Bagaimana jika kamu menjadi istri dari Ayah sahabatmu sendiri, atau lebih tepatnya menjadi Ibu tiri sahabatmu. Hal itu yang terjadi pada Aneska Mahendra yang menyukai Papah dari sahabatnya sendiri, Alexander yang biasa dipanggil dengan nama Alex. Aneska menyukai Alex sejak masih duduk dibangku SMA, pesona tampan Alex membuat putri dari sahabatnya itu sangat tergila-gila padanya.
Aneska kerap menggoda Alex ketika ia main ke kediaman Alex dengan dalih belajar kelompok bersama putri semata wayangnya yang tak lain sahabat Aneska dari kecil. Meski Alex masih memiliki istri, Aneska tak memedulikan hal tersebut. Baginya yang terpenting ia bisa menyingkirkan Ibu tiri sahabatnya dan menggantikan posisinya.
Beruntung Rania, putri Alex merestui Aneska bersama dengan Papahnya. Rania bahkan membantu Aneska menyingkirkan Ibu tirinya itu dari sisi sang Papah. Sebab, Rania sangat tidak menyukai Ibu tirinya yang sangat bermuka dua itu.
Akankah Aneska berhasil menyingkirkan istri Alex?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isti Shaburu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PPS ~ 10
Sampainya dikantor, Aneska langsung masuk dan berjalan menuju lift khusus yang selalu digunakan oleh presdir dan wakil presdir.
Namun, ketika pintu lift sudah terbuka, dan Aneska hendak masuk, ia dihadang oleh seorang wanita dengan pakaian kantor yang cukup ketat dan menampakkan bagian atasnya.
“Maaf, Mbak, ini lift khusus untuk presdir dan wakil presdir. Jika Mbaknya ingin menggunakan lift, Mbak bisa menggunakan lift khusus karyawan,” ucap wanita tersebut. Aneska menatap wanita itu dari atas hingga bawah, ia menghela napasnya menahan rasa kesal karena sudah dihadang untuk segera menemui kekasih hatinya itu.
“Apakah kamu tahu siapa saya?” tanya Aneska dengan nada santai. Semua karyawan Alexander Group mengetahui siapa Aneska Mahendra, putri tunggal dari Mahendra, pemilik hotel bintang lima terkenal di negaranya.
“Saya tak tahu siapa Anda, saya hanya menjalankan tugas saya, mohon Mbaknya jangan mempersulit saya,” jawab wanita itu masih dengan nada sopan. Aneska mengakui kesopanan wanita itu, tapi yang ia tak sukai adalah cara berpakaian wanita tersebut.
“Kamu baru yah, sampai tak tahu saya siapa?” tanya Aneska.
“Iya, Mbak, saya baru beberapa hari di sini,” jawabnya jujur.
“Pantas. Lebih baik kamu jangan menghalangi saya, atau kamu akan mendapat masalah. Percayalah, pekerjaan kamu akan aman jika kamu tak menghalangi saya,” titah Aneska.
“Maaf, Mbak, saya hanya menjalankan tugas. Atasan saya mengatakan kalau lift ini tidak diperkenankan orang lain selain presdir, wakil presdir dan Tuan Victor gunakan. Lebih baik Mbak menggunakan lift khusus karyawan saja.” Wanita itu masih bersikukuh untuk tak mengizinkan Aneska menggunakan lift tersebut.
“Ada apa ini?”
Aneska dan wanita itu menoleh ke arah sumber suara.
“Anak baru ini menghalangiku untuk menggunakan lift. Tolong kamu urus yah, Victor, aku harus segera bertemu Om Alex,” ucap Aneska.
“Baik, Nona.”
“Oh iya, katakan padanya juga untuk mengenakan pakaian yang lebih sopan lagi. Dia mau bekerja, atau mau menggoda pria di sini mengenakan pakaian ketat seperti lepet begitu,” sambungnya meminta Victor memperingatkan wanita tersebut.
“baik, Nona.”
“Ya sudah, aku pergi dulu.” Aneska langsung memasuki lift tersebut, sedangkan wanita tersebut tampak terkejut dan juga salah tingkah.
“Siapa nama kamu?” tanya Victor pada wanita muda itu.
“Sila, Tuan,” jawabnya sedikit ketakutan karena Victor sedari tadi memasang wajah datar dan dingin.
“Kamu harus ingat wajahnya. Akan ada dua gadis yang selalu datang ke kantor ini, dia dan sahabatnya. Gadis yang tadi adalah putri dari Tuan Mahendra, pemilik hotel bintang lima Century Hotel. Dan yang satunya lagi adalah Rania, putri tunggal Tuan Alex. Kesalahan hari ini saya maafkan karena kamu masih baru, tapi tidak lain kali. Dan esok, pakaian kamu harus sudah berganti dengan yang lebih sopan lagi, jangan serba ketat seperti itu atau Tuan Alex akan memecatmu,” ucap Victor mengingatkan dan memperingatkan.
