Ini adalah buku lanjutan dari buku sebelumnya, mengisahkan perjalanan seorang Nova Arvena untuk menjadi seorang kultivator muda terkuat dan membawa kedamaian bagi seluruh mahluk hidup yang ada.
Bagaimana kisahnya, silahkan simak cerita lanjutan ini, semoga teman-teman suka!
kali ini season ke 2 akan menggunakan alur cepat, dan banyak harem.
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENNYA TEMAN-TEMAN😇
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mochamad Fachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 Batu Roh
Keramaian di alun-alun Kota Yunfeng perlahan kembali seperti semula setelah kepergian tetua tersebut. Meskipun demikian, bisik-bisik para kultivator masih terdengar di berbagai sudut jalan.
Sebagian membicarakan Chen Hao yang dipermalukan oleh seorang kultivator Mortal Langit Bintang Satu.
Sebagian lagi justru lebih tertarik kepada pemuda asing bernama Nova yang mampu bertarung melampaui perbedaan tiga tingkatan kultivasi.
Namun Nova sendiri sama sekali tidak memedulikan semua itu. Baginya, pertarungan singkat tadi hanyalah sebuah kebetulan. Yang jauh lebih penting saat ini adalah memahami dunia tempat ia berpijak serta menemukan keberadaan Zira secepat mungkin.
"Jangan pikirkan orang itu lagi," ucap Yan Mei sambil melambaikan tangan. "Chen Hao memang seperti itu. Karena berasal dari Sekte Burung Emas, dia selalu merasa lebih hebat daripada orang lain."
Gu Shen mendengus pelan.
"Untung Tetua Mu datang tepat waktu."
"Kalau tidak..."
Ia melirik Nova sekilas.
"Kurasa pertarungan tadi belum tentu dimenangkan Chen Hao."
Yan Mei hanya menggeleng kecil.
"Aku juga tidak tahu."
Jawaban jujur itu membuat beberapa anggota rombongan kembali saling berpandangan. Mereka masih belum mampu mengukur batas kekuatan Nova yang sebenarnya.
Lin Xue kemudian mengalihkan pembicaraan.
"Kita harus mencari tempat beristirahat terlebih dahulu."
"Besok pagi baru kita menuju Aula Informasi."
Nova menganggukkan kepala.
"Itu juga yang kuinginkan."
Rombongan mereka pun kembali berjalan menyusuri jalan utama Kota Yunfeng. Semakin jauh mereka memasuki pusat kota, bangunan-bangunan yang berdiri di kanan kiri jalan terlihat semakin megah.
Paviliun-paviliun bertingkat menjulang tinggi dengan ukiran naga dan burung phoenix memenuhi setiap sudut.
Para pelayan berpakaian rapi keluar masuk membawa berbagai bahan spiritual, sementara para tamu yang datang sebagian besar merupakan kultivator dengan aura yang tidak lemah.
Tidak lama kemudian, mereka berhenti di depan sebuah bangunan megah berlantai lima yang seluruh dindingnya terbuat dari kayu spiritual berwarna merah kecokelatan.
Di atas pintu masuk tergantung sebuah papan besar bertuliskan...
Penginapan Awan Abadi.
Aroma dupa spiritual yang menenangkan langsung menyambut mereka begitu memasuki bangunan tersebut.
Lantai aula dilapisi batu giok putih yang memancarkan hawa sejuk, sedangkan formasi pengumpul energi yang dipasang di setiap sudut membuat kepadatan energi spiritual di dalam penginapan jauh lebih tinggi dibandingkan di luar.
Seorang wanita paruh baya segera menyambut mereka dengan senyum ramah.
"Selamat datang, Nona Lin."
"Kamar seperti biasa?"
Lin Xue menganggukkan kepala.
"Delapan kamar."
Wanita itu segera menghitung menggunakan sebuah lempengan giok kecil sebelum tersenyum.
"Dua puluh empat Batu Roh Tingkat Rendah."
Nova yang berdiri di samping hanya memperhatikan tanpa banyak bicara.
Lin Xue mengangkat tangannya. Kilatan cahaya muncul dari cincin penyimpanannya. Beberapa butir batu kristal berwarna putih bening segera muncul di atas meja.
Masing-masing memancarkan fluktuasi energi spiritual yang cukup murni. Wanita penjaga penginapan memeriksanya sekilas sebelum mengangguk puas.
"Jumlahnya tepat."
Ia segera menyerahkan delapan lempeng giok kecil sebagai tanda kunci kamar. Nova yang sejak tadi memperhatikan proses tersebut tiba-tiba sedikit menyipitkan matanya.
"Batu Roh..." gumamnya dalam hati.
Begitu melihat bentuk kristal itu, ia langsung mengenalinya. Benda tersebut hampir identik dengan sumber daya kultivasi yang tersimpan di dalam gelang penyimpanannya.
Bahkan... Kualitasnya jauh lebih rendah.
Di dalam lautan jiwa, Tian Long terkekeh pelan.
"Kau baru menyadarinya?"
Nova tersenyum tipis. "Jadi itu alat pembayaran di dunia ini?"
