NovelToon NovelToon
Resep Cinta Setelah Akad

Resep Cinta Setelah Akad

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:750
Nilai: 5
Nama Author: Keysa Bom

Katanya, cinta harus datang sebelum menikah. Tapi bagaimana jika cinta justru lahir setelah akad terucap?

Menjadi seorang PNS membuat Satria Baskara terbiasa menjalani hidup dengan aturan dan tanggung jawab. Di sisi lain, Naira Azzahra, seorang pembuat kue rumahan, percaya bahwa setiap kue memiliki resepnya sendiri.

Namun, ia tak pernah menyangka takdir justru menuliskan resep cintanya melalui sebuah perjodohan.

Tanpa proses pacaran. Tanpa janji manis. Hanya sebuah akad yang menyatukan dua hati yang sebelumnya tak saling mengenal.

Di balik sarapan hangat, bekal makan siang, dan perhatian-perhatian kecil yang awalnya terasa biasa, perlahan tumbuh perasaan yang tak mampu mereka sangkal. Namun ketika cinta akhirnya hadir, ujian demi ujian mulai mengetuk pintu rumah tangga mereka.

Akankah Satria dan Naira berhasil mempertahankan cinta yang tumbuh setelah akad? Atau justru takdir kembali menguji hati mereka, saat keduanya mulai benar-benar saling mencintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keysa Bom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rutinitas Pagi yang Sederhana

Fajar mulai menyingsing di ufuk timur. Cahaya keemasan perlahan menerobos masuk melalui celah jendela rumah minimalis yang masih diselimuti udara sejuk pagi hari. Suara burung-burung mulai terdengar bersahutan di sekitar kompleks, menandakan dimulainya lembaran hari yang baru.

Di dalam rumah, Naira baru saja menyelesaikan salat Subuh di kamar utamanya. Setelah melipat mukena dengan rapi dan menyimpannya ke dalam lemari, ia sempat terdiam sejenak di depan pintu. Matanya melirik ke arah pintu kamar sebelah yang masih tertutup rapat.

Ada rasa tidak enak hati yang kembali menyelinap ketika membayangkan suaminya harus tidur di atas tikar semalaman. Namun, Naira mencoba menepis kegundahannya dengan segera melangkah ke ruang tengah untuk memulai aktivitas pagi.

Tangannya bergerak lincah menyapu lantai, membuka gorden dan jendela agar udara segar masuk, lalu mengelap meja makan yang semalam belum sempat ia bersihkan secara menyeluruh. Di tengah kegiatannya, lamat-lamat terdengar suara pagar depan digeser.

Cklek.

Pintu utama terbuka perlahan. Sosok Satria melangkah masuk ke dalam rumah, membawa kesegaran udara pagi setelah berjalan kaki pulang dari masjid kompleks usai menunaikan salat Subuh berjamaah. Pria itu masih mengenakan sarung, baju koko putih, dan peci hitam.

"Assalamualaikum," sapa Satria dengan suara beratnya yang khas.

"Waalaikumsalam," jawab Naira. Ia langsung menghentikan gerakan sapunya, lalu menoleh dan menyunggingkan senyum ramah, meski matanya sempat melirik canggung ke arah sarung Satria. "Sudah pulang, Mas?"

Satria melepas pecinya, meletakkannya di atas meja kecil dekat sofa. "Iya. Kamu sudah bangun dari tadi?"

"Sudah, Mas. Setelah salat langsung cicil beberes rumah sedikit-sedikit," sahut Naira, agak salah tingkah sambil meremas pegangan sapunya. "Ehm... semalam tidur Mas Satria bagaimana? Nyenyak?"

Satria sempat terdiam sebentar, lalu mengulas senyum tipis yang menenangkan agar istrinya tidak cemas. "Nyenyak, kok. Udara kompleks ini kalau subuh memang agak dingin, tapi untung selimutnya tebal. Badanku tidak pegal."

Naira mengangguk pelan, sedikit lega meski tahu suaminya pasti hanya ingin menghibur hatinya. "Syukurlah kalau begitu."

