Ini adalah cerita tentang seseorang yang kembali ke masa lalunya. Seorang pendekar kuat yang berhasil mendapatkan pusaka untuk mengulang waktu.
Sembilan tahun telah berlalu semenjak kembalinya dia ke masa lalu. Banyak hal yang telah ia ubah. Kekuatannya juga perlahan mendekat ke puncak kekuatannya di kehidupan pertama.
Namun ancaman lain akhirnya muncul. Sejarah telah berubah karena campur tangannya. Kini ia harus bersiap menghadapi musuh lain yang rumit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misi Pengintaian yang Buruk
Setelah menempuh perjalanan dari Sekte Dua Pedang Petir, Boqin Changing dan Wang Zhou akhirnya tiba di wilayah Bukit Cemara Berjajar. Keduanya masih melayang tenang di langit pada ketinggian beberapa ratus meter. Angin perbukitan berembus lembut, mengibaskan pakaian mereka.
Dari atas, seluruh kawasan di bawah tampak begitu jelas. Di sebuah tanah lapang di lereng bukit, tenda-tenda berdiri berjajar rapi. Beberapa bendera sekte berkibar tertiup angin. Orang-orang berlalu-lalang di antara tenda sambil membawa senjata atau memeriksa perlengkapan mereka. Jelas sekali, tempat itu adalah tujuan perjalanan mereka.
Boqin Changing menyipitkan matanya beberapa saat sebelum menoleh ke arah Wang Zhou.
"Patriak... apakah ini benar-benar misi pengintaian?"
Wang Zhou menganggukkan kepala.
"Sesuai informasi yang kudapat, memang seharusnya begitu."
Boqin Changing kembali mengalihkan pandangannya ke bawah. Dahinya perlahan berkerut. Ia tidak perlu menggunakan teknik khusus untuk mengetahui keadaan di bawah sana. Indra spiritualnya mampu merasakan dengan jelas keberadaan setiap orang di dalam perkemahan itu.
"..."
Semakin lama ia mengamati, ekspresinya justru semakin aneh.
"Kalau memang hanya pengintaian..."
Suara Boqin Changing terdengar pelan.
"Orang yang ikut seharusnya tidak sebanyak ini."
Ia menggeleng pelan.
"Aku merasakan ada lebih dari seratus orang di bawah."
Tatapan Wang Zhou ikut berubah serius.
"Sebanyak itu?"
Boqin Changing mengangguk.
"Jumlah yang cukup besar jika hanya untuk mengintai."
Pandangannya tetap tertuju pada perkemahan tersebut.
"Pengintaian seharusnya dilakukan oleh kelompok kecil. Semakin sedikit orang yang bergerak, semakin kecil kemungkinan keberadaan mereka diketahui."
Ia kembali menggelengkan kepalanya.
"Kalau membawa lebih dari seratus orang... itu bukan lagi pengintaian. Justru terlalu mencolok."
"Begitu salah satu anggota mereka ketahuan, keberadaan seluruh rombongan bisa langsung terbongkar."
Wang Zhou terdiam. Setelah mendengar penjelasan itu, ia pun merasa ada benarnya. Memang terdengar janggal.
Boqin Changing menarik napas pelan sebelum berkata,
"Lupakan dulu. Ayo kita turun."
"Baik."
Keduanya perlahan menurunkan ketinggian. Sesaat kemudian, dua sosok itu mendarat dengan ringan di tepi barisan tenda tanpa menimbulkan suara sedikit pun.
Namun kedatangan mereka tetap langsung menarik perhatian.
"Ada orang!"
Beberapa pendekar yang berjaga seketika membalikkan badan. Refleks, beberapa di antara mereka langsung mencabut pedang dan senjata masing-masing. Suasana mendadak menjadi tegang.
Melihat hal itu, Wang Zhou segera melangkah setengah langkah ke depan sambil menangkupkan kedua tangannya.
"Aku Wang Zhou. Patriak Sekte Dua Pedang Petir."
Begitu nama itu disebut, kewaspadaan para pendekar tadi langsung berkurang.
"Oh... Patriak Wang Zhou?"
Mereka saling berpandangan sejenak.
Perlahan, senjata-senjata yang sempat terhunus kembali dimasukkan ke dalam sarungnya.
