"Lima tahun lalu, dia diusir dalam keadaan hamil dan dianggap mandul. Kini, dia kembali bukan untuk mengemis cinta, melainkan untuk merebut apa yang menjadi miliknya."
Elena kembali ke ibu kota sebagai desainer interior kelas dunia dengan satu misi rahasia: mengambil kembali anak perempuannya yang sempat tertinggal di keluarga mantan suaminya, Arthur Arkananta. Namun, takdir mempermainkannya. Klien besar pertama yang harus dia hadapi adalah Arthur sang CEO berdarah dingin yang dulu mencampakannya karena fitnah kejam.
Di saat Elena mati-matian menyembunyikan putra kembarnya yang genius dari jangkauan Arthur, sebuah rahasia besar di masa lalu mulai terkuak satu per satu. Arthur yang mulai curiga kini berbalik mengejarnya, tetapi Elena bukan lagi wanita lemah yang bisa ditindas.
Akankah Arthur menemukan kebenaran tentang anak kembar mereka sebelum Elena pergi membawa semuanya? Atau akankah penyesalan sang CEO datang terlambat saat Elena justru bersanding dengan pria lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pertiwi Dian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sinyal Maladewa dan Tamu yang Tak Diundang
Keindahan Maladewa di sore hari memang tidak pernah gagal memukau siapa saja. Pulau pribadi baru milik keluarga Arkananta yang diberi nama Eleanor’s Sanctuary berdiri megah di tengah lautan samudra yang bening layaknya kristal cair. Vila apung mewah berbahan kayu cedar dan kaca tempered berjejer rapi, terhubung langsung dengan pantai berpasir putih selembut sutra.
Namun, di dalam ruang tengah vila utama yang ber-AC sejuk, atmosfernya tidak murni tentang liburan.
Leon duduk bersila di atas sofa rotan mahal, matanya yang tajam fokus pada layar laptop dewa miliknya. Di sampingnya, sebuah modem satelit portabel militer yang dibawa diam-diam dari Jakarta tampak berkedip dengan ritme konstan.
"Mama," panggil Leon tanpa menoleh. "Sistem enkripsi dari chip milik Nenek Diana sudah berhasil aku integrasikan seluruhnya ke dalam jaringan perimeter pulau ini. Sekarang, pulau ini tidak akan bisa dilacak oleh radar komersial maupun satelit pengintai standar."
Elena yang baru saja selesai menyisir rambut Lia setelah bermain air di pantai, berjalan mendekati putranya. Dia mengusap kepala Leon dengan lembut. "Terima kasih, Leon. Kamu benar-benar menjaga Mama dengan baik."
Arthur melangkah masuk dari arah teras, hanya mengenakan kemeja linen putih tipis yang kancing atasnya terbuka dan celana pendek santai. Sisi garang sang CEO melebur menjadi sosok ayah dan suami yang luar biasa menawan di bawah terik matahari Maladewa. Dia memeluk Elena dari belakang, mencium pipi istrinya sekilas.
"Semua pengawal bersenjata yang dikirim Kakek sudah menempati posisinya di dermaga belakang, Elena. Kita aman di sini," ucap Arthur, suaranya terdengar berat dan menenangkan.
Namun, ketenangan itu hanya bertahan beberapa detik.
Bip! Bip! Bip!
Alarm peringatan bernada tinggi tiba-tiba melengking dari laptop Leon. Layar yang tadinya menampilkan grafik biru mendadak berubah menjadi merah pekat dengan barisan kode biner yang bergerak turun dengan kecepatan luar biasa.
"Ada anomali," desis Leon, ekspresi wajah balitanya seketika berubah menjadi sangat dingin dan fokus. Jemari mungilnya mulai menari di atas papan ketik dengan kecepatan yang mencengangkan. "Seseorang di luar perimeter sedang mencoba menembus legacy system milik Nenek. Mereka melacak pancaran sinyal unik yang keluar saat chip ini diaktifkan satu jam yang lalu."
Arthur langsung melepaskan pelukannya pada Elena, wajah tampannya seketika mengeras. Dia melangkah mendekati meja kerja Leon. "Siapa mereka, Leon? Apakah pengikut Seline di Jakarta?"
"Bukan. Tingkat enkripsi mereka terlalu tinggi untuk ukuran amatir seperti keluarga Wijaya," balas Leon, matanya menyipit menatap deretan data IP address yang terlacak. "Sinyal ini berasal dari sebuah kapal pesiar hitam misterius yang saat ini berada sekitar lima mil laut di luar batas teritorial pulau kita. Mereka adalah Viper Syndicate—organisasi peretas dan intelijen industri bawah tanah yang berbasis di Eropa Timur."
Elena tersentak, ingatan masa lalunya saat berada di Milan mendadak berputar. "Arthur... aku ingat nama itu. Saat aku masih di Milan, ada beberapa agen rahasia yang mencoba menggeledah apartemen lamaku dan mencari cetak biru teknologi milik Ibuku. Ternyata mereka belum menyerah."