Satria kemudian berjalan menuju kamar kosongnya untuk mengambil seragam dinas PNS berwarna cokelat miliknya yang masih tersimpan di dalam kardus pakaian yang belum dibongkar. Ia membawa kemeja dan celana bahan tersebut keluar, lalu menyodorkannya pada Naira dengan agak canggung.

"Naira, kalau tidak merepotkan... boleh aku minta tolong setrikakan seragam dinasku ini? Hari ini aku harus masuk kantor lebih cepat karena ada rapat," ucap Satria, merasa agak sungkan karena harus merepotkan istrinya di pagi pertama mereka.

Naira dengan cepat menerima pakaian tersebut, senyumnya mengembang tulus. "Tentu saja, Mas. Ini sudah jadi tugasku. Mas Satria mandi saja dulu, biar aku siapkan bajunya."

"Terima kasih ya," balas Satria, lalu berbalik arah menuju kamar mandi.

Naira segera menyiapkan papan setrika di ruang tengah. Ia menyetrika seragam dinas milik suaminya dengan sangat teliti, memastikan tidak ada satu pun bagian yang kusut hingga setiap lipatan kainnya tampak tajam dan rapi. Setelah selesai, ia menggantung seragam itu di kapstok depan kamar Satria.

"Mas, bajunya sudah siap ya, aku gantung di sini," setengah berseru di depan pintu kamar mandi yang masih tertutup.

"Iya, terima kasih!" sahut Satria dari dalam, diringi suara gemercik air.

Tak lama kemudian, dapur mulai dipenuhi aroma harum masakan yang menggugah selera. Mengingat bahan makanan yang terbatas, Naira memutar otak dan menyiapkan sarapan praktis berupa nasi goreng kampung dengan suwiran telur mata sapi, ditemani dua cangkir teh manis hangat.

Satria keluar dari kamar dengan penampilan yang sudah rapi mengenakan kemeja dinas cokelatnya. Rambutnya yang hitam masih tampak sedikit basah setelah mandi, memberikan kesan segar yang berbeda dari biasanya. Ia melangkah ke ruang makan.

"Harum sekali," puji Satria, menarik kursi kayu untuk duduk.

Naira yang sedang menata piring di atas meja menoleh, pipinya sedikit bersemu merah. "Menu seadanya dulu ya, Mas. Semoga rasanya cocok di lidah Mas Satria."

Satria mengambil sendoknya. "Masakanmu semalam saja enak, yang ini pasti tidak kalah enak," ujarnya sebelum menyuap sendokan pertama.

Mereka pun duduk berhadapan, menikmati sarapan pagi pertama di rumah itu dalam keheningan yang canggung namun terasa damai. Di sela-sela dentingan sendok dan piring, Satria mencoba membuka percakapan ringan untuk mencairkan suasana.

"Hari ini di kantor kecamatan jadwalnya cukup padat. Ada rapat koordinasi dengan kepala desa setempat," cerita Satria setelah menelan makanannya.

Naira mendengarkan dengan takzim sambil mengangguk-angguk. "Kalau aku, hari ini harus menyelesaikan beberapa pesanan kue ulang tahun di toko. Kebetulan lusa ada pesanan yang lumayan banyak, jadi dari sekarang sudah harus cicil bahan."

Satria menghentikan gerakan sendoknya sejenak, lalu menatap Naira lurus-lurus. "Jangan terlalu memaksakan diri. Kalau tenagamu terkuras, nanti kamu bisa drop."

Naira tersentak kecil mendapat perhatian yang begitu tidak terduga dari suaminya. Ia buru-buru menunduk untuk menyembunyikan senyumnya yang mendadak terukir. "Iya, Mas. Terima kasih. Aku pasti istirahat kalau capek."

✨✨✨

Pukul delapan kurang lima belas menit, mereka berdua sudah bersiap di dekat pintu depan. Satria berdiri tegap memeriksa penampilannya di cermin kecil ruang tamu. Namun, dahinya tampak berkerut ketika mencoba membenarkan posisi papan nama magnet yang menempel di dada kanannya.

Naira yang melihat suaminya kesusahan perlahan melangkah mendekat. "Maaf, Mas... boleh aku bantu?" tanyanya ragu-ragu.

