NovelToon NovelToon
Overtime With My Enemy

Overtime With My Enemy

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:447
Nilai: 5
Nama Author: Satisuci Ituaku

Aku membenci Damar Wijaya sejak hari pertama bekerja. Bagiku, dia adalah atasan paling menyebalkan yang pernah ada—dingin, arogan, dan selalu mengkritik setiap pekerjaanku.
Sayangnya, sebuah proyek besar memaksa kami lembur bersama setiap malam.
Semakin sering kami bertemu, semakin sulit bagiku mempertahankan kebencian itu. Di balik sikapnya yang menyebalkan, ada sisi Damar yang tidak pernah kulihat sebelumnya.
Namun saat aku mulai membuka hati, sebuah rahasia besar terungkap dan mengubah segalanya.
Bagaimana jika pria yang paling kubenci justru menjadi orang yang paling kucintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Satisuci Ituaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 : Musuh di Balik Meja Kerja

Nara mengembuskan napas panjang begitu pintu lift terbuka di lantai dua puluh lima.

Hari pertama kerjanya belum genap berakhir, tetapi rasanya sudah seperti menjalani satu minggu penuh.

Di tangannya masih tergenggam map tebal yang diberikan Damar beberapa jam lalu.

Ia melirik jam.

Pukul delapan malam.

Sebagian besar karyawan sudah pulang.

Namun beberapa ruangan masih menyala.

Termasuk ruang kerja tim proyek baru yang akan menjadi tempatnya selama tiga bulan ke depan.

"Kenapa aku harus dapat atasan seperti dia?"

gumam Nara pelan.

Ia berjalan menuju halte bus sambil terus memikirkan kejadian siang tadi.

Semakin diingat, semakin kesal rasanya.

Belum apa-apa sudah dipermalukan di depan banyak orang.

Belum lagi tugas yang diberikan.

Siapa yang waras menyuruh karyawan baru mempelajari dokumen setebal itu dalam satu malam?

Benar-benar tidak masuk akal.

Sesampainya di rumah kontrakan kecil yang ia tempati bersama ibunya dan adiknya, Nara langsung disambut aroma masakan.

"Kamu pulang, Nak?"

Ibunya keluar dari dapur sambil tersenyum hangat.

Rasa lelah Nara sedikit berkurang.

"Iya, Bu."

"Gimana hari pertama kerja?"

Nara sempat terdiam.

Kalau jujur, ia ingin mengeluh selama satu jam penuh.

Namun melihat wajah ibunya, ia mengurungkan niat.

"Lumayan."

Ibunya tersenyum lega.

"Syukurlah."

Nara ikut tersenyum.

Meski berat, ia tidak ingin membuat keluarganya khawatir.

Malam itu setelah makan dan membantu membereskan rumah, ia langsung masuk ke kamar.

Map dari Damar kembali ia buka.

Puluhan halaman laporan memenuhi meja kecilnya.

"Astaga..."

Nara memijat pelipis.

Namun ia tetap mulai membaca.

Sedikit demi sedikit.

Halaman demi halaman.

Sampai akhirnya...

Ia menyadari sesuatu.

Proyek ini memang sangat besar.

Jika berhasil, nama seluruh tim pasti akan dikenal perusahaan.

Tidak heran Damar begitu serius.

Meski begitu...

Tetap saja menyebalkan.

---

Keesokan paginya.

Nara datang lebih awal.

Sangat awal.

Ia tidak mau mengulangi kesalahan kemarin.

Ketika tiba di kantor, jam bahkan belum menunjukkan pukul tujuh.

Namun seseorang ternyata datang lebih cepat darinya.

Lampu ruang proyek sudah menyala.

Nara mengernyit.

Pelan-pelan ia mengintip dari kaca.

Dan menemukan sosok yang tidak ingin ia lihat pagi-pagi.

Damar.

Pria itu sedang duduk di depan laptop.

Tumpukan dokumen memenuhi mejanya.

Matanya fokus pada layar.

Seolah tidak mengenal kata istirahat.

Nara memutar mata.

"Rajin sekali."

Ia masuk tanpa berniat menyapa.

Namun suara dingin itu langsung terdengar.

"Anda terlambat dua menit."

Nara hampir tersedak.

"Apa?"

"Jam masuk tim proyek pukul tujuh."

Nara menatap jam dinding.

Tepat pukul tujuh lewat dua menit.

"Karyawan lain bahkan belum datang."

"Anda bagian dari tim inti."

Jawaban singkat itu membuat Nara ingin menjambak rambut sendiri.

"Baik."

Damar mengangkat kepala.

Tatapan mereka bertemu.

Untuk pertama kalinya Nara memperhatikan wajah pria itu lebih lama.

Rahang tegas.

Mata tajam.

Dan ekspresi datar yang seolah menjadi ciri khasnya.

Sayang sekali sifatnya buruk.

