Demi takhta tertinggi Klan Zhou, Zhou Yu dijebak oleh konspirasi kejam. Menggunakan ramalan palsu, para tetua mengasingkannya ke Pulau Sunyi—tempat para biksu tanpa kekuatan kultivasi, tempat di mana masa depannya sengaja dikubur hidup-hidup.
Enggan membiarkan takdirnya mati dalam kesunyian, Zhou Yu nekat melarikan diri ke Hutan Keramat yang tabu. Di sana, di balik kabut abadi, dia menemukan kerangka naga raksasa yang terantai.
Siapa sangka, setetes darah Zhou Yu justru menghancurkan segel kuno dan membangkitkan takdir yang sebenarnya: Garis Keturunan Iblis Kuno yang ditakuti langit dan bumi! Dengan tulang naga iblis di tubuhnya dan dendam yang membara di hatinya, Zhou Yu berjalan keluar dari pulau pengasingan.
"Kalian membuangku karena takut aku merebut takhta? Bersiaplah, karena sekarang aku kembali untuk meratakan seluruh klan!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembersihan Darah di Altar Elang
Sorakan penonton telah sepenuhnya berganti menjadi jeritan histeris.
Bau mesiu, keringat, dan hawa kematian instan menguar di udara saat pasukan bayangan pimpinan Kapten Yuan bergerak dengan presisi militer yang mengerikan. Menggunakan data rute patroli dan titik lemah formasi yang telah disalin oleh Zhou Yu, mereka melumpuhkan sistem pertahanan luar kastil hanya dalam hitungan menit.
Pasukan Penegak Hukum milik faksi Zhou Gung yang terjepit dari dua arah—ditekan oleh wibawa para Tetua Netral dari dalam arena dan dikepung oleh pasukan bersenjata Kapten Yuan dari luar—kehilangan moral bertarung mereka.
One demi satu, denting senjata yang dijatuhkan ke lantai batu mulai terdengar, menandakan runtuhnya kesetiaan mereka pada penguasa tirani.
"Pemberontak! Kalian semua pemberontak!"
Zhou Gung melirik ke sekelilingnya dengan mata yang melotot liar. Menyadari bahwa konspirasi yang ia bangun selama bertahun-tahun runtuh dalam satu sore, keputusasaan mengubah kewarasannya menjadi kegilaan murni.
Energi spiritual ranah Pendirian Fondasi Puncak miliknya meledak liar, membakar sisa-sisa esensi kehidupannya sendiri.
"Jika aku harus hancur, kamu akan mati bersamaku, bocah haram!"
BUMMM!
Zhou Gung melompat turun dari balkon VIP bagai elang tua yang terluka, menerjang lurus ke arah Zhou Yu di tengah arena dengan kedua telapak tangan yang dilapisi api spiritual kuning yang menghanguskan udara.
Zhou Yu mendongak. Di bawah tekanan serangan bunuh diri dari seorang ahli Pendirian Fondasi Puncak, ekspresi wajahnya tetap sedatar air mati.
Kali ini, dia tidak lagi menyembunyikan identitas kekuatannya. Abyssal Qi hitam pekat meledak keluar dari tubuhnya, bermanifestasi menjadi pusaran kegelapan yang menelan cahaya matahari senja.
Auuuuumーーー!
Raungan naga yang samar namun sarat akan tekanan kuno bergema di dalam jiwa setiap orang yang hadir. Zhou Yu melangkah maju, tangan kanannya mencengkeram ke udara, membentuk cakar Naga Iblis tak kasat mata yang langsung membelah badai api milik Zhou Gung.
KRAKKK!
"AAAKHHH!"
Bentrokan itu hanya berlangsung selama satu detik. Tangan Zhou Yu menembus pertahanan api tersebut, mencengkeram kerah zirah Zhou Gung, lalu menghempaskannya ke lantai arena dengan kekuatan ribuan pon hingga lantai batu itu amblas sedalam setengah meter!
Sebelum Zhou Gung sempat memuntahkan darah, telapak tangan kiri Zhou Yu sudah mendarat tepat di atas dahi pamannya.
Wusss!
Abyssal Qi merangsek masuk ke dalam lautan kesadaran Zhou Gung, mengeksploitasi ingatannya secara paksa untuk mencari petunjuk tentang konspirasi hilangnya sang ayah di masa lalu.
"Zhou... Yu..." sebuah suara parau dan bergetar terdengar dari tepi arena.
Lin Xinyue berjalan tertatih-tatih menuruni tangga VIP, mengabaikan seruan para tetua sektenya. Wajah dewi pedang itu basah oleh air mata penyesalan yang terus mengalir. With sepasang mata yang dipenuhi rasa bersalah, kehancuran jiwa, dan sisa-sisa keterpesonaan yang mendalam, dia mengulurkan tangannya yang gemetar ke arah Zhou Yu.
"Zhou Yu... dengarkan aku... aku tidak tahu bahwa kamu—"
Namun, kata-katanya terputus di udara.
Zhou Yu menarik tangannya dari dahi Zhou Gung setelah mendapatkan informasi yang dia butuhkan, lalu melangkah mundur. Saat berjalan melewati Lin Xinyue, pandangan mata merah darah Zhou Yu tetap lurus ke depan.
Dia bahkan tidak sudi melirik seujung rambut pun ke arah gadis itu, memperlakukannya seolah-olah Lin Xinyue hanyalah udara kosong yang tidak berharga di dunia ini.
Penolakan yang begitu dingin dan mutlak itu menghantam dada Lin Xinyue lebih menyakitkan daripada tusukan pedang pusaka mana pun. Jiwanya runtuh sepenuhnya, menyadari bahwa dia telah selamanya kehilangan hak untuk berdiri di samping pria yang kini telah menjelma menjadi monster penguasa.
Bruk.
Zhou Yu melempar tubuh Zhou Gung yang kini telah hancur kultivasinya dan lumpuh total ke hadapan kaki Kapten Yuan. "Seret dia dan putranya ke penjara bawah tanah kastil. Interogasi sisa faksi mereka tanpa ampun."
"Siap, Tuan Muda!" Kapten Yuan memberi hormat militer dengan mata yang berbinar penuh kesetiaan mutlak.
Di bawah langit sore yang mulai menggelap dan diguyur oleh hawa kematian faksi pemberontak, Zhou Yu membalikkan tubuhnya. Dia berjalan dengan langkah yang berat dan berwibawa, menaiki anak tangga batu menuju panggung tertinggi klan, tempat di mana takhta agung Pemimpin Klan Zhou berada.
Jubah hitamnya menyapu lantai batu yang berlumuran darah. Di hadapan puluhan ribu penonton tribun yang kini bersujud ketakutan, barisan Tetua Netral yang menundukkan kepala mereka dalam-dalam, serta Mu Rong Xue yang menatapnya dengan senyuman penuh kekaguman, Zhou Yu perlahan memutar tubuhnya dan menduduki takhta tertinggi tersebut.
Dia menopang dagunya dengan satu tangan, menatap dingin ke arah langit barat Ibu Kota yang mulai menampakkan kegelapan malam.
Babak pertama dari balas dendamnya di dalam klan telah usai, dan kini saatnya dia membawa badai yang lebih besar untuk menghancurkan sisa konspirasi yang tersembunyi di Ibu Kota Langit Timur.