Satria menurunkan tangannya, menoleh ke arah Naira. "Ah, iya. Silakan. Sepertinya posisinya agak miring."

Naira mengambil langkah maju, mengikis jarak di antara mereka hingga aroma parfum maskulin bercampur sabun dari tubuh Satria tercium samar di indera penciumannya. Jantung Naira mendadak berdegup kencang. Dengan tangan yang sedikit gemetar, jemari lentiknya bergerak merapikan kerah baju dinas Satria yang agak terlipat, lalu membetulkan letak papan nama bertuliskan Satria Baskara hingga posisinya benar-benar lurus.

"Nah... sekarang baru rapi," bisik Naira pelan, buru-buru menarik kembali tangannya setelah selesai.

Satria menatap istrinya yang kini menunduk dengan pipi merona merah. Pria itu tersenyum tipis, merasa ada kehangatan aneh yang menjalar di dalam dadanya melihat perhatian kecil tersebut. "Terima kasih banyak, Naira. Kalau bukan karena kamu, mungkin aku ke kantor dengan baju kusut dan atribut miring."

Naira terkekeh pelan untuk mengusir rasa gugupnya. "Mas Satria berlebihan. Itu kan memang sudah tugasku."

Satria kemudian mengulurkan tangan kanannya ke depan Naira. Perempuan itu sempat tertegun sesaat, menatap telapak tangan suaminya yang kokoh. Ingat akan status mereka yang kini sudah sah, Naira perlahan meraih tangan Satria, lalu membungkukkan tubuhnya sedikit untuk mencium punggung tangan sang suami dengan takzim.

Satria tertegun merasakan sentuhan lembut kulit Naira di tangannya. Perlahan, ia menarik napas dalam untuk meredakan debaran aneh di dadanya. "Terima kasih sudah mengurus keperluanku pagi ini," ucap Satria dengan nada suara yang sangat lembut.

Naira mendongak, mengangguk kecil dengan wajah yang masih terasa hangat. "Sama-sama, Mas."

Beberapa menit kemudian, mereka membelah jalanan komplek bersama menggunakan sepeda motor milik Satria. Selain memiliki mobil Satria juga memiliki motor yang dibelikan oleh kedua orang tuanya dan di rawat sampai saat ini, ia memilih itu karena untuk menikmati waktu bersama Naira.

Udara pagi kota yang sejuk menemani perjalanan mereka, menyusuri aspal yang mulai ramai dipadati oleh kendaraan para pekerja dan anak sekolah. Sepanjang perjalanan, Naira duduk dengan jarak yang agak aman di jok belakang, hanya mencengkeram ujung jaket Satria untuk berpegangan karena masih merasa malu.

Motor akhirnya berhenti tepat di depan pelataran toko kue milik Naira.

Naira turun dari boncengan, lalu menyerahkan helmnya kepada Satria. "Terima kasih tumpangannya, Mas."

Satria menerima helm tersebut, mengaitkannya di setang motor. "Iya. Nanti sore setelah jam kantor selesai, aku akan langsung ke sini untuk menjemputmu. Tunggu aku di dalam saja, jangan di pinggir jalan."

"Iya, Mas. Hati-hati di jalan ya," pesan Naira lembut.

"Kamu juga, selamat bekerja," balas Satria dengan anggukan pelan.

Naira berdiri di trotoar, menyunggingkan senyum terbaiknya sambil melambaikan tangan kecilnya saat Satria mulai menarik gas motor. Satria membalas lambaian itu sekilas melalui kaca spion sebelum akhirnya kendaraan pria itu melebur bersama arus jalanan menuju kantor kecamatan.

Naira membalikkan tubuhnya, lalu melangkah masuk ke dalam toko kuenya dengan perasaan yang jauh lebih ringan dan penuh semangat. Aroma mentega dan roti hangat yang baru matang langsung menyambut indera penciumannya.

Hari baru telah resmi dimulai. Di tengah kesibukan masing-masing yang menguras tenaga, kini ada satu hal manis yang diam-diam mereka nantikan bersama: momen untuk pulang, membuka pintu, dan kembali bertemu di dalam rumah kecil mereka yang mulai dipenuhi kehangatan.

Bersambung

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!