Tak lama kemudian, seorang pria paruh baya berpakaian Sekte Pedang Pemecah Awan berjalan mendekat. Ia segera memberi hormat.
"Selamat datang, Patriak Zhou."
Wang Zhou membalas hormatnya dengan ramah.
"Terima kasih."
Namun, ketika pria itu mengangkat kepalanya kembali, pandangannya justru tertuju kepada pemuda yang berdiri beberapa langkah di belakang Wang Zhou.
Ia mengernyit. Wajah itu, entah mengapa terasa sangat familiar.
Pria itu mencoba mengingat-ingat. Beberapa detik kemudian, matanya tiba-tiba membelalak lebar.
"Itu..."
Wajahnya langsung berubah pucat. Ia buru-buru membungkukkan tubuhnya jauh lebih dalam daripada sebelumnya.
"Salam hormat kepada Tetua Chang!"
Suara itu nyataya menarik perhatian orang-orang di sekitar.
"Apa?"
"Itu Tetua Chang?"
Beberapa pendekar segera menoleh.
Begitu mengenali wajah Boqin Changing, ekspresi mereka langsung berubah drastis. Tanpa diperintah, satu per satu mereka ikut menangkupkan kedua tangan dan membungkukkan badan.
"Salam hormat, Pendekar Chang!"
"Salam hormat!"
"Tetua Chang!"
Suara penghormatan terdengar bersahut-sahutan di sekitar perkemahan. Boqin Changing hanya menganggukkan kepalanya pelan sebagai balasan.
Kemudian ia berkata dengan tenang,
"Panggil pemimpin gabungan kelompok ini."
"Baik!"
Pria yang pertama kali menyambut mereka segera mengangguk.
Ia tidak berani menunda sedikit pun. Dengan langkah tergesa-gesa, ia berlari menuju tenda terbesar yang berada di tengah perkemahan.
Tak lama kemudian, ia menyingkap tirai tenda dan masuk ke dalam. Di dalamnya, pertemuan para utusan kelompok masih berlangsung.
Napasnya masih sedikit memburu ketika ia buru-buru memberi hormat.
"Tetua Agung Peng!"
Semua orang di dalam tenda menoleh ke arahnya. Pria itu menelan ludah sebelum berkata dengan suara sedikit gemetar,
"Patriak Sekte Dua Pedang Petir... Wang Zhou telah tiba."
Belum sempat Tetua Agung Peng membuka mulut, Tetua Agung Dai Xung dari Sekte Tameng Naga sudah lebih dahulu mendengus kesal.
"Memangnya kenapa kalau dia datang?"
Nada suaranya dipenuhi rasa tidak senang.
"Suruh saja dia beristirahat dulu. Kita sedang membahas urusan yang jauh lebih penting."
Utusan itu tidak langsung menjawab. Sebaliknya, ia memandang ke arah Tetua Agung Peng.
Bagaimanapun juga, orang tua berjanggut putih itulah pemimpin gabungan kelompok ini. Keputusan terakhir tetap berada di tangannya.
Tetua Agung Peng menganggukkan kepala perlahan.
"Tetua Xung benar."
Ia berbicara dengan nada tenang.
"Kami masih mengadakan pertemuan penting. Antarkan Patriak Zhou ke sebuah tenda untuk beristirahat terlebih dahulu."
Pria itu masih berdiri di tempatnya. Kedua tangannya masih tertangkup memberi hormat, tetapi kakinya sama sekali tidak bergerak meninggalkan tenda.
Melihat hal itu, wajah Tetua Dai Xung langsung menggelap.
"Ada apa lagi?"
Nada suaranya terdengar tidak sabar.
"Bukankah sudah kubilang pergi?"
Namun pria itu tetap tidak berani melangkah. Ia justru kembali memandang ke arah Tetua Agung Peng.
"T-Tetua Agung..."
Suara pria itu sedikit bergetar.
"Patriak Wang Zhou... tidak datang sendirian."
Semua orang di dalam tenda langsung mengangkat kepala.
Tetua Agung Peng sedikit mengernyit.
"Maksudmu?"
Pria itu menelan ludah sebelum melanjutkan.
"Beliau datang bersama Tetua Boqin Changing."