"Tepat sekali."
Tian Long menganggukkan kepala.
"Di dunia para kultivator, emas dan perak hanya berguna bagi manusia biasa."
"Sedangkan para kultivator menggunakan Batu Roh sebagai alat tukar."
"Selain dapat digunakan untuk berkultivasi, benda itu juga menjadi mata uang utama hampir di seluruh Semesta Orion."
Nova kembali memandang beberapa butir Batu Roh yang baru saja diserahkan Lin Xue. Kemudian kesadaran spiritualnya masuk ke dalam gelang penyimpanannya.
Sesaat kemudian... Ia hanya bisa tersenyum tipis.
Di dalam ruang penyimpanan yang luas itu, jutaan bahkan mungkin puluhan juta batu kristal serupa tersusun bagaikan gunung kecil.
Dan itu baru Batu Roh dengan kualitas paling rendah.
Masih ada Batu Roh Tingkat Menengah, Tingkat Tinggi, Kristal Energi Primordial, serta berbagai sumber daya kultivasi lain yang bahkan belum sempat ia periksa satu per satu sejak mewarisi peninggalan Batara Agung.
Jika seluruh isi gelang penyimpanan itu diketahui oleh para kultivator Galastos... Kemungkinan besar, bukan hanya sekte-sekte besar yang akan bergerak.
Bahkan para Kaisar dan monster tua yang telah mengasingkan diri selama ribuan tahun mungkin akan keluar hanya demi merebut kekayaan tersebut.
Nova segera menarik kembali kesadarannya. Ekspresinya tetap tenang, seolah tidak terjadi apa pun.
"Ternyata..."
gumamnya dalam hati.
"...aku tidak perlu mengkhawatirkan biaya hidup untuk waktu yang sangat lama."
Tian Long kembali tertawa kecil.
"Bocah."
"Jangan pernah mengeluarkan sumber daya tingkat tinggi sembarangan."
"Satu Batu Roh Tingkat Tinggi saja mungkin dapat membuat sebuah keluarga besar saling membantai."
"Sedangkan Kristal Energi Primordial yang kau gunakan semalam..."
Suara naga suci itu berhenti sejenak. "Itu adalah harta yang nilainya tidak bisa diukur dengan Batu Roh biasa."
Nova menganggukkan kepala pelan. Ia tentu memahami maksud Tian Long. Mulai hari ini, setiap langkah yang diambilnya harus jauh lebih berhati-hati.
Karena di dunia para kultivator... Bukan hanya kekuatan yang dapat mengundang bencana. Terkadang, kekayaan yang terlalu besar justru jauh lebih mematikan daripada pedang paling tajam.
Setelah seluruh urusan penyewaan kamar selesai, pemilik Penginapan Awan Abadi segera memanggil beberapa pelayan untuk mengantar rombongan Lin Xue menuju kamar masing-masing.
Namun tepat ketika mereka hendak menaiki tangga menuju lantai dua, Nova tiba-tiba menghentikan langkahnya.
"Senior Lin."
Lin Xue menoleh. "Ada apa?"
Nova sedikit tersenyum. "Aku belum membayar bagian kamarku."
Mendengar itu, Yan Mei langsung melambaikan tangan sambil tertawa kecil.
"Sudahlah."
"Hanya satu kamar saja."
"Anggap saja sebagai ucapan terima kasih karena kau sudah mentraktir kami makanan aneh semalam."
Beberapa anggota rombongan ikut menganggukkan kepala. Bagi mereka, dua atau tiga Batu Roh Tingkat Rendah bukanlah jumlah yang terlalu besar.
Namun Nova menggeleng pelan. "Tidak."
"Aku tidak terbiasa merepotkan orang lain."
Ucapan itu membuat Lin Xue memandang Nova beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk tipis.
"Kalau memang itu maumu."
Nova tersenyum kecil. Tanpa banyak berpikir, ia memasukkan tangannya ke dalam lengan jubah, lalu menghubungkan kesadaran spiritualnya ke dalam gelang penyimpanan.
Di dalam ruang penyimpanan yang luas bagaikan dunia kecil itu, gunungan Batu Roh memenuhi salah satu sudut ruangan.
Nova menyapu pandangannya sekilas. "Batu Roh Tingkat Rendah..."
Ia mencoba mencarinya. Namun semakin lama mencari, alisnya justru perlahan berkerut.
"Aneh..."
"Aku ingat jumlahnya sangat banyak."
Di dalam lautan jiwa, Tian Long yang sejak tadi memperhatikan hanya menghela napas panjang.
"Bocah."
"Kau mencari apa?"
"Batu Roh Tingkat Rendah."
"..."
Keheningan sejenak memenuhi lautan jiwa.
Kemudian...
Naga Suci Primordial itu justru tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha!"
"Batara Agung mana mungkin menyimpan Batu Roh Tingkat Rendah?"
"Itu bahkan tidak layak masuk ke dalam gudangnya."
Nova sedikit terdiam. "Kalau begitu..."
"Apa yang memenuhi sudut ruangan itu?"