"Saya sudah membaca semua dokumen."

Nara meletakkan map di meja.

Damar terlihat sedikit terkejut.

"Malam tadi?"

"Iya."

"Bagus."

Hanya itu?

Nara berharap setidaknya ada sedikit pujian.

Ternyata tidak.

Pria itu kembali fokus pada laptop.

Benar-benar manusia tanpa perasaan.

---

Satu jam kemudian seluruh anggota tim mulai berdatangan.

Rapat proyek pertama segera dimulai.

Damar berdiri di depan layar presentasi.

"Target kita adalah mendapatkan kontrak kerja sama selama lima tahun."

Semua orang fokus mendengarkan.

"Kesalahan sekecil apa pun tidak bisa ditoleransi."

Suasana langsung tegang.

Damar melanjutkan penjelasan.

Sementara Nara sibuk mencatat.

Sampai tiba-tiba...

"Dari semua data yang Anda pelajari, apa masalah terbesar proyek ini?"

Nara tersentak.

Ia mendongak.

Damar sedang menatapnya.

Semua mata langsung tertuju kepadanya.

Lagi.

Kenapa pria ini suka menjadikannya pusat perhatian?

Namun Nara tidak panik.

Ia sudah membaca dokumen itu semalaman.

"Persaingan pasar."

Damar diam.

Nara melanjutkan.

"Selain itu, target konsumen perusahaan mulai bergeser ke platform digital. Jika strategi pemasaran tidak berubah, proyek ini akan sulit mencapai angka yang diharapkan."

Ruangan mendadak hening.

Beberapa orang tampak terkejut.

Siska bahkan membuka mulut lebar.

Nara mulai ragu.

Apa jawabannya salah?

Namun sesaat kemudian Damar mengangguk.

"Benar."

Nara berkedip.

Benar?

Untuk pertama kalinya pria itu mengakuinya.

Meski hanya satu kata.

Tetapi entah kenapa perasaannya sedikit lebih baik.

---

Menjelang sore.

Kesibukan mulai meningkat.

Seluruh anggota tim bekerja tanpa henti.

Nara sendiri sedang menyusun laporan ketika seseorang tiba-tiba meletakkan secangkir kopi di mejanya.

Ia menoleh.

Siska tersenyum.

"Kamu kelihatan mau pingsan."

"Terima kasih."

"Kamu hebat tadi pagi."

Nara tertawa kecil.

"Kurasa aku cuma beruntung."

"Tidak."

Siska mendekat.

"Biasanya tidak ada yang berani menjawab pertanyaan Damar."

"Memangnya kenapa?"

"Karena kalau salah, habislah sudah."

Nara menggeleng.

Ternyata reputasi pria itu memang mengerikan.

Namun sebelum mereka bisa melanjutkan obrolan...

Suara Damar terdengar dari belakang.

"Nara."

Nara langsung menegang.

"Ada apa lagi?"

Damar menyerahkan beberapa berkas.

"Ikut saya."

"Hah?"

"Kita ada pertemuan dengan klien."

"Berdua?"

"Iya."

Nara hampir tersedak.

Kenapa harus berdua?

Kenapa bukan orang lain?

Namun Damar sudah berjalan pergi.

Mau tidak mau Nara mengikuti.

Di dalam lift, suasana terasa canggung.

Tidak ada yang berbicara.

Hanya suara mesin lift yang terdengar.

Sampai akhirnya...

"Kenapa Anda selalu terlihat kesal saat melihat saya?"

Pertanyaan itu membuat Nara membeku.

Apa?

Dia sadar?

Nara berdeham.

"Saya tidak kesal."

"Kebohongan yang buruk."

Nara menatapnya.

Damar tetap menatap lurus ke depan.

"Apa saya salah?"

tanya pria itu datar.

Nara terdiam.

Banyak.

Sangat banyak.

Namun ia tidak mungkin mengatakannya.

"Tidak."

Pintu lift terbuka.

Damar keluar lebih dulu.

Namun sebelum benar-benar pergi, ia sempat berkata pelan,

"Bagus. Karena kita akan sering bekerja bersama."

Langkah Nara langsung terhenti.

Perasaannya mengatakan satu hal.

Tiga bulan ke depan akan menjadi masa paling melelahkan dalam hidupnya.

Dan penyebabnya hanya satu.

Damar Wijaya.

Musuh yang kini duduk tepat di balik meja kerjanya.

bersambung....

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto: sama2 👌👍
total 2 replies
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Satisuci Ituaku: mksih kk sudah mampir🙏🙏🙏
total 1 replies
Tys Azka
kok selalu hujan sih
Satisuci Ituaku: iy kak biar romantis ala2
mksih kk udh mampir 🙏🙏
total 1 replies
anggita
like👍iklan☝, Nara.. Damar.
Satisuci Ituaku: Terima kasih sudah mampir kk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!