"Mereka mencari chip ini karena ini adalah kunci enkripsi mutlak untuk membuka enkripsi data pertahanan militer yang dulu pernah dirancang oleh Nenek Diana," tambah Leon tenang, seolah tidak terpengaruh oleh situasi gentar. "Mereka mengirimkan serangan siber masif untuk mematikan generator listrik dan sistem navigasi pulau kita dari jarak jauh."
"Evan!" Arthur langsung menekan tombol interkom di dinding dengan nada otoriter yang mutlak. "Aktifkan Protokol Blackout! Matikan semua jaringan publik pulau, kunci semua pintu vila otomatis, dan perintahkan tim penembak jitu bersiap di menara pengintai pantai!"
"Siap, Tuan Besar!" jawab Evan dari seberang garis.
Seketika itu juga, seluruh lampu mewah di dalam vila padam, digantikan oleh lampu darurat berwarna merah yang temaram, menciptakan kesan tegang yang mencekam. Lia yang ketakutan langsung memeluk boneka kelincinya erat-erat dan bersembunyi di balik kaki Elena.
"Mama, Lia takut... tempatnya jadi merah," bisik Lia dengan suara bergetar.
Elena berlutut, memeluk putrinya dengan erat, memberikan kehangatan mutlak. "Jangan takut, Sayang. Papa dan Kak Leon ada di sini. Tidak akan ada yang bisa menyentuh kita."
Di meja komputer, Leon mendengus kecil melihat serangan siber musuh yang mencoba membobol pertahanannya. "Mereka mengira bisa mematikan sistemku hanya dengan DDoS attack tingkat rendah? Sangat menggemaskan."
"Berapa lama kamu bisa menahan mereka, Leon?" tanya Arthur, berdiri di belakang putranya seperti benteng pelindung yang kokoh, siap pasang badan jika ada hal fisik yang mengancam.
"Menahan? Tuan Arthur, aku tidak berniat menahan mereka. Aku akan menghancurkan mereka," balas Leon dengan senyuman miring yang sangat mirip dengan Arthur saat menghabisi kompetitor bisnisnya. "Aku akan menggunakan kode pelindung asli dari Nenek Diana untuk membalikkan arus data mereka. Aku akan membakar server utama di kapal pesiar mereka lewat gelombang mikro frekuensi tinggi."
Jemari Leon mengetuk tombol Enter dengan penekanan yang kuat.
Di tengah kegelapan Samudra Hindia, sekitar lima mil dari pulau Eleanor’s Sanctuary, sebuah kapal pesiar hitam mewah tanpa lampu mendadak mengalami kepanikan massal. Seluruh layar komputer di dalam ruang kendali peretas mereka meledak mengeluarkan percikan api, menyebarkan asap hitam yang pekat. Sistem kelistrikan kapal pesiar itu mati total dalam satu kedipan mata akibat serangan balik digital dari seorang anak berusia empat tahun.
"Serangan siber mereka berhasil dihancurkan, Papa," lapor Leon, menghela napas lega dan menutup laptopnya. "Kapal mereka sekarang lumpuh di tengah laut tanpa sistem navigasi atau mesin yang menyala."
"Kerja bagus, Putraku," ucap Arthur, menepuk bahu Leon dengan rasa bangga yang tak terlukiskan. Pria itu kemudian menoleh ke arah interkom. "Evan, kirim tim keamanan laut kita menggunakan kapal cepat. Tangkap semua peretas di atas kapal pesiar hitam itu dan serahkan mereka ke interpol internasional malam ini juga."
"Dimengerti, Tuan Besar!"
Lampu-lampu mewah di dalam vila kembali menyala terang benderang dengan warna putih yang hangat. Generator cadangan telah mengambil alih kendali sistem murni pulau.
Arthur berjalan menghampiri Elena dan Lia, berlutut di atas lantai dan memeluk kedua wanita tercintanya itu dengan kelembutan yang teramat dalam. "Semuanya sudah aman sekarang, Elena. Bahaya sudah lewat."
Elena menatap Arthur dengan mata yang berkaca-kaca, lalu menatap Leon yang kini sudah kembali bersikap acuh tak acuh sambil mengunyah biskuit cokelatnya di sofa.
Keluarga Arkananta malam itu membuktikan bahwa mereka bukan hanya sekadar pasangan sosialita kelas atas yang kaya raya; mereka adalah sebuah dinasti baru yang memiliki kekuatan pertahanan mutlak, baik secara hukum, fisik, maupun digital. Di bawah langit malam Maladewa yang kembali damai, ikatan di antara mereka kian hari kian mengunci erat, siap menghadapi badai apa pun yang mencoba mengusik kebahagiaan mereka di masa depan.