruh baya dengan sanggul rapi, mengenakan perhiasan emas yang mencolok di pergelangan tangan dan lehernya, berjalan masuk dengan wajah berkerut masam. Ibu Broto, ibu mertua Hana.
"Astaga, Adrian! Hana!" tegur Ibu Broto dengan suara melengking, memecah suasana intim suami-istri itu. "Kalian ini tidak tahu tempat sekali! Ini dapur, tempat kotor, kenapa malah bermesraan seperti orang kelaparan begitu? Lagipula, Hana... Ibu kan sudah bilang berkali-kali, penampilanmu itu dijaga sedikit!"
Adrian perlahan melepaskan pelukannya dari Hana, sementara Hana langsung membenarkan letak celemeknya dengan gugup. "Ada apa, Ibu? Kok tumben siang-siang ke Cabang Satu?" tanya Adrian dengan nada yang mendadak formal.
Ibu Broto berjalan mendekati Hana, menatap menantunya dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan meremehkan. "Ibu ke sini mau makan siang bersama teman-teman arisan Ibu. Dan Ibu malu, Hana! Lihat dirimu itu. Rambut cuma dicepol asal-asalan, wajah berminyak, bau bawang, pakai kaos oblong longgar yang sudah pudar warnanya. Kamu itu sekarang istri dari Adrian, pengusaha sukses pemilik tiga cabang rumah makan besar! Kalau teman-teman Ibu melihat menantu Ibu penampilannya seperti pelayan dapur begini, mau ditaruh di mana muka Ibu?!"
Hana menunduk, meremas ujung celemeknya yang bernoda. Kalimat ketus itu bukan pertama kalinya ia dengar dari mulut Ibu Broto. Sejak "Rasa Hana" mulai sukses dan menghasilkan miliaran rupiah, sikap mertuanya berubah drastis menjadi sangat serakah, cerewet, dan selalu merasa bahwa kesuksesan ini murni karena kehebatan Adrian dalam mengelola bisnis, seolah melupakan bahwa resep dan modal awal adalah milik Hana.
"Ibu, Hana kan memang harus turun ke dapur untuk memastikan kualitas rasa masakan kita tidak berubah sebelum restoran dibuka..." Hana mencoba menjelaskan dengan suara selembut mungkin, menahan sesak di dadanya.
"Halah! Alasan saja!" potong Ibu Broto dengan kibasan tangan yang angkuh. "Urusan bumbu mah tinggal suruh pegawai gajihan juga bisa! Kamu itu tugasnya cuma berdandan yang cantik, melayani Adrian di rumah, bukan malah betah mendekam di dapur kotor ini sampai badanmu bau sangit! Adrian, kamu sebagai suami harusnya tegas! Jangan biarkan istrimu mempermalukan nama keluarga kita dengan penampilan kumal seperti ini!"
Hana menoleh ke arah Adrian, matanya berkaca-kaca, berharap sang suami yang beberapa detik lalu memeluknya dengan penuh gairah dan cinta akan berdiri membelanya di depan sang ibu.
Namun, Adrian justru mengalihkan pandangannya. Pria itu membetulkan kerah kemeja satin hitamnya, lalu menghela napas panjang. Tatapan matanya yang tadi penuh gairah, kini perlahan berubah menjadi dingin dan dipenuhi rasa risih saat melihat penampilan Hana yang memang tampak kusam di bawah pencahayaan dapur yang terang.
"Ibu benar, Han," ucap Adrian akhirnya, kalimat yang seketika membuat dada Hana terasa seperti dihantam batu besar. "Kamu... sebaiknya mulai mengurangi waktu di dapur. Benar kata Ibu, penampilanmu belakangan ini agak kurang terawat. Aku... aku juga kadang merasa rikuh jika harus mengajakmu bertemu dengan rekan investor kuliner kalau penampilanmu masih bau asap seperti ini."
Deg.
Hana membeku di tempatnya. Kata-kata Adrian barusan terasa jauh lebih menyakitkan daripada seluruh omelan Ibu Broto yang melengking. Pria yang ia temani merintis dari warung tenda kelaparan, pria yang kulitnya pernah melepuh bersamanya demi menghemat biaya pegawai, kini merasa malu melihat penampilan istrinya yang kusam akibat mempertahankan rasa dari bisnis yang membesarkan nama mereka.
Ibu Broto tersenyum sinis, merasa menang karena anaknya berada di pihaknya. Sementara Adrian hanya menepuk bahu Hana sekilas tanpa kehangatan yang tersisa. "Ya sudah, Ibu tunggu di meja VIP atas ya, Mas ganti baju dulu baru kita makan bersama teman-teman Ibu," ujar Adrian lalu melangkah pergi begitu saja bersama ibunya, meninggalkan Hana sendirian di tengah dapur yang mendadak terasa sangat dingin dan asing.
Hana berdiri mematung, menatap punggung suaminya yang perlahan menjauh. Di tengah riuh rendah suara persiapan restoran yang akan dibuka dalam sepuluh menit lagi, sebutir air mata Hana jatuh, menetes tepat di atas wadah bumbu rahasia yang baru saja ia selesaikan. Hana tidak pernah tahu, bahwa penolakan kecil atas penampilannya siang ini adalah awal dari keretakan besar yang sengaja dirancang untuk mendepaknya dari rumah dan dari bisnis yang ia bangun dengan seluruh jiwanya.