NovelToon NovelToon
Setelah Terlahir Kembali, Aku Menikahi Jenderal Perang

Setelah Terlahir Kembali, Aku Menikahi Jenderal Perang

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: AnaDww

Dinginnya malam di puncak musim dingin menampar Gu Mingyue dengan kenyataan yang kejam. Alih-alih kehangatan, sang suami justru menyuguhkan cawan berisi racun demi bisa bersanding dengan perempuan lain. Di ambang kematiannya yang tragis, Mingyue menyadari bahwa ketulusannya selama ini hanyalah sebuah kesia-siaan.

Kini, takdir memberinya kesempatan kedua. Terlahir kembali di masa lalu, Gu Mingyue bersumpah demi sisa napasnya: ia tidak akan pernah lagi menjadi istri penurut yang mencintai Adipati Yu'an, Zhao Yuchen.

Langkahnya kali ini membawa Mingyue bertemu dengan Shen Mufeng—Jenderal Perang Penakluk Utara yang terkenal dingin, tegas, tajam, dan anti-wanita. Menolak mengulang tragedi yang sama, Gu Mingyue membulatkan tekad: ia akan menikahi sang Jenderal Agung dan membiarkan mantan suaminya hancur dalam penyesalan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TigaBelas—Shen Mufeng, Jenderal Agung!

Keheningan di ruang utama Balai Sidang kian mencekam.

"He Si, panggil para janda di luar!" perintahnya.

He Si segera melangkah keluar. Tak berselang lama, para wanita janda itu masuk ke dalam ruangan. Tatapan mereka begitu sinis dan penuh dendam pada Kepala Balai Sidang yang masih bersujud di lantai. Mereka kemudian membungkuk khidmat, memberi hormat kepada Jenderal Agung Shen.

"Sampaikan keluhan kalian," ucap Shen Mufeng tegas.

Salah seorang wanita melangkah maju, kembali memberikan salam hormat kepadanya sebelum bersuara, "Jenderal Agung Shen, suami saya cacat akibat perang perbatasan beberapa tahun lalu. Janji uang pensiun yang seharusnya senilai satu liang perak setiap bulan, nyatanya hanya diberikan setengahnya."

Shen Mufeng mengangkat satu sudut bibirnya, menyunggingkan senyum dingin.

Seorang perempuan tua lainnya ikut maju dan memberi salam hormat. "Tuan, suami saya tewas di pertempuran perbatasan ibu kota. Janji santunan sebesar sepuluh liang tidak pernah kami terima. Kami kelaparan, anak-anak saya pun tidak bisa mendapatkan pendidikan yang layak."

"Kau mendengarnya?" tanya Shen Mufeng pada Kepala Balai Sidang yang tampak makin ketakutan setengah mati.

"Jenderal Agung, hamba... hamba hanya menjalankan perintah!"

"Atas perintah siapa?" tuntut Shen Mufeng, suaranya bagai vonis dari langit.

"Tuan... Tuan Gubernur," lirih pria tua itu dengan suara bergetar pelan.

"Kurasa Gubernur Ibu Kota sudah cukup kaya dengan jalur perdagangannya. Untuk apa dia masih menggunakan uang sebanyak itu...?" tanya Shen Mufeng, lebih kepada dirinya sendiri.

Kepala balai sidang itu tampak ragu sesaat. "Hamba... hamba kurang tahu, Jenderal."

"Kau tentu tahu," potong Shen Mufeng, sorot matanya mengunci pria tua itu tanpa ampun.

Menerima tekanan batin yang begitu hebat, Kepala Balai Sidang akhirnya menyerah dan berbisik gemetar, "Pen-pendanaan barak pribadi di sisi timur perbatasan, Jenderal."

Shen Mufeng menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan bahaya. Ia melirik ke arah He Si yang langsung tanggap dengan situasi tersebut.

"Kita harus ke sana," perintah Shen Mufeng datar, namun nadanya menyimpan badai yang siap meluluhlantakkan perbatasan timur.

Ia melirik ke arah para janda. "Ambil uang pribadi dari Kediaman Shen. Bagikan kepada mereka masing-masing dua liang perak."

Shen Mufeng memberikan instruksi singkat kepada salah satu pimpinan Pasukan Api yang dibawanya sebelum akhirnya bergegas melangkah keluar dan menaiki punggung kuda.

"Tuan, hamba rasa informasi dari Nona Besar Gu terbukti sangat akurat," ujar He Si yang setia mengekor di sisinya.

"Aku tahu, makanya aku setuju untuk menikahinya."

"Bagaimana Anda bisa seyakin itu, Tuan?"

"Dia terlalu yakin dan percaya diri atas semua tindakannya. Dan bagiku, hal itu cukup menantang," sahut Shen Mufeng datar seraya menyentak tali pengekang, menempatkan dirinya dengan kokoh di atas pelana.

Bersama He Si dan puluhan prajurit elit Pasukan Api yang terlatih, ia mulai menghentakkan tali kekang, memacu kudanya menuju sisi timur perbatasan ibu kota. Di sana, sebuah barak pribadi tampak berdiri tersembunyi di balik bayang-bayang perbukitan, dengan kobaran api yang mulai menyala di tengah kegelapan malam yang kian pekat turun menyelimuti bumi.

Suara denting zirah besi berkuda beradu dengan keheningan malam, perlahan tersamarkan oleh derak api unggun dari kejauhan. Di lembah perbukitan itu, para tentara rahasia sang gubernur tengah menikmati makan malam. Aroma daging kambing bakar bercampur rempah menyengat harum, berbaur dengan tawa riuh mereka yang mulai kehilangan kewaspadaan akibat pengaruh arak.