"..."
Keheningan langsung memenuhi seluruh tenda. Tidak seorang pun berbicara. Seolah-olah udara di dalam tenda mendadak membeku.
Pria itu kemudian menambahkan dengan hati-hati.
"Dan... Tetua Chang meminta Tetua Agung Peng menghadap dia sekarang."
Kalimat itu bagaikan sambaran petir di siang bolong.
Tetua Agung Peng yang semula masih duduk tenang seketika berdiri.
Brak!
Kursinya bahkan hampir terjatuh ke belakang.
Tanpa sempat mengatakan apa pun kepada orang-orang di dalam tenda, ia langsung berlari menuju pintu keluar. Saat melewati utusan tadi, ia sempat berseru dengan wajah kesal bercampur panik.
"Kenapa tidak bilang dari tadi?!"
"A-aku..."
Pria itu hanya mampu tersenyum pahit. Ia sebenarnya memang belum sempat menyelesaikan laporannya. Tetapi Tetua Agung Dai Xung sudah lebih dahulu memotong ucapannya.
Sementara itu, para tetua dari berbagai sekte yang berada di dalam tenda juga langsung bangkit berdiri.
"Tunggu!"
"Ayo cepat!"
Mereka hampir berebut keluar mengikuti Tetua Agung Peng. Dalam sekejap, tenda yang semula dipenuhi belasan tokoh penting itu menjadi kosong. Yang tertinggal hanyalah satu orang, Tetua Agung Dai Xung.
Pria bertubuh besar itu masih terduduk di tempatnya. Wajahnya yang tadi penuh kesombongan kini berubah pucat pasi. Butiran keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya.
"Boqin... Changing..."
Ia bergumam lirih.
Sebagai tokoh dunia persilatan, tentu ia pernah mendengar berbagai kisah mengenai pemuda itu. Bukan hanya karena kekuatannya yang berada di puncak dunia. Namun juga karena sifatnya.
Boqin Changing dikenal dingin dan tidak banyak bicara. Yang paling menakutkan darinya adalah ia sama sekali tidak segan membunuh lawan-lawannya.
Begitu turun tangan, hampir tidak pernah ada belas kasihan. Gaya bertarungnya terkenal brutal, cepat, efisien, dan tanpa ampun.
Bahkan di kalangan para pendekar, sudah menjadi rahasia umum bahwa bukan hanya para pendekar aliran hitam yang takut kepada Boqin Changing. Banyak pendekar dari aliran putih maupun golongan netral pun memilih untuk tidak menyinggungnya.
Bukan karena ia kejam tanpa alasan. Melainkan karena siapa pun yang memilih menjadi musuhnya selalu berakhir dengan kematian.
Dai Xung tanpa sadar mengepalkan kedua tangannya. Baru beberapa saat yang lalu, ia menghina Wang Zhou habis-habisan. Kini pria tua itu justru membawa orang yang paling disegani di seluruh Kekaisaran Qin bersamanya.
...******...
Di luar perkemahan. Boqin Changing berdiri membelakangi barisan tenda. Kedua tangannya berada di belakang punggung.
Tatapannya sama sekali tidak tertuju ke arah orang-orang di belakangnya. Ia justru memandang lekat ke arah hutan lebat yang menyelimuti Bukit Cemara Berjajar. Angin pegunungan berembus perlahan, menggerakkan ujung pakaiannya.
Tidak lama kemudian, terdengar langkah-langkah kaki yang tergesa-gesa dari belakang. Tetua Agung Peng menjadi orang pertama yang keluar dari tenda.
Begitu melihat sosok Boqin Changing, ia langsung menangkupkan kedua tangannya dan membungkukkan badan dengan hormat.
"Salam hormat, Senior Chang."
Di belakangnya, para pemimpin kelompok lainnya juga segera mengikuti.
"Salam hormat, Tetua Chang."
"Salam hormat."
"Salam hormat, Tetua Chang."
Satu per satu mereka membungkukkan badan dengan penuh hormat kepada pemuda yang masih berdiri tenang memandangi hutan di hadapannya. Jika diperhatikan, nampak raut ketakutan di wajah mereka.
ta apalah !!
biar alurnya lambat asal selamat