“Baik, Tuan Victor,” jawab Sila.
“Baiklah, kamu boleh pergi.”
“Terima kasih, Tuan Victor.” Sila bernapas lega karena tak diberi hukuman mengingat dirinya yang masih baru.
*
Sampainya Aneska di depan pintu ruangan Alex, tanpa mengetuk ia langsung membukanya. Dilihatnya Alex yang tengah sibuk dengan pekerjaannya hingga tak menyadari kedatangan dirinya. Aneska langsung berjalan menuju kursi di mana prianya itu tengah duduk, ia langsung memeluk Alex dari belakang membuat pria itu menghentikan pekerjaannya.
“Dasar gadis nakal,” ucapnya mengusap tangan Aneska yang melingkar pada leher Alex dari belakang.
"Apakah aku tak cukup menarik untuk sekedar mengalihkan pandangan Om padaku?” Aneska mengerucutkan bibirnya seakan merajuk membuat Alex terkekeh gemas.
“Apakah kau cemburu dengan pekerjaanku, Baby?”
“Yes, aku cemburu. Aku sudah tahu sekarang, kalau aku tak lebih penting dari itu semua,” jawab Aneska yang masih mengerucutkan bibirnya, sungguh terlihat bagai anak kecil yang sedang merajuk pada ibunya.
“Jangan merajuk, Sayang. Kau penting bagiku, tapi pekerjaanku juga penting. Mengertilah aku, semua ini untuk kita dimasa depan juga.” Alex meraih tangan kekasih kecilnya itu dan membawanya untuk duduk di pangkuannya lalu mengecup bibir merah merona itu sekilas.
“Aku hanya bercanda, Om. Aku tak memiliki nyali untuk meminta Om lebih mementingkan diriku dan mengabaikan pekerjaan Om. Aku hanya menggoda Om saja,” ucap Aneska yang memang sedari awal hanya berniat menggoda aja, tak ada niatan dalam dirinya untuk membuat Alex merasa ilfil pada dirinya.
“Kau memang gadis nakal.” Alex mencubit hidung mancung itu dengan lembut dan Aneska hanya menyengir saja.
“Gadis nakal ini milikmu, Om.”
Bibir mereka langsung menyatu dan menikmati satu sama lain dengan lembut. Gadis kecil itu selalu bisa membuat Alex bergairah dan ingin memakannya. Namun, Alex tak ingin melakukan hal itu sebelum ia mengucapkan janji suci, meski hanya pernikahan siri.
“Istirahatlah diruang istirahat, aku akan menyelesaikan pekerjaanku dulu. Setelah ini, aku akan mengajakmu makan malam di resto mewah. Malam ini kita akan kencan seperti pasangan kekasih pada umumnya,” titah Alex. Seketika Aneska berbinar senang, ia sungguh tak percaya jika Alex akan mengajaknya kencan dan makan malam.
“Serius, Om!” seru Aneska, Alex menganggukkan kepalanya. “Okelah kalau begitu, aku mau istirahat dulu, kebetulan tubuhku lelah juga. Nanti kalau Om Alex sudah selesai, banguni aku yah,” sambungnya seraya mencium pipi Alex.
“Iya, Sayang. Istirahatlah, aku akan menyelesaikan pekerjaanku dulu, agar nanti bisa pergi berkencan denganmu.”
Aneska bangkit dari pangkuan Alex dan berjalan menuju ruang istirahat yang terdapat di dalam kantor Alex. Sedangkan Alex melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda karena menanggapi kemanjaan wanita kecilnya itu. Aneska langsung terlelap begitu ia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur empuk milik pria pujaannya itu.
Alex berkutat dengan pekerjaannya hingga tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Saking banyaknya pekerjaannya, sampai ia lupa waktu. Biasanya jika sudah jam empat, ia akan melanjutkannya di rumah.
“Victor, kau boleh pulang, Rania pasti sendiri di rumah. Tolong temani dia makan malam, karena malam ini aku akan membawa Anes makan di luar,” titah Alex pada orang kepercayaannya itu.
“Baik, Tuan.” Victor pergi setelah berpamitan.
Dalam hatinya merasa enggan untuk menjalankan tugas Bos besarnya itu untuk menemani Nona besarnya. Tapi jika menolak, ia takut Alex akan kecewa padanya. Andai ia boleh memilih, Victor lebih memilih untuk bertarung dengan sepuluh penjahat sekaligus ketimbang menemani Nona besarnya itu.
Victor bukan tak tahu kalau putri Tuannya itu sering memperhatikannya, ia hanya bersikap pura-pura tak tahu saja. Victor sadar diri siapa dirinya, jadi ia tak ingin menanggapi atau bersikap welcome pada Rania jika pada akhirnya semua itu tak memungkinkan untuknya dan putri Tuannya itu.
Pesona Papa Sahabatku || Isti Shaburu || Noveltoon
ngadi" banget deh..kalimatnya🫠