Di atas tebing kegelapan, Pasukan Api telah mengepung sekeliling bukit. Mereka tiarap dalam kesunyian, mengintai musuh bak serigala lapar yang menunggu mangsanya lengah. Begitu tanda-tanda mabuk mulai terlihat jelas di perkemahan bawah, Shen Mufeng memberikan isyarat tangan yang dingin.

Penyergapan kilat dimulai. Meski jumlah tentara rahasia itu mencapai ratusan, mereka bukanlah tandingan bagi puluhan prajurit elite Pasukan Api. Tanpa sempat memungut senjata, satu per satu dari mereka dilumpuhkan dalam kesunyian malam.

Di tengah kekacauan yang terisolasi itu, Shen Mufeng bergegas menuju tenda pusat barak. Ia melangkah masuk tanpa ragu. Langkahnya tegas hingga jubah hitamnya berkibar megah, membelah kehangatan ruangan. Sorot matanya berkilat tajam, sementara ujung pedang panjang yang terseret di tangannya berdenting pelan saat bergesekan dengan lantai kayu.

Di dalam sana, seorang pria muda yang mengenakan zirah kebesaran tampak sedang asyik bermesraan dengan seorang gadis bertubuh sintal, yang pakaian hanfu-nya sudah setengah terbuka.

Shen Mufeng menyunggingkan senyum sinis melihat pemandangan menjijikkan itu. "Kupikir tempat ini dipimpin oleh seorang kesatria hebat. Nyatanya, hanya pecundang yang mudah terlena nafsu duniawi."

Pria muda itu tersentak, lalu terkekeh meremehkan tanpa menyadari bahaya yang mengintai. "Siapa kau, berani mengganggu kesenanganku?"

Gadis di pangkuannya buru-buru turun dengan wajah pias. Sambil membenahi hanfu-nya yang melorot, ia melangkah mundur perlahan hingga merapat ke dinding.

"Kau bahkan tidak mengenali siapa yang berdiri di depanmu," ujar Shen Mufeng dingin. "Lucu sekali mereka menjadikan orang bodoh sepertimu sebagai pemimpin."

Merasa terhina, pria muda itu bangkit berdiri dan menghunus pedangnya, mengarahkannya tepat ke dada Shen Mufeng. "Jaga bicaramu! Siapa namamu, keparat?!"

"Perkenalkan, Tuan," Shen Mufeng melangkah maju satu demi satu tapakan yang sarat intimidasi. "Namaku Shen Mufeng. Kau bisa memanggilku Shenwu-gong¹. Atau cukup sebut aku, Jenderal Agung Shen."

Mendengar nama legendaris sang Dewa Perang disebut, pria muda itu seketika pucat pasi. Ia menelan ludahnya susah payah. Keberaniannya menguap, membuat pedang di genggamannya bergetar hebat.

Sebelum pria itu sempat mengambil langkah mundur, gerakan tangan Shen Mufeng bergerak secepat kilat.

 Srat!

Ia menebas kain tirai di sisi kanannya hingga robek menjadi dua, dan dalam satu sentakan tak terlihat, ujung mata pedangnya kini sudah menempel erat di kulit leher sang pria muda.

Prang!

Pedang di tangan pemimpin barak itu jatuh berdentang ke lantai kayu. Lututnya melemas, menyadari bahwa ajalnya kini berada di ujung jari Shen Mufeng.

Tatapan pria muda itu bergetar halus. Ia menarik rahangnya, bersuara terbata-bata karena ketakutan. "Shenwu-gong... Bahkan jika Kaisar datang sendiri ke sini, ini tetaplah tempat kami!" lirihnya memotong klaim kekuasaan.

"Berani-beraninya kalian para pengecut berbuat sejauh ini tepat di depan mataku," ucap Shen Mufeng dingin.

"Tu... Tuan. Kami berada di wilayah kami sendiri."

Shen Mufeng mendekat, pedangnya bergerak memberi satu luka sayatan kecil di leher pria di depannya. "Tapi kalian tidak berada di atas Kaisar. Aku paling benci pihak yang merugikanku dan rakyat."

"Tu... Tuan. Saya hanya bawahan." Pria muda itu akhirnya menyerah.

"Siapa atasanmu?"

"Tuan Gubernur, Zhao Chexiu."

Shen Mufeng menyunggingkan senyumnya. "He Si, kabarkan ke istana kerajaan, pengkhianat telah ditangkap bersama bukti dan saksi."

"Baik, Tuan."

Saat He Si berbalik, dua orang prajurit Pasukan Api segera mendekat dan menyekap sang pimpinan barak. Suara denting pedang yang kembali ke sarungnya terdengar samar di dalam tenda.

Shen Mufeng menoleh ke arah pintu tenda yang terbuka lebar. Menatap pekatnya malam dan dinginnya udara yang membawa pandangannya jauh ke arah ibu kota.

Gu Mingyue... gadis itu benar-benar terlalu berbahaya.

...----------------...

¹ Shenwu-gong : Gelar Kebangsawanan Militer yang berarti Dewa Perang.

Satu Liang Perak senilai 1000 koin tembaga.

1
Ana Dww
Hai semua, ini adalah karya pertamaku dengan tema pembalasan wanita bergenre Fantasi Kelahiran Kembali.

Iseng aja bikin karena lagi suka nonton drachin 🦭

Semoga kalian menyukainya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!