"Itu Batu Roh Tingkat Menengah."
Nova berkedip pelan. "Lalu yang di sana?"
"Tingkat Tinggi."
"Yang berwarna ungu?"
"Batu Roh Tingkat Puncak."
"Sedangkan yang paling dalam..."
Tian Long tersenyum penuh arti.
"Itu bukan lagi Batu Roh."
"Itu Kristal Roh Surgawi."
Nova akhirnya memahami penyebab dirinya tidak menemukan Batu Roh Tingkat Rendah. Warisan Batara Agung ternyata bahkan tidak menyimpan mata uang dengan kualitas serendah itu.
Tanpa berpikir panjang, Nova mengambil satu butir Batu Roh Tingkat Menengah.
Kilatan cahaya muncul. Sebuah kristal hijau kebiruan sebesar ibu jari perlahan muncul di telapak tangannya.
Begitu batu itu muncul... Seluruh aula penginapan langsung berubah sunyi. Fluktuasi energi spiritual yang dipancarkan kristal tersebut jauh lebih murni dibanding Batu Roh biasa.
Udara di sekitarnya bahkan menjadi sedikit lebih segar hanya karena keberadaannya. Pemilik penginapan yang sejak tadi sedang menghitung pembayaran mendadak membeku.
Sepasang matanya membelalak.
"Itu..."
Suaranya sedikit bergetar.
"Batu Roh Tingkat Menengah?"
Lin Xue yang berdiri paling dekat langsung menoleh.
Tatapan tenangnya untuk pertama kalinya benar-benar berubah.
Yan Mei bahkan tanpa sadar menutup mulutnya.
"Apa?"
"Dia..."
"Menggunakan Batu Roh Tingkat Menengah?"
Qin Yu yang biasanya paling tenang perlahan menutup kipas gioknya. Tatapannya tidak lepas dari batu kristal di tangan Nova.
"Di Kota Yunfeng..."
gumamnya lirih.
"Bahkan transaksi bernilai ribuan Batu Roh Tingkat Rendah jarang menggunakan Batu Roh Tingkat Menengah."
Gu Shen menelan ludah. "Anak ini..."
"Benar-benar kaya?"
Nova sendiri justru terlihat bingung. Ia memandang batu di tangannya, lalu kembali menatap ekspresi semua orang.
"Apa ada yang salah?"
Pertanyaan polos itu membuat seluruh aula semakin hening. Pemilik penginapan buru-buru berjalan mendekat dengan wajah penuh kehati-hatian.
"Tuan Muda..."
"Satu Batu Roh Tingkat Menengah..."
"...setara dengan seratus Batu Roh Tingkat Rendah."
"Biaya menginap Tuan hanya tiga Batu Roh Tingkat Rendah."
Nova sedikit tertegun. "Seratus?"
Ia benar-benar tidak mengetahui nilai tukar di dunia ini. Di dalam lautan jiwa, Tian Long hanya menepuk dahinya.
"Bocah..."
"Aku lupa memberitahumu."
Nova menghela napas pelan. "Kalau begitu..."
"Bisakah ditukar?"
Begitu pertanyaan itu keluar... Pemilik penginapan justru memperlihatkan senyum pahit.
"Ditukar?"
"Tuan Muda bercanda..."
"Kami hanyalah sebuah penginapan kecil."
"Jangankan menukar satu Batu Roh Tingkat Menengah."
"Seluruh kekayaan Penginapan Awan Abadi belum tentu cukup untuk menukarnya."
Ucapan itu membuat Nova kembali terdiam. Kini ia benar-benar memahami satu hal.
Kekayaan yang diwariskan Batara Agung ternyata jauh lebih mengerikan daripada yang selama ini ia bayangkan.
Bahkan Batu Roh yang menurutnya biasa saja... Di mata para kultivator Kota Yunfeng telah menjadi harta yang hanya dimiliki oleh keluarga-keluarga besar, sekte kuat, atau para ahli berstatus tinggi.
Lin Xue menatap Nova cukup lama. Di dalam hatinya, berbagai dugaan kembali bermunculan.
Pemuda itu tidak mengenal Semesta Orion. Tidak mengetahui nilai Batu Roh. Namun dengan santainya mengeluarkan Batu Roh Tingkat Menengah seolah sedang mengeluarkan kerikil di pinggir jalan.
Semakin lama mengenal Nova... Semakin ia merasa bahwa asal-usul pemuda itu benar-benar diselimuti kabut yang tidak mampu ditembus oleh akal sehat.
Sementara Nova hanya tersenyum canggung sambil kembali menyimpan Batu Roh Tingkat Menengah itu ke dalam gelang penyimpanannya.
"Maaf."
"Sepertinya aku memang masih harus belajar banyak tentang dunia ini."
Mendengar ucapan itu, tidak seorang pun menjawab. Sebab di mata mereka...
Seseorang yang dengan polos menganggap Batu Roh Tingkat Menengah sebagai alat pembayaran biasa adalah orang yang sama sekali tidak dapat dinilai menggunakan logika para kultivator biasa.